
Hari demi hari telah berlalu, opening kafe kedua Rafa sudah selesai dilakukan. Namun masih ada banyak hal yang mengharuskan Rafa untuk tetap berada disana.
Setiap hari entah berapa kali Rafa selalu menghubungi Tiara untuk memastikan Tiara baik-baik saja.
Malam itu Rafa mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya setelah ia menghabiskan waktunya di kafe pertama dan kafe keduanya.
Baru saja Rafa menginjakkan kaki di rumahnya, ia melihat Maya yang duduk di ruang tamu menunggu kedatangannya.
Namun Rafa memilih untuk mengabaikan Maya dan membawa langkahnya masuk ke dalam kamarnya.
"Sampai kapan kau akan terus seperti ini?" tanya Maya yang segera beranjak dari duduknya untuk mengikuti langkah Rafa.
"Jangan mengajakku berdebat, aku benar-benar sangat lelah sekarang," balas Rafa sambil membuka pintu kamarnya.
"Jika kau terus seperti ini maka jangan salahkan orang tuaku jika mereka mulai mencurigai hubungan kita," ucap Maya yang membuat Rafa membawa pandangannya pada Maya.
"Kenapa kau selalu melibatkan orang tuamu? apa kau sudah lupa kesepakatan yang kita buat dulu?" tanya Rafa.
"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk melibatkan mama dan papa, tapi sikapmu yang sama sekali tidak peduli padaku membuat mama dan papa memikirkan tentang hubungan kita," jawab Maya.
"Lalu apa yang kau mau sekarang?" tanya Rafa.
"Tidak bisakah kita bersikap lebih manis di depan orang tuaku dan orang tuamu, agar mereka tidak mencurigai tentang hubungan kita yang sebenarnya," balas Maya.
"Akan aku pikirkan," ucap Rafa lalu masuk ke dalam kamarnya, namun saat ia akan menutup pintunya Maya menahannya.
"Apalagi?" tanya Rafa kesal.
"Kau tidak akan menceraikanku bukan?" tanya Maya memastikan.
"Entahlah, jika kau menginginkan perceraian itu kau saja yang menggugatku, aku akan menerima dengan senang hati," jawab Rafa lalu menutup pintu kamarnya.
Rafa menjatuhkan badannya di atas ranjang, memejamkan matanya mengingat ucapan sang Mama padanya.
"jadi Mama mohon pertahankan rumah tanggamu dengan Maya, hanya itu yang Mama minta darimu!"
Rafa menghela nafasnya panjang lalu beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya di bawah shower.
Setelah selesai mandi Rafa mengambil ponselnya yang tergeletak di meja, ia lalu mencari nama Tiara kemudian menghubunginya.
Tak butuh waktu lama Tiarapun menerima panggilannya.
"Halo Ra, apa kau belum tidur?" tanya Rafa.
"Belum kak, kenapa kakak juga belum tidur?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Banyak hal yang sedang aku pikirkan, aku takut akan mengecewakanmu jika aku tidak segera kembali ke villa dengan cepat," ucap Rafa.
"Jangan terlalu memikirkan Tiara kak, selesaikan saja pekerjaan kakak dengan baik, Tiara baik-baik saja disini bersama bibi," ucap Tiara.
"Sepertinya kau semakin akrab dengan bibi, apa benar begitu?"
"Iya kak, disini Tiara hanya bersama bibi jadi Tiara banyak mengobrol dengan bibi, Tiara juga sering membantu bibi berkebun disini," jawab Tiara
"Baguslah kalau begitu, aku janji akan segera menemuimu setelah semua urusanku disini selesai," ucap Rafa.
"Kak Rafa tidak perlu terlalu terburu-buru, Tiara akan menunggu kapanpun kak Rafa datang," balas Tiara.
"Ya sudah sekarang tidurlah, ini sudah sangat malam," ucap Rafa.
Setelah panggilan berakhir, Rafa mengambil laptopnya lalu mengerjakan beberapa pekerjaan yang harus segera ia selesaikan.
Ia ingin semua pekerjaannya selesai dengan cepat agar ia bisa segera kembali menemui Tiara di villa.
**
Tepat lima hari setelah kepergian Rafa dari villa, pagi itu Tiara sedang berada di kebun bersama bibi. Tiara sedang memanen beberapa buah apel yang ada di bagian belakang villa Rafa.
__ADS_1
Setelah memasukkan beberapa buah apel ke dalam keranjang, Tiarapun membawanya ke villa, mencucinya lalu mengupasnya dan menikmatinya bersama bibi.
Tiba-tiba Tiara mendengar suara mobil yang berhenti di depan villa, Tiarapun segera beranjak dari duduknya dan berlari keluar villa.
Benar saja itu adalah suara mobil Rafa yang datang tanpa memberi kabar pada Tiara. Melihat Rafa yang keluar dari mobil dan berjalan ke arahnya Tiarapun hanya bisa berdiri di tempatnya dengan senyum mengembang di bibirnya.
Ingin sekali ia memeluk laki-laki tampan yang tengah berjalan ke arahnya, namun ia berusaha untuk menahan diri mengingat posisinya saat itu.
"Kenapa kak Rafa tidak mengabari Tiara jika pulang hari ini?" tanya Tiara saat Rafa mengacak-acak pelan rambutnya.
"Surprise," jawab Rafa singkat sambil memberikan sebuah paper bag pada Tiara yang berisi beberapa pasang pakaian.
Hari demi hari Tiara lewati bersama Rafa di villa. Rafa mengajak Tiara untuk berkeliling di sekitar villa, mulai dari ke bukit yang ada di dekat villa, ke perkebunan teh, perkebunan apel dan strawberry dan juga ke pasar yang menjual berbagai macam sayuran segar.
Rafa berusaha membantu Tiara untuk berinteraksi dengan banyak orang. Semakin lama Tiarapun semakin menunjukkan perubahannya.
Mimpi buruk yang beberapa kali menghantuinya kini sudah tidak pernah lagi mengganggunya. Ia juga sudah tidak merasakan ketakutan apapun saat berada di tengah kerumunan banyak orang.
Pada akhirnya Tiara merasa jika dirinya sudah bisa menghapus rasa traumanya. Untuk memastikan hal itu Rafapun meminta dokter Brian untuk datang dan memeriksa keadaan Tiara.
Dokter Brianpun menjelaskan jika Tiara sudah berhasil mengatasi traumanya, kini ia bisa kembali menjalani kehidupannya seperti sebelumnya.
Meskipun begitu, Rafa tidak ingin Tiara kembali bertemu dengan orang-orang yang ada di rumah Tiara. Rafa ingin memastikan jika orang-orang itu tidak akan menampakan batang hidungnya lagi di hadapan Tiara apalagi menyakiti Tiara.
Sejak Tiara berada di villa bersama Rafa, Tiara menonaktifkan ponselnya karena ia tidak ingin siapapun menghubunginya.
Tiara merasa perlu menenangkan dirinya dengan mengisolasi dirinya sendiri dari orang-orang yang mengenalnya.
Dengan begitu Tiara bisa menikmati hari-harinya dengan tenang di villa bersama dengan orang-orang yang baru dikenalnya.
"Aku akan mengantarmu pulang ke tempat tinggalmu yang sebelumnya, kau harus segera mengemasi barang-barangmu karena aku akan membawamu pindah ke kafe cabang," ucap Rafa pada Tiara.
"Ke kafe cabang? kenapa? apa kak Rafa takut jika kak Bima menemui Tiara lagi?" tanya Tiara.
"Aku hanya berusaha menjauhkanmu dari orang-orang jahat itu Tiara, apa kau keberatan?" jawab Rafa sekaligus bertanya.
"Jangan khawatir, Chika akan ikut pindah denganmu, kalian akan tinggal di satu rumah lagi dan bekerja di kafe kedua bersama," ucap Rafa.
"Benarkah? kak Rafa serius?" tanya Tiara tak percaya
"Tentu saja, Chika sendiri yang menawarkan dirinya untuk dipindahkan ke kafe kedua saat dia tahu bahwa aku memindahkanmu kesana," jawab Rafa meyakinkan Tiara.
"Waaahh terima kasih kak, kak Rafa memang selalu tahu apa yang Tiara inginkan," ucap Tiara penuh senyum.
Hari yang ditunggu telah tiba, hari dimana Rafa dan Tiara meninggalkan villa untuk memulai kembali kehidupan mereka seperti sebelumnya.
"Sebelumnya Tiara minta maaf sudah melibatkan kak Rafa dalam masalah keluarga Tiara dan Tiara sangat berterima kasih atas semua bantuan kak Rafa selama ini," ucap Tiara pada Rafa.
"Berhentilah minta maaf dan berterima kasih Tiara, kau membuatku tidak nyaman," balas Rafa.
"Apa yang sudah kak Rafa lakukan sangat berarti untuk Tiara, Tiara bahkan tidak tahu harus seperti apa membalasnya, jadi Tiara benar-benar sangat berterima kasih pada kak Rafa," ucap Tiara.
Rafa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Saat ia akan menyentuh kepala Tiara, tiba-tiba Tiara menghindar dengan tersenyum tipis dan tampak canggung.
"Tiara juga minta maaf jika sikap Tiara saat berada disini membuat kak Rafa tidak nyaman, mungkin Tiara terlihat sangat manja dan kekanak-kanakan hanya karena trauma yang Tiara alami, tapi Tiara tidak akan seperti itu lagi kak, Tiara akan menjadi seseorang yang lebih kuat dari sebelumnya," ucap Tiara.
"Tapi....."
"Terima kasih sudah membiarkan Tiara merasakan kasih sayang seorang kakak, sekarang mari kembali seperti sebelumnya dimana Tiara hanyalah karyawan di kafe milik kakak," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.
"Apa kau....."
"Tiara tidak akan melupakan semua kebaikan kak Rafa, hanya saja kita harus kembali pada keadaan yang sebenarnya bukan? Tiara yang dulu adalah mahasiswi Pak Rafa dan sekarang Tiara adalah karyawan Pak Rafa di kafe, Tiara harus bisa menjalani hari-hari Tiara tanpa seorang kakak yang dulu pernah Tiara miliki, Tiara yakin Tiara akan bisa menjalani kehidupan Tiara dengan jauh lebih baik setelah ini," ucap Tiara yang tidak memberi kesempatan Rafa untuk berbicara.
"kenapa kau berbicara seperti itu Tiara? apa hari-hari yang sudah kita lewati disini tidak berarti apapun untukmu?" tanya Rafa dalam hati.
Entah kenapa dalam hatinya terbisit rasa kekecewaan mendengar apa yang Tiara ucapkan.
__ADS_1
Setelah bersiap Tiara dan Rafapun berpamitan pada bibi sebelum mereka meninggalkan villa. Rafa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan area pegunungan tempat dimana ia menghabiskan lebih dari satu bulan bersama Tiara disana.
Sepanjang perjalanan Rafa dan Tiara lebih banyak terdiam. Rafa masih memikirkan ucapan Tiara padanya sebelum mereka meninggalkan villa.
"Tiara bahagia bisa menghabiskan waktu bersama kak Rafa, hanya saja Tiara harus tegas dalam memberi batasan tentang hubungan kita agar tidak terjadi kesalahpahaman," ucap Tiara dalam hati.
Setelah beberapa jam dalam perjalanan Rafapun menghentikan mobilnya di depan rumah tempat tinggal Tiara.
"Aku akan kembali kesini nanti malam untuk mengantarmu dan Chika ke tempat baru kalian," ucap Rafa pada Tiara.
"Terima kasih kak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan pelan oleh Rafa.
Tiara kemudian keluar dari mobil Rafa lalu membawa langkahnya masuk ke dalam rumah setelah mobil Rafa meninggalkan halaman rumah itu.
Saat Tiara baru saja memasuki rumah, Chika segera berlari ke arah Tiara dan memeluknya dengan erat.
"Akhirnya kau kembali Tiara, aku sudah sangat merindukanmu," ucap Chika pada Tiara.
"Apa kak Rafa mengatakan sesuatu padamu dan yang lainnya?" tanya Tiara pada Chika.
"Pak Rafa hanya memberitahuku jika kau sedang menyelesaikan masalah keluargamu, itu kenapa kau tidak mengaktifkan ponselmu dan akan kembali kesini setelah kau menyelesaikan masalah keluargamu," jawab Chika menjelaskan.
Tiara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar penjelasan Chika.
"Setelah kau pergi dengan laki-laki yang memaksamu masuk ke dalam mobilnya, laki-laki itu sudah tidak pernah mencarimu lagi jadi kau tidak perlu khawatir karena sepertinya dia tidak akan datang lagi," ucap Chika
"Apa kau yang memberitahu kak Rafa waktu itu?" tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Chika.
"Terima kasih Chika, bantuanmu sangat berarti untukku," ucap Tiara lalu memeluk Chika.
Tanpa Tiara tahu saat Rafa kembali ke kota untuk mempersiapkan opening kafenya, ia juga menemui Bima dan semua orang yang ada di rumah Tiara saat kejadian buruk itu menimpa Tiara.
Rafa memperingatkan mereka semua untuk tidak menemui Tiara apalagi mengganggu Tiara. Rafa mengancam akan melaporkan pada polisi tentang kejadian di rumah itu karena Rafa memiliki bukti surat pernyataan dan rekaman video pada saat kejadian itu.
Alhasil Mama Laras, Gita, Bima dan kedua orang tuanya hanya bisa terdiam tanpa mengatakan apapun.
Setelah Tiara mengobrol bersama Chika, iapun masuk ke kamarnya untuk beristirahat sebelum ia mengemasi barang-barangnya.
Saat ia membuka laci mejanya ia melihat sebuah kartu nama yang mengingatkannya pada seseorang.
"Aaahh iyaa, aku belum menghubungi kak Maya," ucap Tiara yang segera mengambil ponselnya dan mengaktifkannya.
Tak butuh waktu lama, ponselnyapun berdering berkali-kali, menandakan pesan masuk dan banyak panggilan tak terjawab.
Namun dari semua pesan dan panggilan itu tak ada satupun yang berasal dari orang-orang yang ada di rumahnya.
Tiara kemudian menghubungi Maya karena ia sudah berjanji untuk memberikan keputusannya pada Maya seminggu setelah pertemuan mereka namun sampai lebih dari satu bulan Tiara belum juga memberikan keputusannya pada Maya.
"Halo kak, ini Tiara," ucap Tiara saat Maya sudah menerima panggilannya
"Kau dari mana saja Tiara? aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tidak ada yang tahu dimana keberadaanmu," tanya Maya yang sedikit kesal karena Tiara yang seolah tiba-tiba menghilang.
"Maaf kak, ada sesuatu yang harus Tiara selesaikan, apa kita bisa bertemu sekarang?"
"Aku akan menemuimu di tempat biasanya saat jam makan siang, apa kau bisa?" ucap Maya sekaligus bertanya
"Bisa, Tiara akan segera kesana saat jam makan siang," balas Tiara.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang saat Tiara berjalan ke arah kafe. Ia sudah tidak peduli lagi jika Bima menemuinya saat itu, ia tidak akan lengah dan lemah di hadapan Bima ataupun orang-orang yang berniat jahat padanya.
Ia akan membuktikan pada mereka semua bahwa dirinya bukanlah perempuan lemah yang bisa mereka injak dengan mudah.
Setelah beberapa lama menunggu di kafe, Maya pun datang dan duduk di hadapan Tiara.
"Kau membuatku sedikit kesal karena tiba-tiba menghilang begitu saja, apa kau lupa jika kau berjanji padaku untuk memberikan jawabanmu satu minggu setelah pertemuan terakhir kita?" ucap Maya yang berusaha menahan kekesalannya.
"Tiara minta maaf, sekarang Tiara akan memberikan keputusan Tiara tentang warisan yang papa tinggalkan untuk Tiara," ucap Tiara pada Maya.
__ADS_1