
Tiara dan Rafa sudah sampai di toko buku. Merekapun berkeliling mencari buku yang Tiara butuhkan untuk tes masuk ke perusahaan.
Setelah beberapa lama berkeliling akhirnya Rafa menemukan buku yang ia cari lalu segera membayarnya ke kasir.
"Padahal Tiara ingin membelinya sendiri agar Tiara bisa menyimpannya selamanya," ucap Tiara setelah Rafa membayar buku itu.
"Kau bisa memilikinya, tidak perlu mengembalikannya padaku," balas Rafa.
"Kalau begitu Tiara akan mengganti uangnya," ucap Tiara yang hendak mengambil dompetnya, namun Rafa menahan tangannya.
"Tidak perlu, ayo pulang, aku akan mengantarmu," ucap Rafa lalu berjalan keluar dari toko buku begitu saja.
Tiarapun berlari kecil mengikuti Rafa keluar dari toko buku lalu masuk ke dalam mobil.
"Apa kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan Mama tirimu?" tanya Rafa pada Tiara saat mereka berdua sudah berada di dalam mobil.
"Sudah kak, Tiara baru saja bertemu Mama Laras bersama pengacara papa," jawab Tiara.
"Apa Mama Laras menyetujui keputusanmu?" tanya Rafa.
"Tentu saja tidak, tapi dengan bantuan pengacara papa Mama Laras akhirnya menerima keputusan Tiara, meskipun Tiara tahu mama Laras pasti sangat marah pada Tiara atas keputusan yang Tiara buat," jawab Tiara.
"Kau tidak perlu lagi memikirkannya Tiara, sekarang jalani hidupmu yang baru tanpa keluarga tirimu yang selama ini hanya memanfaatkanmu," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Tiara sangat berterima kasih pada pengacara papa, karena dia sudah banyak membantu Tiara padahal bisa saja pengacara papa berpihak pada Mama Laras demi mendapatkan keuntungan lebih," ucap Tiara.
"Kau beruntungan karena papamu memilih pengacara yang profesional dan bisa dipercaya," ucap Rafa.
"Iya kak," balas Tiara dengan mengganggu-anggukkan kepalanya.
"Tentang perusahaan yang menjadi impianmu untuk bekerja, bukankah tempatnya cukup jauh dari tempat tinggalmu sekarang? jika kau diterima bekerja disana lalu dimana kau akan tinggal?" tanya Rafa.
"Tentu saja Tiara akan mencari tempat tinggal yang tidak terlalu jauh dari tempat Tiara bekerja, lagi pula jika Tiara sudah bekerja di perusahaan itu artinya Tiara sudah tidak bekerja di kafe jadi Tiara sudah tidak berhak untuk tinggal di tempat tinggal Tiara yang sekarang," balas Tiara.
"Kalau kau mau kau masih bisa tinggal disana Tiara," ucap Rafa.
"Tidak mungkin kak, bagaimana dengan teman-teman nanti? mereka pasti akan membicarakan Tiara jika Tiara tetap tinggal disana padahal Tiara sudah tidak bekerja di kafe," balas Tiara.
"Kak Rafa jangan khawatir, Tiara sudah memiliki beberapa uang tabungan yang bisa Tiara gunakan untuk mencari tempat tinggal yang baru," lanjut Tiara.
"Apa setelah kau meninggalkan kafe kita tidak akan pernah bisa bertemu lagi?" tanya Rafa dengan membawa pandangannya menatap Tiara saat ia menghentikan mobilnya tepat saat lampu merah.
Mendengar pertanyaan Rafa, Tiarapun membawa pandangannya pada Rafa. Mereka saling menatap untuk beberapa saat hingga akhirnya lampu menyala hijau dan mobil di belakang Rafa membunyikan klakson yang membuat Rafa segera kembali mengendarai mobilnya.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Rafa pada Tiara yang hanya terdiam tanpa menjawab pertanyaan Rafa.
"Walaupun tidak bisa bertemu bukankah kita masih bisa berkomunikasi? Tiara juga tidak mungkin melupakan Chika begitu saja, Tiara pasti akan menyisihkan waktu untuk bermain ke kafe bertemu dengan Chika dan teman-teman yang lain," ucap Tiara.
Mendengar jawaban Tiara, Rafa hanya menghela nafasnya tanpa mengatakan apapun.
"sepertinya memang tidak ada yang istimewa dengan hubungan kita, mungkin hanya aku saja yang berharap lebih padahal aku tahu bahwa saat ini aku adalah suami perempuan lain," ucap Rafa dalam hati.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan Rafapun sampai depan tempat tinggal Tiara.
"Terima kasih sudah mengantar Tiara kak, terima kasih juga untuk bukunya," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum tipis oleh Rafa.
Tiarapun keluar dari mobil Rafa lalu berjalan masuk ke dalam rumah setelah mobil Rafa menghilang dari pandangannya.
Tiara kemudian membawa langkahnya masuk ke kamarnya lalu menghabiskan waktunya untuk membaca buku yang baru saja dibelikan oleh Rafa.
"kak Rafa memang sangat baik, Tiara sangat beruntung bisa mengenal kak Rafa. Entah bagaimana jadinya jika tidak ada kak Rafa dalam hidup Tiara, tapi mungkin setelah ini waktu Tiara bersama kak Rafa sudah berakhir, pada kenyataannya pertemuan kita hanya sebatas persinggahan sementara," ucap Tiara dalam hati.
**
__ADS_1
Di tempat lain Rafa yang baru saja sampai di rumah segera mengambil beberapa foto yang ada di dinding dan meja ruang tamu.
Ia memasukkan semua foto pernikahannya ke dalam kardus, berniat untuk membawanya kembali ke gudang.
Namun belum sampai ia selesai memasukkan semua foto itu ke dalam kardus, tiba-tiba Maya datang dan merebut foto itu dari tangan Rafa.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Maya yang segera merebut kardus yang ada di hadapan Rafa.
"Apa lagi.... tentu saja mengembalikan foto-foto ini ke gudang," jawab Rafa yang kembali merebut kardus yang sudah ada di tangan Maya.
"Tidak bisakah kau membiarkannya disini? bagaimana jika mama dan papa atau orang tuamu tiba-tiba datang?" tanya Maya.
"Jelaskan saja apa yang terjadi, rasanya aku benar-benar sudah muak dengan pernikahan ini," jawab Rafa.
"Apa kau sudah gila? kenapa kau tiba-tiba seperti ini? apa kau masih marah karena ucapan Mama waktu itu?" tanya Maya tak mengerti.
"Aku terlalu lelah menghadapi sikap mamamu," ucap Rafa beralasan.
"Tidak bisakah kau mengabaikannya saja? bukankah kau tahu Mama memang seperti itu dan kau tidak pernah mempermasalahkannya dari dulu," balas Maya.
"Tidak pernah mempermasalahkannya bukan berarti aku tidak pernah tersinggung dengan ucapan mamamu Maya!" ucap Rafa.
"Apa sebaiknya kita pindah rumah saja agar orang tuaku dan orang tuamu tidak tiba-tiba datang berkunjung? aku sendiri yang akan membeli rumah baru untuk....."
"Apa kau pikir aku tidak bisa membelinya? apa kau juga berpikir sama seperti mamamu?" tanya Rafa memotong ucapan Maya.
"Tidak seperti itu, kenapa kau sensitif sekali? aku hanya....."
"Sudahlah lupakan saja, bereskan foto-foto ini atau aku akan benar-benar membuangnya!" ucap Rafa lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya begitu saja
Maya masih berdiri di tempatnya, memperhatikan Rafa yang masuk ke dalam kamarnya. Ia tidak mengerti kenapa akhir-akhir ini Rafa uring-uringan setiap ia sampai di rumah.
"apa yang sebenarnya terjadi padamu Rafa? apa ini adalah puncak dari kesabaranmu selama ini? tapi aku tidak akan tinggal diam, aku tidak akan membiarkanmu menceraikanku karena aku masih membutuhkanmu demi mimpi yang sudah ada dalam genggamanku," batin Maya dalam hati.
**
"Selamat malam dok," ucap Mama Rafa menyapa.
"Selamat malam, ibu Rossa, benar?" balas dokter itu mengenali Mama Rafa.
"Benar sekali dok, ternyata dokter masih mengingat saya," ucap Mama Rafa.
"Tentu saja saya mengingat ibu Rossa yang merupakan donatur tetap panti asuhan yang saya kelola," ucap dokter itu.
"Dokter bisa saja, aaahh iya saya senang sekali ketika tau bahwa dokter yang membantu Rafa dan Maya untuk menjalani program hamil karena saya tau bagaimana kemampuan dokter," ucap mama Rafa
"Maaf, apa maksud ibu Rossa? program hamil Rafa dan Maya?" tanya dokter tak mengerti.
"Iya, bukankah dokter adalah dokter yang membantu Rafa dan Maya untuk menjalani program hamil? apa dokter sudah lupa dengan Rafa?" balas Mama Rafa bertanya.
"Tentu saja saya masih mengingat Rafa, tapi Rafa tidak pernah datang bersama istrinya untuk berkonsultasi tentang program hamil, mungkin mereka menemui dokter obgyn lain," jawab sang dokter yang membuat Mama Rafa begitu terkejut.
"Benarkah seperti itu? tapi saya yakin nama dokter yang tertulis di lembar hasil pemeriksaan Rafa dan Maya," ucap Mama Rafa.
"Mungkin ada kesalahan, silakan ikut ke ruangan saya untuk memastikan!" ucap dokter lalu berjalan ke ruangannya diikuti oleh Mama Rafa.
Di ruangannya dokterpun mencari daftar nama pasiennya dan ia tidak menemukan nama Rafa ataupun Maya.
"Saya sudah memeriksanya dan tidak ada nama Rafa ataupun Maya di daftar pasien saya, mungkin saya bisa membantu menanyakan ke dokter obgyn lain," ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok, tolong bantu saya dan segera hubungi saya jika dokter sudah mendapatkan jawabannya," balas Mama Rafa lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan dokter itu.
Mama Rafa berjalan dengan pandangan kosong memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga sang anak.
__ADS_1
"Apa mungkin pihak rumah sakit yang melakukan kesalahan?" tanya Mama Rafa berusaha untuk tetap berpikir positif.
Mama Rafa kemudian mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya. Tak lama setelah ia sampai di rumah dokter yang ditemuinya di rumah sakitpun menghubunginya.
"Saya sudah menanyakan pada dokter obgyn yang lain dan tidak ada satupun dari mereka yang menerima Rafa dan Maya sebagai pasien mereka, mungkin ibu Rossa bisa memeriksa kembali lembar pemeriksaan itu untuk memastikan keasliannya," ucap dokter yang membuat Mama Rafa seketika terdiam.
"Baik dok terima kasih, maaf sudah merepotkan," balas Mama Rafa.
Setelah panggilan berakhir Mama Rafa masih terdiam di tempatnya berdiri, ia berusaha untuk tetap berpikir positif tetapi yang ada di kepalanya hanyalah kemungkinan-kemungkinan buruk tentang rumah tangga Rafa dan Maya.
"Mereka membohongiku.... Rafa dan Maya..... mereka berbohong," ucap Mama Rafa pelan lalu tiba-tiba kepalanya terasa pusing dan iapun terjatuh di lantai.
Papa Rafa yang baru saja sampai di rumahpun begitu terkejut melihat sang istri yang terbaring di lantai tak sadarkan diri.
Papa Rafa segera menghubungi ambulans untuk membawa sang istri ke rumah sakit. Sesampainya di rumah sakit dokterpun menjelaskan keadaan Mama Rafa.
"Pasien yang sebelumnya mengalami hipertensi sekarang meningkat menjadi hipertensi maligna yang ditandai dengan meningkatnya tekanan darah dengan drastis, hal ini sangat membahayakan nyawa pasien jika tidak segera ditangani dengan baik," jawab dokter menjelaskan.
"Kenapa istri saya tiba-tiba menderita hipertensi maligna dok? padahal saya sangat tahu bahwa dia menjalani hidupnya dengan sehat," tanya papa Rafa pada dokter.
"Hipertensi maligna bisa terjadi karena tekanan dan stres yang berlebihan yang membuat kinerja otak menurun, saya sarankan agar pasien tidak terlalu memikirkan hal-hal yang membuatnya tertekan dan stres," jawab dokter.
"Baik dok terima kasih," ucap papa Rafa yang hanya dibalas angkutan kepala oleh dokter.
Papa Rafa kemudian menghubungi Rafa untuk memberitahu Rafa tentang keadaan sang mama.
"Halo Rafa, kau dimana?" tanya papa Rafa setelah Rafa menerima panggilan sang papa.
"Rafa sedang di rumah pa, mengerjakan beberapa pekerjaan," jawab Rafa yang saat itu tengah berkutat di depan laptopnya.
"Segera ke rumah sakit setelah pekerjaanmu selesai, mama sedang dirawat di rumah sakit sekarang," ucap papa Rafa yang membuat Rafa segera beranjak dari duduknya.
"Mama di rumah sakit? apa yang terjadi pada Mama pa?" tanya Rafa panik.
"Papa akan menjelaskannya saat kau sampai disini," jawab papa Rafa.
"Baiklah, Rafa kesana sekarang!" ucap Rafa lalu segera mengakhiri panggilan sang papa kemudian keluar dari rumahnya dan mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit yang dekat dengan rumah orang tuanya.
Sesampainya disana iapun segera mencari ruangan sang mama dan segera masuk setelah ia menemukannya.
Ia terdiam melihat sang Mama yang terpejam di atas ranjang rumah sakit bersama sang papa yang duduk di sampingnya.
"Apa yang terjadi pada Mama pa?" tanya Rafa pada sang papa.
Papanyapun menjelaskan apa yang tadi disampaikan dokter padanya.
"Dokter bilang hipertensi yang diderita mamamu sangat berbahaya, risiko terbesarnya adalah gagal jantung hingga kematian," ucap papa Rafa di akhir penjelasannya.
"Tapi dokter bisa menyembuhkan Mama bukan?" tanya Rafa.
"Semua itu tergantung mamamu sendiri Rafa, walaupun dia menjalani kehidupannya dengan sehat tetapi jika dia terus-menerus tertekan dan stress maka obat-obat yang dia konsumsi tidak akan berguna," jawab papa Rafa.
Rafa kemudian membawa langkahnya mendekat pada sang mama, memegang tangan sang mama lalu menggenggamnya dengan erat.
Meskipun ia sering kesal dengan sikap sang mama, tetapi hatinya terasa sedih saat melihat sang Mama terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit.
"Beban pikiran seperti apa yang sebenarnya Mama rasakan selama ini? kenapa Mama harus memendamnya sendiri?" tanya Rafa dengan sangat pelan.
"Sebenarnya selama ini mamamu takut jika keputusannya untuk menjodohkanmu dengan Maya adalah keputusan yang salah, dia takut kau tidak bisa menjalani kehidupan rumah tanggamu dengan bahagia," ucap papa Rafa.
"Kenapa Mama berpikir seperti itu?" tanya Rafa pada sang papa.
"Karena sampai sekarang kalian belum dikaruniai anak jadi mamamu berpikir terlalu jauh tentang hubunganmu dengan Maya, papa sudah berusaha untuk menasehati mamamu tapi seperti yang kau tau, yang bisa mengendalikan isi pikiran mamamu adalah mamamu sendiri," jawab papa Rafa menjelaskan.
__ADS_1
Rafa menghela nafasnya panjang dengan menatap sang mama yang masih terpejam. Ia tidak menyangka jika sang mama selama ini memikirkan kehidupan keluarganya bersama Maya.
"Maafkan Rafa ma, seharusnya Rafa tidak membuat Mama berpikir terlalu jauh seperti itu," ucap Rafa dengan masih menggenggam tangan sang mama.