Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kebekuan yang Mencair


__ADS_3

Tiara masih berada di rumah sakit, ia masih berada di depan ruangan Rafa bersama Maya. Tiara hanya terdiam saat Maya mengatakan bagaimana Rafa sangat mencintainya.


"Yakinlah pada hatimu Tiara, jika kau bisa mendengar suara hatimu kau pasti tahu jalan apa yang seharusnya kau pilih, aku yakin kau tidak akan menyesalinya meskipun saat ini mungkin kau masih ragu dengan keputusan yang akan kau ambil," ucap Maya.


"Lalu bagaimana dengan kak Maya sekarang? apa kak Maya sudah mengikuti suara hati kak Maya?" tanya Tiara.


"Tentu saja, aku memang sempat jatuh cinta pada Rafa tetapi semakin lama aku sadar jika ternyata aku tidak benar-benar mencintainya dan hanya menginginkannya untuk menjadi milikku," jawab Maya.


"Dan sekarang aku sadar siapa laki-laki yang pantas untukku, jadi aku memutuskan untuk pergi dari sini, untuk menjalani kehidupan baruku bersama Bagas di Singapura," lanjut Maya.


"Semoga itu adalah keputusan yang terbaik untuk kak Maya," ucap Tiara.


"Aku yakin dengan keputusanku Tiara, kalau begitu aku pergi dulu, aku harap kau tidak akan ragu untuk membuka hatimu karena aku yakin hatimu juga menginginkan hal yang sama seperti yang Rafa inginkan," ucap Maya dengan tersenyum lalu membawa langkahnya pergi meninggalkan Tiara.


Untuk beberapa saat Tiara hanya terdiam di tempatnya berdiri, semua ucapan Putra dan Maya kini terekam jelas dalam kepalanya.


"Apa yang sebenarnya hati kecilku inginkan? kembali dengan kak Rafa atau benar-benar menjauh dan melupakannya," batin Tiara bertanya dalam hati.


Tiara kemudian membawa pandangannya menatap Rafa dari luar ruangan Rafa.


"Bertahun-tahun aku pergi dan berusaha melupakan kak Rafa, tetapi pada kenyataannya aku belum bisa benar-benar melupakannya, aku hanya berusaha menjauh dan berbohong pada diriku sendiri jika aku sudah berhasil melupakannya," ucap Tiara dalam hati.


Tiara kemudian membuka pintu ruangan Rafa dan berjalan ke arah Rafa.


"Apa yang Maya katakan padamu Tiara? apa dia mengatakan sesuatu yang buruk padamu?" tanya Rafa khawatir jika Maya akan mengatakan sesuatu yang buruk pada Tiara.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun. Ia tidak mungkin memberitahu Rafa tentang apa yang Maya katakan padanya.


"Kau tersenyum? kau tersenyum padaku? apa ini mimpi?" ucap Rafa bertanya-tanya saat ia melihat Tiara tersenyum padanya.


Seketika raut wajah Tiara berubah kembali menjadi dingin, ia tidak ingin terang-terangan menunjukkan perasaannya pada Rafa.


"Hmmm..... aku penasaran apa yang Maya katakan padamu, apa seharusnya aku menghubunginya saja!" ucap Rafa lalu mengambil ponselnya.


"Pak Rafa hanya penasaran atau memang ingin menghubungi kak Maya?" tanya Tiara.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? apa kau sedang cemburu?" balas Rafa bertanya yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya.


"Hahaha.... aku hanya bercanda," ucap Rafa lalu mengambil ponselnya untuk membalas pesan Putra yang beberapa saat lalu mengirim pesan padanya.


"Bagaimana hubunganmu dengan Putra? sepertinya kalian masih sering berkomunikasi," tanya Rafa.


"Tidak sering, hanya sesekali saja," jawab Tiara.


"Putra adalah sahabat dekatku, aku sangat mengenalnya dan sejauh yang aku tahu dia laki-laki yang sangat baik, tapi kenapa kau menolaknya?" ucap Rafa sekaligus bertanya pada Tiara.


"Sepertinya itu bukan sesuatu yang patut untuk kita bicarakan, lebih baik Tiara pergi saja dari sini," ucap Tiara yang tidak ingin menjawab pertanyaan Rafa.


Namun sebelum Tiara pergi, Rafa sudah menahan tangan Tiara meminta Tiara untuk tidak meninggalkannya.


"Kau tidak perlu menjawabnya jika kau tidak ingin menjawabnya, tapi jangan pergi, aku membutuhkanmu," ucap Rafa.


Tiarapun hanya terdiam, entah kenapa ia membiarkan Rafa tetap menahan tangannya bahkan saat tangan Rafa sedikit demi sedikit turun dan mulai menggenggam tangannya, Tiara hanya terdiam tanpa ada penolakan.


**


Waktu berlalu, haripun berganti. Tiara tetap menjalani kesibukannya seperti biasa di kantor. Namun ada hal lain yang ia lakukan saat ia pulang dari kantor.


Jika biasanya Tiara selalu pulang ke rumahnya setelah jam kerjanya selesai, kini Tiara membawa dirinya pergi ke rumah sakit saat jam kerjanya sudah selesai.


Bukan karena ia mengkhawatirkan Rafa, tapi karena mama Rafa yang memintanya untuk menemani Rafa.


Meskipun pada awalnya ia hanya terpaksa mengiyakan permintaan mama Rafa, namun pada akhirnya Tiara membawa langkahnya pada Rafa dengan penuh senyum di bibirnya.


Entah kenapa ada sebuah kebahagiaan terselip dalam hatinya saat ia membawa langkahnya menyusuri lorong tempat Rafa di rawat.


Dengan buah buahan yang sudah Tiara beli sebelumnya, Tiara kini sudah ada di depan ruangan Rafa.

__ADS_1


Tiara menarik nafasnya dalam dalam sebelum akhirnya ia membuka pintu ruangan Rafa. Namun Tiara begitu terkejut karena tidak mendapati Rafa di atas ranjangnya.


"Kak Rafa!"


Tiara kemudian berjalan ke arah toilet yang ada di ruangan Rafa, berniat untuk mengetuknya namun sebelum Tiara mengetuk, pintu toilet tiba tiba terbuka.


"Tiara, kau membuatku terkejut!" ucap Rafa yang begitu terkejut melihat Tiara berdiri di hadapannya.


"Justru kak Rafa yang membuat Tiara terkejut karena tidak ada di ranjang," balas Tiara


"Kau terkejut atau khawatir?" tanya Rafa dengan senyuman iblisnya.


Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu meraih tangan Rafa, membantu Rafa berjalan kembali ke ranjangnya, membuat Rafa begitu terkejut dengan sikap Tiara.


"Tante Rossa yang meminta Tiara untuk datang kesini jadi jangan berpikir jika Tiara berpikir karena Tiara mengkhawatirkan kak Rafa," ucap Tiara lalu mengambil sebuah apel yang tadi dibawanya.


"Kak Rafa? kau memanggilku kak Rafa? coba ulangi lagi, menyenangkan sekali rasanya mendengar kau memanggilku seperti itu!"


"Maaf pak, Tiara salah bicara," ucap Tiara sambil mengupas apel.


"Hmmm... kau menyebalkan sekali," gerutu Rafa.


"Apa kau baru pulang dari kantor?" lanjut Rafa bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Jika kau lelah sebaiknya kau mengabaikan saja permintaan mama, kau harus cukup beristirahat Tiara!" ucap Rafa.


"Apa menurut pak Rafa Tiara berani menolak permintaan istri pemilik perusahaan tempat Tiara bekerja?" tanya Tiara sambil memberikan sepotong apel di tangan Rafa.


"Mama bukan atasanmu Tiara, kau tidak berkewajiban untuk menuruti permintaan mama," ucap Rafa.


"Apa kedatangan Tiara disini menggangu pak Rafa? jika iya, maka Tiara akan pulang sekarang juga!" ucap Tiara sambil beranjak dari duduknya.


"Bukan seperti itu maksudku, duduklah!" balas Rafa sambil menahan tangan Tiara agar Tiara kembali duduk di sampingnya.


"Jika pak Rafa mengomel lagi Tiara akan pergi sekarang juga," ucap Tiara yang kembali memberikan sepotong apel di tangan Rafa.


"Bagus," ucap Tiara.


"Tapi sepertinya tanganku sangat sakit, aku tidak bisa memakan apel itu dengan tanganku sendiri," ucap Rafa mengeluh seperti anak kecil.


"Kalau begitu Tiara akan memakannya sendiri, Pak Rafa istirahat saja," balas Tiara lalu memasukkan potongan apel ke dalam mulutnya.


"Hmmm ..... menyebalkan sekali," gerutu Rafa yang membuat Tiara terkekeh.


Rafapun tersenyum senang karena bisa melihat Tiara tertawa di hadapannya. Kebekuan hati Tiara yang membuat sikapnya dingin pada Rafa kini seolah sudah mencair.


Tiara yang menyadari jika dirinya baru saja tertawa segera mengalihkan pandangannya dari Rafa, ia merasa malu karena selama ini dia selalu bersikap dingin pada Rafa dan tiba-tiba saja dengan mudahnya dia tertawa di hadapan Rafa.


"Aku ingin menceritakan padamu rahasia yang Putra sembunyikan darimu, kau pasti akan sangat terkejut saat mendengarnya," ucap Rafa berusaha untuk kembali menarik perhatian Tiara.


"Memangnya rahasia apa yang kak Putra sembunyikan dari Tiara?" tanya Tiara penasaran.


"Asal kau tahu sejak dulu Putra memang selalu dekat dengan banyak perempuan, bahkan dalam satu bulan dia bisa mengenalkanku pada lebih dari dua perempuan yang berbeda," jawab Rafa jelaskan.


"Mengenalkan pada Pak Rafa agar dekat dengan Pak Rafa?" tanya Tiara.


"Tentu saja tidak, mereka adalah pacar-pacar Putra, dalam satu bulan dia bisa berganti pacar lebih dari dua kali, bisa kau bayangkan bukan berapa banyak perempuan yang sudah pernah dipacarinya sampai saat ini!" jelas Rafa.


"Benarkah? sepertinya kak Putra bukan orang yang seperti itu!" tanya Tiara tak percaya.


"Tapi kau tahu bukan jika dia mudah sekali dekat dengan perempuan?"


"Sejauh yang Tiara tahu kak Putra hanya dekat sebagai teman karena memang kak Putra mudah akrab dengan orang-orang di sekitarnya, Pak Rafa pasti hanya mengarang cerita untuk menjelekkan kak Putra di depan Tiara, benar begitu bukan?"


"Jangan terlalu berpikiran buruk tentangku Tiara, aku menceritakan yang sebenarnya, aku juga tidak bermaksud untuk menjelekkan Putra, aku hanya ingin kau tahu bagaimana Putra saat masih sekolah," balas Rafa.


"Tapi sepertinya sekarang kak Putra sudah tidak seperti itu, dia memang suka menggoda perempuan dan kadang menjahilinya tetapi Tiara yakin kak Putra tidak pernah berniat untuk mempermainkan para perempuan yang dekat dengannya," ucap Tiara.

__ADS_1


"Kau baru mengenalnya Tiara, jadi hanya ada hal baik yang dia perlihatkan padamu!" jelas Rafa.


"Tiara memang lebih dulu mengenal pak Rafa daripada kak Putra, tapi sejauh yang Tiara tau kak Putra tidak pernah menyembunyikan apapun dari Tiara, bahkan tanpa ragu dia menceritakan tentang kehidupan pribadinya pada Tiara," ucap Tiara yang membuat Rafa terdiam.


Rafa merasa ucapan Tiara seperti tertuju padanya yang pernah menyembunyikan hal besar tentangnya dari Tiara.


"Bukankah setiap orang punya masa lalunya masing masing? menurut Tiara tidak adil rasanya jika hanya menilai seseorang berdasarkan masa lalunya saja," ucap Tiara.


"Kau benar, seperti aku yang sudah menyesali masa lalu buruknya yang menyembunyikan kehidupanku darimu," balas Rafa.


"Maaf pak, Tiara tidak sedang membicarakan hal itu," ucap Tiara.


"Seperti yang kau katakan Tiara, tidak adil jika kita menilai seseorang hanya berdasarkan dari masa lalunya saja, jadi sekarang bisakah kau menilaiku dari apa yang kau lihat sekarang?" tanya Rafa yang membuat Tiara terdiam.


"Aku minta maaf atas semua yang hal yang membuatmu terluka karenaku Tiara, aku benar benar menyesalinya, aku...."


"Maaf pak, Tiara harus pergi sekarang," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


Namun saat Tiara baru saja beranjak dari duduknya tiba tiba pintu ruangan Rafa terbuka, terlihat mama Rafa yang berjalan masuk dengan penuh senyum.


"Tiara, Tante senang sekali melihatmu disini!" ucap mama Rafa pada Tiara.


Tiara hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun, Tiara kemudian kembali duduk setelah mama Rafa meminta Tiara untuk duduk.


"Duduklah Tiara, Tante kesini hanya untuk mengantarkan berkas yang Rafa butuhkan, setelah ini Tante harus segera pergi," ucap mama Rafa pada Tiara lalu memberikan beberapa map pada Rafa.


"Jaga dirimu baik baik sayang, jangan terlalu lelah bekerja, mama pergi dulu!" ucap mama Rafa pada Rafa.


"Terima kasih ma," ucap Rafa yang hanya dibalas senyum oleh sang mama yang kemudian berjalan keluar dari ruangan Rafa.


"Apa yang akan pak Rafa lakukan dengan berkas berkas itu?" tanya Tiara pada Rafa.


"Memeriksanya," jawab Rafa yang membuka salah satu map di pangkuannya.


Namun tiba tiba saja Tiara merebut map itu dari tangan Rafa dan mengambil map lain yang masih ada di pangkuan Rafa.


"Apa yang kau lakukan Tiara?" tanya Rafa pada Tiara yang menumpuk map map itu di atas sofa yang cukup jauh dari ranjang Rafa.


"Maaf jika Tiara harus bersikap tidak sopan seperti ini, tapi pak Rafa belum benar benar sembuh, dokter pasti juga akan melarang pak Rafa membaca berkas berkas itu sebelum pak Rafa sembuh!" jelas Tiara dengan tegas.


"Tapi aku perlu memeriksanya sebelum menandatanganinya Tiara, itu berkas kerja sama dengan klien penting yang....."


"Kesehatan pak Rafa lebih penting dari apapun, jadi Tiara harap pak Rafa tidak bersikap kekanak-kanakan seperti ini!" ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Kau mengkhawatirkanku?" tanya Rafa dengan senyum di kedua sudut bibirnya.


"Tidak..... Tiara.... Tiara hanya tidak ingin pekerjaan Tiara menumpuk karena pak Rafa sakit," balas Tiara beralasan dengan mengalihkan pandangannya dari Rafa.


"Bagaimana mungkin pekerjaanmu menumpuk karena aku sakit Tiara? itu tidak masuk akal!" ucap Rafa yang merasa senang karena melihat Tiara tampak mengkhawatirkannya.


"Intinya pak Rafa tidak boleh bekerja sebelum pak Rafa benar benar sehat, titik!" balas Tiara.


"Kalau begitu aku akan memeriksa berkas itu setelah kau pulang saja, jam berapa kau akan pulang?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


"Tiara tidak akan pulang," jawab Tiara tanpa ragu.


"Tidak pulang? apa maksudmu kau akan menemaniku disini sepanjang malam?" tanya Rafa penuh harap.


"Bukan menemani pak Rafa, hanya berjaga jaga saja agar pak Rafa tidak menggunakan kesempatan untuk memeriksa berkas berkas itu!" balas Tiara beralasan.


Rafapun hanya mengangguk anggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Ia merasa begitu senang karena Tiara akan bersamanya sepanjang malam.


Waktupun berlalu, Tiara yang tadinya duduk di sofa kini mulai tertidur dan dalam hitungan menit saja dia sudah tampak nyenyak.


Pada awalnya dia memilih untuk duduk di kursi agar dia bisa menjaga berkas yang akan dibaca oleh Rafa, ia melakukan hal itu agar Rafa tidak memaksa untuk membacanya namun ternyata ia malah tertidur disana.


Rafa yang melihat hal itu segera membawa langkahnya menghampiri Tiara lalu menutup tubuh Tiara dengan selimut miliknya.

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberiku kesempatan Tiara, aku tau ini tidak mudah untukmu, aku janji aku tidak akan mengecewakanmu lagi," ucap Rafa sambil membelai pelan rambut Tiara .


__ADS_2