Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Meninggalkan Kafe


__ADS_3

Di ruangan Rafa.


Rafa begitu terkejut saat ia menyadari ada satu pesan masuk dari Maya yang mengatakan jika Maya sedang berada dalam perjalanan menuju ke kafe keduanya.


"Tolong bereskan berkas-berkas ini, aku harus pergi sebentar," ucap Rafa pada Tiara lalu berjalan keluar dari ruangannya.


Rafa yang baru saja keluar dari ruangan begitu terkejut saat melihat Maya yang berjalan ke arah ruangannya.


"Rafa, kau...."


"Ikut aku," ucap Rafa memotong ucapan Maya dengan membawa langkah cepatnya keluar dari kafe diikuti oleh Maya.


"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa pada Maya.


"Aku berkali-kali menghubungimu tapi kau tidak pernah menerima panggilanku, mama dan papa akan ke rumah tapi aku tidak menemukan foto pernikahan kita di gudang," ucap Maya menjelaskan.


"Aku memindahkannya di gudang belakang dekat kolam renang," ucap Rafa yang membuat Maya terkejut.


"Kenapa kau memindahkannya tanpa memberitahuku? kau membuatku repot saja," ucap Maya kesal lalu berjalan meninggalkan Rafa.


"Kapan Mama dan papamu akan datang?" tanya Rafa sebelum Maya benar-benar pergi meninggalkannya.


"Nanti siang, aku harap kau tidak akan kabur lagi kali ini," jawab Maya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan Rafa.


Rafa hanya menghela nafasnya kasar lalu kembali masuk ke dalam kafe dengan raut wajah yang masih tampak kesal.


Saat Rafa baru saja masuk ke dalam kafe, Tiara berjalan keluar dari ruangan Rafa.


"Tiara sudah membereskan semua berkasnya Pak," ucap Tiara pada Rafa.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu masuk ke ruangannya. Sedangkan Tiara kembali melanjutkan pekerjaannya bersama Chika.


Di sisi lain, Chika masih memikirkan tentang wanita yang baru saja ditemuinya. Chika merasa tidak asing dengan wajah Maya yang pernah ia lihat sebelumnya.


"Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana?" batin Chika bertanya dalam hati.


"Hei, kenapa kau melamun? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Tiara mengejutkan Chika yang tampak sedang melamun saat itu.


"Kau mengejutkanku saja, bagaimana diskusimu dengan Pak Rafa? apa Rafa setuju?" tanya Chika tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


"Pak Rafa setuju, tapi kita harus membuat ukuran strawberrynya menjadi lebih kecil agar membuat pelanggan menjadi lebih mudah untuk menikmati minumannya," jawab Tiara.


"Baguslah kalau begitu, aku yakin ini akan menjadi salah satu minuman favorit pelanggan kita," ucap Chika yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Aahh aku ingat," ucap Chika berteriak saat ia baru teringat siapa perempuan yang pernah dilihatnya itu.


"Apa yang kau ingat?" tanya Tiara yang terkejut karena Chika yang tiba tiba berteriak.


"Bukan apa apa hehehe...." jawab Chika berbohong.


"Aku tidak perlu memberitahu Tiara tentang wanita yang mencari Pak Rafa, lagi pula aku tidak tahu pasti apa hubungan mereka berdua, tapi aku yakin dia bukan siapa-siapa," Pak Rafa ucap Chika dalam hati.


Tiara kemudian memberitahu Chika jika dirinya lolos tes terakhirnya di perusahaan X, Chikapun bersorak senang lalu memeluk Tiara dan memberikan selamat padanya.


"Aku senang kau berhasil Tiara, tapi ada sesuatu yang membuatku sedih," ucap Chika setelah ia melepaskan pelukannya dari Tiara.


"Apa yang membuatmu sedih?" tanya Tiara.


"Jika kau sudah diterima di perusahaan itu artinya kau akan meninggalkanku bukan?" balas Chika.


"Aku tidak meninggalkanmu Chika, aku hanya berpindah tempat tinggal dan tempat kerja, tapi aku janji aku akan sering menyempatkan waktuku untuk datang kesini dan yang paling penting aku tidak akan melupakanmu," ucap Tiara.


"Benarkah? apa itu artinya kita masih bisa berteman setelah kau pergi dari sini?" tanya Chika memastikan.


"Tentu saja, kenapa kau bertanya seperti itu? sampai kapanpun kau adalah teman baikku Chika," jawab Tiara lalu memeluk Chika dengan erat.


Tak lupa Tiara juga memberitahu Kevin bahwa dirinya lolos tes terakhirnya. Mendengar kabar gembira itu Kevinpun menyempatkan waktunya untuk menemui Tiara di kafe tepat sebelum Tiara pulang.


"Selamat Tiara, aku memang sudah yakin jika kau akan berhasil," ucap Kevin pada Tiara saat mereka sudah duduk bersama di kafe.

__ADS_1


"Terima kasih Kevin, jika kau senggang apa kau bisa membantuku untuk mencari tempat tinggal di dekat tempat kerjaku yang baru?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Tentu saja bisa, bagaimana jika besok setelah kau pulang kerja?"


"Baiklah, aku akan menunggumu disini besok," jawab Tiara.


"Kapan kau akan mulai bekerja disana?" tanya Kevin.


"Minggu depan, jadi aku masih memiliki waktu satu minggu untuk bekerja di kafe sembari mencari tempat tinggal baru," jawab Tiara.


"Setelah semua yang terjadi, aku senang kau bisa meraih mimpimu Tiara," ucap Kevin.


"Aku percaya akan ada pelangi setelah hujan dan bagiku ini adalah pelangi yang aku dapatkan setelah hujan," balas Tiara.


"Lalu bagaimana dengan Pak Rafa? apa Pak Rafa tidak mencegahmu untuk keluar dari kafe?" tanya Kevin yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


Tiara tidak mengerti kenapa teman-teman dekatnya selalu mempertanyakan tentang Rafa padanya saat ia akan meninggalkan kafe.


"Kenapa kak Rafa harus melakukan itu? tidak ada alasan bagi kak Rafa untuk mencegahku keluar dari kafe," ucap Tiara.


"Apa kau benar benar tidak memiliki perasaan apapun pada Pak Rafa?" tanya Kevin.


"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Tiara bertanya.


"Ayolah Tiaraz kau pasti tahu jika Pak Rafa memperhatikanmu lebih dari yang lain, Pak Rafa bahkan tahu semua masalahmu dan kaupun menceritakan semuanya pada Pak Rafa, aku sangat mengenalmu Tiara, kau tidak akan menceritakan semua masalahmu pada seseorang yang tidak dekat denganmu," ucap Kevin.


"Tolong jangan salah paham Kevin, aku terlihat dekat dengan kak Rafa karena kita memang saling terkait dalam beberapa hal, kak Rafa adalah dosen pembimbingku dan kak Rafa dikeluarkan dari kampus karena menolongku dan tanpa aku tahu aku melamar kerja di kafe yang ternyata milik kak Rafa," ucap Tiara.


"Lalu apa itu yang menjadikan alasan kenapa kau menceritakan semua masalahmu pada Pak Rafa? apa itu yang membuat Pak Rafa terlibat dalam masalah keluargamu?" tanya Kevin yang membuat Tiara terdiam untuk beberapa saat.


Tiara tidak tahu sejak kapan ia mulai dekat dengan Rafa, ia bahkan tidak sadar sejak kapan dirinya mulai terbuka pada Rafa sehingga Rafa mengerti semua masalah keluarganya bahkan terlibat secara langsung dengan masalah yang dihadapinya.


"Pak Rafa tidak mungkin ikut campur dalam masalah keluargamu jika Pak Rafa memang tidak benar-benar peduli padamu," ucap Kevin.


Tiara menghela nafasnya lalu tersenyum tipis.


"Kau pasti masih menutup hatimu untuk orang lain, benar bukan?" tanya Kevin menerka.


"Aku tidak tahu, aku ingin benar-benar berdamai dengan masa laluku sampai aku siap memulai kembali hubungan yang baru dan untuk saat ini aku sedang tidak ingin memikirkannya," jawab Tiara.


Kevin menghela nafasnya lalu meraih tangan Tiara dan menggenggamnya.


"Jangan berlarut-larut dalam kesedihan Tiara, aku tahu bagaimana menyakitkannya masa lalumu, tapi jangan jadikan itu sebagai alasan untukmu bersedih, jangan jadikan itu sebagai alasan yang melemahkanmu, kau berhak bahagia Tiara, kau berhak mendapatkan seseorang yang benar-benar mencintaimu dengan tulus dan saat hatimu sudah merasakan cinta tulus seseorang aku harap kau tidak menolaknya dan membiarkan cinta itu menyembuhkan luka yang ada di hatimu."


Tiara tersenyum dengan menganggukkan kepalanya pelan, sedangkan Kevin masih menggenggam tangan Tiara dengan erat seolah memberikan semangat pada sahabatnya yang takut untuk membuka hatinya karena trauma masa lalu yang begitu menyakitinya.


Di sisi lain Rafa yang akan meninggalkan kafe segera berbalik kembali masuk ke ruangannya saat melihat Kevin yang tengah menggenggam tangan Tiara di atas meja.


Entah kenapa ada sesuatu yang membuat hatinya tidak nyaman saat melihat hal itu, membuat Rafa memilih untuk menghindar.


**


Hari-hari telah berlalu, dengan bantuan Kevin Tiara sudah mendapatkan tempat tinggal baru yang berada cukup dekat dengan perusahaan X.


Karena masih memiliki waktu beberapa hari lagi Tiara memilih untuk menghabiskan waktunya di kafe.


Sesekali Tiara merasa begitu berat meninggalkan kafe yang sudah seperti rumah baginya.


Tidak hanya sebagai tempat kerja namun kafe itu juga seperti keluarga baru baginya. Semua teman-teman baru yang dikenalnya sudah seperti satu keluarga yang saling peduli dan menyayangi satu sama lain.


Sore itu Tiara menghabiskan waktunya di lantai dua, tempat favoritnya. Dengan satu cup minuman di hadapannya Tiara menatap lalu lalang kendaraan dari lantai 2.


Tiba-tiba seseorang datang dan duduk di hadapan Tiara.


"Kak Rafa, kenapa kakak ada disini?" tanya Tiara yang terkejut dengan kedatangan Rafa.


"Ini hari terakhirmu di kafe bukan?" balas Rafa bertanya.


"Iya," jawab Tiara singkat dengan menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku minta maaf karena tidak bisa mengantarmu pindah ke tempat barumu karena besok pagi aku harus keluar kota," ucap Rafa.


"Tidak apa, ada Kevin yang akan membantu Tiara," balas Tiara.


"Kau beruntung memiliki sahabat seperti Kevin, walaupun kalian tidak sering bertemu seperti dulu tetapi dia tetap memprioritaskanmu, aku tidak tahu apakah kita nanti juga bisa seperti itu," ucap Rafa.


"Jangan jadikan jarak sebagai pemutus hubungan baik kita kak, Tiara tidak mungkin melupakan semua yang ada di sini, kafe dan teman-teman yang ada disini sudah seperti keluarga bagi Tiara, termasuk kak Rafa," ucap Tiara.


"Tapi Tiara tidak tahu jika mungkin kak Rafa yang nantinya akan melupakan Tiara," lanjut Tiara.


"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan karyawanku yang sangat ceroboh sepertimu, aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa menerimamu bekerja disini," ucap Rafa yang membuat Tiara memanyunkan bibirnya kesal.


Rafapun hanya terkekeh melihat sikap Tiara yang tampak kesal karena candaanya.


"Setelah 3 bulan masa percobaanmu di perusahaan X, kau bisa meminta cuti dan saat itulah aku akan menepati janjiku padamu," ucap Rafa


"Apa maksud kak Rafa tentang konser yang ada di luar negeri?" tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


"Waaahh Tiara bahkan hampir lupa karena terlalu fokus pada tes kemarin, rasanya masih mustahil jika Tiara bisa melihat konser di luar negeri," ucap Tiara.


"Kau akan tahu jika itu bukan hal yang mustahil saat waktunya tiba," balas Rafa yang membuat Tiara terdiam membayangkan seperti apa rasanya saat ia bisa menjadi bagian dari keseruan konser boygrup kesukaannya.


Setelah menghabiskan waktu beberapa lama untuk mengobrol, Rafapun mengantar Tiara pulang.


Tanpa Tiara tahu Rafa sebenarnya berbohong tentang alasannya pergi ke luar kota karena sebenarnya ia merasa berat melepaskan Tiara.


Membayangkan Tiara yang sudah tidak terlihat di kafe membuatnya sedih tanpa alasan yang jelas.


Namun Rafa tidak mempunyai alasan untuk bisa menahan Tiara agar tidak pergi, karena bagaimanapun juga Tiara harus meraih mimpinya meskipun itu membuat Rafa harus merelakan Tiara meninggalkan kafe untuk selamanya.


**


Sinar matahari pagi itu menemani Tiara memasukkan barang-barang miliknya ke dalam bagasi mobil Kevin.


Dengan bantuan Kevin Tiara sudah memindahkan semua barang-barang miliknya ke tempat tinggalnya yang baru.


Pelukan hangat dan air mata kesedihan mewarnai perpisahannya dengan Chika dan teman-temannya yang lain. Meskipun begitu Chika dan teman-teman Tiara yang lain memberikan semangat dan dukungannya pada Tiara, karena bagaimanapun juga Tiara sedang bahagia saat itu karena Tiara sudah berhasil meraih mimpinya.


Masih tersisa waktu satu hari bagi Tiara untuk merapikan satu petak kamar yang akan menjadi tempat tinggalnya selama dia bekerja di perusahaan X.


Tiara memang memilih tempat kost yang tidak terlalu mahal karena ia harus bisa berhemat sampai dia mendapatkan gaji pertamanya di perusahaan X.


Ia sudah berencana untuk pindah ke tempat tinggal yang lebih baik saat dia sudah bisa menabung dari gaji yang didapatkannya dari perusahaan X.


Hari itu dengan ditemani Kevin, Tiara merapikan beberapa barang-barang miliknya sembari mengobrol, membicarakan banyak hal.


"Kenapa aku tidak melihat Pak Rafa saat kau berpamitan pada teman-temanmu tadi?" tanya Kevin pada Tiara.


"Kak Rafa sedang keluar kota, jadi aku hanya bisa berpamitan melalui pesan," jawab Tiara.


"Apa kau yakin pak Rafa benar-benar pergi ke luar kota?" tanya Kevin.


"Tentu saja yakin, kak Rafa sendiri yang mengatakannya padaku, kenapa kau bertanya seperti itu? apa kau pikir Pak Rafa membohongiku?" balas Tiara.


"Aku tidak bilang begitu, hanya saja aku sedang memikirkan hal lain," ucap Kevin.


"Memikirkan apa?" tanya Tiara.


"Bisa jadi Pak Rafa sengaja menghindar agar tidak melihatmu pergi dari kafe," jawab Kevin.


"Menghindar? tidak mungkin, pikiranmu itu terlalu jauh Kevin, berhentilah berpikir yang tidak tidak tentang hubunganku dengan kak Rafa," ucap Tiara.


"Setelah ini aku akan menjalani kehidupan baruku disini, walaupun tidak sepenuhnya aku melupakan semua yang ada di kafe tapi yang pasti aku akan sangat jarang bertemu kak Rafa dan hal itu pasti akan membuat jarak antara aku dan kak Rafa," lanjut Tiara.


"Kenapa harus ada jarak? kau dan aku bahkan sangat jarang bertemu tapi aku merasa tidak ada jarak diantara kita, kau masih tetap Tiara yang aku kenal seperti dulu!"


"Kita berbeda Kevin, kau dan aku adalah sahabat, sedangkan aku dan kak Rafa adalah mahasiswi dan dosen atau karyawan dan atasan," ucap Tiara dengan tersenyum tipis.


Entah kenapa ia merasa hatinya seolah menolak apa yang baru saja dia ucapkan.

__ADS_1


__ADS_2