Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Setelah Perceraian


__ADS_3

Hari-hari telah berganti, waktu berlalu dengan semua rahasia takdir yang mulai terkuak satu persatu, menjabarkan semua fakta yang sudah lama tersembunyi.


Hari itu adalah hari terakhir sidang perceraian Rafa dan Maya. Sudah tidak ada yang bisa Maya lakukan untuk menyelamatkan pernikahannya dengan Rafa.


Maya hanya bisa terdiam menerima putusan hakim jika kini pernikahannya dengan Rafa benar-benar sudah berakhir.


Dengan langkah yang tak bersemangat Maya berjalan keluar dari ruang pengadilan bersama Rafa yang berjalan di belakangnya.


Sama sekali tak ada percakapan di antara mereka berdua dari awal mereka bertemu sampai mereka keluar dari ruang pengadilan.


Hingga akhirnya Maya menghentikan langkahnya, membalikkan badannya dan menatap Rafa yang berjalan ke arahnya.


Maya hanya diam tanpa mengatakan apapun, begitu juga Rafa yang sama sekali tidak peduli dengan keberadaan Maya di hadapannya.


Rafa bahkan berjalan santai melewati Maya begitu saja tanpa menoleh sedikitpun ke arah Maya, sampai dia di tempat parkir dan akan masuk ke dalam mobilnya.


Namun tiba-tiba Maya memanggilnya, membuat Rafa mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Rafa!" panggil Maya sambil membawa langkahnya ke arah Rafa.


"Aku hanya ingin berterima kasih padamu, meskipun pernikahan kita tidak berjalan sesuai dengan semestinya tetapi aku sangat berterima kasih karena aku masih bisa merasakan kepedulianmu padaku dan maafkan aku atas semua kekhilafanku!" ucap Maya pada Rafa.


"Lupakan semua yang sudah terjadi diantara kita, anggap semua ini tidak pernah terjadi agar kau bisa memulai hidup barumu tanpa beban!" balas Rafa.


"Tidak bisakah kita berteman setelah ini? jika kita gagal dalam pernikahan setidaknya kita masih bisa berhubungan sebagai teman," tanya Maya.


"Maaf Maya tapi sepertinya itu hanya akan membuatmu semakin sulit melupakan hubungan kita, lebih baik kita jalani saja hidup kita masing-masing seperti sebelum kita saling mengenal," balas Rafa.


"Apa kau sangat membenciku Rafa? apa sebesar itu kebencianmu padaku hingga kau tidak mau sekedar berteman denganku?" tanya Maya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Aku tidak membencimu dan aku sudah memaafkanmu, tetapi untuk berhubungan lagi denganmu aku benar-benar tidak bisa, entah itu sekedar berteman atau yang lainnya," balas Rafa yang dengan tegas memberikan batasan antara dirinya dengan Maya.


"Apa karena Tiara? apa karena kau ingin kembali mengejarnya? bukankah kau tahu jika Putra menyukainya? kau pasti tahu jika Putra tidak akan menyerah untuk mendapatkannya bukan?"


Rafa hanya tersenyum tipis lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi begitu saja tanpa mempedulikan Maya yang masih berdiri di tempatnya, menatap kepergian Rafa.


Rafa bersyukur karena akhirnya ia bisa terlepas dari pernikahan palsunya bersama Maya, namun di sisi lain ia juga merasa bersalah pada kedua orang tuanya yang sudah begitu berharap pada pernikahannya dengan Maya.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya untuk memberitahu kedua orang tuanya jika pengadilan sudah memutuskan perceraiannya dengan Maya.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Rafapun segera mencari sang mama.


"Apa mama sedang sibuk?" tanya Rafa pada sang mama yang saat itu tengah berada di dapur.


"Tidak, kenapa kau datang tanpa mengabari Mama? jika tahu kau akan datang Mama akan menyiapkan makanan dari tadi," balas Mama Rafa.


"Rafa hanya ingin memberi kejutan pada mama," ucap Rafa.


"Kejutan apa?" tanya Mama Rafa.


Rafa kemudian memberikan selembar kertas pada sang mama yang menunjukkan jika dirinya sudah sah bercerai dengan Maya.


"Akhirnya kau sudah mengakhiri semuanya Rafa, pasti berat menjalani pernikahan yang tidak kau inginkan selama ini, Mama minta maaf karena sudah membuatmu terperangkap pada pernikahan yang tidak kau inginkan," ucap Mama Rafa.


"Semuanya sudah berakhir ma, Mama tidak perlu lagi menyesali apa yang sudah terjadi," balas Rafa lalu memeluk sang mama.


"Mulai sekarang mama tidak akan ikut campur masalah pribadimu, kau sudah dewasa, kau berhak menentukan apa yang kau inginkan, Mama akan mendukung semua keputusanmu asalkan itu yang terbaik untukmu," ucap Mama Rafa.


"Terima kasih ma," ucap Rafa yang masih memeluk sang mama.


"Waaahh ada apa ini? kenapa pagi-pagi berpelukan tanpa mengajak papa?" tanya papa Rafa yang melihat sang istri berpelukan dengan anaknya di dapur.


Rafapun melepaskan pelukannya pada sang Mama lalu membawa dirinya ke arah sang papa dan memeluk sang papa.

__ADS_1


"Maafkan Rafa karena sudah mengecewakan papa, Rafa janji akan menebus semua kekecewaan papa pada Rafa," ucap Rafa pada sang papa.


"Kau harus belajar dari apa yang sudah terjadi Rafa dan papa percaya kau pasti bisa menjalani hidupmu dengan lebih baik lagi setelah ini," ucap sang papa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


"Kalian berdua tunggulah di meja makan, sebentar lagi masakan mama selesai," ucap Mama Rafa pada suami dan anaknya.


Setelah beberapa lama berkutat di dapur, Mama Rafapun membawa hasil masakannya ke meja makan dengan dibantu oleh bibi.


Mereka makan siang bersama dengan sesekali mengobrol dan bercanda tawa.


"Aaahh iya Mama belum memberitahumu, minggu depan mama dan papa akan pergi ke Amerika untuk perjalanan bisnis papamu sekaligus Mama ingin menemui Putra, sudah lama sekali Mama tidak bertemu dengannya," ucap Mama Rafa pada Rafa.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia teringat ucapan sang Mama padanya saat sang Mama menemuinya di kantor untuk menanyakan alamat tempat tinggal Tiara.


Seharusnya mama dan papanya sudah berangkat ke Amerika sejak 1 bulan yang lalu namun tertunda karena masalah yang sedang Rafa hadapi.


Setelah selesai makan siang bersama, papa Rafa kemudian beranjak dari duduknya untuk menerima panggilan pada ponselnya yang berdering sejak tadi.


Kini hanya ada Rafa dan sang mama yang berada di meja makan.


"Apa rencanamu setelah ini Rafa?" tanya sang mama pada Rafa.


"Rafa belum memiliki rencana apapun ma, Rafa hanya akan fokus dengan perusahaan dan bisnis Rafa," jawab Rafa.


"Bagaimana dengan Tiara?" tanya sang Mama yang membuat Rafa segera membawa pandangannya ke arah sang Mama yang duduk di hadapannya.


"Mama tidak menyangka jika ternyata perempuan yang kau cintai itu adalah Tiara, mama memang sangat menyukainya sejak Mama pertama kali bertemu dengannya, bahkan Mama berniat untuk menjodohkannya dengan Putra," ucap Mama Rafa.


"Sejak kapan kau mengenalnya Rafa?" lanjut sang Mama bertanya.


Rafapun menjelaskan jika Tiara adalah mahasiswinya di kampus, Rafa juga menjelaskan jika ia menerima Tiara bekerja di cafenya saat ia tahu jika Tiara tengah mengalami masalah keluarga yang membuatnya harus meninggalkan rumah.


"Mungkin sejak saat itu Rafa menjadi dekat dengan Tiara, karena Rafa sendiri tidak sadar sejak kapan Rafa mulai menyukai Tiara," ucap Rafa di akhir penjelasannya.


"Rafa juga tidak tahu bagaimana perasaan Tiara yang sebenarnya, karena sebelumnya dia memiliki pengalaman yang buruk tentang seseorang yang dicintainya," jawab Rafa.


"Kau sungguh mencintainya Rafa?" tanya Mama Rafa.


Rafa tersenyum dengan menundukkan kepalanya. Sekilas memori kebersamaannya bersama Tiara tiba-tiba saja memenuhi kepalanya.


"Ada sesuatu yang berbeda darinya ma, sesuatu yang membuat Rafa untuk pertama kalinya tidak bisa berpaling saat menatap wajahnya," ucap Rafa dengan menyembunyikan senyumnya dari sang mama.


Mama Rafapun hanya tersenyum tipis, meskipun hanya mengobrol singkat dengan Rafa tetapi ia bisa mengerti betapa anak laki-lakinya itu sangat mencintai Tiara.


Untuk pertama kalinya Mama Rafa melihat Rafa tersipu saat Rafa menceritakan tentang gadis yang disukainya, karena selama ini Rafa tidak pernah sekalipun menceritakan tentang seorang perempuan yang ia sukai karena memang ternyata Rafa belum pernah jatuh cinta pada perempuan lain sebelum Tiara.


**


Hari-hari Rafa semakin berjalan dengan baik, ia bisa mengerjakan pekerjaannya dengan baik sembari mengurus bisnisnya yang kini semakin berkembang.


Ia masih menyimpan nama Tiara dengan baik dalam hatinya. Meskipun kini Tiara berada jauh darinya namun itu tidak membuat Rafa sedetikpun melupakan Tiara.


Sejak ia resmi bercerai dengan Maya, cinta dalam hatinya seolah semakin terpupuk membuat Rafa semakin yakin jika ia pasti bisa mendapatkan gadis yang dicintainya.


Rafa hanya perlu bersabar menunggu sampai Tiara menyelesaikan kuliahnya kemudian ia akan kembali datang pada Tiara, mendekati Tiara dari awal sebagai laki-laki single yang akan berusaha untuk mendapatkan gadis yang dicintainya.


Rafa sudah mempersiapkan dirinya dengan baik, ia bisa menerima jika nantinya Tiara tidak akan mudah menerima kehadirannya namun ia tidak akan menyerah dan akan terus berusaha untuk mendekati Tiara lalu mendapatkannya dan tidak akan pernah melepaskannya untuk laki-laki lain.


Berbeda dengan Rafa yang menjalani hari-harinya dengan lebih baik, Maya justru semakin terpuruk oleh kehidupan barunya.


Sejak ia resmi bercerai dari Rafa, ia sudah kehilangan semangatnya. Ia tidak bisa bekerja dengan profesional, ia bahkan menelantarkan beberapa klien yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.


Meskipun berita tentang dirinya dan Bagas sudah berhasil di take down dari seluruh media, tetapi semua orang sudah menilainya sebagai perempuan yang tidak baik.

__ADS_1


Hal itu tentu saja mempengaruhi bagaimana cara pandang para klien dan juga partner kerja Maya. Itulah yang membuat Maya semakin terpuruk, membuatnya enggan untuk sekedar keluar dari rumah.


Maya kini lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah, berusaha menyelesaikan pekerjaannya dari rumah meskipun itu tidak berjalan dengan baik.


Orang tua Mayapun kini mengambil alih firma hukum yang sebelumnya sudah diberikan pada Maya.


"Kau sudah membuat buruk namamu sendiri Maya, jika kau terus bekerja seperti ini maka kau juga akan memperburuk keadaan firma hukum kita, jadi lepaskan firma hukum itu dan biarkan papa mengelolanya dengan lebih baik," ucap papa Maya.


Pada akhirnya Mayapun melepaskan firma hukum yang sudah ada dalam genggamannya.


Tidak ada pilihan lain yang lebih baik bagi Maya, semua pilihan seolah membuatnya semakin jauh terpuruk dalam penyesalan dan kesedihannya.


**


Pagi yang cukup dingin di hari Minggu. Dengan pakaian hangat yang berlapis-lapis Tiara baru saja selesai bermain salju bersama teman-temannya.


Hari itu adalah minggu pertama salju turun setelah musim gugur terlewati. Karena Tiara belum pernah melihat salju secara langsung, iapun memaksa teman-temannya untuk bermain salju di danau beku yang berada tidak jauh dari dorm tempat tinggalnya.


Setelah puas bermain salju Tiara dan teman-temannya pun memutuskan untuk kembali ke dorm. Namun saat baru saja sampai, ia begitu terkejut saat dia melihat seorang wanita yang dikenalnya sedang berdiri di depan gerbang dorm tempat tinggalnya.


Tiara meminta teman-temannya untuk masuk terlebih dahulu karena ia harus menemui wanita yang dikenalnya itu.


"Tante Rossa, kenapa Tante ada disini?" tanya Tiara pada Mama Rafa yang memang sengaja ingin menemui Tiara disana.


"Tante memang ingin bertemu denganmu Tiara, apa Tante mengganggu waktumu?" balas Mama Rafa.


"Tidak, tapi lebih baik kita mengobrol di kafe karena cuacanya semakin dingin," ucap Tiara lalu mengajak Mama Rafa pergi ke kafe yang berada dekat dengan tempat tinggal Tiara.


Merekapun memesan dua minuman hangat dan beberapa makanan ringan untuk menemani obrolan mereka.


"Bagaimana keadaanmu Tiara? sudah sangat lama tante tidak bertemu denganmu," tanya Mama Rafa pada Tiara.


"Tiara baik tante, bagaimana dengan tante?" balas Tiara.


"Tante juga baik, kebetulan om dan tante sedang ada perjalanan bisnis disini jadi tante sengaja mencarimu karena Tante sudah sangat merindukanmu," ucap Mama Rafa.


Tiara hanya tersenyum mendengar apa yang Mama Rafa katakan. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya membuat Mama Rafa datang menemuinya, karena sudah cukup lama Tiara bahkan tidak berkomunikasi dengan Mama Rafa.


"Tante ingin menemuimu karena tante ingin meminta maaf padamu," ucap Mama Rafa.


"Meminta maaf untuk apa Tante?" tanya Tiara.


"Maaf karena tante sempat ingin menjodohkanmu dengan Putra, seharusnya tante tidak melakukan hal itu, maaf jika sikap tante membuatmu tidak nyaman," ucap Mama Rafa.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya tante, lagi pula hubungan Tiara dengan kak Putra dari awal juga sudah dekat sebagai teman sekaligus partner kerja," balas Tiara.


"Apa kau tidak pernah menganggap Putra sebagai seseorang yang lebih dari itu?" tanya Mama Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Kenapa? sepertinya Putra menyukaimu, apa dia tidak pernah mengutarakan perasaannya padamu?" tanya Mama Rafa.


"Kak Putra memang baik, bahkan sejak pertama kali bertemu kak Putra sudah banyak membantu Tiara, tapi Tiara hanya menganggap kak Putra sebagai teman dan juga atasan Tiara di kantor, sama sekali tidak pernah terlintas di kepala Tiara untuk memiliki hubungan yang lebih dengan kak Putra," jawab Tiara menjelaskan.


"Kenapa? apa karena kau sudah menyukai laki-laki lain?" tanya Mama Rafa yang membuat Tiara terdiam untuk beberapa saat.


Jika boleh jujur pertanyaan Mama Rafa cukup membuat Tiara tidak nyaman.


"Maaf, Tante tidak bermaksud lancang, tante hanya sedikit heran karena laki-laki seperti Putra ternyata tidak cukup baik untuk bisa memiliki hubungan khusus denganmu," ucap Mama Rafa.


"Kak Putra sangat baik tante, tetapi bagi Tiara baik saja tidak cukup untuk bisa membuat Tiara jatuh cinta," balas Tiara.


"Lalu bagaimana dengan Rafa? apa dia sudah bisa membuatmu jatuh cinta padanya?" tanya Mama Rafa yang membuat Tiara begitu terkejut.


Sudah sangat lama Tiara tidak mendengar nama itu di telinganya dan hari itu ia mendengar nama laki-laki yang ingin dilupakannya.

__ADS_1


__ADS_2