Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bertemu Rafa


__ADS_3

Di bawah langit malam berselimut angin dingin, Tiara meringkuk di tepi jalan raya. Ia merasa malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat menyakitkan baginya.


Laki-laki yang selama ini dicintainya, laki-laki yang ia pikir juga memiliki perasaan yang sama sepertinya nyatanya hanya berniat untuk mempermainkannya.


Tiara benar-benar menyesal dengan keputusan yang sudah ia ambil, ia menyesal karena sempat menghabiskan waktunya hanya untuk menyenangkan keegoisan Bima.


"Ayolah Tiara jangan menangis seperti ini, kau benar-benar memalukan," ucap Tiara pada dirinya sendiri sambil mengusap dengan kasar air mata yang membasahi pipinya.


Ia merasa kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa menahan kesedihannya saat itu.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat Tiara, membuat Tiara menutup kedua matanya karena silau dari lampu mobil itu.


Seorang laki-laki kemudian keluar dari mobil itu dan berlari kecil ke arah Tiara, membuat Tiara hanya terdiam ketika ia menyadari siapa pemilik mobil itu.


"Tiara, apa yang terjadi padamu? kenapa kau ada disini malam-malam seperti ini?" tanya Rafa yang sudah berjongkok di hadapan Tiara.


"Tiara......"


"Ayo berdirilah," ucap Rafa sambil memegang kedua bahu Tiara, membawa Tiara berdiri dari duduknya.


"Apa yang kau lakukan disini Ra? apa yang terjadi padamu?" tanya Rafa dengan menatap kedua mata Tiara yang penuh dengan kesedihan saat itu.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun sambil menghapus sisa air mata di kedua pipinya.


"Ini sudah sangat malam, kemana kau akan pergi, saya akan mengantarmu," tanya Rafa yang lagi lagi dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Rafa menghela nafasnya, mengacak-acak rambutnya dengan kasar. Ia tidak mengerti apa yang terjadi pada Tiara saat itu tapi ia bisa memahami bahwa Tiara tidak sedang baik-baik saja saat itu.


"Jika kau tidak punya tujuan malam ini ikutlah denganku, kau bisa menginap di villaku malam ini," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.


"Tenang saja, saya tidak akan berbuat macam-macam padamu, lagi pula saya tidak akan bermalam di villa itu," ucap Rafa yang seolah mengerti kekhawatiran Tiara karena ia sangat mengingat dengan jelas bahwa Tiara pernah memanggilnya laki-laki mesum.


Tiara hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, ia masih ragu untuk mengikuti Rafa.


"Ayolah Tiara, jangan banyak berpikir, sangat berbahaya jika kau berada disini sendirian tanpa tujuan yang pasti," ucap Rafa lalu meraih tangan Tiara dan membuka pintu mobilnya.

__ADS_1


"Masuklah, ini sudah sangat malam dan udara disini sangat dingin," ucap Rafa yang membuat Tiara membawa langkahnya masuk ke dalam mobil Rafa.


Rafapun segera berlari kecil lalu masuk ke dalam mobilnya dan duduk di balik kemudi. Ia kemudian mengendarai mobilnya ke arah villa miliknya yang berada tak jauh dari tempat itu.


Sesampainya disana, Rafapun mengajak Tiara turun dari mobil.


"Kau bisa bermalam disini, ada bibi yang akan menyiapkan semua kebutuhanmu disini jadi kau bisa meminta tolong pada bibi jika membutuhkan sesuatu," ucap Rafa pada Tiara.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun, semua yang terjadi padanya malam itu membuatnya kehilangan kata-katanya.


Tiara bahkan tidak sempat mengucapkan terima kasih pada Rafa sampai Rafa pergi meninggalkan Tiara di villa itu.


Tiara kemudian masuk ke dalam salah satu kamar yang ada disana dengan diantar oleh bibi yang menjaga villa itu.


Meski kamar di villa itu cukup luas dan nyaman, tapi Tiara tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun. Rasa sakit dalam hatinya membuatnya tidak bisa berhenti hanyut dalam kesedihannya malam itu.


**


Di tempat lain, Rafa baru saja sampai di salah satu villa yang berada cukup jauh dari villa miliknya.


"Maaf Pa, ada sedikit masalah di jalan tadi," balas Rafa beralasan.


"Tapi kau baik-baik saja bukan?"


"Rafa baik-baik saja, tapi rasanya rasa sangat lelah dan Rafa ingin segera beristirahat."


"Baiklah, cepat masuklah ke kamar, Maya pasti sudah menunggumu!"


Rafa hanya menganggukkan kepalanya lalu membawa langkahnya masuk ke dalam kamar.


"Dari mana saja kau? bukankah kau tadi di belakang mobilku?" tanya seorang perempuan yang sedang membaca buku di ranjangnya.


Rafa hanya diam mengabaikan pertanyaan perempuan itu lalu segera masuk ke kamar mandi kemudian membaringkan badannya di sofa panjang yang ada di kamar itu.


"Aku tidak bisa berlama-lama disini, besok pagi aku harus pergi untuk memberikan bimbingan skripsi," ucap Rafa yang sudah memejamkan matanya.

__ADS_1


"Terserah kau saja," balas perempuan yang bernama Maya itu.


Waktupun berlalu, mentari bersinar menyambut pagi yang cukup dingin hari itu.


Setelah berpamitan dengan orang tua Maya, Rafapun mengendarai mobilnya ke arah villa miliknya.


Saat Rafa Baru saja sampai disana ia melihat Tiara yang baru saja keluar dari villa dengan membawa tas besarnya.


"Apa kau mau pulang sekarang?" tanya Rafa pada Tiara.


"Iya Pak, terima kasih sudah mengizinkan Tiara menginap disini," jawab Tiara.


"Ayo saya akan mengantarmu pulang, kebetulan saya juga akan pulang," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Tiarapun masuk ke dalam mobil Rafa, begitu juga Rafa yang sudah bersiap di balik kemudinya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan villa.


"Tiara minta maaf Pak, tentang apa yang terjadi semalam, Tiara....".


"Kau tidak perlu menjelaskannya jika itu memberatkanmu," ucap Rafa yang berusaha mengerti keadaan Tiara saat itu.


"Apa kau sudah merasa lebih baik sekarang?" lanjut Rafa bertanya.


"Tiara baik-baik saja Pak," jawab Tiara dengan tersenyum lebar, membuat Rafa ikut tersenyum melihat Tiara yang tampak kembali ceria.


"Waaah sepertinya aku melihat dua Tiara yang berbeda dalam dirimu," ucap Rafa.


"Tolong lupakan Tiara yang semalam Pak, Tiara yang sebenarnya adalah Tiara yang sekarang," balas Tiara yang membuat Rafa menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis.


Kejadian semalam yang sangat menyakitkan bagi Tiara telah berlalu, Tiara tidak ingin terlalu lama larut dalam kesedihannya. Meskipun rasa sakit itu masih ada dalam hatinya ia tidak ingin rasa sakit itu melemahkannya.


Ia akan menerima semua takdir yang sudah digariskan padanya, semua kekecewaan dan rasa sakit yang ia rasakan akan ia terima dengan penuh senyum meski hatinya sudah hancur berkeping-keping.


Setidaknya ia harus tetap tersenyum agar orang-orang di sekitarnya tidak menyadari kehancuran yang tengah dirasakannya saat itu.


"aku memang melakukan kesalahan karena menjalin hubungan dengan kak Bima, tetapi itu tidak akan terjadi jika kak Bima tidak berbohong padaku tentang perasaannya yang sebenarnya, aku akan siap menerima semua kemarahan kak Gita dan Mama Laras, akupun siap meninggalkan rumah yang tidak pernah memberikan kenyamanan padaku," ucap Tiara dalam hati

__ADS_1


__ADS_2