
Rafa yang mengenali Bagas untuk sementara mengabaikan Bagas demi kelanjutan meeting yang akan ia lakukan.
Namun saat Rafa sudah kembali ke ruangannya, iapun segera menghubungi manajer divisi produksi untuk meminta Bagas menemui Rafa di ruangannya.
Setelah beberapa lama menunggu, Bagaspun datang.
"Duduklah!" ucap Rafa pada Bagas yang sudah masuk ke ruangannya.
Dengan ragu Bagaspun membawa langkahnya untuk duduk di hadapan Rafa. Sejak ia berada di ruangan meeting ia merasa gugup karena harus berhadapan dengan Rafa.
Ia tahu jika dirinya memiliki kesalahan yang sangat fatal yaitu menjalin hubungan diam-diam dengan istri Rafa, CEO tempat ia bekerja. Namun ia berusaha untuk bisa menenangkan dirinya sendiri agar ia tidak tampak gugup di hadapan Rafa.
"Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya," ucap Rafa pada Bagas.
"Iya Pak," jawab Bagas dengan sedikit menundukkan kepalanya.
"Aku tidak akan bertanya tentang bagaimana hubunganmu dengan Maya, aku hanya ingin bertanya apa saja yang sudah Maya katakan padamu tentangku!"
"Saya mohon maaf sebelumnya, saya benar-benar tidak tahu jika Maya adalah istri Pak Rafa karena pada awalnya dia hanya mengatakan jika ia tinggal di rumah bersama kakak laki-lakinya, jadi saya pikir Pak Rafa adalah kakak laki-laki Maya," ucap Bagas menjelaskan.
"Lalu?"
"Maya sudah menceritakan semuanya pada saya tentang hubungannya yang sebenarnya dengan Pak Rafa dan sejak saat itu kita memutuskan untuk mengakhiri hubungan kita," lanjut Bagas.
"Apa ada orang lain lagi yang mengetahui hubungan Maya denganku?" tanya Rafa.
"Tidak pak, saya tidak mengatakan tentang hal itu pada orang lain," jawab Bagas.
"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu?" tanya Rafa dengan tatapan penuh intimidasi.
"Pak Rafa bisa mempercayai saya, saya bahkan tidak berniat untuk menceritakan hal itu pada orang lain, bahkan selama ini saya hanya berhubungan dengan Maya diam-diam tanpa diketahui oleh siapapun," jawab Bagas berusaha meyakinkan Rafa.
Rafa terdiam untuk beberapa saat, ia mengetukkan jari-jarinya di atas meja memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan karena sudah ada orang lain di kantornya yang mengetahui bahwa dirinya sudah menikah.
"Oke baiklah, anggap saja saat ini aku mempercayaimu, tapi aku akan memikirkan hal lain yang pantas aku lakukan untukmu," ucap Rafa lalu meminta Bagas untuk keluar dari ruangannya.
Waktupun berlalu, mentari sudah kembali ke peraduannya namun Rafa masih fokus bekerja di ruangannya.
Sampai malam semakin larut Rafa baru beranjak dari duduknya lalu meninggalkan kantor dan pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia melihat Maya yang baru saja masuk ke dalam mobilnya. Rafapun segera membawa langkahnya menghampiri Maya sebelum Maya benar-benar pergi.
"Ada yang ingin aku bicarakan!" ucap Rafa pada Maya.
Mayapun membuka pintu mobilnya lalu keluar dari mobilnya.
"Ada apa?" tanya Maya.
"Tentang laki-laki yang bersamamu, apa kau tahu jika dia pegawai di kantorku?" balas Rafa bertanya yang membuat Maya terdiam untuk beberapa saat.
"Kenapa kau melakukan hal sebodoh itu Maya, apa kau tidak memikirkan apa yang akan terjadi nanti jika semua orang tahu bahwa kau adalah istriku dan diam-diam kau berhubungan dengan pegawaiku, tidak hanya nama baikmu yang hancur tapi juga nama baik perusahaan dan keluargaku," ucap Rafa.
"Aku..... aku tidak mengetahuinya Rafa, sungguh!" ucap Maya berbohong.
"Lagi pula aku sudah mengakhiri hubunganku dengannya, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya lagi," lanjut Maya.
"Apa kau bisa mempercayainya? apa dia laki-laki yang bisa dipercaya dan apa menurutmu aku akan percaya padanya setelah aku melihat betapa pengecutnya dia dalam memperlakukanmu!"
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengannya Rafa, aku juga sudah tidak pernah lagi bertemu dengannya, jadi abaikan saja dia, anggap tidak pernah terjadi apapun antara aku dan dia," ucap Maya.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak peduli tentang hubunganmu dengannya, aku hanya mempedulikan nama baik perusahaan dan keluargaku, jika sampai terjadi masalah karena hubunganmu dengan laki-laki itu maka jangan salahkan aku jika aku akan melakukan hal yang tidak kalian inginkan!" ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan Maya begitu saja.
Sedangkan Maya segera masuk ke dalam mobilnya, mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.
"Malam ini aku tidak bisa menemuimu, mungkin hubungan kita memang harus benar benar berakhir," ucap Maya setelah seseorang itu menerima panggilannya.
"Apa maksudmu? bukankah kita sepakat untuk menjalaninya diam-diam tanpa Rafa tahu?"
"Tidak, kita harus benar-benar mengakhiri semuanya sekarang juga sebelum Rafa melakukan hal-hal yang tidak kita inginkan!" ucap Maya.
"Kau sangat egois Maya, kau mendatangiku dan berbohong padaku tentang statusmu lalu kau mengakhiri hubungan denganku saat kau sudah jatuh cinta pada Rafa, lalu kau tiba-tiba kembali padaku karena Rafa mencampakkanmu dan sekarang kau ingin mengakhirinya lagi dengan tiba-tiba seperti ini?"
"Maafkan aku, ini yang terbaik untuk kau dan aku," balas Maya lalu mengakhiri panggilannya begitu saja.
**
Waktu demi waktu berlalu, meninggalkan sedikit demi sedikit rasa sakit yang mengecewakan.
Tiara menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi di universitas terbaik di dunia. Karena sikapnya yang mudah bergaul, iapun memiliki banyak teman baru dari berbagai negara dan salah satu teman baiknya adalah seorang gadis yang berasal dari Korea.
Gadis cantik itu bernama Yoo Na dan Tiara biasa memanggilnya Yuna, yang merupakan teman baru sekaligus roommate Tiara di dorm yang berada dekat dengan kampus mereka.
Tiara dan Yuna biasa menggunakan sepeda untuk berangkat ke kampus dari dorm tempat mereka tinggal. Karena Tiara sangat menyukai K-pop iapun menjadi lebih cepat akrab dengan Yuna dibanding dengan teman-temannya yang lain.
Meskipun begitu, Tiara juga berteman baik dengan teman-temannya yang lain, mereka saling bercerita tentang culture shock yang mereka alami saat mereka baru saja tiba di Amerika.
Selain teman-teman yang berasal dari luar Amerika, Tiara juga memiliki banyak teman yang berasal dari Amerika. Mereka semua senang berteman dengan Tiara yang dinilai mereka menyenangkan.
Karena selain fasih berbahasa Inggris, Tiara juga menguasai beberapa bahasa asing lainnya dan hal itu tentu saja memudahkan Tiara untuk berkomunikasi dengan teman-temannya yang berasal dari beberapa negara yang berbeda.
Satu minggu setelah Tiara berada di Amerika, Kevin datang menemuinya untuk memberikan beberapa barang-barang miliknya. Kevin juga datang untuk memastikan dimana Tiara tinggal dan bagaimana keadaan Tiara setelah 1 minggu berada disana.
"Kau jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku pasti bisa menjaga diri dengan baik disini," ucap Tiara pada Kevin.
Waktupun berlalu, satu bulan berada di Amerika membuat Tiara cukup sibuk dengan kegiatan barunya. Tidak hanya menghabiskan waktu di kampus, Tiara juga lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan ataupun menjelajahi beberapa tempat bersama Yuna dan teman-temannya yang lain.
Karena ia baru berada di Amerika, banyak tempat yang ingin ia kunjungi yang berada tidak jauh dari tempatnya tinggal. Meskipun begitu Tiara tetap fokus dengan pendidikannya, baginya kuliah adalah hal penting pertama yang harus ia prioritaskan.
Selebihnya ia akan menyibukkan dirinya untuk melakukan banyak hal yang ia sukai. Tiara benar-benar menghindari untuk berdiam diri karena dengan hanya berdiam diri membuatnya memikirkan hal-hal lain yang kembali membuatnya bersedih dan ia benar-benar tidak ingin itu terus terjadi padanya.
Tiara berusaha untuk menyibukkan dirinya, membuat dirinya sendiri bahagia dengan banyak hal baru yang ia lakukan bersama teman-teman barunya.
Sesekali Tiara menghubungi Kevin dan Chika untuk menceritakan bagaimana kesehariannya berada di Amerika.
Banyak hal baru yang Tiara pelajari meskipun ia baru satu bulan berada disana. Teman-teman baru dari berbagai negara dan berbagai kebiasaan baru yang sering Tiara lihat membuat Tiara harus bisa menjaga dirinya dengan lebih baik, agar ia tidak terjerumus pada beberapa kebiasaan yang menurutnya tidak baik namun sering ia lihat di sekitarnya.
Tiara memang belum sepenuhnya melupakan kesedihannya, terutama banyak hal yang mengingatkannya dengan Rafa yang tiba-tiba saja terlintas di kepalanya
Untuk beberapa saat rasa sakit dan kecewa kembali menggerayangi hatinya, namun ia tidak ingin terlalu lama berlarut-larut dengan hal itu. Sekali lagi, ia berusaha untuk menyibukkan dirinya dengan melakukan berbagai hal yang ia sukai, entah bersama teman-temannya atau hanya seorang diri.
Tiara benar-benar menikmati kehidupan barunya sebagai mahasiswi di kampus terbaik itu. Meskipun kilasan memori yang menyedihkan masih saja menyelinap dalam ingatannya, tapi Tiara berusaha untuk mengabaikan hal itu.
Kenangan indahnya bersama Rafa memang tidak mudah untuk dilupakan, namun Tiara terus mengingatkan dirinya sendiri bahwa Rafa adalah suami dari seorang perempuan yang sudah membantunya dan hal itu yang selalu menyadarkan Tiara untuk berhenti mengingat kembali semua kenangan indah yang sudah terjadi antara dirinya dan Rafa.
Hari itu, Tiara sedang berjalan seorang diri di trotoar jalan raya sambil menikmati dedaunan kering yang berguguran di sepanjang trotoar.
Sesekali Tiara mengayunkan kakinya untuk menendang daun-daun yang berserakan di sepanjang trotoar hingga tiba-tiba seseorang menegurnya dari belakang.
"Norak sekali!"
__ADS_1
Mendengar seseorang berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, Tiarapun segera menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya, ia begitu terkejut saat ia melihat gadis cantik berdiri di hadapannya.
"Bella, apa yang kau lakukan disini?" tanya Tiara yang begitu terkejut dengan keberadaan Bella saat itu.
"Memangnya hanya kau saja yang bisa kuliah disini?" balas Bella bertanya tanpa menjawab pertanyaan Tiara.
"Tentu saja kau bisa, kau bahkan bisa melanjutkan kuliah di manapun kau mau, apa kau sudah memutuskan untuk kuliah disini?" ucap Tiara sekaligus bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Bella.
"Dimana kampusmu dan dimana kau tinggal?" tanya Tiara
"Yang pasti aku tidak kuliah di Harvard, otakku tidak sampai untuk bisa kuliah disana," jawab Bella sambil membawa langkahnya berjalan di samping Tiara.
Merekapun mengobrol sambil berjalan berdua.
"Aku pikir kau tidak melanjutkan kuliahmu disini, karena terakhir kali Kevin mengatakan jika kau ragu untuk berada jauh dari Kevin!"
"Apa Kevin mengatakan hal itu? wah sepertinya dia sudah membohongimu!" ucap Bella sambil mengalihkan pandangannya dari Tiara.
Tiara hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun karena ia tahu justru Bella yang berbohong padanya.
"Jangan mengkhawatirkan Kevin, dia pasti bisa menjaga hatinya dengan baik, percaya saja padanya!" ucap Tiara yang seolah mengerti apa yang Bella khawatirkan.
"Aku sama sekali tidak memikirkannya, justru seharusnya dia yang mengkhawatirkanku karena aku bisa dengan mudah mendapatkan laki-laki lain yang jauh lebih tampan daripada Kevin disini," balas Bella dengan gayanya yang angkuh dan sombong.
"Aahh iya, sepertinya aku tadi melihatmu mengobrol bersama pemilik kafe, apa kau juga mengenalnya?" tanya Bella yang membuat Tiara seketika menghentikan langkahnya.
"Apa kau mengenal pemilik kafe itu?" balas Tiara bertanya.
"Tentu saja, dia adalah anak dari rekan kerja papaku disini, jadi aku mengenalnya," jawab Bella yang masih tetap melanjutkan langkahnya meninggalkan Tiara.
"Waaahhh benarkah? kalau begitu bisakah kau membantuku untuk bisa bekerja di kafe itu?" tanya Tiara sambil berlari mengejar Bella.
"Bekerja? kenapa kau ingin bekerja di kafe? bukankah biaya kuliah dan biaya hidupmu sudah ditanggung oleh perusahaan tempatmu bekerja?" balas Bella bertanya.
"Kau benar, biaya kuliah dan biaya hidupku memang sudah ditanggung oleh perusahaan, tapi aku juga ingin memiliki penghasilan sendiri karena kau tahu bukan biaya hidup disini cukup tinggi dan aku tidak bisa hanya mengandalkan biaya hidup dari perusahaan, setidaknya aku bisa menyimpan sedikit uangku untuk hal-hal mendesak yang tidak aku tahu nantinya," jawab Tiara menjelaskan.
"Apa kau bisa membagi waktumu dengan baik jika kau kuliah sambil bekerja?" tanya Bella.
"Tentu saja bisa, aku sudah pernah melakukannya sebelumnya," jawab Tiara tanpa ragu.
"Bagaimana jika kuliahmu terganggu? kau tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah kau dapatkan bukan?" tanya Bella ragu.
"Aku yang paling tahu batasanku sendiri Bella dan aku yakin jika aku mampu menjalani keduanya dengan baik, jika aku rasa kuliahku mulai terganggu aku tidak akan ragu untuk meninggalkan pekerjaanku, tapi aku akan berusaha sebaik mungkin untuk bisa menjalani keduanya dengan seimbang," jelas Tiara.
"Apa kau sadar kau sedang hidup di negara orang sekarang? kuliah sambil bekerja pasti sangat melelahkan dan akan mengurangi waktu istirahatmu, jika terjadi sesuatu yang buruk padamu siapa yang akan menolongmu nanti?"
"Tentu saja kau, bukankah kau juga ada disini?" balas Tiara dengan tersenyum ke arah Bella.
"Huh jangan harap, aku kesini untuk kuliah dan bersenang-senang, aku sama sekali tidak ingin terganggu olehmu!" ucap Bella yang mempercepat langkahnya, membuat Tiara berlari kecil mengikuti langkah Bella.
"Ayolah Bella, tolong aku, pemilik kafe itu pasti akan mempertimbangkanku jika kau mau berbicara dengannya tentangku," ucap Tiara memohon.
"Apa kau sedang memohon padaku sekarang?" tanya Bella dengan tersenyum tipis.
"Iya, aku sedang memohon bantuanmu," jawab Tiara tanpa ragu.
"Kalau begitu berlututlah, aku akan memikirkannya!" ucap Bella yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
"Are you crazy??"
__ADS_1
"Hahaha....." Bella hanya tertawa lalu menghentikan taksi yang lewat di dekatnya kemudian meninggalkan Tiara begitu saja.
"Waaah dia benar-benar gila!" ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya sambil menatap taksi yang melaju meninggalkannya.