Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kepergian Tiara


__ADS_3

Di ruangannya, Rafa baru saja mengetahui jika Tiara lolos untuk mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikannya di luar negeri.


Iapun segera beranjak dari duduknya, berniat untuk segera menemui Tiara, namun saat ia baru saja beranjak, pintu ruangannya terbuka dan sang papapun masuk.


"Papa, ada apa papa kesini?" tanya Rafa pada sang papa.


"Papa kesini untuk menemui Putra sekaligus melihat lihat ruangan kerjamu," jawab Adam.


"Menemui Putra? untuk apa?" tanya Rafa.


"Apa Putra belum memberi tahumu jika dia ingin dipindahkan ke Amerika?" balas Adam bertanya.


"Ke Amerika? kenapa? kenapa dia tiba tiba ingin pindah kesana? papa tidak menyetujuinya bukan?" tanya Rafa.


"Tentu saja papa menyetujuinya, dia sudah cukup lama bekerja di perusahaan ini Rafa, mungkin ini waktunya bagi Putra untuk mencari pengalaman kerja di luar sana," jawab Adam.


"Kenapa bukan Rafa saja yang dipindahkan kesana pa? kenapa harus Putra?" protes Rafa.


"Kau baru saja menjabat sebagai CEO disini Rafa, masih banyak hal yang harus kau pelajari disini, masih banyak tanggung jawab yang harus kau emban, sedangkan Putra sudah jauh lebih lama bekerja disini dari dia menjadi staf biasa sampai dia menjadi asisten pribadimu," jawab Adam.


"Tapi Rafa adalah anak papa, Rafa....."


"Di rumah kau memang anak mama dan papa, tapi disini kau adalah CEO Rafa, kau bekerja untuk perusahaan, demi kepentingan perusahaan, kau harus bisa membedakan hal itu Rafa!" ucap Adam memotong ucapan Rafa.


"Tapi setidaknya papa tidak membiarkan Putra ke Amerika, bukankah papa sendiri yang memintanya untuk menjadi asisten pribadi Rafa agar kita bisa bekerja sama dan melupakan masalah kita di masa lalu?"


"Kau benar, tapi sampai sejauh ini tidak ada perubahan apapun pada hubungan kalian, jadi papa tidak akan memaksakan lagi, kalian sudah sama sama dewasa, jadi kalian pasti tau bagaimana harus bersikap," balas Adam.


"Lalu bagaimana dengan Rafa? siapa yang akan menggantikan posisi Putra sebagai asisten pribadi Rafa?"


"Kau bisa mencarinya sendiri atau papa yang akan membantumu untuk mencarinya," jawab Adam.


Rafa menghela nafasnya panjang lalu menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya.


"Tidak bisakah Rafa saja yang ke Amerika pa?" tanya Rafa setengah memohon pada sang papa.


"Ada apa dengan kalian ini, kenapa tiba tiba ingin pindah ke Amerika seperti ini?" tanya Adam heran.


"Rafa sudah melakukan tugas Rafa dengan baik pa, walaupun Rafa tidak menyukai Putra tetapi Rafa bisa bekerja sama dengan baik bersamanya, kita menyelesaikan semua masalah bersama selama ini, setidaknya biarkan Putra tetap disini untuk bekerja bersama Rafa."


Adam mengernyitkan keningnya, heran dengan sikap Rafa. Tidak biasanya Rafa memohon padanya seperti itu, terlebih ia ingat bagaimana Rafa menolak saat pertama kali Rafa tau jika Putra akan menjadi asisten pribadinya.


Namun kini Rafa seolah tidak ingin Putra pergi darinya.


"Apa kau mulai sadar bahwa Putra teman yang baik untukmu?" tanya Adam dengan tersenyum tipis.


"Rafa hanya tidak ingin orang lain yang menjadi asisten pribadi Rafa," balas Rafa.


"Papa sudah membuat keputusan Rafa, akhir bulan nanti Putra akan berangkat ke Amerika, dia akan mengurus semua keperluannya sebelum dia mulai bekerja awal bulan depan nanti," ucap papa Rafa.


Rafa hanya terdiam, ia tidak ingin Putra pergi ke Amerika bukan karena ingin mempertahankan Putra di perusahaan itu, tetapi karena ia tau jika Putra ingin pindah ke Amerika agar bisa lebih dekat dengan Tiara.


Untuk saat itu Rafa kalah satu langkah dari Putra. Pikirannya yang terbagi antara Tiara dan pekerjaan untuk sesaat membuatnya lengah.


Kini tidak ada yang bisa ia lakukan selain melepaskan kepergian Tiara dan membiarkan Putra berada dekat dengan Tiara.


Setelah kepergian sang papa, Rafapun segera beranjak dari duduknya untuk menemui Putra.


"Kau menang kali ini, tapi jangan berharap jika dengan kemenanganmu kali ini kau bisa mendapatkan Tiara," ucap Rafa pada Putra.


"Kita lihat saja, apakah berada jauh darimu bisa membuat Tiara melupakanmu dan lebih memilihku atau dia akan tetap mempertahankanmu meskipun dia tau jika kalian tidak akan bisa bersama," balas Putra.


"Dan jika kau berharap Tiara akan tetap mempertahankanmu, itu artinya kau berharap Tiara akan menjalani hidupnya dengan kesedihan karena apapun yang terjadi hubungan kalian tidak bisa dibenarkan," lanjut Putra.

__ADS_1


"Untuk kali ini aku mengalah padamu, tapi setelah semua masalahku dengan Maya selesai, aku akan kembali padanya, akan aku pastikan jika aku akan mendapatkannya kembali dan jika saat itu tiba, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya sedikitpun," ucap Rafa lalu berjalan meninggalkan Putra begitu saja.


Rafa kembali masuk ke ruangannya, menjatuhkan dirinya di kursi kerjanya, menutup kedua matanya sambil menyandarkan dirinya pada sandaran kursinya.


"Tunggu aku Tiara, aku akan menyelesaikan semua ini terlebih dahulu sebelum aku kembali padamu, aku akan menebus semua kesalahan yang pernah aku lakukan padamu, aku akan menghapus semua kesedihanmu dan hanya akan memberikanmu kebahagiaan yang sesungguhnya," ucap Rafa dalam hati dengan kedua mata yang masih terpejam.


Di sisi lain, Putra hanya terdiam menatap layar komputer di hadapannya. Ia memikirkan apa yang baru saja Rafa katakan padanya.


Selama ia mengenal Rafa, ia tidak pernah melihat Rafa dekat dengan satupun perempuan sampai akhirnya Rafa tiba tiba menikah.


Saat ia menyadari jika Rafa dekat dengan Tiara, itu membuatnya cukup terkejut, namun ia berusaha berpikir positif karena saat itu Tiara adalah salah satu pegawai di kafe Rafa.


Namun semakin lama Putra semakin mengerti jika kedekatan antara Rafa dan Tiara tidak hanya sebatas atasan dan bawahan, ia bisa melihat bagaimana Rafa begitu peduli Tiara.


Bahkan saat sudah tidak ada yang bisa Rafa lakukan untuk mendapatkan Tiara, cinta itu masih terlihat dari sorot mata Rafa. Cinta pada seorang gadis yang sebelumnya belum pernah Putra lihat sebelumnya.


Kini ia mengerti seberapa besar Rafa mencintai Tiara. Namun semua itu tidak ada gunanya jika Rafa masih menjadi suami Maya.


Meskipun Putra pindah ke Amerika untuk bisa tetap dekat dengan Tiara, ia tidak akan memaksa Tiara untuk bisa bersamanya.


Ia akan memberikan waktu bagi Tiara untuk menyembuhkan hatinya dan saat itu ia akan menjadi satu satunya yang selalu ada untuk Tiara.


Jika memang perasaan tulusnya tidak bisa diterima oleh Tiara, maka ia hanya bisa pasrah dan menerima apapun keputusan Tiara nantinya.


Setidaknya dia sudah mencoba dan berusaha untuk kembali mengetuk pintu hati Tiara.


"Setidaknya biarkan aku tetap ada di dekatmu Tiara, biarkan aku menjadi bagian dari cerita hidupmu dimanapun kau berada," ucap Putra dalam hati.


Putra menghela nafasnya panjang kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.


**


Hari hari berlalu, pagi itu Tiara pergi ke bandara bersama dengan Kevin yang mengantarnya.


"Satu minggu lagi aku akan datang menyusulmu Tiara, aku akan membawa beberapa barang-barangmu yang lain," ucap Kevin pada Tiara.


"Terima kasih Kevin," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Kevin.


Dalam hatinya, Kevin merasa berat untuk membiarkan Tiara pergi jauh darinya. Setelah bertahun-tahun bersahabat dekat dengan Tiara, untuk pertama kalinya ia membiarkan Tiara melanjutkan hidup barunya di negeri orang dan pastinya ia tidak akan mudah menemui Tiara apalagi membantu Tiara setiap waktu mengingat betapa jauh jarak yang memisahkan mereka berdua.


"Kenapa kau terlihat sangat sedih? apa kau tidak ingin aku pergi?" tanya Tiara yang melihat raut kesedihan pada wajah Kevin.


"Aku pasti akan sangat merindukanmu Tiara, setelah ini jarak kita akan terlalu jauh untuk bisa sering bertemu," jawab Kevin.


"Aku akan sering menghubungimu Kevin, jangan terlalu mengkhawatirkanku, aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik disana," ucap Tiara.


"Kau harus memulai pertemananmu dengan banyak orang baru, tetapi jangan sampai pengaruh buruk mereka mempengaruhimu, tetap jadi dirimu sendiri, tetap menjadi Tiara yang selama ini aku kenal," ucap Kevin yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


Kevin kemudian meraih tas besar yang dipegang Tiara lalu menaruhnya di lantai dan memeluk Tiara dengan erat.


"Mulai hidup barumu dengan bahagia Tiara, raih mimpimu setinggi mungkin, lupakan semua yang membuatmu bersedih disini, abaikan mereka yang sudah menyakitimu, fokus saja dengan apa yang akan kau raih disana, sibukkan dirimu agar kau bisa dengan mudah melupakan semuanya," ucap Kevin sambil memeluk Tiara dengan erat.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan dalam pelukan Kevin tanpa mengatakan apapun.


"Aku akan selalu ada untukmu meskipun aku tidak ada di dekatmu, jadi jangan pernah ragu untuk menghubungiku kapanpun kau membutuhkanku, aku akan berusaha untuk selalu ada untukmu," ucap Kevin sambil melepas pelukannya pada Tiara dan memegang kedua bahu Tiara.


"Terima kasih Kevin, aku akan memulai semuanya dari awal disana, aku akan menyibukkan diriku dengan hal-hal baru dan fokus dengan langkah baruku untuk meraih mimpiku," ucap Tiara.


Setelah perpisahan mereka yang cukup dramatis, Tiarapun membawa langkahnya menjauh dari Kevin. Sesekali Tiara membalikkan badannya menatap Kevin yang berdiri jauh darinya sambil melambaikan tangannya.


Dalam hatinya ia bersyukur karena memiliki sahabat dekat sebaik Kevin. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk benar-benar melupakan semua hal menyedihkan yang pernah ia lalui.


Ia sudah membulatkan tekadnya untuk meraih mimpi baru yang kini sudah ada di hadapannya.

__ADS_1


Bersama dengan do'a yang ia ucapkan dalam hatinya, pesawatpun membawa Tiara pergi meninggalkan negara kelahirannya.


Ada setitik rasa sedih yang hinggap dalam hatinya, sedih karena dia tidak akan bisa lagi bercerita di makam kedua orang tuanya.


Namun ia yakin kemanapun ia pergi selalu ada mama dan papanya dalam hatinya.


Setelah beberapa lama pesawat mengudara, Tiara mengambil handsfree miliknya lalu menaruhnya di kedua telinganya.


Ia sedikit gugup saat itu, namun ia memilih untuk mendengarkan lagu kesukaannya untuk menghilangkan kegugupannya, sama seperti yang pernah Rafa lakukan padanya.


**


Di sisi lain, setelah pesawat yang dinaiki oleh Tiara sudah meninggalkan bandara, Kevinpun segera membawa langkahnya kembali ke tempat ia memarkir mobilnya.


Tiba-tiba seseorang berlari menghampirinya dengan terengah-engah.


"Apa yang membuatmu berlarian seperti ini? apa kau tidak sadar jika kau sedang mengenakan high heels sekarang?" tanya Kevin sambil membawa pandangannya menatap sepatu hak tinggi yang tengah dipakai gadis di hadapannya.


"Apa pesawat Tiara sudah terbang? apa aku terlambat?" tanya Bella dengan nafas yang masih tersengal-sengal.


"Sudah, pesawatnya baru saja take off, memangnya kenapa?" jawab Kevin sekaligus bertanya sambil melepaskan tali sepatu hak tinggi yang terikat pada kaki Bella.


"Yaaaahhhh.... aku terlambat, padahal aku ingin mengantarnya," ucap Bella yang menyesali keterlambatannya.


"Tumben sekali, kenapa kau tiba-tiba ingin mengantarnya?" tanya Kevin.


"Aku hanya ingin mengucapkan selamat tinggal padanya, karena akhirnya aku bisa memilikimu tanpa harus membagimu dengan Tiara hahaha....." jawab Bella.


Kevin hanya tersenyum tipis sambil mengangkat kaki Bella agar melepaskan sepatu hak tingginya.


"Apa yang kau lakukan Kevin?" tanya Bella sambil mengangkat kakinya satu persatu.


"Lihatlah kakimu terluka karena berlari dengan menggunakan sepatu ini, pakai saja punyaku," jawab Kevin sambil melepas sepatunya lalu menaruhnya di dekat kaki Bella.


Dengan ragu Bella memasukkan kakinya ke dalam sepatu milik Kevin dan tanpa banyak bicara Kevinpun mengikat tali sepatunya yang kini dikenakan oleh Bella.


Kevin dan Bellapun meninggalkan bandara dengan Kevin yang tidak mengenakan alas kaki saat itu.


"Kau sok romantis sekali, membuatku geli saja," ucap Bella saat ia sudah berada di dalam mobil bersama Kevin.


Kevin hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun lalu mengendarai mobilnya mengantarkan Bella pulang ke rumahnya.


"Jadi kapan kau akan berangkat? apa kau sudah mempersiapkan semuanya?" tanya Kevin pada Bella.


"Aku sudah mempersiapkan semuanya, dua Minggu lagi aku akan berangkat, kau jangan macam-macam selama aku tidak ada disini, aku pasti akan membunuhmu jika kau berani macam-macam dengan perempuan lain," jawab Bella memberi ancaman.


Lagi lagi Kevin hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Setelah beberapa lama berkendara Kevinpun sampai di depan rumah Bella.


"Aku harus segera pergi, sebentar lagi ada jadwal pemotretan," ucap Kevin.


"Baiklah," balas Bella santai lalu keluar dari mobil Kevin.


**


Di tempat lain Rafa sedang mengerjakan pekerjaannya. Ia tidak bisa fokus menyelesaikan pekerjaannya karena ia tahu hari itu adalah hari dimana Tiara benar-benar meninggalkannya.


Tidak ada yang bisa Rafa lakukan selain melanjutkan hari-harinya tanpa Tiara yang berada di dekatnya. Meskipun begitu ia masih memikirkan cara agar ia bisa terlepas dari pernikahan palsunya bersama Maya, terlebih kini ia tahu bahwa sebenarnya Maya mulai memiliki perasaan padanya.


Jampun sudah menunjukkan pukul 10.00 siang saat Rafa keluar dari ruangannya untuk masuk ke ruangan meeting, hari itu ia akan mengadakan meeting bersama para pimpinan divisi di kantornya.


Saat ia memasuki ruangan meeting, matanya menatap satu persatu pimpinan divisi yang sudah ada di dalam ruangan itu. Namun tiba-tiba raut wajah Rafa tampak berubah saat ia melihat salah satu pimpinan divisi yang wajahnya sudah tidak asing lagi di matanya.


Dia sangat mengenali laki-laki itu karena sudah beberapa kali laki-laki itu pergi bersama Maya, ia bahkan tahu jika laki-laki yang ada di hadapannya itu sudah melakukan hubungan yang di luar batas dengan Maya, istrinya.

__ADS_1


__ADS_2