Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keputusan Tiara


__ADS_3

Siang itu Tiara masih berada di kafe bersama Maya untuk membicarakan tentang keputusannya mengenai warisan yang ditinggalkan oleh sang papa.


Pada awalnya Tiara memilih untuk berbohong pada Maya agar Mama Laras dan Gita mendapatkan sebagian dari aset yang papanya tinggalkan.


Namun setelah apa yang terjadi di rumah itu Tiarapun berubah pikiran, bukan karena ia dendam pada Mama Laras ataupun Gita tetapi ia memilih untuk mengikuti keputusan sang papa yang tidak akan memberikan satupun aset milik sang papa pada Mama Laras dan Gita jika mereka tidak memperlakukan Tiara dengan baik.


"Jadi apa keputusanmu sekarang Tiara?" tanya Maya pada Tiara.


"Sebelumnya Tiara ingin berkata jujur pada kak Maya, sebenarnya Tiara memang sudah tidak tinggal di rumah itu sebelum Tiara wisuda dan benar sejak kepergian papa Mama Laras tidak memperlakukan Tiara dengan baik seperti saat papa masih hidup," ucap Tiara menjelaskan.


"Aku sudah menduganya, jadi apa kau setuju jika semua aset peninggalan papamu diberikan padamu seluruhnya?"


"Tiara setuju," ucap Tiara dengan menganggukkan kepalanya penuh keyakinan.


"Baguslah kalau begitu, kapan kita akan menemui Mama tirimu untuk membicarakan hal ini?" tanya Maya ada Tiara.


"Tapi sebelum itu apa Tiara boleh meminta sesuatu?" balas Tiara bertanya.


"Apa itu?" tanya Maya dengan mengernyitkan keningnya.


"Selama ini kak Gita memperlakukan Tiara dengan sangat baik walaupun pada akhirnya tahu bahwa kebaikan kak Gita hanyalah kebohongan, tapi Tiara juga pernah melakukan kesalahan pada kak Gita, jadi Tiara ingin menebus kesalahan Tiara dengan memberikan rumah itu pada kak Gita," jawab Tiara menjelaskan.


"Apa kau yakin? apa tidak kau biarkan saja mereka meninggalkan rumah itu?" tanya Maya memastikan.


"Tiara yakin kak, anggap saja itu sebagai bentuk permintaan maaf Tiara atas kesalahan yang sudah Tiara lakukan pada kak Gita, jika Mama Laras dan kak Gita menolaknya maka dengan terpaksa Mama Laras dan kak Gita harus angkat kaki dari rumah itu," jawab Tiara.


"Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan segera menyiapkan berkasnya dan mengatur waktu untuk bertemu dengan mama tiri dan saudara tirimu," ucap Maya.


"Terima kasih kak, kak Maya bisa menghubungi Tiara kapanpun jika berkas itu sudah siap untuk dibawa ke rumah," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Maya.


"Jika aku boleh tahu, apa kepergianmu kemarin ada hubungannya dengan masalah keluargamu?" tanya Maya penuh selidik.


Tiara hanya diam beberapa saat, ia ragu untuk menceritakan yang sebenarnya pada Maya.


"Jujur saja padaku Tiara, aku akan membelamu jika memang mereka melakukan sesuatu yang buruk padamu, kau akan mendapatkan perlindungan hukum di bawah tanggung jawabku asalkan kau mau menceritakan semuanya padaku," ucap Maya yang seolah mengerti keraguan Tiara.


Tiarapun menceritakan tentang apa yang terjadi sebelum ia mengasingkan diri di villa Rafa, ia menjelaskan dengan detail tentang semua yang terjadi dan siapa saja yang terlibat pada kejadian di rumah itu.


"Mereka benar-benar keterlaluan, sudah sepantasnya mereka pergi dari rumah itu tanpa membawa apapun," ucap Maya mendengar cerita Tiara.


"Tiara memilih untuk tidak mempermasalahkan lagi hal itu jadi Tiara mohon kak Maya jangan memperpanjang masalah ini, karena Tiara tidak ingin Mama Laras dan lainnya semakin membenci Tiara," ucap Tiara pada Maya.


"Baiklah, kau jangan khawatir, aku akan memperingatkan mereka untuk tidak mengganggumu lagi karena jika sampai hal itu terjadi mereka akan berhadapan langsung dengan pihak kepolisian!"


"Terima kasih kak Maya," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Maya.


Setelah membicarakan banyak hal, Mayapun berpamitan untuk kembali ke kantor karena jam makan siangnya sebentar lagi akan habis.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam saat Tiara dan Chika sedang menunggu kedatangan Rafa di teras rumah. Setelah beberapa lama menunggu mobil Rafapun tampak memasuki halaman rumah.


"Kalian sudah siap?" tanya Rafa pada Chika dan Tiara.


"Sudah," jawab Tiara dan Chika kompak.


Rafa kemudian membantu membawa barang-barang Tiara dan Chika untuk dimasukkan ke dalam mobil.


Setelah berpamitan pada teman-teman lain yang berada di rumah merekapun meninggalkan rumah itu bersama Rafa.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di rumah yang akan mereka tempati.


Sama seperti sebelumnya Rafapun membantu untuk mengeluarkan barang-barang Tiara dan Chika dari dalam mobilnya


"Kalian berdua bisa mulai bekerja 3 hari lagi, gunakan waktu kalian untuk mengenal kafe sebelum kalian mulai bekerja," ucap Rafa pada Tiara dan Chika


"Baik kak," balas Tiara.


"Baik Pak," balas Chika.


Setelah kepergian Rafa, Tiara dan Chikapun mulai memasukkan barang-barang mereka ke dalam kamar. Sebelum itu mereka lebih dulu berkenalan pada teman mereka yang lain yang juga tinggal di rumah itu.

__ADS_1


Tiara dan Chika memanfaatkan hari-hari mereka berikutnya untuk mengenal kafe seperti perintah Rafa pada mereka berdua.


Mereka juga berjalan-jalan ke sekitar kafe untuk lebih mengenal lingkungan sekitar kafe sebelum mereka tinggal dan bekerja disana.


Hari haripun berlalu, pagi itu Tiara dan Chika berjalan berdua ke arah kafe, memulai hari baru mereka di tempat kerja yang baru.


"Semangat Tiara, semoga apa yang kita jalani disini akan lebih menyenangkan," ucap Chika yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Sesampainya di kafe, mereka berdua segera mengenakan seragam kafe lalu mulai berkutat dengan kesibukan mereka bersama teman-teman baru mereka.


Tak lama kemudian Rafa datang dan meminta Tiara untuk membawakan minuman ke ruangannya.


Setelah Tiara selesai membuat minuman pesanan Rafa iapun segera membawanya ke ruangan Rafa.


Tiara mengetuk pintu beberapa kali sebelum ia masuk lalu menaruh minuman Rafa di atas meja kerja Rafa.


"Ini minuman Pak Rafa," ucap Tiara saat Rafa tengah sibuk dengan komputer di hadapannya.


"Tiara permisi," lanjut Tiara yang hendak berbalik untuk keluar dari ruangan Rafa.


"Apa kau marah padaku?" tanya Rafa yang membuat Tiara menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Rafa.


"Kenapa Pak Rafa bertanya seperti itu?" tanya Tiara tak mengerti.


Rafa menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari duduknya dan menghampiri Tiara. Rafa kemudian memegang kedua bahu Tiara dan menatap kedua mata Tiara dengan dalam.


"Katakan padaku apa kau marah padaku atau kau sedang menghindariku?" tanya Rafa yang merasa jika Tiara menghindarinya sejak mereka meninggalkan villa.


"Tidak..... Tiara tidak sedang marah, Tiara juga tidak sedang menghindari Pak Rafa," balas Tiara sambil melepaskan kedua tangan Rafa dari bahunya.


"Tapi sikapmu berbeda Tiara," ucap Rafa.


"Tiara minta maaf jika yang Pak Rafa bicarakan tentang kejadian di villa, keadaan Tiara saat itu benar-benar di luar kendali Tiara, pak Rafapun tahu hal itu bukan?"


"Iya aku tahu, tapi....."


"Tiara minta maaf jika sikap Tiara membuat Pak Rafa tidak nyaman, tapi seperti inilah hubungan Tiara dan Pak Rafa yang sebenarnya, Tiara hanyalah pegawai di kafe sedangkan Pak Rafa adalah pemilik kafe, apa ada yang salah dengan sikap Tiara sekarang?"


Rafa menghela nafasnya pelan dan menggelengkan kepalanya.


"Tiara permisi," ucap Tiara lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa.


"Tiara minta maaf kak, Tiara hanya tidak ingin terjebak pada perasaan yang nantinya hanya membuat Tiara sakit hati, setelah semua kejadian yang terjadi Tiara harus lebih bisa menjaga hati dan diri Tiara dengan baik," ucap Tiara dalam hati.


"Ada apa Ra? kenapa kau terlihat sedih? apa Pak Rafa memarahimu?" tanya Chika pada Tiara yang tampak murung.


"Tidak, hanya sedang memikirkan masalah lain saja," jawab Tiara dengan berusaha memamerkan senyumnya.


"Kau selalu saja seperti itu, kapan kau akan jujur dan menceritakan masalahmu padaku?" gerutu Chika.


Tiara hanya terkekeh lalu memeluk Chika dan mencium pipinya.


"Kenapa kau kepo sekali? sabar saja, mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakannya padamu," ucap Tiara yang hanya membuat Chika menggelengkan kepalanya pelan.


**


Hari telah berganti, hari dimana Tiara bertemu dengan Maya untuk menemui Mama Laras. Tiara berangkat lebih dulu karena ia ingin bertemu Kevin sebelum ia menemui Mama Laras.


Tiara menunggu Kevin di taman yang ada di dekat rumah Kevin yang dulu sering mereka datangi saat Tiara masih tinggal di sekitar sana.


Setelah beberapa lama menunggu, Tiarapun melihat Kevin berlari kecil menghampirinya.


"Kau ke mana saja Ra, rasanya sudah lama sekali aku tidak bertemu denganmu!" tanya Kevin pada Tiara.


"Aku hanya sedang menenangkan diri satu bulan kemarin, bukahkah kak Rafa sudah memberi tahumu?"


"Iya, aku beberapa kali datang ke kafe untuk mencarimu karena aku tidak bisa menghubungimu sama sekali, kebetulan hari itu aku bertemu pak Rafa dan pak Rafa memberitahuku jika kau sedang menenangkan diri di suatu tempat, memangnya ada apa Ra? apa ada masalah besar?"


"Ini tentang mama Laras dan warisan papa, tapi jangan khawatir, aku sudah baik baik saja sekarang, aku akan menyelesaikan semuanya hari ini," jawab Tiara.


"Kau selalu punya aku Tiara, kau bisa meminta tolong padaku jika terjadi sesuatu," ucap Kevin.

__ADS_1


"Iya Kevin aku tau, mungkin suatu saat nanti aku akan merepotkanmu lagi!"


"Tidak masalah, memang itulah gunanya teman," balas Kevin.


"Kau benar sekali, tapi rasanya hanya aku yang merepotkanmu hehehe...." ucap Tiara dengan terkekeh.


"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, apa sekarang kau masih bekerja di kafe pak Rafa?" tanya Kevin


"Iya, tapi aku bekerja di kafe cabang yang cukup jauh dari sini, aku juga tinggal di dekat kafe cabang," jawab Tiara.


"Kau harus memberiku alamat barumu agar aku bisa sering menemuimu disana!"


"Tentu saja," balas Tiara.


"Lalu bagaimana dengan impianmu untuk masuk ke perusahaan itu? apa kau sudah mempersiapkannya?" tanya Kevin.


"Minggu depan aku akan mengikuti seminar yang diadakan setiap satu Minggu sekali di perusahaan itu, setidaknya akan banyak hal baru yang aku pelajari dari seminar itu," jawab Tiara.


"Baguslah kalau begitu, karena aku dengar 2 bulan lagi perusahaan itu akan mengadakan perekrutan untuk fresh graduate, jadi itu adalah kesempatanmu Tiara," ucap Kevin.


"Iya Kevin, aku akan berusaha semaksimal mungkin agar bisa melewati semua tesnya," balas Tiara.


"Semangatlah Tiara, aku yakin kau bisa!"


Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Maya yang membuat Tiara segera menerima panggilan itu.


"Halo Tiara, kau dimana? aku sudah berada di taman dekat rumahmu," tanya Maya.


"Aaahh iya, Tiara keluar sekarang," balas Tiara.


Tiara kemudian berpamitan pada Kevin untuk pergi menemui Mama Laras bersama Maya.


"Aku harus menemui Mama Laras sekarang Kevin, aku akan segera memberimu alamat tempat baruku nanti!"


"Oke," balas Kevin.


Tiarapun membawa langkahnya keluar dari area taman untuk menemui Maya yang sudah menunggunya di depan taman.


Tiara kemudian masuk ke dalam mobil Maya dan tanpa basa-basi Maya mengendarai mobilnya ke arah rumah Tiara.


"Apa kau gugup?" tanya Maya pada Tiara saat mereka hampir sampai.


"Sedikit," jawab Tiara.


"Jangan gugup, tidak akan ada yang bisa dilakukan Mama tirimu selain menerima apa yang sudah menjadi keputusanmu," ucap Maya.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun karena ia sedang berusaha untuk mengatasi kegugupannya saat itu.


Sesampainya disana, Maya dan Tiarapun disambut oleh Mama Laras yang sudah menunggu kedatangan mereka karena sebelumnya Maya memberitahu Mama Laras jika dirinya dan Tiara akan datang.


Maya dan Tiarapun masuk dan duduk di ruang tamu bersama Mama Laras, Gita dan Bima.


Setelah berbasa-basi singkat Mayapun menjelaskan tentang keputusan Tiara tentang warisan yang ditinggalkan oleh sang papa.


"Sebelumnya saya sudah memberitahu ibu Laras tentang isi dari surat wasiat Ardi, apa ibu Laras masih mengingatnya?" ucap Maya sekaligus bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Mama Laras.


"Baiklah, kedatangan saya kesini adalah untuk menyampaikan keputusan final yang sudah dipikirkan dengan baik-baik oleh Tiara, seperti yang tertulis dalam surat wasiat Pak Ardi jika Tiara tidak diperlakukan dengan baik dan dia sudah tidak tinggal di rumah ini sebelum dia wisuda maka ibu Laras dan Gita tidak akan mendapatkan apapun dari seluruh aset yang ditinggalkan oleh Pak Ardi," ucap Maya.


"Tapi itu tidak mungkin terjadi bukan?" tanya Mama Laras.


"Pada kenyataannya itulah yang terjadi, Tiara sudah menceritakan semuanya pada saya tentang bagaimana ibu Laras dan Gita selama ini memperlakukan Tiara, terlebih Tiara meninggalkan rumah ini sebelum dia wisuda dan bekerja sendiri untuk membiayai kuliahnya, saya rasa itu sudah cukup untuk membuat ibu Laras dan Gita tidak mendapatkan apapun dari seluruh aset yang ditinggalkan oleh Pak Ardi," jawab Maya menjelaskan.


"Tapi bagaimanapun juga saya adalah istri sahnya, saya sendiri yang mengurus semua bisnis suami saya setelah dia meninggal!" ucap Mama Laras.


"Mungkin ibu Laras tidak tahu bahwa selama ini saya memperhatikan hal itu dan sejauh yang saya tahu ibu Laras tidak benar-benar mengurus semua bisnis itu karena semua bisnis itu sudah ditangani oleh orang-orang kepercayaan Pak Ardi sendiri," ucap Maya yang membuat Mama Laras terdiam.


"Tiara, kau tidak mungkin tega melakukan hal ini pada Mama bukan? apa kau lupa bagaimana Gita menyayangimu selama ini, mungkin hubungan kalian sedang tidak baik-baik saja saat ini, tapi apa kau pernah berpikir bahwa hal itu terjadi karena sikapmu pada Bima?" ucap Mama Laras pada Tiara.

__ADS_1


"Sepertinya kau belum menceritakan masalah ini padaku," ucap Maya pada Tiara.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan sebelum ia mulai berbicara.


__ADS_2