
Di rumah Rafa, suasana tampak semakin memanas setelah orang tua Maya mengetahui tentang pernikahan Maya dan Rafa.
Mereka tidak pernah berpikir sebelumnya jika pernikahan Rafa dan Maya yang terlihat baik-baik saja sebenarnya menyimpan permasalahan yang rumit.
Tidak hanya Maya yang berselingkuh tapi juga Rafa yang menyukai perempuan lain, hal itu tentu saja membuat orang tua Maya marah dan kecewa, terutama mama Maya yang sangat kecewa pada Maya dan juga Rafa yang dianggapnya sudah mempermainkan pernikahan.
"Saya sengaja menghubungi kalian untuk membicarakan masalah ini sebagai keluarga, tentang masalah orang ketiga diantara hubungan mereka sebaiknya tidak perlu kita bahas lagi, mereka hanya orang ketiga yang terjebak diantara pernikahan Rafa dan Maya," ucap papa Rafa.
"Saya setuju, sebagai orang tua Maya saya minta maaf atas sikap Maya yang sudah menodai pernikahannya bersama Rafa," balas papa Maya..
"Ini bukan sepenuhnya kesalahan Maya, karena memang dari awal pernikahan mereka tidak berjalan dengan baik," ucap pala Rafa.
"Rafa minta maaf ma pa, maaf karena sudah mengecewakan mama dan papa yang sudah mempercayakan Maya pada Rafa," ucap Rafa meminta maaf pada kedua mertuanya.
"Ini bukan kesalahanmu Rafa, mungkin perjodohan kalian berdua memang tidak seharusnya terjadi, kami para orang tua juga ikut andil dalam permasalahan ini," balas papa Maya.
"Jadi bagaimana keputusanmu Rafa, bagaimanapun juga kau adalah suami Maya saat ini dan kau berhak untuk memutuskan bagaimana kelanjutan pernikahanmu bersama Maya," lanjut papa Maya bertanya pada Rafa.
"Tidak ada alasan bagi Rafa untuk tidak menceraikan Maya pa, Rafa minta maaf jika keputusan Rafa ini mengecewakan tetapi ini adalah jalan terbaik untuk pernikahan yang memang tidak berjalan dengan baik dari awal," jawab Rafa dengan tegas.
"Bagaimana denganmu Maya? apa kau juga setuju dengan keputusan Rafa?" tanya sang papa pada Maya.
"Tidak pa, Maya benar-benar menyesali apa yang sudah Maya lakukan dan sekarang Maya sudah mencintai Rafa, Maya tidak ingin berpisah dari Rafa," jawab Maya.
"Dimana harga dirimu sebagai perempuan Maya? dia tidak mencintaimu, dia bahkan berselingkuh dengan perempuan lain, lebih baik memang kalian berpisah saja!" sahut Mama Maya.
"Tolong jangan hanya menyalahkan Rafa, Rafa bahkan tidak berhubungan sejauh Maya berhubungan dengan selingkuhannya," ucap Mama Rafa yang merasa tidak terima karena mama Maya selalu menyudutkan Rafa.
"Sudah sudah jangan bertengkar, dari awal pernikahan mereka memang sama-sama tidak saling mencintai, jadi wajar jika mereka mencari kesenangan mereka masing-masing, apa yang dilakukan Maya memang sudah keterlaluan dan apa yang Rafa lakukan juga tidak bisa dibenarkan, jadi memang sebaiknya mereka berpisah saja," ucap papa Rafa berusaha menengahi pertengkaran sang istri dengan mama Maya.
"Saya setuju, bagaimana dengan Mama?" ucap papa Maya sekaligus bertanya pada sang istri.
"Tentu saja Mama setuju, memang lebih baik seperti itu, toh Maya juga tidak benar-benar bahagia menjalani pernikahannya bersama Rafa," balas mama Maya.
"Baiklah kalau begitu lebih baik urus perceraianmu dengan Maya secepatnya Rafa!" ucap Mama Rafa pada Rafa.
Maya hanya terdiam pasrah menerima keputusan semua yang ada disana. Pernikahan yang dari awal tidak dilandasi dengan cinta pada akhirnya harus berakhir sia-sia, meskipun Maya mencintai Rafa kini rasa cinta itu sama sekali tidak berarti untuknya.
Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi untuk mempertahankan Rafa, karena sudah tidak ada yang mendukungnya untuk tetap mempertahankan pernikahannya bersama Rafa.
"Sebelum Rafa dan Maya menyelesaikan masalah mereka di pengadilan, sebagai orang tua mari kita selesaikan masalah ini dengan damai tanpa ada pertengkaran ataupun dendam diantara kita," ucap papa Rafa.
"Pak Adam tidak perlu khawatir, saya sekeluarga bisa menerima keputusan Rafa karena memang inilah yang terbaik untuk mereka, jadi saya pastikan tidak akan ada dendam di antara keluarga kita," balas papa Maya.
Hari itu juga Rafapun pergi ke pengadilan untuk mengajukan gugatan perceraiannya dengan Maya.
Secara agama Rafa sudah menjatuhkan talaknya pada Maya yang membuat perceraian mereka sah di mata agama, namun mereka masih harus menunggu proses yang lebih panjang di pengadilan.
Meskipun begitu, Rafa sudah mengemasi barang-barangnya dari rumah tempat tinggalnya bersama Maya. Rafa memutuskan untuk tinggal di rumah yang ia beli untuk Tiara.
Rumah sederhana yang akan ia tempati seorang diri bersama bibi yang kini ikut bekerja di rumah barunya, meninggalkan Maya sendirian di rumah yang lama.
Sejak Rafa menceraikan Maya di rumah orang tuanya, Rafapun menjalani hari-harinya dengan lebih bahagia.
Meskipun ia masih harus mengikuti beberapa sidang di pengadilan, tetapi ia merasa sudah terlepas dari belenggu pernikahan yang sempat memenjarakan dirinya.
Kini ia hanya perlu fokus dengan pekerjaannya di kantor sembari memperbanyak cabang kafe miliknya yang kini sudah berkembang dengan baik.
__ADS_1
Diam diam Rafa juga sudah menyiapkan rumah baru yang berada di kompleks perumahan mewah. Ia sengaja membeli rumah mewah dengan 3 lantai itu untuk ia tempati bersama keluarga kecilnya suatu hari nanti.
Dalam hatinya Rafa masih berharap untuk bisa kembali bersama Tiara. Terlebih saat ia sudah menyelesaikan masalahnya dengan Maya, keinginannya untuk mendekati Tiara semakin meluap-luap dalam hatinya.
Meskipun begitu Rafa tidak ingin gegabah, ia akan mempersiapkan semuanya dengan lebih baik agar ia tidak kembali mengecewakan gadis yang dicintainya itu.
Rafa juga membiarkan Tiara untuk fokus dengan mimpi barunya, karena ia tahu sejak Tiara memutuskan untuk melanjutkan pendidikannya di luar negeri Tiara pasti sudah merencanakan banyak hal baru dalam hidupnya.
Rafa tidak ingin kembalinya dirinya hanya akan merusak rencana masa depan Tiara.
"Tunggu aku Tiara, aku pasti akan mendapatkanmu lagi, aku akan kembali padamu dengan membawa kebahagiaan yang selama ini kau inginkan," ucap Rafa dalam hati sambil menatap foto Tiara yang tersimpan di ponsel miliknya.
Di sisi lain, Maya kini tinggal seorang diri di rumah yang dulu ia tempati bersama Rafa. Ia menolak untuk kembali tinggal bersama orang tuanya karena sang mama yang selalu memarahinya.
Tak jarang Mama Maya datang menemui Maya hanya untuk meluapkan emosi dan kekecewaannya pada Maya.
Sang Mama benar-benar tidak menyangka jika anak perempuan yang dibanggakannya itu sudah melakukan kesalahan fatal yang mengancam nama baik keluarga.
"Apa kau tidak berpikir apa yang akan terjadi pada keluarga kita jika video itu tersebar luas dan dilihat semua orang di negara ini?" tanya Mama Maya pada Maya.
"Tidak bisakah Mama melupakannya saja, semua itu sudah berlalu dan Maya juga sudah tidak berhubungan dengan laki-laki itu!" balas Maya.
"Kau memang sangat egois Maya, bahkan setelah perbuatan buruk yang sudah kau lakukan kau sama sekali tidak tampak menyesalinya, kau hanya menyesal karena hal itu membuat Rafa menceraikanmu!" ucap Mama Maya yang semakin geram melihat sikap anak perempuannya.
"Ini semua juga karena mama, mama selalu menyudutkan Rafa dan merendahkan Rafa, itu juga yang membuat Rafa semakin yakin untuk menceraikan Maya, seharusnya Mama tidak perlu ikut campur dalam rumah tangga Maya, mama...."
PLAAAAAKKKKK
Satu tamparan keras mendarat di pipi Maya. Seketika Maya hanya terdiam, tidak menyangka jika sang Mama akan menamparnya
"Jaga bicaramu Maya, selama ini Mama sudah melakukan banyak hal untukmu tapi ini balasanmu untuk Mama? Mama sudah berusaha untuk mengangkat harga dirimu tetapi kau sendiri yang menjatuhkan harga dirimu di depan Rafa, benar-benar memalukan!"
"Itu karena mama menyayangimu Maya, Mama tidak ingin kau salah melangkah!" balas sang mama.
"Tapi mama lihat apa yang terjadi sekarang? ini semua karena keputusan Mama yang sudah menjodohkan Maya dengan Rafa!"
"Ini kesalahanmu dan Rafa, bukan kesalahan mama!"
"Mama memang sangat egois, sekarang Maya tau jika keegoisan Maya berasal dari mama," ucap Maya dengan tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke dalam kamar sebelum tiba-tiba sang papa datang dan memanggilnya.
"Maya tunggu!" ucap sang papa yang membuat Maya menghentikan langkahnya dan melihat sang papa yang berjalan ke arahnya dengan raut wajah penuh emosi.
PLAAAAAKKKKKKK
Satu tamparan keras kembali mendarat di pipi Maya, kali ini dari sang papa yang selama ini tidak pernah bersikap kasar padanya.
Seketika Maya terdiam dengan kedua mata berkaca-kaca, untuk pertama kali dalam hidupnya ia mendapatkan tamparan berturut-turut dari mama dan papanya.
"Lihat apa yang sudah kau lakukan Maya, kau benar-benar sudah merusak nama baik keluarga kita!" ucap papa Maya penuh emosi sambil memberikan ponselnya pada Maya.
Mayapun menerima ponsel sang papa dan membaca berita media online yang ada di ponsel sang papa.
Media online itu menampilkan sebuah foto dan video dirinya bersama Bagas saat sedang berjalan sambil berpelukan lalu masuk ke dalam salah satu kamar hotel.
Tentu saja media online itu tidak mengenal Bagas tetapi mereka mengenali wajah Maya yang merupakan anak dari pemilik firma hukum ternama di kota itu.
Alhasil berita itupun cepat menyebar dengan luas, tidak hanya membawa nama orang tua Maya tetapi juga nama firma hukum milik keluarga Maya.
__ADS_1
"Apa yang akan kau lakukan sekarang Maya? kau sudah berhasil menjatuhkan nama baik keluarga dan perusahaan yang sudah papa rintis dari nol!"
Maya hanya diam tanpa bisa mengatakan apapun karena ia memang tidak tahu apa yang bisa ia lakukan untuk mencegah berita itu menyebar semakin luas.
"Beruntung mereka tidak tahu jika kau adalah istri Rafa, menantu Adam Mahendra, pemilik perusahaan besar di kota ini, jika mereka tahu mereka akan semakin menilaimu sebagai perempuan yang sangat buruk karena sudah berselingkuh dari Rafa!" ucap sang papa.
"Tapi Rafa juga berselingkuh Pa, dia......"
"Dia tidak melakukan hal sejauh yang kau lakukan dengan laki-laki itu, berhenti menyalahkan Rafa karena disini kaulah yang bersalah, kau bodoh karena sudah melakukan hal sejauh itu dengan laki-laki lain selain suamimu!" ucap sang papa memotong ucapan Maya.
"Sekarang selesaikan sendiri masalah ini, jangan sampai media tahu jika kau pernah menjadi istri Rafa karena itu hanya akan memperburuk situasi!" ucap sang papa lalu berjalan pergi begitu saja diikuti oleh sang mama.
Setelah kepergian mama dan papanya, Maya hanya terdiam terduduk di lantai menatap kepergian mama dan papanya.
Mama dan papa yang dulu sangat menyayangi dan memanjakannya kini tampak seperti orang lain di hadapannya, bahkan tanpa ragu mereka melayangkan tamparannya pada Maya.
Di hadapan orang tua Rafa, papa maya terlihat tenang dalam menghadapi masalah pernikahan Maya dan Rafa, namun ternyata papa Maya menyimpan amarah yang besar dalam dirinya.
Begitu juga dengan Mama Maya, di hadapan orang tua Rafa Mama Maya masih berusaha membela Maya, namun sebenarnya menyimpan emosi dan meluapkannya pada Maya tanpa terkendali.
Kini Maya hanya bisa terdiam menangis, menyesali semua kesakitan yang bertubi-tubi menghantam dirinya.
Ia merasa jatuh ke dalam jurang yang bahkan tidak bisa ia lihat ujungnya. Semua yang di hadapannya tampak gelap, tidak ada satupun titik cahaya yang menjadi petunjuknya.
"Sepertinya hidupku benar-benar sudah berakhir sekarang, tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, aku terlalu malu untuk menghadapi orang-orang di luar sana yang sudah menyiapkan segala macam cacian dan ucapan buruk tentangku!" ucap Maya dengan raut wajah penuh kesedihan.
**
Di tempat lain, Tiara dan teman-temannya sedang berada di restoran Indonesia bersama Putra. Mereka menikmati berbagai macam makanan khas Indonesia, tidak hanya makanan berat tetapi juga beberapa makanan ringan seperti gorengan ataupun jajanan pasar.
"Waaahhh this is amazing," ucap salah satu teman Tiara setelah mencoba beberapa makanan yang ada di hadapannya.
"All of this really really delicious!" ucap teman Tiara yang lain.
Mereka semua kompak menyukai rasa masakan Indonesia. Beberapa dari mereka mengatakan jika makanan Indonesia memiliki ciri khas yang unik, keunikan rasanya membuat mereka tidak ingin berhenti menikmatinya.
Setelah beberapa lama berada di restoran itu, Putrapun mengantarkan Tiara dan teman-temannya untuk kembali pulang.
"Setelah ini aku akan pergi ke kantor untuk menyerahkan beberapa file, apa kau mau ikut denganku?" ucap Putra sekaligus bertanya pada Tiara.
"Memangnya boleh Tiara ikut?" balas Tiara bertanya.
"Tentu saja boleh, aku akan menunjukkan padamu seindah apa pemandangan dari ruang kerjaku," jawab Putra yang membuat Tiara bersemangat untuk ikut Putra pergi ke kantor.
Setelah mengantarkan teman-teman Tiara kembali pulang, Putrapun mengendarai mobilnya pergi ke kantor bersama Tiara.
"Tunggu sebentar disini, aku ingin menemui seseorang terlebih dahulu!" ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tak lama kemudian Putrapun kembali lalu mengajak Tiara untuk ke ruang kerjanya yang berada di lantai 11.
Sesampainya di lantai 11, Putrapun segera membawa langkahnya ke arah salah satu pintu lalu membukanya dan mengajak Tiara masuk ke dalam.
Seketika Tiara terdiam menatap pemandangan di hadapannya, tanpa sadar ia membawa langkahnya mendekat ke arah dinding kaca yang ada di ruangan Putra.
"Jadi ini pemandangan yang setiap hari kak Putra lihat di ruangan kakak?" tanya Tiara tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan di hadapannya.
"Iya seperti inilah, sekarang kau tahu bukan alasanku kenapa aku sering menghabiskan waktuku disini sampai malam?"
__ADS_1
Tiara menganggukkan kepalanya paham. Ia menatap hamparan luas kota Cambridge di hadapannya, membuatnya terkagum dan tidak bisa membayangkan betapa indahnya pemandangan itu saat malam tiba.
Lampu-lampu yang menghiasi seluruh kota pasti akan terlihat lebih indah jika ia bisa menikmati pemandangan itu saat malam.