Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Salah Paham?


__ADS_3

Kevin mengendarai motornya meninggalkan rumah sakit bersama Tiara. Dalam perjalanan tidak banyak yang mereka berdua bicarakan. Setelah beberapa lama berkendara, Kevinpun sampai di depan rumah Tiara.


"Apa rencanamu sekarang Tiara?" tanya Kevin setelah Tiara melepaskan helm yang dipakainya.


"Entahlah Kevin, tapi yang pasti mama Laras pasti akan mengusirku jika kak Gita sudah menceritakan tentang hal ini pada mama Laras," jawab Tiara.


"Kau bisa tinggal di rumahku untuk sementara Ra, setidaknya sampai kau wisuda dan mendapatkan pekerjaan untuk mencari tempat tinggal yang baru," ucap Kevin.


"Aku juga bisa membantu membayar uang kuliahmu dengan tabungan yang aku miliki," lanjutnya.


"Biaya kuliahku membutuhkan uang yang cukup banyak Kevin, tidak mungkin aku berhutang sebanyak itu padamu!"


"Tenang saja Ra, aku memiliki banyak tabungan dari hasil fotografiku, kau bisa mengembalikannya kapanpun sebisamu," ucap Kevin.


"Terima kasih Kevin, tapi sepertinya aku harus berhenti kuliah," balas Tiara dengan berusaha tersenyum.


Sangat sulit memang baginya untuk tersenyum di saat seperti itu, apalagi di saat ia sadar bahwa masa depannya sudah terancam karena kebodohan yang sudah dilakukannya.


"Jangan gila Tiara, sebentar lagi kau akan wisuda setelah menyelesaikan skripsimu, aku akan membantu apapun yang kau butuhkan jadi jangan menyerah seperti ini!" ucap Kevin tidak setuju.


"Aku tidak menyerah Kevin, hanya saja aku merasa sudah kehilangan arah, jalan di depanku terasa buntu, aku..... aku tidak tahu lagi harus melakukan apa," ucap Tiara dengan suara tercekat menahan sesak di dadanya.


Kevin kemudian turun dari motornya lalu berdiri di hadapan Tiara dan memegang kedua bahu Tiara.


"Kau harus menyelesaikan masalahmu dengan kak Gita dan kak Bima, setelah itu kau keluar dari rumah ini dan tinggal di rumahku, kau tidak perlu lagi memikirkan biaya kuliahmu, kau hanya perlu fokus mengerjakan skripsimu dan wisuda lalu mencari pekerjaan, pikirkan itu saja Tiara!"


Tiara mengelola nafasnya lalu melepaskan kedua tangan Kevin dari bahunya.


"Masalahnya tidak semudah itu Kevin, aku....."


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Tiara menghentikan ucapannya saat ponselnya berdering, Tiarapun mengambil ponselnya dan mendapati sebuah pesan masuk dari Bima, membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Kevin.

__ADS_1


"Ada apa Ra?" tanya Kevin yang merasa Tiara sedang menatapnya.


Tiara kemudian membuka pesan dari Bima dan menunjukkannya pada Kevin.


"Tidurlah yang nyenyak, jangan memikirkan masalah ini, aku sudah membereskannya!"


Kevin mengernyitkan keningnya dengan membawa pandangannya pada Tiara setelah dia membaca pesan dari Bima di ponsel Tiara.


"Kenapa kak Bima mengirim pesan seperti itu? apa maksudnya?" tanya Kevin yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Abaikan saja, kau benar-benar harus menjauhi kak Bima mulai sekarang!" ucap Kevin dengan tegas.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengucapkan apapun.


"Pikirkan apa yang aku katakan padamu Ra, aku akan selalu membantumu sebisaku," ucap Kevin lalu kembali menaiki motornya.


"Cepatlah tidur dan jangan memikirkan kak Bima lagi," ucap Kevin lalu menyalakan mesin motornya dan mengendarainya meninggalkan Tiara.


Tiara tidak ingin cita-citanya terhenti begitu saj, namun ia juga tidak bisa melanjutkan kuliahnya jika dia benar-benar diusir dari rumah oleh mama tirinya.


"Tidak ada cara lain selain menunda skripsiku, yang terpenting saat ini adalah aku harus mempunyai pekerjaan dan tempat tinggal terlebih dahulu," ucap Tiara pada dirinya sendiri.


**


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 pagi saat Tiara masih menatap layar laptop di hadapannya. Sejak semalam Tiara tidak bisa memejamkan matanya sama sekali.


Kebodohan yang sudah dia lakukan bersama Bima membawa penyesalan yang besar dalam dirinya, membuat masa depannya terancam hanya karena hal bodoh yang sudah ia putuskan dengan egois.


Meski begitu tidak bisa dipungkiri bahwa nama Bima masih tersimpan dalam hatinya, karena sudah terlalu lama nama itu terpatri dalam lubuk hatinya.


Saat Tiara baru saja turun ke dapur, ia mendengar gerbang rumahnya yang terbuka dan tak lama kemudian sebuah mobil masuk ke halaman rumahnya.


Tiara hanya berdiri terdiam menunggu siapa yang akan masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


"jika itu kak Gita, aku harus meminta maaf pada kak Gita walaupun aku tahu dia tidak akan memaafkanku," ucap Tiara dalam hati lalu tak lama kemudian pintupun terbuka.


Gita masuk ke dalam rumah bersama Bima.


Tiara hanya terdiam dengan degup jantung yang berdetak begitu kencang, ia takut menghadapi kemarahan dan kekecewaan Gita padanya, karena selama ini ia selalu berhubungan baik dengan Gita meskipun Gita adalah kakak tirinya.


Saat Tiara akan membawa langkahnya pada Gita, tiba-tiba Gita berlari kecil ke arahnya dan memeluknya dengan erat, membuat Tiara begitu terkejut.


"Tiara, maafkan kakak," ucap Gita yang masih memeluk Tiara dengan erat.


"Seharusnya kakak mendengarkan penjelasanmu lebih dulu, bukan malah emosi dan memarahimu seperti kemarin," ucap Gita.


Tiara hanya terdiam tidak mengerti maksud dari ucapan Gita yang tiba-tiba meminta maaf padanya.


"Bima sudah menjelaskan semuanya padaku dan ini hanyalah kesalahpahaman, mungkin juga karena hormon kehamilan yang membuat kakak menjadi lebih sensitif dan mudah marah, maafkan kakak Tiara, kau tidak membenci kakak bukan?" lanjut Gita sambil melepaskan Tiara dari pelukannya dan memegang kedua bahu Tiara.


"Tentu saja tidak, Tiara minta maaf sudah membuat kak Gita salah paham," balas Tiara dengan tersenyum canggung dan sesekali membawa pandangannya pada Bima yang hanya tersenyum.


"Jangan meminta maaf Ra, ini bukan kesalahanmu, sebagai permintaan maaf kakak dan Bima akan mengajakmu berlibur ke villa milik keluarga Bima," ucap Gita.


"Berlibur ke villa?" tanya Tiara mengulangi ucapan Gita.


"Iya, kau bisa mengerjakan skripsimu disana karena suasana disana pasti lebih tenang dan nyaman untukmu," jawab Gita.


"Tapi Tiara juga harus bertemu dengan dosen pembimbing Tiara kak, jadi sepertinya Tiara tidak bisa ikut kak Gita dan kak Bima berlibur," ucap Tiara menolak.


"Jangan khawatir, Bima akan membicarakan hal ini dengan dosen pembimbingmu, benar kan Bima?" ucap Gita sambil membawa pandangannya pada Bima di akhir kalimatnya.


"Iya, aku mengenal dosen pembimbing Tiara dengan baik, aku akan meminta izin padanya agar dia mengizinkan Tiara untuk berlibur satu hari saja," jawab Bima.


"Jadi sekarang kau tidak punya alasan untuk menolaknya Tiara, liburan kali ini sebagai bentuk permintaan maaf kakak yang sudah membentakmu kemarin, jadi tolong ikutlah berlibur bersama kakak dan kak Bima," ucap Gita yang membuat Tiara merasa sungkan jika harus menolaknya.


Namun dalam hatinya Tiara ragu untuk menerima ajakan Gita, terlebih saat ada Bima yang ikut berlibur bersamanya. Ia tidak ingin Bima melakukan hal bodoh yang membuat Gita curiga pada mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2