
Tiara tampak sibuk membuat minuman pesanan Rafa. Karena Rafa hanya memberinya waktu 2 menit Tiarapun terburu-buru hingga tak sengaja tangannya tersiram air panas hingga memerah.
"Berhati-hatilah Tiara, kenapa kau buru-buru sekali?" tanya salah satu teman Tiara.
"Pak Rafa hanya memberiku waktu 2 menit untuk membuat minuman ini," jawab Tiara segera menuang coklat panas ke dalam cup.
"Obati dulu tanganmu, biar aku yang mengantarkan minuman Pak Rafa," ucap teman Tiara.
"Tenang saja tanganku tidak akan terluka hanya karena hal ini," balas Tiara lalu membawa minuman yang baru saja dibuatnya ke dalam ruangan Rafa.
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, Tiarapun masuk dan menaruh satu cup coklat panas pesanan Rafa di atas meja kerja Rafa.
"Kau terlambat Tiara, kau harus mempercepat cara kerjamu," ucap Rafa dengan matanya yang fokus menatap layar komputer di hadapannya.
Namun Rafa seketika terkejut saat melihat tangan Tiara yang tampak melepuh saat itu.
"Ada apa dengan tanganmu Ra? apa kau sudah mengobatinya?" tanya Rafa khawatir.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya sambil menyembunyikan tangannya ke belakang badannya.
"Cckkkk..... kau ceroboh sekali," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya kemudian mengambil kotak P3K dan menarik Tiara untuk duduk di sofa yang ada di dalam ruangan Rafa.
"Tiara bisa mengobatinya sendiri Pak," ucap Tiara yang hendak menarik tangannya namun ditahan oleh Rafa.
Rafapun segera mengoles obat di atas tangan Tiara yang memerah bahkan beberapa bagian lainnya sudah tampak melepuh.
"Berhati-hatilah Tiara, utamakan keselamatanmu dalam bekerja," ucap Rafa.
"padahal dia sendiri yang membuatku seperti ini, jika dia tidak memberi waktu 2 menit pasti aku tidak akan terburu-buru membuat minuman panas itu," gerutu Tiara kesal dalam hati.
"Kau jangan mengumpatku hanya karena aku memintamu membuat minuman 2 menit, aku hanya ingin kau bekerja lebih cepat tapi bukan berarti gegabah dan ceroboh seperti ini," ucap Rafa yang seolah mengerti isi pikiran Tiara.
"Tiara tidak mengatakan apapun," balas Tiara membela diri.
"Kau pasti sedang mengumpatku di dalam hati," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya dan kembali duduk di belakang meja kerjanya.
"Keluarlah, kau bisa pulang dan kembali bekerja setelah tanganmu sembuh," ucap Rafa pada Tiara.
"Tiara masih bisa bekerja Pak, jadi ...."
"Terserah kau saja, tapi jangan menuntutku jika lukamu semakin parah," ucap Rafa memotong ucapan Tiara dengan mata yang fokus menatap layar komputer di hadapannya.
"Baik, Tiara permisi," ucap Tiara lalu keluar dari ruangan Rafa dengan kesal.
"dia menyebalkan sekali," batin Tiara dalam hati lalu kembali mempelajari banyak hal baru lainnya bersamanya temannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore namun Tiara masih berada di tempat kerjanya. Ia masih menghafalkan beberapa menu yang ada di kafe itu.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tiara masih menghafalkan beberapa menu Pak," jawab Tiara.
"Kau harus bisa membagi waktumu dengan baik Tiara, kau juga harus fokus mengerjakan skripsimu, jangan lupa itu!" ucap Rafa lalu berjalan pergi begitu saja.
"Bawel sekali," gerutu Tiara kesal.
"Tapi Pak Rafa benar loh Ra, kau harus pulang untuk mengerjakan skripsimu," sahut salah satu teman Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu melepas seragamnya dan berganti pakaian sebelum ia keluar dari kafe.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Tiara tengah mengerjakan skripsinya di dalam kamar.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Kevin.
"Kau dimana Ra, kenapa kau belum memberitahuku tempat kerjamu?"
"Aahh iya aku belum memberitahu Kevin, sepertinya aku harus mengerjakan skripsiku di kafe sekaligus meminta Kevin untuk datang," ucap Tiara lalu segera beranjak dari duduknya untuk bersiap pergi ke kafe.
Sesampainya di kafe, Tiara segera membagikan lokasinya pada Kevin dan tanpa banyak pertanyaan Kevinpun segera mengendarai motornya pergi ke alamat yang Tiara berikan padanya.
Setelah beberapa lama menunggu, Kevinpun datang. Tiara segera melambaikan tangannya ke arah Kevin yang baru saja masuk ke dalam kafe.
"Apa kau bekerja disini?" tanya Kevin pada Tiara.
"Iya, hari ini aku bekerja pagi sampai sore jadi sekarang waktuku untuk mengerjakan skripsi," jawab Tiara.
__ADS_1
"Jaga kesehatanmu Tiara, kau pasti akan jarang beristirahat mulai sekarang," ucap Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara dan Kevinpun mengobrol banyak hal dan sesekali tertawa dengan lelucon mereka. Karena terlalu asik dengan Kevin, Tiarapun tidak memperhatikan Rafa yang baru saja masuk dan berjalan melewatinya.
Rafapun hanya diam melihat Tiara yang sedang bersama Kevin saat itu.
Waktu berlalu, malam semakin larut, Tiarapun mulai mengemasi laptop dan buku-bukunya.
"Dimana tempat tinggalmu? aku akan mengantarmu pulang," tanya Kevin pada Tiara.
"Kau tidak perlu mengantarku Kevin, tempat tinggalku ada di dekat sini," jawab Tiara.
"Apa aku tidak boleh tahu dimana tempat tinggalmu?" tanya Kevin.
"Bukan seperti itu Kevin, tapi ini sudah sangat malam, lebih baik kau segera pulang," ucap Tiara.
"Bukankah kau tahu aku tidak punya jam malam, kenapa kau berlebihan sekali," balas Kevin yang membuat Tiara pada akhirnya membiarkan Kevin mengantarnya pulang.
Tak butuh waktu lama merekapun sampai di depan rumah besar tempat Tiara dan beberapa karyawan kafe tinggal.
"Kau tidak tinggal sendirian bukan?" tanya Kevin memastikan.
"Tentu saja tidak, aku bahkan sudah mempunyai teman dekat disini," jawab Tiara.
"Baguslah kalau begitu, selalu hubungi aku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian berjalan masuk ke dalam rumah saat motor Kevin sudah pergi menjauh dari hadapannya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, saat Tiara melihat siapa yang tengah menghubunginya Tiara kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas.
Tiara kemudian membaringkan badannya di ranjang, namun lagi lagi ponselnya berdering namun Tiara enggan untuk menerima panggilan itu sampai akhirnya seseorang itu mengirimkan pesan pada Tiara.
"Aku tahu kau sudah tidak tinggal di rumah Kevin, tolong beritahu aku dimana kau sekarang Tiara!"
Tiara hanya menghela nafasnya kasar lalu menenggelamkan kepalanya di bawah bantal.
"lupakan dia Tiara, dia hanya masa lalu yang pernah sangat kau sukai, mungkin kau tidak benar-benar mencintainya, mungkin kau hanya menyukainya karena dia yang selalu menjagamu sejak kecil," ucap Tiara dalam hati.
Tiara sudah memutuskan untuk melanjutkan kehidupan barunya tanpa masa lalunya termasuk Bima dan semua orang yang tinggal di rumahnya saat itu.
**
Hari telah berganti, Tiara sudah berada di kafe pagi itu. Namun baru saja Tiara membereskan beberapa meja ia sudah mendapat pesan dari dosen pembimbingnya untuk segera datang ke kampus.
Tiarapun memberitahukan hal itu pada Chika yang saat itu juga tengah bekerja shift pagi bersama Tiara.
"Hubungi saja Pak Rafa, pasti pak Rafa mengizinkanmu," ucap Chika pada Tiara.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu menghubungi Rafa. Namun tidak pernah ada jawaban sampai beberapa kali Tiara mencoba menghubungi Rafa.
Tapi Tiara tidak menyerah hingga akhirnya Rafa menerima panggilannya.
"Pak Rafa, saya......"
"Ini siapa?" tanya seseorang yang sedang memegang ponsel Rafa saat itu.
Mendengar suara perempuan yang menanyakan namanya Tiarapun segera melihat ke arah layar ponselnya untuk memastikan bahwa ia tidak salah menghubungi Rafa.
"Saya Tiara, karyawan di kafe Pak Rafa," jawab Tiara.
Tuuuutttt tuuuutttt tuuuutttt
Panggilan berakhir tiba-tiba, membuat Tiara mengernyitkan keningnya tak mengerti. Namun Tiara tidak terlalu memikirkannya, ia segera melepaskan seragamnya dan meninggalkan kafe.
"Aku akan menghubungi pak Rafa lagi nanti, pak Rafa tidak mungkin tidak mengizinkanku bimbingan skripsi bukan?" ucap Tiara pada dirinya sendiri lalu segera menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa untuk bimbingan skripsi.
Namun karena terburu-buru Tiara lupa untuk menghubungi Rafa sampai ia tiba di kampus.
"Tiara tunggu!" panggil seseorang saat Tiara baru saja berjalan melewati gerbang kampus.
Tiara begitu terkejut saat melihat Gita yang berjalan ke arahnya saat itu.
"Maaf Tiara sedang sibuk," ucap Tiara yang hendak berjalan pergi namun segera dicegah oleh Gita.
"Kita harus bicara Ra!" ucap Gita dengan menahan tangan Tiara.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan kak, Tiara sudah melupakan semua yang terjadi di rumah itu jadi jangan meminta Tiara untuk kembali lagi kesana karena itu tidak akan pernah terjadi," balas Tiara dengan melepaskan tangan Gita yang menahannya.
__ADS_1
"Kakak mohon kembalilah Tiara, Mama juga tidak ingin kau pergi dari rumah, mama......"
"Apa karena mama belum berhasil mendapatkan warisan papa? apa karena mama masih membutuhkan Tiara agar berhasil merebut warisan dari papa?" tanya Tiara memotong ucapan Gita.
Gita hanya terdiam dengan menghela nafasnya, ia sudah berusaha untuk bersikap baik pada Tiara namun kali ini ia tidak dapat menahannya lagi dan menunjukkan kekesalannya pada Tiara.
"Jika bukan karena mama yang memintamu untuk kembali ke rumah aku juga tidak akan mengemis seperti ini padamu Tiara," ucap Gita kesal.
"Jika bukan karena sandiwara kalian semua Tiara juga tidak akan pergi dari rumah yang penuh dengan kenangan dari mama dan papa, jika memang kalian mau merebut warisan dari papa Tiara tidak peduli tapi jangan pernah mengganggu Tiara lagi," ucap Tiara yang hendak berjalan pergi namun lagi lagi Gita menahan tangan Tiara.
"Kau....."
"Tiara, kenapa masih disini?" tanya Rafa yang tiba-tiba datang.
"Pak Rafa......" ucap Tiara yang terkejut karena kedatangan Rafa yang tiba-tiba mengingat Rafa yang sudah dikeluarkan dari kampus.
"Kau tidak lupa bahwa kau ada bimbingan skripsi bukan?" tanya Rafa pada Tiara.
"Aaahhh iya, maaf kak Tiara harus pergi," ucap Tiara lalu menarik tangannya dengan kasar dari genggaman tangan Gita lalu berjalan mengikuti Rafa.
Sedangkan Gita hanya terdiam di tempatnya berdiri menatap Tiara dengan kesal lalu pergi dari sana.
Di sisi lain, Tiara yang berjalan mengikuti Rafapun segera menanyakan maksud Rafa datang ke kampus.
"Saya hanya ingin mengambil beberapa dokumen yang tertinggal," ucap Rafa pada Tiara.
"Oohh iya, sepertinya Tiara lupa menghubungi pak Rafa, Tiara pagi ini ada bimbingan skripsi pak, Tiara sudah menghubungi pak Rafa tadi pagi, tapi....."
"Iya saya tahu, pergilah dan segeralah kembali ke kafe setelah bimbingan skripsimu selesai," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan menemui dosen pembimbingnya yang baru.
Waktupun berlalu, Tiara sudah menyelesaikan bimbingan skripsinya. Ia pun segera keluar dari kampus untuk berangkat ke kafe.
Sesampainya di kafe, Tiara segara menaruh barang-barangnya di loker kemudian mengenakan seragam dan memulai pekerjaannya barunya.
Sesekali Tiara menyempatkan waktunya untuk membaca buku saat ia senggang sampai akhirnya jam kerjanyapun selesai.
Tiara segera berganti pakaian namun bukannya pulang Tiara memilih untuk duduk di bangku yang biasa ia tempati.
Tiara lalu mengeluarkan laptop dan beberapa bukunya untuk mengerjakan skripsi disana.
"Apa kau tidak pulang Tiara?" tanya Chika pada Tiara.
"Aku akan mengerjakan skripsi disini sebelum pulang," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku pulang dulu," ucap Chika sambil melambaikan tangannya pada Tiara.
Tiara hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya lalu kembali fokus pada laptop dan buku-buku di hadapannya.
Sampai malam tiba Tiara masih berada di tempatnya sambil sesekali memijat matanya yang terasa lelah karena sudah sangat lama menatap layar laptop di hadapannya.
"Bagaimana bimbingan skripsimu Ra?" tanya Rafa Yanti tiba-tiba datang dan duduk di hadapan Tiara.
"Seperti biasa pak, dosen pembimbing selalu menyebalkan," jawab Tiara.
"Apa dosen pembimbing memang selalu seperti itu?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala tanpa ragu oleh Tiara.
"Memangnya menyebalkan apa saya ketika menjadi dosen pembimbingmu?" tanya Rafa yang membuat Tiara segera mengangkat kepalanya, ia baru sadar bahwa Rafa pernah menjadi dosen pembimbingnya.
"Maaf Pak, Tiara tidak bermaksud seperti itu," ucap Tiara yang merasa, bersalah takut menyinggung Rafa.
Rafa hanya tersenyum tipis lalu menggeser laptop Tiara ke hadapannya. Rafa memperhatikan materi skripsi Tiara beberapa saat sebelum ia memberitahu beberapa bagian yang harus Tiara revisi.
"Tapi ini sesuai dengan buku yang Pak Rafa rekomendasikan pada Tiara," protes Tiara.
"Apa yang ada di buku juga harus dibarengi dengan fakta lapangan Tiara, kau tidak hanya harus memahami teori-teori ini tapi kau juga harus bisa menjelaskan jika ada fakta yang tidak sesuai dengan teori yang ada," ucap Rafa menjelaskan.
"Fakta seperti apa contohnya yang tidak sesuai dengan teori-teori ini?" tanya Tiara.
"Bukankah itu tugasmu untuk mencari tahu?" balas Rafa yang membuat Tiara menghela nafasnya kasar.
"Pulanglah Tiara, ini sudah sangat malam!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.
"Tiara tidak akan tidur sebelum Tiara tahu contoh fakta yang tidak sesuai dengan teori ini," balas Tiara dengan jari-jari yang menari di atas meja.
"Pulanglah, saya akan memberitahumu besok pagi," ucap Rafa yang membuat Tiara segera mengemasi laptop dan buku-bukunya karena sebenarnya iapun sudah mengantuk dan ingin segera merebahkan dirinya di atas ranjang.
"Terima kasih Pak Rafa, Tiara permisi," ucap Tiara lalu segera berlari keluar dari kafe.
__ADS_1
Rafapun hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara.