
Di kafe yang buka 24 jam itu Tiara tampak sibuk dengan laptop dan buku-buku di hadapannya. Ia tak peduli pada lalu lalang orang dan percakapan orang-orang di sekitarnya.
Saat malam semakin larut pengunjungpun mulai tampak sepi, membuat Tiara semakin betah berlama-lama di tempat itu.
Tanpa Tiara tahu Rafa sedang memperhatikan Tiara dari meja kasir lalu memberitahu karyawannya untuk membiarkan Tiara berada disana jika memang Tiara tertidur disana.
"Dia gadis yang kemarin tertidur disini, jika malam ini dia tertidur disini lagi biarkan saja, asalkan dia tidak membuat keributan," ucap Rafa.
"Baik Pak," balas salah satu karyawannya.
Rafa kemudian berjalan keluar dari kafe dan membiarkan Tiara yang masih berada di tempatnya duduk dari satu jam yang lalu.
Tak lama setelah kepergian Rafa, salah satu pegawai kafe itu mendatangi Tiara.
"Apa kau yang semalam tertidur disini?" tanya pegawai kafe itu pada Tiara.
"Aaahh iya kak maaf, sebentar lagi saya akan segera pergi," ucap Tiara yang merasa sungkan.
"Kenapa kau tiba-tiba ingin pergi? aku bertanya karena hanya ingin memastikannya saja," ucap karyawan kafe itu.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum tipis, ia takut pegawai di hadapannya itu akan mengusirnya karena ia sudah terlalu lama berada di kafe itu.
"Aku dengar dari anak-anak, tadi pagi kau keluar dari ruangan pemilik kafe ini, apa benar?" tanya karyawan cafe itu.
"Iya kak, sepertinya saya pingsan dan saya dibawa masuk ke salah satu ruangan yang ada disini," jawab Tiara.
"Namaku Chika, panggil saja Chika karena sepertinya kita seumuran, jadi santai saja dan jangan berbicara terlalu formal denganku," ucap Chika yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
"Apa kau dekat dengan pemilik kafe ini atau jangan-jangan kau ada hubungan khusus dengan pemilik kafe ini?" tanya Chika penuh selidik yang membuat Tiara segera menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak, aku bahkan tidak mengenal siapa pemilik kafe ini," jawab Tiara.
"Benarkah?" tanya Chika tak percaya.
"Sungguh, aku bahkan baru dua kali ini datang kesini dan rumahku juga cukup jauh dari sini," jawab Tiara meyakinkan.
"Oke baiklah aku percaya padamu, apa malam ini kau juga berniat untuk berada disini sampai pagi?" tanya Chika.
"Sepertinya seperti itu dan tentu saja jika diperbolehkan hehehe....." jawab Tiara.
__ADS_1
"Memangnya dimana rumahmu? kenapa kau tidak pulang?" tanya Chika penasaran.
"Mmmmm..... aku hanya ingin mencari suasana baru untuk mengerjakan skripsiku dan aku merasa sangat betah mengerjakannya disini, apa aku masih boleh berada disini sampai besok pagi?" jawab Tiara sekaligus bertanya dengan penuh harap.
"Apa kau yakin hanya itu alasanmu?" tanya Chika yang tidak sepenuhnya mempercayai ucapan Tiara.
"Mmmmm.... sebenarnya ada sedikit masalah di rumah, jadi....."
"Baiklah, kau bisa berada disini sampai besok pagi asalkan kau tidak membuat keributan dan mengganggu pengunjung lain," ucap Chika memotong ucapan Tiara.
"Benarkah? aku boleh disini sampai besok pagi?" tanya Tiara memastikan.
Chika hanya menganggukan kepalanya lalu beranjak dari duduknya.
"Kau bisa merefill minumanmu lagi jika kau mau," ucap Chika lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara begitu saja.
"Waaaah dia baik sekali, padahal kita baru bertemu," ucap Tiara dengan membawa pandangannya menatap Chika yang berjalan menjauh darinya.
Waktupun berlalu, malam semakin larut. Pada akhirnya Tiarapun mulai tidak bisa menahan rasa kantuknya.
"Lebih baik aku tidur karena besok ada bimbingan skripsi yang pasti membutuhkan banyak tenaga dan pikiran," ucap Tiara sambil membaringkan kepalanya di meja.
Malam telah berlalu, namun gelap masih tampak menyelimuti pagi hari itu.
"Bangunlah!" ucap Chika sambil menaruh satu cup kopi di meja Tiara.
Tiara yang begitu terkejut segera membuka matanya dan mengangkat kepalanya. Melihat Chika yang berdiri di hadapannya Tiarapun tersenyum lalu meregangkan leher dan kedua tangannya.
"Jam kerjaku sebentar lagi selesai, apa kau masih ingin tetap disini?" ucap Chika sekaligus bertanya pada Tiara.
"Tidak, aku harus pulang untuk mandi kemudian berangkat ke kampus," jawab Tiara sambil menguap.
"Minumlah, ini akan menghilangkan rasa kantukmu!" ucap Chika sambil menggeser cup kopi yang ada di meja.
"Terima kasih," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala Chika.
Tiarapun meminum kopi pemberian Chika tanpa dia tahu bahwa yang ada di dalam cup itu adalah kopi.
Di tengah kesadarannya yang belum benar-benar kembali, Tiara menikmati setiap teguk kopi yang diminumnya, sedangkan Chika segera kembali dengan kesibukannya.
__ADS_1
"Aaahhh badanku rasanya sakit semua," ucap Tiara sambil meregangkan seluruh tubuhnya.
Tiara kemudian mengemasi barang-barangnya yang ada di meja lalu beranjak dari duduknya setelah seluruh kesadarannya sudah kembali.
"Aku pergi dulu, terima kasih minumannya," ucap Tiara pada Chika lalu berjalan keluar dari kafe dengan membawa minuman pemberian Chika.
Tiara kemudian menyeruput minuman itu dan ia baru sadar jika yang diminumnya adalah kopi.
"Astaga kenapa aku bodoh sekali, aku bahkan tidak sadar sudah meminum kopi ini sampai habis," ucap Tiara merutuki kebodohannya sendiri.
Tiara kemudian berjalan ke arah halte lalu menaiki bus yang membawanya pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, sudah ada Bima yang bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Kau dari mana saja Ra?" tanya Bima sambil menahan tangan Tiara yang hendak masuk ke dalam rumah, namun Tiara segera menarik tangannya dengan kencang dan berlari meninggalkan Bima begitu saja.
Tiara merebahkan badannya beberapa saat di ranjangnya sebelum ia mandi dan berganti pakaian, lalu bersiap untuk berangkat ke kampus bersama Kevin yang sudah menunggunya.
Kevin dan Tiarapun berangkat ke kampus bersama, namun segera berpisah saat mereka sampai di kampus karena mereka harus menemui dosen pembimbing mereka masing-masing.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Sebuah pesan masuk dari Rafa membuat Tiara kesal setelah membacanya.
"Sepertinya saya akan sedikit terlambat."
Tiara hanya mendengus kesal lalu masuk ke dalam ruangan yang sudah Rafa janjikan untuk melakukan bimbingan skripsi.
30 menitpun berlalu namun Rafa belum juga datang. Saat Tiara akan beranjak dari duduknya tiba-tiba ia merasa kepalanya begitu pusing.
Tiara kemudian kembali duduk dan membaringkan kepalanya di meja.
"aku tidak boleh pingsan," ucap Tiara dalam hati sampai seluruh pandangannya menjadi gelap.
Tak lama kemudian Rafapun datang dan berlari kecil menghampiri Tiara yang tampak terpejam di mejanya.
"Bangunlah Tiara," ucap Rafa lalu duduk di hadapan Tiara.
"Berhentilah begadang, kampus bukan tempat untuk tidur!" ucap Rafa yang mengira Tiara sedang tertidur.
__ADS_1
"Tiara, apa kau tidak mendengarku?" tanya Rafa sambil menepuk pelan bahu Tiara namun Tiara tidak bergeming sama sekali.