
Bulan-bulan yang panjang telah berlalu. Penantian Tiara dan Rafa akhirnya membuahkan hasil setelah dokter mengatakan jika Tiara tengah mengandung anak pertamanya.
Hal itu tentu saja membuat keluarga Rafa dan Tiara ikut senang. Berita bahagia itu juga sudah sampai di telinga Putra yang saat itu sudah kembali ke Amerika.
Semuanya berbahagia, semuanya memberikan do'a yang terbaik untuk Tiara dan bayi dalam kandungannya.
Rafapun kini semakin memanjakan Tiara. Setiap hari Rafa selalu pulang tepat waktu, ia selalu tidak sabar untuk mengelus perut Tiara yang semakin membuncit.
"Kak Rafa membuat Tiara geli," ucap Tiara saat Rafa menempelkan telinganya di depan perutnya.
"Sayang, bisakah kau tidak memanggilku seperti itu? anak kita bisa mendengarnya nanti!" protes Rafa.
"Tapi Tiara sudah terbiasa memanggil seperti itu," balas Tiara.
"Sekarang kau harus membiasakan hal yang baru, aku tidak ingin anak kita tidak mengenaliku sebagai ayahnya jika kau masih memanggilku seperti itu!" ucap Rafa.
"Lalu seperti apa Tiara harus memanggil kak Rafa?" tanya Tiara.
"Apa kau tidak tau panggilan romantis seperti apa yang biasa dilakukan suami istri?" balas Rafa bertanya yang membuat Tiara terkekeh.
Pada akhirnya Tiara tetap memanggil Rafa dengan panggilan "kak Rafa". Meskipun kesal, Rafa tidak pernah memarahi Tiara. Rafa membiarkan Tiara melakukan apapun yang Tiara mau.
__ADS_1
9 bulan berlalu, tangisan bayi mungil kini terdengar di salah satu ruangan rumah sakit tempat Tiara melakukan persalinan.
Dengan kedua mata berkaca-kaca Rafa mencium kening Tiara dengan penuh haru.
"Terima kasih sayang, terima kasih sudah berjuang untuk anak kita," ucap Rafa dengan suara bergetar.
Tiara hanya tersenyum sambil mendekap buah hati di atas dadanya dengan air mata yang sudah mengalir membasahi pipinya
Kebahagiaan mereka kini terasa semakin lengkap dengan hadirnya buah hati mereka. Setiap hari selalu ada canda tawa yang membuat Rafa ingin segera pulang ke rumahnya untuk menemui anak dan istrinya.
Satu tahun berlalu, bayi mungil Tiara dan Rafa kini tumbuh menjadi batita yang semakin menggemaskan.
Hari itu adalah hari ulang tahun Anya, nama cantik yang Arga berikan pada putri mungilnya.
Tidak banyak yang datang karena memang itu adalah acara ulang tertutup yang hanya dirayakan oleh orang tua Rafa, mama Laras, Gita dan anaknya.
Mereka semua berbahagia menyambut usia baru bayi mungil yang semakin menghangatkan keluarga Rafa.
Namun sebelum Rafa dan Tiara meniup lilin, tiba-tiba seseorang datang menghentikan Rafa dan Tiara yang akan meniup lilin.
"Tunggu!" ucapnya dengan berteriak yang membuat semua yang ada disana begitu terkejut.
__ADS_1
"Putra!"
"Kak Putra!"
Putra berjalan dengan penuh senyum sambil membawa sebuah kotak kado yang cukup besar.
"Kalian tidak melupakanku bukan?" tanya Putra sambil memberikan kado yang dibawanya pada Tiara
"Tentu saja tidak," jawab Rafa.
"Terima kasih kak, Tiara pikir kak Putra tidak akan datang," ucap Tiara.
"Tentu saja aku datang, bagaimana mungkin aku melewatkan hari ulang tahun keponakanku yang paling cantik ini," balas Putra.
Acara ulang tahun pun dilanjutkan. Setelah meniup lilin, Tiara memotong kue dan membagikannya pada semua yang ada disana.
Kini rumah mewah itu terasa semakin penuh dengan kebahagiaan. Bukan karena kemewahan rumahnya, tetapi karena pancaran kebahagian dari semua orang yang ada disana.
Setelah semua suka duka yang Tiara lewati, kini dia mendapatkan kebahagiaan lebih dari yang dia harapkan.
Menjadi perempuan kedua memang pernah menjadi kekhilafan baginya. Tapi ia berhasil untuk tidak terjerumus pada kesalahan yang sama dan pada akhirnya kebahagianlah yang ia dapatkan.
__ADS_1