Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Dosen Pembimbing Baru (2)


__ADS_3

Tiara sedang melakukan bimbingan skripsi di kampus bersama Bima. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya Bima rencanakan padanya, tapi ia merasa tidak nyaman dan sangat kesal karena harus mendapat dosen pembimbing Bima.


"Sepertinya kau lebih menikmati kehidupanmu di luar rumah sekarang, kau bahkan mengerjakan skripsimu dengan sangat baik," ucap Bima.


Tiara hanya diam tidak menanggapi ucapan Bima selain tentang materi skripsinya.


"Baiklah bimbingan skripsi hari ini selesai, kau bisa melanjutkan bab selanjutnya dan jangan lupa memberikan contoh yang sesuai di bab selanjutnya," ucap Bima.


"Baik Pak, terima kasih," ucap Tiara lalu mengemasi barang-barangnya di atas meja.


Tiba-tiba Bima menahan tangan kiri Tiara yang sedang mengambil buku di atas meja, namun dengan sigap Tiara melayangkan tangan kanannya dan menampar Bima tanpa ragu.


Bima hanya terdiam dengan tersenyum tipis karena mendapat tamparan dari Tiara, sedangkan Tiara segera menarik tangannya lalu beranjak dari duduknya.


"Tiara permisi," ucap Tiara lalu segera pergi.


Bimapun ikut beranjak dari duduknya dan segera berjalan cepat mengikuti Tiara.


"Senyaman apapun kehidupanmu sekarang, aku yakin kau lebih nyaman tinggal di rumah, disana sangat banyak kenanganmu Ra, jadi....."


Tiara menghentikan langkahnya, mendongakkan kepalanya menatap Bima dengan tatapan tajam.


"Tolong Pak Bima jangan melewati batas, disini Tiara hanyalah mahasiswi sedangkan Pak Bima hanyalah dosen pembimbing Tiara, jadi jangan pernah membawa masalah pribadi di antara hubungan kita sebagai dosen dan mahasiswi," ucap Tiara dengan penuh ketegasan.


"Kau sangat berubah sekali Tiara, aku seperti tidak mengenalmu lagi," ucap Bima dengan membalas tatapan mata Tiara yang membuat Tiara segera mengalihkan pandangannya dan berlari pergi meninggalkan Bima.


Tiara membawa langkahnya keluar dari kampus dan duduk di halte untuk menunggu bus yang akan membawanya ke kafe.


Namun bukannya bus yang datang, tiba-tiba saja Bima sudah duduk di sampingnya.


"Aku tidak peduli seberapa besar kau membenciku, aku tetap menyayangimu seperti dulu Ra, aku tetap mencintaimu," ucap Bima pelan.


Tiara hanya diam mengacuhkan ucapan Bima.


"Apa kau ingat sedekat apa kita dulu? kita sering bermain bersama dan menghabiskan waktu bersama, aku yang selalu ada di sampingmu Ra bahkan kau selalu menyebutku pangeran penyelamatmu, apa kau tidak ingat itu?"


Tiara hanya diam, namun kini kepalanya mulai mengulas kembali memori kebersamaannya bersama Bima ketika ia masih kecil.


"Entah sejak kapan aku mencintaimu tapi semakin lama aku sadar aku semakin takut kehilanganmu dan memilih untuk memendam apa yang aku rasakan agar tidak membuat hubungan diantara kita berdua menjadi canggung," ucap Bima.


"Sekarang aku sudah terjebak pada situasi yang sama sekali tidak menguntungkanku dan aku minta maaf jika hal ini menyakitimu, kau hanya perlu tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar ingin menyakitimu Tiara, aku sungguh-sungguh mencintaimu tanpa ada kebohongan sedikitpun," lanjut Bima.


"Berhentilah membual kak, Tiara tidak akan pernah mempercayai lagi semua ucapan kak Bima!" ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya dan menaiki bus yang berhenti di depannya, meskipun bus itu tidak akan membawanya pergi ke kafe.


Tiara hanya ingin segera pergi dari dekat Bima, itulah mengapa Tiara menaiki sembarang bus yang tidak ia tahu kemana tujuannya.


"kau hanya perlu tahu bahwa aku tidak pernah benar-benar ingin menyakitimu Tiara, aku sungguh-sungguh mencintaimu tanpa ada kebohongan sedikitpun!"


Ucapan Bima kembali terngiang di kepala Tiara, namun Tiara segera menepisnya dengan mengambil handsfree di dalam tasnya, berusaha untuk melupakan semua ucapan Bima padanya dengan mendengarkan lagi dari ponselnya.


"Kau harus bisa melupakannya Tiara, dia bukan laki-laki yang baik, lagi pula dia juga sudah memiliki istri dan akan segera memiliki anak," ucap Tiara dalam hati, berusaha menyadarkan dirinya sendiri.


Setelah beberapa lama duduk di dalam bus dan menikmati lagu yang ia dengar dari handsfree yang ada di telinganya, Tiara baru tersadar bahwa ia sudah terlalu jauh menaiki bus itu.


Tiarapun segera berdiri dari duduknya lalu meminta bus untuk berhenti. Tiara keluar dari bus dan hanya berdiri di tepi jalan raya tanpa ia tahu dimana ia saat itu berada.


Tiara yang akan menghubungi Kevin tiba-tiba tersadar bahwa musik yang diputar melalui ponselnya tiba-tiba saja tidak terdengar lagi, menandakan bahwa ponsel Tiara sudah kehabisan daya.


"Aahh sial ponselku mati, apa yang harus aku lakukan sekarang? aaargghhh kenapa aku bodoh sekali......" ucap Tiara merutuki dirinya sendiri sambil melepas handsfree-nya lalu menyimpannya ke dalam tas.


Tiara membawa pandangannya mengelilingi sekitarnya dan ia benar-benar asing dengan tempat di sekitarnya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Tiara pada dirinya sendiri lalu membawa langkahnya berjalan di trotoar tanpa arah yang pasti.


Saat sedang menyusuri trotoar tiba-tiba Tiara menyadari sesuatu di sebelah kirinya. Ia ingat kafe yang ada di sebelah kirinya adalah kafe yang pernah ia datangi bersama Rafa.

__ADS_1


"Kalau benar itu kafe yang sama dengan yang aku datangi bersama kak Rafa, itu artinya di dekat sini ada orang-orang yang mengenal kak Rafa," ucap Tiara yang segera berlari ke arah Rafa akan membangun kafe barunya.


Benar saja di sebelah kanan jalan, ada tanah yang cukup luas yang pernah ia datangi bersama Rafa saat Rafa sedang melakukan survei kafe barunya.


Tiarapun berpikir untuk meminjam ponsel salah satu pekerja yang ada disana karena ia yakin salah satu dari mereka pasti mengenal Tiara.


Karena terlalu bersemangat Tiarapun menyeberang jalan tanpa menoleh ke kanan dan ke kiri dan tak lama kemudian.....


TIIIIINNNN TIIIIINNNN TIIIIINNNN


Suara klakson terdengar saling bersahutan saat sebuah mobil hampir saja menabrak Tiara, membuat mobil itu seketika berhenti tiba-tiba dan membuat mobil lain di belakangnya ikut mengerem mendadak, beruntung tidak terjadi kecelakaan saat itu.


Tiara yang terkejut dan terjatuh di jalan rayapun segera berusaha untuk berdiri dan meminta maaf, namun sang pengemudi yang hampir menabraknya turun dari mobilnya dan memarahi Tiara dengan berteriak.


"Saya benar-benar minta maaf Pak," ucap Tiara yang merasa bersalah.


Namun si pengemudi itu tetap saja memarahi Tiara dengan berteriak, membuat beberapa orang yang ada disana menatap ke arah Tiara dan pengemudi itu.


Hingga akhirnya seseorang menghampiri Tiara dan pengemudi itu.


"Ada apa ini?" tanyanya yang segera mendapatkan jawaban dari si pengemudi bahwa Tiara tiba-tiba berlari ke arah jalan raya dan hampir saja menyebabkan terjadi kecelakaan beruntun.


Tiara yang sangat terkejut dengan kedatangan Rafa hanya terdiam tanpa berani berkata-kata lagi, karena ia sadar bahwa apa yang ia lakukan memang salah.


"Bukankah dia sudah minta maaf? lagi pula tidak ada yang mengalami kerusakan mobil bukan?" ucap Rafa.


"Memang tidak ada mobil yang rusak, tetapi dia sangat membahayakan nyawa orang lain, dia......"


"Apa yang dia lakukan memang sangat bodoh dan ceroboh, tapi bukan berarti kau bisa memarahinya seperti ini, lagi pula dia tidak memberikan kerugian apapun padamu," ucap Rafa memotong ucapan si pengemudi.


"Tentu saja dia merugikan waktuku, dia...."


"Kau tidak akan kehilangan waktumu jika kau segera pergi dari sini bukannya malah memperpanjang masalah ini," ucap Rafa dengan tegas yang membuat si pengemudi segera kembali masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarainya pergi.


"Apa kau bodoh? apa kau anak kecil yang tidak bisa menyeberang?" tanya Rafa kesal pada Tiara.


"Kenapa kak Rafa ikut memarahi Tiara? kak Rafa bahkan tidak tahu kejadian yang sebenarnya!" protes Tiara.


"Apa kau mau membela dirimu sendiri sekarang? kenapa tidak kau lakukan tadi saat orang itu membentakmu? kenapa kau hanya diam dan membiarkan dia memarahimu seperti itu?"


Tiara hanya terdiam dengan menghela nafasnya. Dalam hatinya ia membenarkan ucapan Rafa, dirinya memang sangat bodoh dan ceroboh.


Dia bahkan tidak bisa membela dirinya sendiri di hadapan pengemudi yang memakinya karena ia merasa bahwa dirinyalah yang bersalah saat itu.


Karena merasa Rafa sangat marah padanya, Tiarapun enggan untuk meminta tolong pada Rafa.


Tiara memilih untuk pergi meski ia sebenarnya tidak tahu kemana ia harus pergi saat itu.


Namun saat Tiara baru melangkahkan kakinya, Rafa segera menarik tangan Tiara, membawa Tiara masuk ke dalam mobilnya yang terparkir tak jauh dari trotoar.


Rafa kemudian memberikan sebotol minuman pada Tiara untuk menenangkan Tiara yang masih panik saat itu.


Tiarapun hanya diam dan menerima minuman pemberian Rafa lalu meneguknya sampai habis tak bersisa.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memarahimu," ucap Rafa yang merasa bersalah karena baru saja memarahi Tiara.


Entah kenapa emosinya tersulut saat melihat orang lain memaki Tiara seperti itu, ia tidak tahu kenapa ia merasa harus membela Tiara dan tidak ingin Tiara dipermalukan di depan umum seperti yang baru saja terjadi.


"Kak Rafa tidak bersalah, memang Tiara yang salah karena menyebrang tanpa hati-hati," ucap Tiara.


"kenapa kU bisa ada disini? bukankah kau sedang bimbingan skripsi?" tanya Rafa.


"Tiara salah naik bis kak, Tiara baru sadar dan meminta bus untuk berhenti tidak jauh dari sini, Tiara tidak tahu bagaimana caranya Tiara kembali ke kafe tapi saat melihat tempat ini Tiara ingat bahwa kak Rafa pernah membawa Tiara kesini, itu kenapa Tiara segera menyeberang tanpa berhati-hati," jawab Tiara menjelaskan.


"Bukankah kau sudah sering naik bus, kenapa kau bisa salah Tiara? apa ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Rafa yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Tiara.

__ADS_1


"Tolong jangan mengulanginya lagi Tiara, di manapun kau berada kau harus selalu berhati-hati dan fokus, jangan pernah lengah karena itu tidak hanya membahayakanmu tapi juga membahayakan orang lain," ucap Rafa mengingatkan.


"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara.


"Kau sudah kuliah, bahkan sebentar lagi wisuda tetapi kau masih saja ceroboh seperti anak kecil," ucap Rafa yang membuat Tiara terdiam dengan memanyunkan bibirnya mendengar omelan Rafa.


Rafa yang melihatnya hanya tersenyum tipis lalu segera mengendarai mobilnya pergi ke arah kafe.


Sesampainya di kafe, Tiara segera masuk untuk mengenakan seragamnya dan mulai berkutat dengan pekerjaannya.


Tak lama kemudian seseorang memasuki kafe lalu duduk di salah satu sudut ruangan bersama seorang gadis cantik yang duduk bersamanya.


Tiara yang melihat hal itu segera menghampiri seseorang itu.


"Tiara, apa yang kau lakukan disini?" tanya Bella yang terkejut melihat Tiara.


"Tentu saja bekerja, apa kau tidak melihat aku mengenakan seragam kafe ini?" balas Tiara.


"Hahaha..... kau bekerja disini? kenapa? apa kau sudah menjadi miskin sekarang?" tanya Bella mengejek.


"Jaga ucapanmu Bella, kau membuat semua orang menatapmu saat ini," sahut Kevin yang membuat Bella seketika terdiam.


Tiara hanya tersenyum lalu mencatat pesanan Kevin dan Bella, kemudian kembali ke tempat kerjanya lalu menyiapkan pesanan Kevin dan Bella.


Tak lama kemudian Tiara kembali dengan membawa dua cup minuman dan beberapa makanan ringan.


"Kenapa hidupmu menyedihkan sekali Tiara, pasti ini karma dari Tuhan karena kau sudah merebut Kevin dariku!" ucap Bela pada Tiara.


"Bagaimana caraku merebutnya, dia bahkan sedang bersamamu saat ini," balas Tiara.


"Kau pasti sengaja mengajakku kesini untuk menemanimu menemui Tiara bukan?" tanya Bella pada Kevin.


"Hilangkan pikiran negatifmu itu Bella, apa kau tidak senang pergi ke kafe bersamaku?" ucap Kevin sekaligus bertanya sambil memukul kepala Bella dengan sedotan yang baru saja dibukanya.


"Tentu saja aku senang, aku hanya tidak terbiasa saja dengan sikapmu yang seperti ini," balas Bella.


"Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu dariku bukan? apa jangan-jangan kau sudah berhubungan dengan Tiara?" lanjut Bella bertanya dengan menatap Kevin tajam.


"Sudah kubilang hilangkan pikiran negatifmu, aku hanya ingin bersikap lebih baik padamu," balas Kevin yang membuat Bella mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sikap Kevin yang tiba-tiba berubah.


"Tidak..... ini terasa sangat aneh sekali, aku sama sekali tidak terbiasa dengan sikapmu yang seperti ini," ucap Bela dengan menggelengkan kepalanya.


"Kau lihat sendiri bukan? dia malah mencurigaiku jika aku bersikap baik padanya," ucap Kevin pada Tiara.


"Kalian berdua memang sangat aneh," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Keanehan itulah yang membuatku bisa bertahan dengannya, justru aku menjadi sangat curiga jika dia bersikap seperti ini padaku," ucap Bela.


"Kevin hanya ingin bersikap baik padamu Bella, jika kau selalu mencurigainya seperti itu kau akan membuatnya tidak nyaman," ucap Tiara.


"Justru sikapnya yang seperti ini yang membuatku tidak nyaman," balas Bella yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


Tiara sama sekali tidak mengerti dengan konsep hubungan Kevin dan Bella.


"Baiklah terserah kalian berdua saja, nikmati makanan dan minuman kalian, aku harus kembali bekerja," ucap Tiara lalu pergi meninggalkan Kevin dan Bella.


"Benar-benar pasangan yang sangat aneh," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya pelan.


Saat Tiara baru saja menaruh nampan, tiba-tiba Rafa keluar dari ruangannya lalu berlari meninggalkan kafe.


Raut wajahnya terlihat menegang dan panik saat itu.


"Ada apa dengan Pak Rafa? apa terjadi sesuatu?" tanya Chika pada Tiara.


"Entahlah aku juga tidak tahu, semoga semuanya baik-baik saja," balas Tiara dengan menatap punggung Rafa yang sudah keluar dari kafe.

__ADS_1


__ADS_2