Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Meminta Tolong


__ADS_3

Hawa dingin masih jelas terasa memeluk setelah hujan yang cukup deras telah reda. Tiara yang sangat kecewa pada dirinya sendiri tidak mampu menahan air matanya dalam pelukan Rafa.


Rafapun hanya membiarkan Tiara menuntaskan semua kesedihannya dalam pelukannya.


Ia tidak tahu pasti apa yang tengah terjadi pada Tiara, namun ia yakin jika sesuatu yang buruk baru saja terjadi pada gadis dalam dekapannya itu.


"Tiara gagal kak, Tiara gagal......." ucap Tiara dengan terisak.


Meskipun tidak menanyakannya lebih lanjut, tetapi Rafa bisa mengerti maksud dari ucapan Tiara. Sebenarnya ia cukup terkejut mendengar kegagalan Tiara, karena ia tahu bagaimana kemampuan Tiara yang baginya tidak mungkin untuk gagal.


Ia bahkan tahu jika Tiara menempati peringkat paling atas pada tes keduanya dan hal itu sangat tidak mungkin terjadi jika Tiara tidak memiliki kemampuan yang sesuai dengan kriteria perusahaan X.


"Kau tidak gagal Tiara, anggap saja Tuhan sedang memberikan kesempatan bagimu untuk mencari pengalaman yang lebih banyak sebelum kau diterima di perusahaan itu dengan posisi yang jauh lebih baik dari yang kau inginkan saat ini," ucap Rafa berusaha menenangkan Tiara.


Tiara hanya terdiam dengan isak tangis yang masih terdengar di telinga Rafa. Meski sebenarnya Rafa ingin menanyakan apa yang sebenarnya terjadi yang membuat Tiara gagal lolos pada tes terakhirnya, namun Rafa tidak sampai hati untuk menanyakannya karena ia tidak ingin Tiara semakin terpuruk pada kenyataan pahit yang baru saja diterima Tiara.


Rafa bisa mengerti jika Tiara kecewa pada dirinya sendiri saat itu dan Rafa tidak ingin membuat Tiara semakin kecewa pada dirinya sendiri jika Rafa terus membahas hal itu.


Setelah Tiara lebih tenang Rafapun membawa Tiara ke dalam mobilnya.


"Aku akan mengantarmu pulang, kau harus segera mandi dan berganti pakaian!" ucap Rafa saat ia dan Tiara sudah berada di dalam mobil.


"Tapi Tiara tidak ingin pulang kak," balas Tiara.


"Kau harus pulang Tiara, badanmu sudah sangat basah kuyup, kau akan sakit jika tidak segera berganti pakaian," ucap Rafa.


Tiarapun hanya menundukkan kepalanya, ia tidak punya tenaga lebih untuk berdebat dengan Rafa meskipun ia sebenarnya tidak ingin pulang saat itu.


"Duniamu belum berakhir Tiara, kau harus tetap menjaga kesehatanmu agar kau bisa kembali meraih mimpimu, aku yakin kau pasti bisa!" ucap Rafa sambil menepuk pelan kepala Tiara.


"Tiara bahkan gagal sebelum Tiara menyelesaikan semuanya," ucap Tiara dalam hati


"Aku yakin kau sudah mempersiapkan semua ini, apapun yang akan terjadi kau harus siap menerimanya, seperti itulah Tiara yang aku kenal selama ini, jadi aku harap kau tidak berlarut-larut dalam kekecewaanmu," ucap Rafa.


"Apa kak Rafa tidak kecewa pada Tiara?" tanya Tiara dengan membawa pandangannya pada Rafa dengan sorot mata yang sayu.


"Tidak, aku tidak pernah kecewa padamu dan aku yakin kedua orang tuamu pun tidak akan pernah kecewa padamu, karena aku dan mereka tahu bagaimana perjuanganmu selama ini," jawab Rafa tanpa ragu.


"Kau tahu akan ada pelangi setelah hujan bukan?" lanjut Rafa bertanya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Kau juga harus yakin bahwa dalam alur hidupmu akan selalu ada keindahan pelangi setelah kesedihanmu," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap, senyum yang Rafa berikan seolah menyalurkan semangat pada Tiara yang sudah tampak layu sejak beberapa waktu yang lalu.


"Jangan terlalu larut dalam kekecewaanmu Tiara, kau sudah melakukan semua yang terbaik, jadi jangan menyalahkan dirimu sendiri atas apa yang sudah terjadi," ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya untuk mengantarkan Tiara pulang.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai.


"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Rafa.


Tiara kemudian turun dari mobil Rafa dan berjalan masuk ke dalam rumah setelah mobil Rafa menghilang dari pandangannya.


Tiara segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar dan menghabiskan waktunya di dalam kamar mandi untuk mengguyur seluruh tubuhnya dengan tetesan air shower.


**


Di sisi lain Rafa segera menemui temannya yang bekerja di perusahaan X. Rafa ingin mencari tahu tentang apa yang terjadi pada Tiara yang membuat Tiara tidak lolos pada tes terakhirnya, karena sangat tidak mungkin jika pada tes kedua nilai Tiara hampir sempurna namun gagal di tes terakhirnya.


Teman Rafa yang bekerja di perusahaan X menjelaskan tentang apa yang terjadi pada Tiara, karena kebetulan teman Rafa bekerja sebagai HRD di perusahaan itu.


Teman Rafa menjelaskan jika nilai tulis Tiara tidak cukup baik bahkan terkesan asal di dua jawaban terakhirnya, teman Rafa juga menjelaskan jika Tiara pingsan saat baru saja memulai tes interview.

__ADS_1


Berdasarkan hasil pemeriksaan dari dokter yang bekerja di ruang kesehatan menjelaskan bahwa Tiara pingsan karena kelelahan, bukan karena hal lainnya.


Rafa hanya terdiam dengan mengernyitkan keningnya setelah ia mendengar semua penjelasan dari temannya.


"Bukankah tidak adil jika dia dibiarkan tidak lolos begitu saja?" tanya Rafa.


"Aku dan yang lainnya sudah mendapatkan hasil dari keseluruhan tes, kebetulan ada dua orang yang menginginkan masuk ke divisi pemasaran, 2 orang itu adalah Tiara dan seseorang yang lain, karena Tiara tidak lolos jadi seseorang yang lain itulah yang berhasil masuk ke divisi pemasaran jadi tidak ada kesempatan lagi bagi Tiara karena seseorang yang lain itu memiliki nilai yang cukup untuk lolos dan bisa menjadi bagian dari divisi pemasaran," jawab teman Rafa menjelaskan.


"Tapi kau tahu bukan jika nilai Tiara pada tes kedua sangat baik dan hampir sempurna, apa kau tidak memperhitungkan hal itu?" tanya Rafa.


"Ini sudah menjadi keputusan bersama Rafa, aku harap kau bisa mengerti," jawab teman Rafa.


"Tidak bisakah kau membantuku? beri dia satu kali kesempatan dan jika memang dia tidak bisa menyelesaikan tes terakhirnya dengan baik maka aku tidak akan memaksamu lagi seperti ini," ucap Rafa memohon.


"Maaf Rafa kali ini aku tidak bisa membantumu, jika kau memang menginginkan Tiara mendapatkan kesempatan kedua kau harus menjadi bagian dari perusahaan terlebih dahulu," balas teman Rafa.


"Itu tidak mungkin," ucap Rafa dengan menghela nafasnya kasar.


"Aku pikir kau akan melakukan apapun untuk Tiara, sepertinya dia bukan seseorang yang biasa untukmu," ucap teman Rafa.


"Dia salah satu pegawai di kafeku," balas Rafa.


"Sepertinya lebih dari itu," telisik teman Rafa.


"Aku tahu bagaimana usahanya untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan itu dan aku tidak percaya saat tahu bahwa dia tidak lolos, jadi itu sangat menggangguku," ucap Rafa memberi alasan.


"Menurutku tidak ada yang bisa kau lakukan untuk membantunya selain menjadi bagian dari perusahaan," ucap teman Rafa yang hanya dibalas gelengan kepala ringan oleh Rafa.


Setelah ia menemukan jalan buntu karena tidak bisa mendapat bantuan dari temannya, Rafapun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.


Ia masih memikirkan apa yang harus ia lakukan agar ia bisa membantu Tiara untuk mendapatkan kesempatan keduanya, karena ia merasa tidak adil jika Tiara dibiarkan tidak lolos begitu saja.


"Tapi kenapa dia pingsan? tidak mungkin dia minum sesuatu yang mengandung kafein bukan? dia memang ceroboh tapi apa mungkin dia seceroboh itu?" tanya Rafa pada dirinya sendiri.


Mengingat hal itu membuat Rafa sedikit kesal atas kecerobohan Tiara.


"Apa memang dia mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein sebelum dia melakukan tesnya?" tanya Rafa menerka.


Rafa menghela nafasnya kasar dan berusaha untuk mengabaikan apa yang sedang ia pikirkan. Ia memilih untuk mencari cara agar Tiara bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk mengerjakan tes terakhirnya.


"Aku tidak mungkin meminta tolong papa, pasti papa akan menanyakan banyak hal padaku dan sudah pasti papa kan memintaku untuk masuk ke perusahaan agar papa mau membantuku," ucap Rafa yang masih berusaha untuk berpikir lebih jauh.


Rafa berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya, memikirkan apa yang seharusnya ia lakukan karena ia yakin jika Tiara tidak pingsan saat itu Tiara pasti bisa lolos dan menjadi bagian dari perusahaan itu.


"Putra, dua kali aku melihatnya bersama Tiara, apa dia cukup dekat dengan Tiara?" tanya Rafa pada dirinya sendiri saat ia mengingat jika ia beberapa kali melihat Putra bersama Tiara.


"Tidak mungkin aku meminta tolong padanya bukan?" tanya Rafa pada pantulan dirinya sendiri yang ada di cermin.


"Tidak mungkin," ucap Rafa lalu mengambil ponselnya dan mencari nama seseorang yang ia pikir tidak akan pernah ia hubungi lagi, namun dengan terpaksa Rafa mengirimkan pesan pada seseorang itu


"Aku menunggumu di kafe dekat kantor!"


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Tak butuh waktu lama seseorang menghubungi Rafa saat itu juga, namun Rafa memilih untuk mengabaikannya dan tak lama kemudian sebuah pesanpun masuk.


"Apa kau serius?"


Rafa tetap mengabaikan pesan itu dan memilih untuk segera meninggalkan rumahnya, mengendarai mobilnya ke arah kafe yang ada di dekat perusahaan X.


"Aku tidak punya pilihan lain, ini demi Tiara," ucap Rafa berusaha meyakinkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Tak lama setelah Rafa sampai di kafe yang ia tuju, seseorang yang ia tunggu pun tampak berlari kecil ke arahnya dengan senyum merekah di wajahnya yang membuat Rafa semakin muak melihatnya.


"Maaf aku sedikit terlambat," ucapnya lalu duduk di hadapan Rafa.


"Aku tidak akan berbasa-basi, apa kau mengenal Tiara?" ucap Rafa sekaligus bertanya.


"Tiara? apa maksudmu Tiara yang bekerja di kafemu?" balas Putra bertanya.


Ya, pada akhirnya Rafa memilih untuk meminta tolong pada Putra daripada meminta tolong pada papanya, meskipun sebenarnya ia sangat tidak ingin menemui Putra apalagi berhubungan dengan Putra.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Putra.


"Iya aku mengenalnya, sejak dia mengikuti seminar di kantor, kenapa kau menanyakannya? apa terjadi sesuatu padanya?"


"Kau pasti tahu apa yang terjadi padanya saat tes terakhirnya bukan?" tanya Rafa memastikan.


"Iya aku tahu, dia pingsan saat dia baru saja memulai interview dan berdasarkan keputusan bersama, Tiara dinyatakan tidak lolos saat itu juga," jawab Putra.


"Apa kau merasa itu adil untuknya?" tanya Rafa yang membuat Putra mengernyitkan keningnya.


"Apa maksudmu?" tanya Putra.


"Kau pasti tahu bahwa Tiara menempati peringkat paling atas di tes keduanya, tidak mungkin dia tidak menyelesaikan tes terakhirnya dengan baik, setidaknya dia harus mendapatkan kesempatan kedua untuk menyelesaikan tes terakhirnya sebelum dia dinyatakan tidak lolos," jawab Rafa menjelaskan.


"Aku juga sempat berpikir seperti itu, tapi sudah ada orang lain yang menempati posisi Tiara di divisi pemasaran, jika pun Tiara lolos dia tidak akan bisa berada di divisi pemasaran sesuai dengan keinginannya," ucap Putra.


"Tidak masalah asalkan dia bisa mendapatkan kesempatan kedua, setelah dia menyelesaikan tes terakhirnya terserah kalian akan memberikan keputusan seperti apa pada Tiara," balas Rafa.


Putra terdiam untuk beberapa saat sambil mengangguk-anggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.


"Apa kau sedang meminta tolong padaku sekarang?" tanya Putra yang membuat Rafa kesal.


"Lupakan saja," ucap Rafa yang segera beranjak dari duduknya namun ditahan oleh Putra.


"Duduklah, jangan cepat emosi, aku pasti akan membantumu sebisaku!" ucap Putra berusaha menahan Rafa.


Rafapun kembali duduk meski ia sangat kesal saat itu.


"HRD dan staf lainnya sudah memiliki keputusan tentang siapa saja yang lolos pada tes terakhir, jadi sepertinya akan susah untuk memberikan kesempatan kedua pada Tiara," ucap Putra.


"Kau bisa meminta tolong pada papa, katakan saja pada papa tentang apa yang sebenarnya terjadi, papa pasti akan mengerti dan memberikan kesempatan kedua pada Tiara," balas Rafa.


"Aaahhh aku tau kenapa kau menghubungiku, kau pasti tidak mau meminta tolong pada papamu secara langsung bukan? karena papamu pasti akan memintamu untuk masuk ke perusahaan sebagai balasan jika papamu mau membantumu!" ucap Putra menerka.


Rafa hanya diam menyeruput minumannya tanpa mengucapkan apapun, karena apa yang Putra katakan memang benar.


"Baiklah aku akan membantumu, aku akan bicarakan hal ini pada Om Adam, tapi aku tidak bisa menjanjikan apapun padamu," ucap Putra.


"Hubungi aku jika kau sudah melakukannya!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.


"Apa itu artinya kau sudah memaafkanku sekarang?" tanya Putra yang ikut beranjak mengejar Rafa.


"Jangan harap, aku tidak akan pernah memaafkanmu!" jawab Rafa lalu berjalan cepat meninggalkan Putra.


Sedangkan Putra hanya tersenyum tipis dan menghentikan langkahnya, membiarkan Rafa berjalan terlebih dahulu meninggalkannya.


"Satu langkah sudah dimulai, mari kita lihat langkah selanjutnya!" ucap Putra lalu berjalan pelan ke arah pintu keluar kafe.


Putra hanya berdiri di depan pintu kafe melihat Rafa yang masuk ke dalam mobil lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.


"Kau sama sekali tidak berubah Rafa, kau tetap Rafa yang dingin tapi sangat peduli pada orang-orang di sekitarmu, mereka yang benar-benar mengenalmu pasti bisa merasakan bagaimana hangatnya dirimu," ucap Putra lalu berjalan ke arah mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.

__ADS_1


Putra tidak memikirkan apapun tentang hubungan Rafa dengan Tiara, karena ia tahu bahwa Tiara adalah salah satu pegawai Rafa yang bekerja di kafe jadi wajar bagi Putra jika Rafa menginginkan keadilan bagi Tiara yang merupakan pegawai kafenya.


__ADS_2