Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Salah Paham


__ADS_3

Rafa yang begitu terkejut mendengar ucapan sang mama hanya bisa terdiam untuk beberapa saat.


Hal paling mustahil itu tidak mungkin terjadi pada Maya karena ia sama sekali tidak pernah berhubungan suami istri dengan Maya dan hal itu hanya akan terjadi jika Maya melakukannya dengan laki laki lain.


"Halo Rafa, kenapa kau hanya diam?" tanya mama Rafa.


"Kenapa mama tiba tiba berbicara seperti itu? siapa yang memberi tahu mama hal itu?" balas Rafa bertanya pada sang mama.


"Mama mertuamu yang menghubungi mama dan memberi tahu mama tentang kehamilan Maya," jawab mama Rafa.


"Tapi itu tidak mungkin ma, Rafa....."


"Kenapa tidak mungkin? kalian sudah cukup lama menikah, wajar jika sekarang Maya hamil!" ucap mama Rafa memotong ucapan Rafa.


"Rafa akan menanyakannya sendiri padanya," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilan sang mama.


Sedangkan Tiara yang berada di dekat Rafa hanya diam meski ia melihat Rafa tampak panik dengan wajahnya yang menegang saat itu.


"Ra, sepertinya kita harus melanjutkannya besok, kau tidak keberatan bukan?"


"Tidak, Tiara akan mengerjakannya sendiri disini," jawab Tiara.


"Aku akan mengantarmu pulang Ra, aku...."


"Tidak perlu kak, Tiara akan mengerjakannya disini, kak Rafa pergi saja," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Kau tidak marah padaku bukan?" tanya Rafa memastikan.


"Tentu saja tidak, kak Rafa pergilah dan selesaikan masalah kakak," jawab Tiara.


"Jaga dirimu baik baik, aku pergi dulu," ucap Rafa sambil mengusap kepala Tiara lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara.


Tiara hanya terdiam dengan memanyunkan bibirnya sambil mengusap kepalanya seperti yang baru saja Rafa lakukan padanya.


"apa yang terjadi? kenapa kak Rafa terlihat panik?" tanya Tiara dalam hati.


Ia sengaja tidak menanyakannya pada Rafa karena ia tau Rafa harus segera pergi saat itu. Rafa hanya akan menghabiskan waktunya jika harus menjelaskan masalahnya pada Tiara terlebih dahulu.


"Apapun itu, semoga masalah kak Rafa cepat selesai," ucap Tiara lalu kembali fokus dengan skripsinya.


Di tempat lain Rafa mengendarai mobilnya sambil menghubungi Maya. Setelah beberapa kali panggilannya tidak diterima akhirnya Maya menerima panggilan Rafa.


"Halo, ada apa?" tanya Maya dengan nada bicara yang sangat santai.


"Kau dimana sekarang?" balas Rafa bertanya.


"Di rumah sakit," jawab Maya santai.


"Apa kau bersama mamamu?" tanya Rafa.


"Tidak, aku sendirian," jawab Maya.


"Kirimkan alamat rumah sakitnya padaku, aku akan segera kesana sekarang," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.


Tak lama kemudian sebuah pesan masuk yang menunjukkan di mana Maya saat itu. Rafapun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Maya dirawat.


Sesampainya di rumah sakit Rafa segera mencari ruangan Maya.


"Kenapa kau tiba-tiba mencariku? apa kau sudah mulai perhatian padaku?" tanya Maya saat Rafa baru saja membuka pintu ruangannya.


"Apa yang terjadi padamu? kenapa kau bisa ada di rumah sakit?" tanya Rafa.


"Waahh sepertinya kau benar-benar mulai perhatian padaku sekarang," ucap Maya tanpa menjawab pertanyaan Rafa.


"Jawablah Maya apa yang terjadi padamu!" ucap Rafa dengan kesal.


"Aku hanya merasa sedang tidak enak badan dan aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sendiri daripada aku harus pingsan di rumah," balas Maya santai.


"Kau tidak sedang hamil bukan?" tanya Rafa yang membuat Maya begitu terkejut.


"Hamil? kau pikir aku perempuan seperti apa? pergilah jika kau hanya ingin membuatku semakin pusing," balas Maya yang kesal dengan pertanyaan Rafa.


"Jika sampai hal itu terjadi padamu aku akan benar-benar menceraikanmu saat itu juga," ucap Rafa yang masih tampak emosi saat itu.


"Apa yang kau bicarakan Rafa, kenapa kau tiba-tiba berbicara seperti itu?" tanya Maya tak mengerti.


"Tanyakan saja pada mamamu," balas Rafa lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa yang ada di dekat ranjang Maya.


"Mama? kenapa aku harus menanyakannya pada mama? berbicara yang jelas Rafa kau membuatku semakin pusing saja!"


"Seharusnya aku yang bertanya padamu Maya, apa yang sudah kau katakan pada mamamu sehingga mamamu mengira kau hamil dan memberitahu Mama tentang hal itu!"

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan apapun pada Mama, aku hanya...... aahh pasti Mama salah paham," ucap Maya sambil menepuk keningnya pelan.


"Tenang saja, aku akan membicarakannya pada mama," lanjut Maya.


"Tapi kau sungguh tidak hamil bukan?" tanya Rafa memastikan.


"Tentu saja tidak, kau pikir aku perempuan seperti apa yang bisa hamil padahal tidak pernah disentuh oleh suaminya," balas Maya.


"Kau bisa menanyakannya pada dokter jika kau tidak mempercayaiku," lanjut Maya.


"Lalu kenapa kau bisa ada disini dan kenapa mamamu bisa berpikir bahwa kau hamil?" tanya Rafa.


"Bukankah kau sudah tahu bahwa aku sedang tidak sehat sejak kemarin? aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sebelum aku benar-benar pingsan di rumah dan mungkin karena itu Mama berpikir bahwa aku sedang hamil, karena selama ini aku sangat jarang sakit seperti ini," jawab Maya menjelaskan.


"Kau selalu saja membuat masalah, jika sudah seperti ini mama pasti akan sangat kecewa dan terus membicarakan masalah ini," ucap Rafa.


"Kita sudah menikah cukup lama Rafa, wajar jika keluargaku dan keluargamu mengharapkan hal itu, karena mereka tidak tahu tentang hubungan kita yang sebenarnya, kekecewaan mamamu juga pasti dirasakan oleh Mama karena mamapun mengharapkan hal yang sama seperti mamamu," balas Maya.


"Baiklah kalau begitu, jelaskan semuanya pada mamamu agar mamamu mengklarifikasinya pada mama, aku tidak ingin Mama menerorku dengan pertanyaan-pertanyaan itu, benar-benar sangat mengganggu!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.


"Kau mau kemana?" tanya Maya.


"Banyak hal yang harus aku kerjakan Maya, aku bukan pengangguran seperti yang kau pikirkan," jawab Rafa lalu membawa langkahnya keluar dari ruangan Maya.


"Pernikahan ini benar-benar membuatku gila," ucap Rafa kesal.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari sang Mama yang membuat Rafa enggan untuk menerimanya namun sebuah pesan dari sang Mama membuat Rafa memutuskan untuk segera menghubungi sang mama.


"Mama sudah bersiap untuk berangkat ke rumahmu!"


Karena tidak ingin sang mama datang ke rumahnya Rafapun segera menghubungi mamanya.


"Halo ma, Mama dimana sekarang?" tanya Rafa saat sang Mama sudah menerima panggilannya.


"Mama baru saja keluar dari rumah, Mama ingin pergi ke rumahmu untuk melihat keadaan Maya dan membawa beberapa...."


"Tidak perlu, Maya sedang tidak berada di rumah sekarang," ucap Rafa memotong ucapan sang mama.


"Dimana dia? apa dia ada di rumah sakit?" tanya sang mama.


"Iya, dia ada di rumah sakit tapi mama tidak perlu datang mungkin sebentar lagi mama Maya akan menghubungi Mama untuk menjelaskan semuanya!"


"Jangan berangkat ma, Mama hanya akan menyesal jika Maya menemui Maya sekarang," ucap Rafa.


"Tolong jelaskan pada Mama sayang, apa yang terjadi?" ucap Mama Rafa.


"Mama tunggu saja kabar dari mama Maya," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilannya pada sang mama


**


Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Tiara baru saja tiba di kafe. Karena pagi harinya ia harus mengerjakan skripsi bersama Rafa ia memilih untuk bekerja saat shift sore.


Setelah mengenakan seragam Tiarapun mulai sibuk dengan pekerjaannya. Tiba-tiba salah satu temannya menghampirinya dan memberitahunya bahwa seseorang tengah mencarinya.


"Sepertinya dia temanmu yang pernah datang kesini," ucap Ana pada Tiara.


"Benarkah? dimana dia sekarang?" tanya Tiara.


"Dia ada di bangku outdoor, temui saja dia, lagi pula sedang tidak banyak pelanggan yang datang sekarang," jawab Ana.


Tiara menganggukkan kepalanya lalu membuat minuman untuk dibawanya menemui temannya yang sudah ia duga bahwa itu adalah Kevin.


Benar saja saat Tiara baru saja melewati pintu kafe ia melihat Kevin yang duduk di bangku outdoor kafe.


Dengan tersenyum Tiara membawa langkahnya ke arah Kevin lalu menaruh minuman milik Kevin di atas meja.


"Milikmu," ucap Tiara.


"Apa aku mengganggu pekerjaanmu?" tanya Kevin pada Tiara yang sudah duduk di hadapannya.


"Tidak, bagaimana pertemuanmu dengan papa Bella?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Cukup menyenangkan, tidak semenagangkan yang aku pikirkan," jawab Kevin.


"Baguslah kalau begitu."


"Aku menemuimu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu Ra, beberapa hari yang lalu seseorang menemuiku dan menanyakan keberadaanmu!" ucap Kevin.


"Siapa? apa kau mengenalnya?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Tidak, aku tidak mengenalnya, dia menanyakan banyak hal tentangmu padaku, termasuk nomor yang bisa dia hubungi dan juga tempat tinggalmu saat ini!"


"Apa yang kau katakan padanya Kevin? kau tidak memberitahukan semua itu padanya bukan?"


"Tentu saja tidak, aku mengatakan padanya bahwa aku sudah lama tidak berhubungan denganmu tapi sepertinya dia tidak mempercayaiku, dia memberikanku ini dan memintaku untuk memberikannya padamu," jawab Kevin menjelaskan sambil memberikan sebuah kartu nama pada Tiara.


"Maya Paradista.... Maya.... nama yang tidak asing," ucap Tiara setelah ia membaca kartu nama yang ada di tangannya.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Kevin.


"Tidak, tapi jika dilihat dari profesinya sepertinya dia ada hubungannya dengan Mama Laras atau papa," jawab Tiara.


"Apa mungkin dia pengacara papamu? sepertinya kau harus menghubunginya Ra," ucap Kevin.


Tiara menggelengkan kepalanya lalu mengembalikan kartu nama itu pada Kevin.


"Kenapa?" tanya Kevin.


"Anggap saja kau tidak pernah bertemu denganku dan aku tidak pernah menerima kartu nama ini darimu," jawab Tiara.


"Dia sudah beberapa kali mendatangi rumahmu Ra dan dia tidak menemukanmu disana, itu kenapa dia mencarimu ke kampus, sepertinya dia bukan orang yang jahat," ucap Kevin.


"Aku tidak bisa mempercayainya begitu saja Kevin, terlebih jika seseorang itu berhubungan dengan Mama Laras," balas Tiara.


"Lalu bagaimana jika dia memang orang baik yang diperintahkan papamu untuk mencarimu?"


"Entahlah, aku hanya perlu waspada sekarang, jika memang kebaikan sudah ditakdirkan padaku aku yakin kebaikan itu akan tetap kembali padaku bagaimanapun caranya," balas Tiara.


"Berjanjilah padaku untuk tidak memberitahukan apapun tentangku padanya Kevin," lanjut Tiara memperingatkan Kevin.


"Tenang saja, kau bisa mempercayaiku Ra, kau mengenalku bukan?" balas Kevin.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Ia mempercayai Kevin karena selama ini hanya Kevinlah teman terdekatnya yang tau semua hal tentangnya.


Sebelum Kevin pergi, Kevin sengaja menaruh kartu nama Maya di atas meja agar Tiara menyimpannya, meskipun Tiara bersikeras untuk tidak akan menghubunginya.


Setelah kepergian Kevin, saat Tiara akan membuang cup minuman Kevin, ia baru tersadar jika kartu nama yang Kevin berikan masih ada disana.


Tiara hanya tersenyum tipis lalu memasukkan kartu nama itu ke dalam saku seragam kafe yang dikenakannya.


Tiara kemudian melanjutkan pekerjaannya sampai jam kerjanya selesai.


Saat Tiara melepas seragamnya, kartu nama di sakunya terjatuh, Tiarapun mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tasnya lalu berjalan pulang meninggalkan kafe bersama Ana.


"Antar aku ke mini market yang ada di belakang kafe Ra!" ucap Ana pada Tiara.


"Kenapa harus ke mini market itu? bukankah itu cukup jauh?" tanya Tiara.


"Disana sedang ada promo untuk barang yang aku cari, kita bisa lewat jalan tikus yang ada di dekat sini agar lebih cepat," balas Ana.


"Baiklah, ayo!" ucap Tiara.


Tiara dan Anapun berjalan ke arah gang sempit yang tak jauh dari kafe. Gang sempit itu cukup gelap dan sepi. Hanya ada mereka berdua di bawah remang lampu yang jaraknya cukup jauh satu sama lain.


"Aaaahhh ponselku tertinggal Ra, aku harus mengambilnya dulu," ucap Ana setelah ia mencari ponselnya di dalam tasnya.


"Aku menunggumu disana saja, cepatlah kembali!"


"Kau yakin tidak ikut kembali ke kafe?"


"Yakin, tenang saja, aku bukan penakut, cepat ambil ponselmu dan segera kembali kesini!" ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Ana.


Anapun berlari meninggalkan Tiara untuk mengambil ponselnya di kafe. Sedangkan Tiara hanya berdiam di gang sempit dan sepi itu seorang diri sambil memainkan ponselnya.


Tak berapa lama kemudian, Tiara melihat seseorang berjalan ke arahnya. Semakin lama semakin terlihat jelas jika seseorang itu adalah seorang laki laki yang tampak sedang mabuk karena Tiara melihat laki laki itu membawa botol minuman keras.


"Jangan takut Ra, mungkin dia hanya ingin lewat sini," ucap Tiara pada dirinya sendiri.


Seseorang itu kemudian mengentikan langkahnya tepat di samping Tiara, membuat Tiara menggeser posisinya sedikit menjauh dari laki laki itu.


"Hai cantik," ucapnya dengan bau khas alkohol yang sangat menggangu.


Saat Tiara akan berjalan pergi, laki laki itu segera menarik tangan Tiara, membuat Tiara refleks menendang laki laki itu lalu berlari pergi.


Namun ternyata laki laki itu terus mengejar Tiara, membuat Tiara terus berlari tanpa memperhatikan jalan hingga ia tidak sadar bahwa ia sudah melewati batas trotoar jalan.


CKIIIIIIIIITTTTTT BRAAAAAKKKKK!!!!!!


Decitan ban mobil dan suara tabrakan seolah menggema di malam yang tak berbintang itu. Tiara terkapar di jalan raya beratapkan hamparan langit yang penuh kegelapan hingga tak ada lagi yang terlihat olehnya selain gelap dan samar samar suara teriakan yang perlahan menghilang.


Darah mengucur dari kening Tiara bersama luka lain yang ada di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


Riuh orang orang yang ada di tempat kejadian itupun membuat jalan raya menjadi macet karena tak ada satupun dari mereka yang berani menyentuh Tiara.


Beberapa dari mereka menghubungi ambulans dan polisi, membuat mereka hanya terdiam menunggu ambulans datang.


__ADS_2