
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, seolah mengobarkan semangat Tiara untuk mengikuti tes terakhirnya di perusahaan yang sudah lama ia impikan.
Dengan penuh semangat Tiara membawa langkahnya menaiki bus yang baru saja tiba. Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Tiara sampai di halte yang ditujunya.
Tiarapun turun dari bus dan berjalan ke arah perusahaan besar yang ada di dekat halte.
"Tiara!" panggil Dita dengan melambaikan tangannya.
Tiarapun membalas dengan melambaikan tangannya lalu berlari kecil ke arah Dita yang sudah berada tepat di depan perusahaan.
Mereka berdua berjalan ke arah kantin karena masih ada waktu 1 jam sebelum tes terakhir dilaksanakan.
"Masih ada waktu 1 jam, apa kau sudah sarapan?" tanya Dita pada Tiara.
"Belum, aku tidak sempat memakan apapun karena terlalu terburu-buru," jawab Tiara.
"Kebetulan sekali hari ini aku membawa roti, ini buatanku sendiri, cobalah!" ucap Dita sambil memberikan sebuah kotak yang berisi beberapa potong roti.
"Waah kau pandai membuat roti rupanya," ucap Tiara.
"Coba saja dulu, semoga kau suka!" ucap Dita.
Tiarapun mengambil sepotong roti di kotak itu lalu membelahnya dan memakannya tanpa ragu, begitu juga Dita yang ikut menikmati roti yang ia bawa.
"Bagaimana?" tanya Dita menunggu respon Tiara.
"Hmmmm.... ini enak sekali, coklatnya sangat lumer dan tidak terlalu manis, kau memang pandai membuatnya," jawab Tiara memuji roti isi coklat buatan Dita.
"Kau berlebihan sekali, tapi memang ini salah satu roti buatanku sendiri yang paling aku suka," ucap Dita.
"Kau bisa memulai bisnismu sendiri Dita, kau sangat berbakat dalam hal ini," ucap Tiara.
"Aku hanya menyukainya sebagai hobi saja, aku tidak pernah berpikir untuk membuatnya sebagai bisnis," balas Dita.
Satu jampun berlalu, kini Tiara dan Dita sudah ada di sebuah ruangan untuk menyelesaikan tes terakhir mereka. Dalam tes terakhir itu akan ada dua sesi, sesi pertama adalah menjawab beberapa pertanyaan yang sudah disediakan, pertanyaan tentang berbagai macam permasalahan yang harus mereka cari tahu bagaimana penyelesaiannya dan sesi kedua adalah interview yang merupakan tahap akhir dari seluruh rangkaian tes sebelum mereka benar-benar dinyatakan lolos untuk menjadi bagian dari perusahaan besar itu.
Sama seperti sebelumnya Tiara dan Dita duduk di bangku yang bersebelahan saat mereka mengerjakan tes pertama mereka.
"Semangat Dita, kita harus bisa menyelesaikannya dengan baik," ucap Tiara berbisik pada Dita.
Dita hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Maafkan aku Tiara," ucap Dita dalam hati.
Detik-detik jampun berlalu, Tiara sudah hampir menyelesaikan beberapa pertanyaan tentang permasalahan perusahaan yang ia dapatkan.
Tiara tanpa ragu menjawab hampir semua pertanyaan itu sesuai dengan pengalaman kerja dan buku-buku yang sudah banyak ia baca.
Melalui Rafa, Tiara juga mempelajari banyak hal tentang bisnis yang sedikit banyak bisa membantunya memberikan solusi atas permasalahan yang harus ia selesaikan.
Di sisi lain Dita sedikit gugup saat dia melihat Tiara yang tampak baik-baik saja, bahkan ia bisa melihat Tiara tampak santai mengerjakan tes terkahirnya di sesi pertama itu.
"Kenapa dia terlihat baik-baik saja? apa dia berbohong padaku?" batin Dita bertanya dalam hati.
"Tidak mungkin, sepertinya dia bukan tipe perempuan yang suka berbohong, lebih baik aku mengabaikannya saja dan menunggu reaksinya lebih lama lagi, aku juga harus fokus dengan apa yang harus aku kerjakan saat ini," ucap Dita dalam hati.
Tiara yang saat itu tengah fokus memikirkan penyelesaian dari permasalahan yang ia dapatkan tiba-tiba merasa pusing.
Namun Tiara tetap berusaha untuk menyelesaikan tes terakhir di sesi pertama itu.
"Tenang Tiara, kau pasti bisa menyelesaikannya," ucap Tiara dalam hati berusaha menenangkan dirinya sendiri.
Tiara kemudian menundukkan kepalanya, berusaha untuk menghalau rasa pusing yang tiba-tiba ia rasakan.
"Baru mengerjakan contoh permasalahan saja aku sudah pusing, bagaimana aku akan menyelesaikan permasalahan yang benar-benar ada di depanku nanti, aku harus bisa menyelesaikan semua ini dengan baik!" ucap Tiara dalam hati.
Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, ia berusaha untuk tetap fokus pada sesi pertama dari tes terakhirnya.
Namun semakin lama Tiara semakin tidak bisa mengendalikan pusing yang ia rasakan saat itu.
__ADS_1
"Kenapa rasanya pusing sekali, ada apa denganku?" batin Tiara bertanya pada dirinya sendiri sambil memijat keningnya yang semakin terasa pusing.
Detik demi detik berlalu, tinggal 10 menit lagi waktu yang Tiara miliki untuk bisa menyelesaikan sesi pertama dari tes terakhirnya, namun masih ada dua permasalahan yang belum ia selesaikan karena ia tidak bisa fokus sama sekali.
"Ayo Tiara pikirkan penyelesaian dari masalah ini, tinggal satu langkah lagi kau harus bisa menyelesaikannya dengan baik!" ucap Tiara dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Di sisi lain diam-diam Dita memperhatikan Tiara sedari tadi. Ia mulai menyadari jika Tiara sedang tidak baik-baik saja saat itu.
"Kau kenapa?" tanya Dita berbisik pada Tiara.
"Pusing," jawab Tiara singkat sambil memijat kepalanya.
Dita kemudian mengambil air mineral yang ada di dalam tasnya lalu memberikannya pada Tiara.
"Minumlah!" ucap Dita.
"Terima kasih," ucap Tiara lalu meneguk air mineral pemberian Dita.
5 menit berlalu namun rasa pusing yang dialami Tiara tidak kunjung hilang. Tiara hampir saja frustasi atas apa yang terjadi padanya, namun ia masih berusaha untuk memberikan jawaban pada semua permasalahan yang ada di sesi pertama dari tes terakhirnya.
Hingga akhirnya waktu mengerjakan sesi pertama itupun berakhir. Pihak perusahaan tidak memberikan jeda waktu untuk beristirahat melainkan segera melanjutkan untuk sesi kedua yaitu interview.
Karena Tiara mendapatkan nilai dengan urutan pertama pada tes kedua maka ia mendapat kesempatan pertama untuk melakukan interview.
Namun karena ia merasa kepalanya sangat pusing, ia tidak bisa menjawab setiap pertanyaan dengan maksimal, bahkan ia lebih banyak menundukkan kepalanya untuk menahan rasa pusing yang ia rasakan saat itu.
Baru 15 menit berlalu Tiara sudah tidak bisa lagi menahan pusing yang ia rasakan hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan sebelum ia menyelesaikan interviewnya.
Tiarapun segera dibawa ke ruang kesehatan dan dinyatakan gagal pada tes terakhirnya. Tiara yang masih pingsan hanya terbaring di ranjang yang ada di ruang kesehatan untuk beberapa lama.
Ia tidak tahu apa yang membuatnya pingsan hari itu, ia bahkan tidak memikirkannya dan hanya berusaha fokus menyelesaikan seluruh tes terakhirnya.
Namun sekeras apapun ia berusaha untuk mengabaikan rasa pusing yang ia rasakan tetap saja ia tidak mampu melawannya dan pada akhirnya ia tumbang, terkalahkan oleh rasa pusing yang ia rasakan.
Waktupun berlalu, tes terakhir sudah selesai dilaksanakan. Semua pelamar yang mengikuti tes terakhir sudah meninggalkan perusahaan itu terkecuali Tiara yang baru saja tersadar dari pingsannya dan masih berada di ruang kesehatan.
Tak berapa lama kemudian seseorang menghampirinya dan menanyakan keadaannya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya seseorang dengan jas putih khas seorang dokter.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun.
"Sepertinya kau kelelahan, segera pulang dan beristirahatlah, jangan lupa untuk meminum obat yang sudah yang saya tulis!" ucap dokter itu sambil memberikan selembar kertas yang bertuliskan resep obat.
"Maaf dok, saya kesini untuk mengikuti tes terakhir, bisakah saya melanjutkan tes terakhir saya?" ucap Tiara sekaligus bertanya.
Dokter kemudian melihat ke arah jam yang ada di tangan kirinya lalu mengernyitkan keningnya.
"Sepertinya tes itu sudah berakhir," ucap dokter yang membuat Tiara begitu terkejut.
Tiara kemudian segera turun dari ranjang dan berlari keluar meninggalkan ruang kesehatan. Saat Tiara tengah berlari seseorang juga tampak berlari ke arah Tiara dan segera menghentikan langkah Tiara.
"Kau mau ke mana Tiara? kenapa kau berlari?" tanya Putra yang saat itu baru mengetahui jika Tiara pingsan saat melakukan sesi kedua pada tes terakhirnya.
"Tesnya belum selesai kan kak? tolong katakan pada Tiara bahwa tes terakhir belum selesai, tolong katakan kalau Tiara masih memiliki kesempatan untuk menyelesaikan tes Tiara kak!" ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan Putra.
Putra hanya menghela nafasnya dengan memegang kedua bahu Tiara agar Tiara duduk, namun Tiara segera melepaskan kedua tangan Putra dan masih menuntut jawaban atas pertanyaannya.
"Tolong jawab saja pertanyaan Tiara kak, Tiara masih memiliki waktu untuk melanjutkan tes bukan?"
"Semuanya sudah selesai Tiara, aku harap kau bisa menerimanya," ucap Putra.
"Selesai apa maksud kak Putra? Tiara bahkan belum menyelesaikan interview Tiara, Tiara masih memiliki kesempatan bukan?" tanya Tiara yang seolah tidak menerima jawaban Putra.
"Tidak Tiara, pihak HRD memutuskan untuk tidak memberikan pengecualian untukmu, jadi.... kau....."
"Tidak, Tiara harus menyelesaikan interview Tiara, setidaknya mereka harus menilai Tiara setelah Tiara selesai interview," ucap Tiara memotong ucapan Putra lalu berlari pergi meninggalkan Putra begitu saja.
Melihat hal itu Putrapun segera berlari mengejar Tiara sampai Tiara berhenti di depan ruangan tempat ia melakukan tes terakhirnya.
__ADS_1
Saat ia akan mengetuk pintu, seseorang keluar dari ruangan itu.
"Maaf pak, saya Tiara, bisakah saya melanjutkan tes terakhir saya?" ucap Tiara sekaligus bertanya.
"Tidak bisa, selain karena waktunya sudah habis kau juga dianggap lalai karena tidak bisa bertanggung jawab pada dirimu sendiri lalu bagaimana kau akan bertanggung jawab pada pekerjaan yang harus kau selesaikan? lagi pula hasil tes tulismu juga tidak begitu bagus, kau sudah gagal jadi lebih baik pulang saja dan beristirahatlah!" jawab seseorang itu lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.
Tiara yang mendengar hal itu hanya bisa terdiam di tempatnya berdiri. Kedua kaki yang sebelumnya melangkah dengan penuh semangat tiba-tiba kehilangan tenaganya begitu saja.
Kakinya terasa lumpuh, membuatnya tidak bisa menopang bobot tubuhnya sendiri. Tiara jatuh terduduk, terdiam tanpa mampu mengatakan apapun.
"Aku gagal," ucap Tiara dengan pandangan kosong.
Putra yang baru saja sampaipun segera membantu Tiara untuk berdiri.
"Berdirilah Tiara, ini bukan akhir dari segalanya untukmu, kau bisa mencobanya lagi lain waktu!" ucap Putra yang berusaha memberikan semangat pada Tiara.
Tiara hanya terdiam dengan tersenyum hambar tanpa mengatakan apapun.
"Aku tahu kau sudah banyak berusaha tapi inilah hasilnya, bukankah kau sendiri yang bilang kau akan menerima apapun hasil yang akan kau terima!"
"Tiara terima apapun hasilnya setelah Tiara menyelesaikan semua tesnya dengan seluruh kemampuan yang Tiara miliki, yang membuat Tiara sangat kecewa adalah Tiara gagal sebelum Tiara menyelesaikan semua tes itu, Tiara bahkan tidak bisa memanfaatkan kesempatan untuk menyelesaikan semuanya," balas Tiara dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Tiara pergi kak, terima kasih dan maaf jika Tiara mengecewakan," lanjut Tiara lalu berjalan pergi begitu saja.
Namun Putra segera menahan tangan Tiara, karena ia tahu Tiara sedang tidak baik-baik saja saat itu.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Putra.
"Tidak perlu," balas Tiara dengan tersenyum datar sambil melepaskan tangan Putra yang menahannya.
Tiara kemudian masuk ke dalam lift yang mengantarkannya ke lobi. Dengan langkah penuh kekecewaan Tiara meninggalkan perusahaan besar yang kini terasa semakin jauh dari mimpinya.
Tiara kemudian menaiki bus, bukan untuk pergi ke kafe ataupun pulang, melainkan untuk membawanya ke makam kedua orang tuanya.
Sesaat setelah Tiara menginjakkan kaki di samping gundukan kedua makam orang tuanya, hujanpun turun.
"Hujan bahkan tidak mengizinkanku untuk memperlihatkan kesedihanku pada mama dan papa," ucap Tiara dalam hati dengan tersenyum hambar.
"Maafkan Tiara ma, pa, sepertinya Tiara gagal membanggakan mama dan papa," ucap Tiara dengan berusaha untuk tetap tersenyum meski air matanya sudah jatuh bercampur dengan hujan yang membasahi pipinya.
Pada akhirnya isak tangis terdengar bersama dengan riuh tetesan hujan yang semakin lebat.
Tiara menangis bukan karena kegagalannya, ia menangis karena ia bahkan belum menyelesaikan tes terakhirnya, ia menangis karena menyesal tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri yang membuatnya pingsan sebelum tes berakhir.
"Andai saja Tiara diberi kesempatan untuk menyelesaikan seluruh tes terakhir, Tiara pasti akan menyelesaikannya dengan baik, andai Tiara tidak pusing, andai Tiara tidak pingsan saat itu, Tiara tidak mungkin akan sesedih ini, Tiara sudah gagal sebelum Tiara menyelesaikan pertarungan Tiara," ucap Tiara bersedih.
Setelah beberapa lama berada disana hujanpun mulai reda, namun Tiara masih enggan untuk beranjak dari tempatnya.
Di sisi lain Rafa yang baru saja sampai segera keluar dari mobilnya lalu berjalan memasuki area pemakaman dengan banyak genangan air di mana-mana.
Namun kedua mata Rafa segera tertuju pada Tiara yang terduduk dengan pakaian yang sudah basah kuyup.
Rafapun segera membawa langkahnya mendekati Tiara.
"Tiara!" panggil Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya ke arah sumber suara yang ia tahu bahwa itu adalah suara Rafa.
Tiara tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Apa yang terjadi padamu Tiara? kenapa kau basah kuyup seperti ini tanya Rafa dengan memegang kedua bahu Tiara.
"Tiara hanya ingin bermain hujan," jawab Tiara dengan tersenyum.
"Bermain hujan? disini?" tanya Rafa tak percaya.
"Apa ada yang salah? Tiara hanya ingin bermain hujan dengan mama dan papa," jawab Tiara dengan suara yang mulai serak karena menahan tangis.
Rafapun menyadari jika Tiara sedang tidak baik baik saja, ia kemudian mendekati Tiara lalu membawa Tiara ke dalam dekapannya.
Tanpa banyak bertanya, Rafa memeluk Tiara dengan erat, tidak peduli kemeja putihnya yang mulai basah dan kotor karena memeluk Tiara.
__ADS_1