
Tiara keluar dari ruangan rektor dengan raut wajah yang tampak kesal. Ia tidak menyangka jika Rafa harus keluar dari kampus hanya karena Rafa membantunya saat pingsan.
"Kenapa Pak Rafa hanya diam? kenapa Pak Rafa tidak membela diri?" tanya Tiara pada Rafa yang berjalan di sampingnya.
"Memang sudah peraturannya seperti itu Tiara, kau jangan terlalu memikirkannya, kau hanya perlu fokus pada skripsimu," balas Rafa.
"Tiara minta maaf Pak, gara-gara Tiara pak Rafa dikeluarkan dari kampus seperti ini," ucap Tiara yang merasa bersalah.
"Ini bukan kesalahanmu Ra, lupakan saja masalah ini dan kerjakan skripsimu dengan baik bersama dosen pembimbingmu yang baru," balas Rafa.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, dalam hatinya ia masih merasa bersalah pada Rafa.
Sepeninggalan Rafa, Tiara segera menemui dosen pembimbing barunya. Sebelum ia mendapatkan pekerjaan ia akan melanjutkan mengerjakan skripsinya bersama dosen pembimbing barunya meskipun ia tahu bahwa pada akhirnya nanti ia tidak akan melanjutkan skripsinya.
Namun setelah beberapa lama menunggu, dosen pembimbing barunya tidak kunjung datang. Tak lama kemudian sebuah pesan masuk di ponsel Tiara yang memberitahunya bahwa dosen pembimbingnya yang baru membatalkan janji untuk melakukan bimbingan skripsi hari itu.
Tiara hanya bisa mendengus kesal lalu berjalan keluar meninggalkan kampusnya. Tiara duduk di halte beberapa lama sampai bus yang ditunggunya tiba.
Tiara kemudian menaiki bus yang akan membawanya ke kafe. Sesampainya di kafe Tiara segera membawa langkahnya masuk dan menghampiri Chika yang sedang bekerja saat itu.
"Sepertinya kau tidak sedang beruntung hari ini," ucap Cika pada Tiara.
"Kenapa kau berkata seperti itu?" tanya Tiara.
"Pak Rafa baru saja pergi sebelum kau datang," jawab Chika sambil membuat minuman pesanan pelanggan.
"Aku kesini bukan untuk bertemu pak Rafa, lagi pula aku sudah bertemu Pak Rafa di kampus," ucap Tiara.
Tiara kemudian mengalihkan fokusnya pada seorang karyawan lain yang saat itu tengah berkutat dengan beberapa kertas di hadapannya.
kertas itu bertuliskan lowongan pekerjaan yang membuat Tiara membulatkan matanya.
"Apa disini sedang mencari karyawan baru?" tanya Tiara pada Chika.
"Iya, Pak Rafa baru saja memutuskan untuk menambah karyawan baru," jawab Chika.
"Apa saja persyaratannya? apa aku bisa melamar bekerja disini?" tanya Tiara penuh semangat.
Chika kemudian mengambil salah satu kertas itu dan memberikannya pada Tiara.
"Apa kau serius ingin bekerja disini? bagaimana dengan kuliahmu? bukankah kau sedang sibuk dengan skripsimu?" tanya Chika meragukan Tiara.
"Aku berencana untuk menunda skripsiku, aku akan fokus bekerja dan mengumpulkan uang lalu melanjutkan skripsiku," jawab Tiara yang membuat Chika begitu terkejut.
"Kenapa kau menunda skripsimu? apa ada masalah yang sangat serius yang membuatmu harus menunda skripsimu?" tanya Chika.
"Mungkin suatu saat nanti aku akan menceritakannya padamu, tapi yang pasti aku sedang membutuhkan pekerjaan saat ini," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan Chika.
"Kau bisa membuat surat lamarannya sekarang juga, aku akan menyerahkannya pada Pak Rafa saat Pak Rafa kembali kesini," ucap Chika.
"Baiklah, aku akan membuatnya sekarang," ucap Tiara penuh semangat lalu segera duduk di tempat yang sering ia tempati.
Tiara kemudian membuat surat lamaran pekerjaan, membuat daftar riwayat hidup dan segala hal yang ia perlukan untuk melamar pekerjaan di kafe milik Rafa.
Setelah menyiapkan semuanya yang ia perlukan, Tiarapun memasukkannya ke dalam amplop coklat lalu memberikannya pada Chika.
"Semoga pak Rafa bisa menerimaku," ucap Tiara penuh harap.
"Aku 100% yakin jika Pak Rafa akan menerimamu," balas Chika penuh keyakinan.
"Semoga saja," ucap Tiara dengan senyum mengembang di bibirnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore, Tiarapun memutuskan untuk meninggalkan kafe. Tiara menaiki bus yang membawanya pulang ke rumah Kevin.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering sebuah panggilan dari Kevin.
"Halo Ra, kau dimana?" tanya Kevin.
"Aku ada di bus, sebentar lagi akan sampai di rumahmu," jawab Tiara.
"Baiklah, aku akan pulang sekarang," ucap Kevin lalu mengakhiri panggilannya.
__ADS_1
Saat Tiara sudah sampai di depan rumah Kevin, tak lama kemudian Kevinpun datang.
"Aku sudah mendengar apa yang terjadi pada Pak Rafa," ucap Kevin pada Tiara sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Aku sudah berusaha menjelaskan apa yang terjadi saat itu, tapi rektor sama sekali tidak mendengarkan penjelasanku," balas Tiara.
"Lalu bagaimana denganmu sekarang? apa kau sudah mendapat dosen pembimbing baru?" tanya Kevin.
"Ada atau tidaknya dosen pembimbing baru tidak menjadi masalah untukku Kevin, lagi pula sebentar lagi aku akan benar-benar meninggalkan dunia kampus," jawab Tiara yang membuat Kevin hanya menghela nafasnya karena ia tidak berhasil membuat Tiara merubah keputusannya
**
Di tempat lain, mama Laras yang baru saja pulang dari luar kota begitu terkejut karena Tiara yang sudah pergi dari rumah.
"Kenapa kau tidak mencegahnya Gita? apa yang sebenarnya terjadi? apa yang membuatnya pergi dari rumah?" tanya Mama Laras pada Gita.
"Gita sudah tidak tahan lagi ma, Gita melihat dengan mata kepala Gita sendiri bagaimana hubungan Tiara dan Bima di belakang Gita," jawab Gita.
"Bukankah kau sudah tahu dari dulu, kenapa kau baru mempermasalahkannya sekarang?" tanya Mama Laras yang tampak emosi saat itu.
"Gita sedang mengandung anak Bima sekarang, Gita tidak ingin perhatian dan cinta Bima terbagi, lagi pula Gita sudah lelah bersandiwara di depan Tiara," jawab Gita.
"Sejak kapan kau memikirkan tentang cinta, kau bahkan tahu bahwa sejak awal Bima tidak mencintaimu dan kaupun tidak mencintai Bima!"
"Kenapa mama marah seperti ini, bukankah ini yang mama mau? Tiara sudah pergi dari rumah ini karena keinginannya sendiri," tanya Gita yang tidak mengerti dengan sikap sang mama yang marah padanya.
"Kau jangan bodoh Gita, kita masih membutuhkan Tiara disini, sebelum dia lulus dari kuliahnya dia harus tetap berada di rumah ini agar kita bisa mendapatkan seluruh harta warisannya," ucap Mama Laras.
"Bukankah Mama sudah berhasil merebutnya?" tanya Gita.
"Aaaaarrrghhh sudahlah, percuma menjelaskannya padamu, kau tidak akan mengerti, sekarang kau harus mencari Tiara dan kembalikan dia ke rumah ini!" ucap Mama Laras lalu berjalan masuk ke kamarnya dengan penuh emosi.
"Gita tidak mungkin meminta Tiara kembali kesini ma, dia sudah tahu tentang sandiwara kita selama ini, jadi dia tidak mungkin kembali lagi kesini," ucap Gita.
"Mama tidak mau tahu lagi Gita, terserah apa yang akan kau lakukan mama hanya mau Tiara kembali ke rumah ini," balas Mama Laras tidak peduli.
"Tapi ma....."
Gita yang berada di depan kamar sang mama hanya terdiam. Hatinya terasa sakit mendengar apa yang baru saja mamanya katakan.
"Mama tidak pernah tahu apa yang sebenarnya Gita rasakan selama ini, yang mama pedulikan hanyalah harta tanpa mama peduli bagaimana perasaan Gita," ucap Gita dalam hati lalu membawa langkahnya berjalan ke arah kamarnya.
Gita menutup pintu kamarnya dengan kencang lalu berdiri menatap pantulan dirinya di depan cermin riasnya.
"Gita lelah dengan semua ini ma, Gita membenci Tiara, Gita membenci papa dan Gita membenci mama," ucap Gita dalam hati dengan air mata yang mulai menetes di pipinya.
Gita kemudian memporak-porandakan semua barang yang ada di atas meja riasnya.
"Aaarrrgghhh!!!"
Gita berteriak meluapkan semua kekesalan yang terpendam dalam dirinya.
Tak lama kemudian Bimapun datang dan begitu terkejut karena melihat kamarnya yang tampak berantakan dengan Gita yang menangis di sudut kamar.
"Apa yang terjadi Gita? kenapa kau seperti ini?" tanya Bima sambil membantu Gita untuk duduk di atas ranjang.
"Berhenti berpura-pura Bima, kau sama liciknya denganku, kau hanya menikahiku demi tujuanmu sendiri," ucap Gita tanpa membawa pandangannya pada Bima.
"Bukankah kau tahu itu dari awal dan kaupun tidak mempermasalahkannya bukan?"
"Pada awalnya aku memang tidak mempermasalahkannya, tetapi sekarang aku sudah mengandung anakmu Bima, apa kau tidak bisa sedikit saja mencintaiku?" ucap kita sekaligus bertanya dengan menatap kedua mata Bima.
"Kau tidak bisa memaksa seseorang untuk mencintaimu, walaupun kau sedang mengandung anakku bukan berarti aku bisa mencintaimu seperti yang kau mau," balas Bima lalu beranjak dari duduknya namun segera ditahan oleh Gita.
"Kau mau pergi kemana? apa kau benar-benar tidak peduli padaku?"
"Aku sudah berusaha peduli padamu, aku juga sudah berusaha untuk bersikap baik padamu, tetapi kau membuatku muak dengan semua drama ini," jawab Bima lalu melepaskan tangannya dengan kasar dari genggaman tangan Gita, kemudian berjalan keluar dari kamarnya meninggalkan Gita begitu saja.
Saat Bima akan keluar dari rumah, mama Laras memanggil Bima, membuat Bima menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Mama Laras yang berdiri di belakangnya.
"Mama tahu kau tidak mencintai Gita, tapi setidaknya perlakukan dia dengan baik karena dia sedang mengandung anakmu, bukankah kau tidak akan mendapatkan apa yang kau mau jika Gita tidak berhasil melahirkan anakmu?"
"Tolong jangan mencampuri masalah keluarga Bima dan Gita ma, biarkan ini menjadi masalah kita berdua," balas Bima.
__ADS_1
"Jika memang menurutmu Mama mencampuri masalah keluargamu dengan Gita sudah sejak lama Mama memberitahu keluargamu tentang bagaimana hubunganmu dengan Tiara yang sebenarnya," ucap Mama Laras yang membuat Bima begitu terkejut.
"Kau tidak perlu terkejut seperti itu, sudah lama Mama mengetahuinya, Mama juga sudah memaksa Tiara untuk menjauhimu tetapi sepertinya kalian berdua memang susah untuk dipisahkan jadi Mama sengaja memintamu untuk tinggal disini agar Mama dan Gita lebih bisa mengawasi kalian berdua," lanjut Mama Laras.
"Apa yang terjadi antara Gita dan Bima sama sekali tidak ada hubungannya dengan Tiara, jadi Mama jangan membawa Tiara dalam masalah ini!" ucap Bima memperingatkan.
"Sebenarnya mama tidak peduli bagaimana hubunganmu dengan Tiara asalkan kau tetap menjadi suami yang baik untuk Gita, tetapi jika kau terus bersikap seperti ini rasanya Mama tidak akan tinggal diam," balas Mama Laras dengan tersenyum tipis.
Bima hanya terdiam tanpa mengatakan apapun, ia tidak menyangka dirinya akan berada di posisi yang sulit saat itu.
"Mama dan papamu pasti akan sangat marah jika mereka tahu bagaimana hubunganmu dengan Tiara dan mereka juga tidak akan membiarkan Tiara menjalani hidupnya dengan bahagia jika mereka tahu bahwa Tiaralah yang membuat hubunganmu dengan Gita hancur," lanjut Mama Laras lalu berjalan pergi begitu saja meninggalkan Bima yang masih berdiri terpatung di tempatnya.
**
Waktu berlalu, hari telah berganti. Tiara menggeliat di kasurnya untuk beberapa saat sebelum ia mengambil ponsel yang ada di dekatnya.
Tiara begitu terkejut saat melihat sebuah pesan masuk dari Rafa.
"Jika kau tidak ada jadwal bimbingan skripsi datanglah ke kafe pagi ini!"
Tiara segera mengucek matanya beberapa kali untuk memastikan apa yang baru saja dibacanya.
"Kenapa Pak Rafa memintaku datang ke kafe? apa Pak Rafa sudah menerima surat lamaranku?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Seketika Tiara segera melompat dari ranjangnya lalu mandi dan bersiap untuk segera pergi ke kafe.
Saat Tiara baru saja berlari keluar dari rumah, Kevin memanggilnya.
"Tunggu Ra!" ucap Kevin yang membuat Tiara menghentikan langkahnya.
"Aku tidak berangkat ke kampus Kevin, aku harus menemui seseorang," ucap Tiara pada Kevin.
"Kau akan pergi ke mana Ra? apa kau tidak ada bimbingan skripsi hari ini?" tanya Kevin.
"Tidak ada, aku akan menceritakannya padamu nanti," jawab Tiara setengah berteriak sambil berlari keluar dari rumah Kevin.
Dengan penuh semangat Tiara berjalan ke arah halte dan menunggu bus yang akan membawanya ke kafe.
Tepat pada 08.00 pagi Tiara sudah sampai di kafe. Tiara kemudian mengirimkan pesan pada Rafa, memberitahu Rafa bahwa ia sudah berada di kafe.
"Masuk saja, saya menunggumu di dalam!" balas Rafa.
Tiara kemudian membawa langkahnya masuk, matanya berkeliling mencari keberadaan Rafa, namun ia tidak bisa menemukan Rafa di antara salah satu pengunjung yang ada di kafe itu.
"Masuklah, Pak Rafa sudah menunggumu!" ucap salah seorang karyawan pada Tiara.
"Masuk?" tanya Tiara memastikan.
"Iya, Pak Rafa menunggumu di ruangannya, ayo aku akan mengantarmu!" jawab karyawan itu.
"Aahh iya," balas Tiara kemudian berjalan mengikuti karyawan itu.
Tiara mengetuk pintu beberapa kali lalu masuk dan mendapati Rafa yang tengah duduk di dalam ruangannya.
"Duduklah!" ucap Rafa.
Tiarapun membawa langkahnya duduk di depan Rafa.
"Apa ini?" tanya Rafa sambil menaruh surat lamaran milik Tiara di meja.
"Itu surat lamaran Tiara pak, apa Pak Rafa sudah membacanya?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Saya tidak akan memanggilmu kesini jika saya belum membacanya, Chika memberitahu saya bahwa kau akan menunda skripsimu, apa benar seperti itu?"
"Iya Pak, untuk sementara Tiara akan menunda skripsi, Tiara akan fokus bekerja dengan baik disini, Tiara akan...."
"Siapa yang menerimamu bekerja disini?" tanya Rafa memotong ucapan Tiara.
"Maksud Pak Rafa? apa Pak Rafa memanggil Tiara kesini bukan untuk interview?" tanya Tiara.
"Kenapa kau menunda skripsimu Tiara? tidak akan lama lagi kau akan wisuda dan meraih gelar yang selama ini kau cita-citakan, apa yang membuatmu menyerah pada skripsimu?" tanya Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.
Tiara terdiam beberapa saat, ia ragu apakah ia harus menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada Rafa atau ia hanya perlu diam tanpa menjawab pertanyaan Rafa.
__ADS_1