Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Lolos


__ADS_3

Rafa dan Tiara baru saja sampai di toko buku. Mereka berdua segera naik ke lantai 2 tempat yang beberapa kali sering mereka kunjungi saat Tiara masih bekerja di kafe pertama milik Rafa.


Setelah mendapatkan beberapa buku yang Rafa butuhkan, ia pun segera keluar dari toko buku bersama Tiara.


"Jika kau tidak sedang sibuk aku ingin mampir ke kafe, kau juga bisa bertemu Ana disana," ucap Rafa pada Tiara.


"Tiara tidak sedang sibuk, tapi Tiara tidak bisa berlama-lama karena Tiara harus mempersiapkan diri untuk tes besok," balas Tiara.


"Baiklah kita mampir sebentar saja," ucap Rafa lalu mengendarai mobilnya ke arah kafe pertamanya.


Rafa dan Tiara masuk ke dalam kafe bersama. Rafa berjalan ke arah ruangannya, sedangkan Tiara berjalan ke arah Anna yang saat itu sedang bekerja.


"Tiara, akhirnya kau datang, sudah lama sekali aku tidak melihatmu!" ucap Ana bersorak senang saat dia melihat Tiara menghampirinya.


"Apa kau merindukanku?" tanya Tiara.


"Tentu saja, kau adalah happy virus di kafe ini, rasanya sepi karena kau sudah tidak ada disini," jawab Ana.


"Kau berlebihan sekali, bagaimana kabarmu?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Aku baik, bagaimana denganmu? aku dengar kau akan melamar pekerjaan di perusahaan lain, apa itu benar?"


"Tadinya memang begitu, tapi aku membatalkannya," jawab Tiara.


"Kenapa? apa karena kau tidak ingin berpisah dari Pak Rafa hehehe....."


"Ini tidak ada hubungannya dengan Pak Rafa, cepat atau lambat aku akan keluar dari kafe dan yang membuatku membatalkan niatku untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain adalah karena aku mendapatkan kesempatan kedua untuk melakukan tes terakhirku di perusahaan X," jawab Tiara menjelaskan.


"Waaahh benarkah? kau beruntung sekali Tiara, mungkin pelamar kerja yang lain tidak akan seberuntung dirimu," ucap Ana.


"Kau benar, aku tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini, aku akan melakukannya dengan lebih baik lagi kali ini," ucap Tiara.


"Aku yakin kau pasti bisa," ucap Ana dengan mengepalkan kedua tangannya memberikan semangat pada Tiara.


Tiarapun hanya terkekeh melihat sikap Ana.


"Tapi bagaimana dengan Pak Rafa? apa kau yakin akan meninggalkan kafe? itu artinya kau juga akan meninggalkan Pak Rafa," lanjut Ana bertanya yang membuat raut wajah Tiara seketika berubah.


"Meninggalkan kafe sama dengan meninggalkan kak Rafa, apa memang harus seperti itu?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Pak Rafa memang sangat baik pada kita semua, tetapi kita semua tahu jika Pak Rafa memberikan perhatian lebih padamu, entah karena ada sesuatu diantara kalian berdua atau karena kau pernah menjadi mahasiswi Pak Rafa," ucap Ana.


"Tidak ada sesuatu antara aku dan kak Rafa, aku hanyalah karyawan kafe kak Rafa sama sepertimu, mungkin ada beberapa hal yang membuatku terlihat dekat dengan kak Rafa karena kak Rafa sempat terlibat dalam masalah keluargaku, hanya itu saja," balas Tiara.


"Dengan terlibatnya Pak rafa dalam masalah keluargamu itu sudah cukup membuktikan bahwa Pak Rafa memperhatikanmu lebih dari yang lain," ucap Ana.


Tiara kembali terdiam mendengarkan ucapan Anna, ia memikirkan apa yang baru saja Ana katakan.


"Aku....."


"Ayo kita pulang," ucap Rafa membuat Tiara menghentikan ucapannya.


Tiara kemudian berpamitan pada Ana dan berjalan keluar dari kafe bersama Rafa. Rafa mengendarai mobilnya meninggalkan kafe pertamanya untuk mengantarkan Tiara pulang.


Dalam perjalanan sesekali Tiara memperhatikan Rafa yang duduk di sampingnya sambil memikirkan ucapan Ana padanya.


"Apa hubunganku dengan kak Rafa sudah terlalu jauh? apa hubungan kita sudah berlebihan?" tanya Tiara dalam hati.


"Tidak mungkin, aku dan kak Rafa memang terlihat dekat karena kita sudah saling mengenal sebelum aku bekerja di kafe, kak Rafa adalah dosenku, dosen pembimbing dan dosen yang dikeluarkan dari kampus karenaku, mungkin karena itu aku dan kak Rafa semakin terikat satu sama lain yang membuat kak Rafa pada akhirnya mengetahui masalah keluargaku dan masalahku dengan kak Bima," ucap Tiara dalam hati sambil menggelengkan kepalanya pelan dengan mengalihkan pandangannya dari Rafa.


"Ada apa Tiara? apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Rafa yang memperhatikan Tiara dari ekor matanya.

__ADS_1


"Tiara hanya berpikir bagaimana hidup Tiara jika Tiara tidak bertemu kak Rafa, Tiara sangat bersyukur karena bisa bertemu dan mengenal kak Rafa, Tiara sangat berterima kasih karena kak Rafa sudah banyak membantu Tiara sampai Tiara berada di titik ini," ucap Tiara dengan tersenyum ke arah Rafa.


"Kenapa kau tiba-tiba memikirkan hal itu? kau seperti akan pergi jauh saja," ucap Rafa.


"Diterima atau tidaknya Tiara di perusahaan X Tiara akan tetap meninggalkan kafe kak, kak Rafa tahu itu kan?" balas Tiara.


"Iya aku tahu, memang sangat disayangkan jika pendidikan tinggimu hanya kau gunakan untuk bekerja di kafe," ucap Rafa.


"Di kafe kak Rafa Tiara menemukan banyak hal baru, pengalaman baru, teman baru dan keluarga baru, Tiara tidak akan melupakan semua itu kak, Tiara harap Tiara akan selalu menjadi bagian dari kenangan yang ada di kafe kak Rafa," ucap Tiara.


"Kau akan selalu menjadi bagian dari kafe Tiara, kau bisa datang kapanpun kau mau!" ucap Rafa.


"Terima kasih kak, Tiara tidak akan pernah lupa jika Tiara pernah memiliki atasan sebaik kak Rafa," ucap Tiara.


Rafa hanya tersenyum tanpa mengatakan apapun. Dalam hatinya ia tidak ingin Tiara pergi dari kafe namun ia tidak mungkin mencegah Tiara untuk meraih mimpinya karena Rafa tahu bagaimana Tiara berusaha untuk bisa meraih mimpinya untuk menjadi bagian dari perusahaan besar yang merupakan milik papanya.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan Rafapun menghentikan mobilnya di depan rumah tempat tinggal Tiara.


"Aku akan menempati janjiku jika kau berhasil lolos di tes terakhirmu, tapi jangan menjadikan itu sebagai beban untukmu, fokus saja pada apa yang ada di hadapanmu, aku yakin kau bisa menyelesaikannya dengan baik," ucap Rafa sebelum Tiara keluar dari mobilnya.


Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu keluar dari mobil Rafa. Tiara kemudian membawa langkahnya masuk ke dalam kamarnya dan menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya.


"Aku harus mempersiapkan diriku dengan lebih baik lagi, aku tidak tahu apa yang akan terjadi nanti tapi kali ini aku tidak akan mengecewakan siapapun lagi, bahkan diriku sendiri," ucap Tiara dalam hati lalu beranjak dari ranjangnya dan mengambil beberapa buku yang harus ia pelajari.


Tiarapun mulai fokus membaca dan mempelajari buku-buku miliknya. Namun entah kenapa ucapan Anna sedikit mengganggu pikirannya.


Meskipun ia sudah meyakinkan dirinya bahwa hubungannya dengan Rafa hanyalah sebatas karyawan dengan atasan, namun ada sesuatu dalam hatinya yang membuatnya merasa tidak nyaman.


"Fokus Tiara, besok adalah kesempatan terakhirmu, kau harus bisa mengerjakannya dengan jauh lebih baik!" ucap Tiara berusaha menyemangati dirinya sendiri.


**


Saat ia tengah memakan roti itu ia teringat roti yang ia makan bersama Dita sebelum ia melakukan tes terakhirnya beberapa hari yang lalu.


"Sebenarnya apa yang membuatku pingsan kemarin? aku hanya memakan roti pemberian Dita dan tidak memakan apapun sebelum dan setelahnya, aku juga merasa baik-baik saja sebelumnya, tapi kenapa aku pingsan? rasanya tidak mungkin jika aku kelelahan karena aku sama sekali tidak merasakan hal itu," batin Tiara bertanya dalam hati.


"Tidak mungkin karena roti yang aku makan bukan?" tanya Tiara dalam hati, namun ia segera menggelengkan kepalanya seolah menolak apa yang sedang ia pikirkan saat itu.


"Tidak mungkin, jelas aku tahu roti pemberian Dita adalah roti coklat dan aku sama sekali tidak bermasalah dengan coklat," ucap Tiara dalam hati sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan.


"Sudahlah tidak perlu memikirkannya lebih jauh, aku hanya perlu fokus pada tes ku kali ini, ini adalah kesempatan terakhir untukku jadi aku harus mempersiapkannya dengan baik," ucap Tiara sambil menyeruput susu coklat yang di bawanya.


Tiarapun sampai di perusahaan X satu jam sebelum tesnya dimulai. Tiara sengaja menunggu di depan ruangan tempat tesnya dilaksanakan. Ia tidak ingin terlambat dan melakukan kesalahan tanpa ia sengaja untuk kedua kalinya.


Saat yang ia tunggupun tiba, saat di mana ia dihadapkan pada beberapa lembar persoalan yang harus ia cari tahu penyelesaiannya.


"Ini berbeda dari yang sebelumnya, aku harus membuktikan pada mereka semua bahwa aku layak menjadi bagian dari perusahaan ini," batin Tiara dalam hati.


Menit demi menit pun berlalu Tiara, berhasil menyelesaikan tes tulisnya dan berlanjut untuk tes keduanya yaitu interview yang sebelumnya gagal ia lakukan karena ia pingsan pada 15 menit pertama interviewnya.


Tiara dihadapkan oleh beberapa tim dari HRD yang memberinya banyak pertanyaan namun bisa dengan mudah dia jawab.


Tiara cukup percaya diri dalam menjawab semua pertanyaan itu, ia tidak hanya mempelajari banyak hal tetapi juga melatih mentalnya agar bisa tetap fokus dalam menjawab pertanyaan yang diajukan oleh tim HRD.


Meskipun terkadang ada beberapa pertanyaan yang menjebak dan mengecoh fokusnya, namun Tiara tetap bisa menjawabnya dengan baik.


Sampai akhirnya interview pun selesai dan Tiara dipersilahkan untuk pulang sembari menunggu hasil dari tes yang baru saja dilakukannya


Tiara berjalan meninggalkan ruangan itu dengan penuh percaya diri, setidaknya ia sudah melewati tes terakhirnya, apapun hasilnya nanti ia akan menerimanya tanpa ada rasa kecewa dalam dirinya.


Tiara merasa sudah menjalani seluruh tes dengan baik dan jika memang hasil yang ia dapatkan tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan, maka itu artinya takdir belum berpihak padanya dan ia akan melanjutkan niatnya untuk melamar pekerjaan di perusahaan lain.

__ADS_1


Saat berjalan di lobby Tiara membawa pandangannya ke sekelilingnya karena ia sama sekali tidak bertemu dengan Putra hari itu.


"Rasanya aneh karena tidak bertemu kak Putra, biasanya aku selalu bertemu kak Putra setiap aku datang kesini," ucap Tiara dalam hati.


**


Hari telah berganti, namun Tiara belum juga mendapat kabar tentang hasil dari tes terakhirnya.


Namun Tiara tidak terlalu memikirkannya karena ia sudah lebih bisa menerima apapun yang akan terjadi padanya, entah dia akan lolos atau tidak.


Siang itu Tiara sedang bersama Rafa di ruangan Rafa untuk membahas tentang menu baru mereka.


"Potongan strawberry di dalamnya akan membuat minuman ini semakin terasa segar pak," ucap Tiara menjelaskan ide barunya.


"Tetapi jika potongannya sebesar ini sepertinya akan cukup mengganggu, bagaimana jika kita buat potongannya menjadi lebih kecil lagi, sepertinya itu akan lebih nyaman untuk diminum," balas Rafa.


"Tiara setuju, yang penting masih ada tekstur dari buah strawberry asli," ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalnya membuat Tiara segera menerima panggilan itu dan benar saja itu adalah panggilan dari tim HRD yang menghubunginya untuk memberikan hasil dari tes terakhirnya.


Untuk beberapa saat Tiara terdiam mendengar penjelasan dari tim HRD sampai akhirnya panggilan berakhir dan sebuah pesan masuk yang mengharuskan Tiara untuk membuka link yang ada pada pesan itu.


Link itu mengarah pada website perusahaan X yang artinya Tiara sudah dinyatakan lolos dan resmi menjadi bagian dari perusahaan X untuk 3 bulan ke depan sebelum ia mendapatkan kontrak resmi dari perusahaan.


"Ada apa Tiara?" tanya Rafa yang melihat Tiara hanya terdiam menatap layar ponselnya.


Tiara kemudian membawa pandangannya pada Rafa dengan kedua mata yang berkaca-kaca tanpa mengatakan apapun.


"Ra jangan membuatku khawatir, apa yang terjadi?" ucap Rafa sekaligus bertanya namun Tiara masih terdiam dengan kedua mata yang sudah digenangi oleh air mata.


Rafa kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Tiara yang duduk di depan mejanya.


"Katakan padaku apa yang terjadi Tiara!" ucap Rafa yang mulai panik.


Tiarapun beranjak dari duduknya lalu memeluk Rafa yang berdiri di hadapannya. Kedua tangannya mendekap Rafa dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya.


"Jangan membuatku khawatir Tiara, katakan padaku apa yang terjadi," ucap Rafa yang masih mengkhawatirkan sikap Tiara.


Tiara kemudian melepaskan pelukannya pada Rafa dan membawa pandangannya menatap Rafa yang tampak khawatir saat itu.


"Tiara berhasil kak, Tiara lolos!" ucap Tiara dengan suara bergetar.


Rafapun bernafas lega dan tersenyum senang mendengar apa yang Tiara katakan. Rafa kemudian meraih Tiara ke dalam dekapannya memeluknya dan mengusap kepalanya dengan lembut.


"Aku tahu kau akan berhasil Tiara, aku tahu!" ucap Rafa yang merasa begitu bangga pada Tiara.


Di sisi lain, Maya yang baru saja sampai di kafe kedua Rafa segera keluar dari mobilnya dan membawa langkahnya masuk ke dalam kafe.


Maya berjalan tanpa ragu melewati batas yang tidak seharusnya dimasuki oleh orang lain selain karyawan karena Maya yakin jika Rafa ada di dalam setelah dia melihat mobil Rafa yang terparkir di depan kafe.


Dengan cepat Chikapun menghadang Maya dan menanyakan apa keperluan Maya dengan sopan.


"Maaf, selain karyawan dilarang masuk, apa ada yang bisa saya bantu?" ucap Chika sekaligus bertanya pada Maya.


"Aku ingin bertemu Rafa, dia ada di dalam bukan?" jawab Maya.


"Pak Rafa ada di dalam, mohon tunggu sebentar saya akan memanggil Pak Rafa terlebih dahulu," ucap Chika.


"Tidak perlu, aku akan menemuinya sendiri," ucap Maya lalu berjalan masuk melewati Chika begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2