
Tiara membaringkan badannya di atas ranjangnya. Ia masih memikirkan tentang ucapan Rafa padanya. Selain itu Tiara juga memikirkan ucapannya pada Rafa.
"Apa aku sudah keterlaluan? apa ucapanku terlalu kasar pada kak Rafa?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara kemudian mengambil ponsel miliknya dan mencari nama Rafa dalam penyimpanan kontaknya.
Tiara ingin menghubungi Rafa, namun dia tiba tiba ragu.
"Bagaimana jika kak Rafa tidak menerima panggilanku? bagaimana jika kak Rafa marah padaku? aaahhh..... sepertinya aku sudah keterlaluan, lagi pula aku tidak tahu apa masalah kak Putra dan kak Rafa yang sebenarnya, aku juga baru mengenal kak Putra dan tanpa sadar aku sudah berbicara kasar pada kak Rafa hanya untuk membela kak Putra," ucap Tiara.
"Tapi sepertinya aku tidak sepenuhnya salah, kak Rafa juga tidak berhak membatasi pergaulanku, siapa yang boleh dan tidak boleh untuk berteman denganku, lagi pula tidak sopan juga jika kak Rafa tiba-tiba menarik tanganku saat aku sedang bersama kak Putra," ucap Tiara berusaha membela diri.
"Tapi..... mungkin bukan seperti itu maksud kak Rafa, aku memang tidak tahu bagaimana kak Putra yang sebenarnya tapi sejauh yang aku tahu dia laki-laki yang baik, dia bahkan sangat baik padaku sejak kita baru pertama kali bertemu!"
"Aaahhhh entahlah, aku tidak mau memikirkannya lagi," ucap Tiara sambil menarik selimutnya dan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Di sisi lain, Rafa sudah kehilangan konsentrasinya karena ucapan Tiara beberapa saat yang lalu.
"Jika kak Rafa memiliki masalah dengan kak Putra selesaikan masalah kalian dengan dewasa, jangan melibatkan Tiara apalagi meminta Tiara untuk menjauhi kak Putra karena kak Rafa sama sekali tidak berhak untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh dekat dengan Tiara!"
"Tiara benar, aku memang tidak berhak melarangnya untuk dekat dengan siapapun, dia sudah dewasa, dia pasti bisa menilai seseorang yang benar-benar baik atau tidak untuk dijadikan teman, aku harus minta maaf padanya," ucap Rafa lalu berniat menghubungi Tiara, namun tiba-tiba ia ragu dan kembali menaruh ponselnya di atas meja.
"Sepertinya tadi dia sangat marah padaku, mungkin dia tidak akan menerima panggilanku, lebih baik aku membiarkannya sendiri dulu, aku tidak ingin dia semakin marah padaku," ucap Rafa.
Karena sudah tidak bisa fokus lagi dengan pekerjaannya, Rafapun memilih untuk keluar dari ruangannya dan berjalan pergi meninggalkan kafe.
"Kemana aku harus pergi sekarang, pergi ke kafe pertamapun percuma, aku tidak akan bisa berpikir dengan jernih saat ini, sedikit saja bertengkar dengan Tiara benar-benar menggangguku, aku tidak akan mengulanginya lagi, setidaknya aku harus bersikap lebih dewasa dalam menyikapi Tiara!"
Rafa kemudian mengendarai mobilnya ke arah toko buku yang ada di dekat kafe pertama. Sesampainya disana Rafa segera memilih beberapa buku dan membawa langkahnya ke lantai 2 untuk membaca buku disana.
Setidaknya hanya itulah yang bisa ia lakukan agar ia bisa sedikit melupakan tentang pertengkarannya dengan Tiara.
Rafa sengaja tidak ingin pulang ke rumahnya karena ia sangat malas jika harus bertemu dengan Maya yang akhirnya malah menambah beban pikirannya karena pertengkarannya dengan Maya yang bisa saja terjadi.
Rafa menghabiskan waktunya lebih dari satu jam. Membaca memanglah salah satu hobinya, selain itu ia melakukannya agar ia bisa mengembalikan kefokusan pikirannya.
**
Hari telah berganti, seperti biasa Tiara banyak menghabiskan waktunya di kantor untuk mempelajari banyak hal baru yang ia dapatkan dari para seniornya.
Tiara benar-benar menikmati harinya sebagai bagian dari perusahaan X. Ia seolah tidak memiliki rasa lelah saat ia berada di meja kerjanya. Semangatnya terus membara seolah tidak ingin melewatkan sedikitpun kesempatan untuk terus memperbaiki dirinya dalam hal pekerjaannya.
Melihat hal itu para seniorpun terang-terangan memuji Tiara, membuat seseorang yang berada di samping Tiara hanya bisa tersenyum tipis karena iri.
"Dia memang pandai sekali mencari muka," ucapnya dalam hati.
"Tiara, bagaimana jika pada akhirnya hanya kau yang akan menjadi bagian dari divisi pemasaran, sedangkan aku harus dipindahkan ke divisi lain?" tanya Dita pada Tiara saat mereka berdua sedang berada di kantin untuk makan siang.
"Jangan terlalu memikirkannya, lebih baik kita fokus saja melakukan yang terbaik agar kita berdua bisa tetap bertahan di divisi pemasaran," balas Tiara.
"Aku bahkan tidak cukup yakin jika aku tetap berada disana karena kemampuanku jauh di bawah kemampuanmu," ucap Dita tidak percaya diri.
"Jangan berkata seperti itu, aku juga tidak banyak mengerti tentang apa yang aku kerjakan disini, tetapi aku berusaha keras untuk mempelajarinya dengan baik dan kaupun juga harus begitu, apapun hasilnya nanti kita harus bisa menerimanya dengan lapang dada," ucap Tiara.
"Tidak bisa, aku tidak akan mungkin baik-baik saja jika nanti aku dikeluarkan dari divisi pemasaran," balas Dita yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Dita.
__ADS_1
"Aku tahu kau akan bersedih, akupun juga akan bersedih jika memang hanya salah satu dari kita yang akan bertahan di divisi pemasaran, tapi tidak ada yang bisa kita lakukan karena itu memang sudah keputusan dari manajer," ucap Tiara.
"Sepertinya aku akan sangat marah dan kecewa jika hanya kau yang bertahan di divisi pemasaran," ucap Dita.
Untuk beberapa saat Tiara terdiam. Dalam hatinya ia memikirkan apa yang akan terjadi pada hubungannya dengan Dita jika memang hanya salah satu dari mereka yang akan bertahan di divisi pemasaran.
Jika memang Dita yang bertahan di divisi pemasaran maka Tiara akan menerima dengan lapang dada jika dia harus dipindahkan ke divisi lain, tapi jika Dita yang harus dipindahkan maka kemungkinan besar jika Dita akan marah dan kecewa seperti yang baru saja Dita katakan.
"Apapun hasilnya nanti aku harap kita masih bisa berteman baik," ucap Tiara.
Dita hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu menyeruput minuman di hadapannya.
Setelah Tiara dan Dita menyelesaikan makan siang mereka, merekapun berjalan kembali ke arah tempat kerja mereka.
"Tiara, bolehkah aku meminta tolong padamu?" tanya Dita pada Tiara saat mereka baru saja keluar dari lift.
"Minta tolong apa?" balas Tiara bertanya.
"Bisakah kau mengalah saja? aku benar-benar ingin berada di divisi pemasaran, aku tidak ingin berada di divisi lain selain divisi pemasaran, aku mohon biarkan aku tetap berada disini dan kau pergilah ke divisi lain, aku yakin divisi lain akan menerimamu dengan senang hati," ucap Dita yang membuat Tiara terdiam dan terkejut mendengar apa yang baru saja Dita katakan.
"Tidak bisa," ucap Putra yang tiba-tiba ada di antara Tiara dan Dita, membuat Tiara dan Dita segera membawa pandangan mereka ke arah Putra.
"Kenapa kau berkata seperti itu pada Tiara? bukankah dia temanmu?" tanya Putra pada Dita.
Dita hanya menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia tidak menyangka jika ada orang lain yang mendengar ucapannya pada Tiara saat itu, terlebih orang itu adalah Putra, seseorang yang dinilainya dekat dengan Tiara.
"Kalian berdua ikut ke ruangan saya!" ucap Putra dengan tegas lalu masuk ke dalam lift diikuti oleh Tiara dan Dita.
Tiara dan Dita sama sekali tidak berbicara sampai mereka masuk ke ruangan Putra.
"Saya hanya ingin tetap berada di divisi pemasaran Pak, saya tidak ingin dipindahkan ke divisi lain karena dari awal sayalah yang berada di sisi pemasaran," jawab Dita.
"Kau benar, sejak awal hanya kaulah yang lolos ke divisi pemasaran karena pihak personalia belum mengetahui nilai yang Tiara dapatkan jika Tiara benar-benar mengerjakan tes terakhirnya sampai selesai," ucap Putra.
"Tapi setelah Tiara mengerjakan tes terakhirnya sampai selesai, nilai Tiara sangat jauh di atasmu Dita, sebenarnya bisa saja kau tidak diberi kesempatan untuk berada di divisi pemasaran tetapi manajer kalian memberikan kalian berdua kesempatan untuk menunjukkan siapa yang terbaik dan siapa yang lebih layak untuk tetap berada di divisi pemasaran," lanjut Putra.
"Menurut saya itu tidak adil Pak," ucap Dita setelah ia mengumpulkan keberaniannya untuk memprotes ucapan Putra yang merupakan direktur yang membawahi divisi pemasaran.
"Apa yang membuatmu merasa tidak adil?" tanya Putra.
"Tiara sudah dinyatakan tidak lolos sejak awal tapi tiba-tiba dia mendapatkan kesempatan kedua sehingga dia bisa menyelesaikan tes terakhirnya dan mengeluarkan saya dari divisi pemasaran," jawab Dita.
"Kesempatan kedua diberikan pada Tiara bukan tanpa alasan, kau pasti tahu dia memiliki nilai yang hampir sempurna pada tes keduanya bukan? lagi pula dia tidak lolos bukan karena dia tidak mampu menyelesaikan tes terakhirnya tetapi karena dia pingsan dengan tiba-tiba, dan kau apa tidak sadar jika kaupun mendapatkan kesempatan kedua untuk mempertahankan posisimu di divisi pemasaran!"
Dita hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Kaupun sama dengan Tiara, kau mendapatkan kesempatan kedua untuk membuktikan bahwa kau mampu dan kau lebih baik dari Tiara, jika kau memang tetap ingin bertahan di divisi pemasaran tunjukkan kinerjamu Dita!" ucap Putra dengan tegas.
"Dan kau Tiara, jangan menganggap karena nilaimu lebih tinggi dari Dita kau bisa bersantai dan tidak mengerjakan tugasmu dengan baik, karena pada akhirnya yang akan tetap bertahan di divisi pemasaran hanyalah mereka yang memberikan 100% dirinya untuk pekerjaannya, seberapa baguspun nilaimu pada saat tes tidak akan berpengaruh jika kau tidak bisa bekerja dengan baik disini," lanjut Putra.
"Tiara mengerti Pak," balas Tiara.
"Kalian berdua dengarkan saya baik baik, saya tidak membela salah satu diantara kalian, kalian berdua sama-sama pekerja baru disini, banyak hal yang harus kalian pelajari dan siapapun yang bisa mempelajari jobdesknya dengan cepat dan baik maka dialah yang akan tetap berada di tempatnya saat ini, jadi lakukan saja yang terbaik untuk mempertahankan posisi kalian, mengalah ataupun memaksa tidak akan membuat kalian berdua menjadi terlihat lebih baik dari yang lain, ini adalah tempat kerja dan kalian dituntut untuk profesional disini, kalian mengerti?"
"Mengerti Pak!"
__ADS_1
"Mengerti Pak," balas Tiara dan Dita bersamaan.
"Baiklah, kalian berdua boleh keluar!" ucap Putra.
"Baik Pak, permisi," ucap Tiara lalu berjalan meninggalkan ruangan Putra bersama Dita.
Tiara dan Dita memasuki lift dan keluar dari lift tanpa saling berbicara satu sama lain. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, memikirkan apa yang baru saja Putra katakan.
Sampai jam kerja selesaipun Tiara dan Dita masih tidak berbicara satu sama lain hingga akhirnya Dita membereskan barang-barangnya dan beranjak dari duduknya.
Tiara kemudian menahan tangan Dita saat Dita akan pergi terlebih dahulu.
"Tunggu aku," ucap Tiara lalu segera membereskan barang-barangnya kemudian beranjak dari duduknya untuk meninggalkan tempat kerjanya bersama Dita.
"Apa kau marah padaku?" tanya Tiara pada Dita yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum tipis oleh Dita.
"Tentang apa yang kau katakan padaku tadi, aku...."
"Tidak perlu membahasnya lagi, aku minta maaf sudah mengatakan hal itu padamu dan aku minta maaf jika perkataanku pada Pak Putra menyinggung perasaanmu," ucap Dita memotong ucapan Tiara.
"Aku mengerti, kau mungkin sangat kecewa karena tiba-tiba aku datang dan menjadi bagian dari divisi pemasaran, tapi sungguh aku tidak bermaksud untuk merebut tempatmu disini," ucap Tiara.
"Aku mengerti, mungkin aku yang terlalu berlebihan karena aku takut tidak akan bisa bertahan di divisi pemasaran," balas Dita
"Kau tidak berlebihan, aku mengerti apa yang kau rasakan, tapi aku berharap hal itu tidak membuat pertemanan kita menjadi renggang, aku harap kita sama-sama bisa bersaing dengan sehat untuk bisa mempertahankan posisi kita di divisi pemasaran," ucap Tiara.
"Aku sangat ingin berada di divisi pemasaran Tiara, kau tahu itu bukan?" balas Dita dengan menatap Tiara penuh harap, seolah ingin Tiara mengalah padanya, membiarkannya menjadi satu-satunya yang ada di divisi pemasaran.
"Aku tahu, kaupun tahu jika aku juga menginginkan posisi ini, tapi aku tidak bisa mengalah padamu begitu saja, seperti yang Pak Putra katakan tadi, kita harus tetap profesional, kita berusaha melakukan yang terbaik untuk mempertahankan posisi kita disini," ucap Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku pergi dulu," balas Dita lalu berjalan cepat meninggalkan Tiara.
Tiara yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa terdiam, menghela nafasnya panjang, menatap Dita yang berjalan semakin jauh darinya.
"Aku harap tidak akan ada masalah besar di antara kita berdua," ucap Tiara lalu melanjutkan langkahnya keluar dari perusahaan besar tempatnya bekerja.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa.
"Apa kau marah padaku? jika iya, aku akan menjemputmu di tempat kerjamu, jika tidak, temui aku di kafe dekat tempat kerjamu!"
Tiara tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke arah kafe yang berada tidak jauh dari tempat kerjanya.
"Tiara!" panggil Putra saat Tiara baru saja menginjakkan kaki di trotoar yang ada di depan perusahaan tempatnya bekerja.
"Aku akan mengantarmu pulang!" ucap Putra saat Tiara menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya ke arah Putra.
"Terima kasih Pak, tapi Tiara harus pergi ke tempat lain dulu," ucap Tiara.
"Kemana? aku akan mengantarmu!"
"Tidak perlu Pak, terima kasih," ucap Tiara dengan sedikit menundukkan kepalanya di akhir kalimatnya lalu berjalan meninggalkan Putra begitu saja.
"Gadis yang langka," ucap Putra dalam hati dengan senyum merekah di wajahnya.
__ADS_1