
Tiara masih berada di ruangan Rafa, ia masih berusaha meyakinkan Rafa agar Rafa memperbolehkannya menemui Bima. Bukan karena Tiara masih memiliki perasaan pada Bima, tapi karena Tiara tidak ingin Bima terus-menerus mengganggu Rafa ataupun teman-temannya yang lain.
"Tiara tidak bisa lari dari masalah ini kak, Tiara harus menghadapinya dan menyelesaikannya, apapun konsekuensinya," ucap Tiara.
"Tapi menemuinya bukan solusi yang baik Tiara, kau hanya akan membuatnya semakin senang karena dia berpikir jika kau masih mempedulikannya," balas Rafa.
"Tiara mohon percayalah pada Tiara kak, hanya kali ini saja, Tiara tidak akan menemui kak Bima lagi setelah ini," ucap Tiara memohon pada Rafa.
"Bagaimana jika ternyata dia mencarimu karena perintah mama tirimu? bagaimana jika ternyata mereka merencanakan sesuatu yang buruk padamu? apa kau tidak memikirkan hal itu?" tanya Rafa yang memikirkan kemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi.
"Tiara akan menemui kak Bima di tempat umum, jadi tidak mungkin kak Bima melakukan sesuatu yang buruk pada Tiara, kak Rafa tenang saja Tiara pasti bisa menjaga diri dengan baik," balas Tiara berusaha meyakinkan Rafa.
Rafa menghela nafasnya kasar menundukkan kepalanya dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"kenapa kau sangat ingin menemuinya Tiara? apa kau sudah merindukannya? apa kau ingin memastikan kembali tentang perasaanmu padanya?" batin Rafa bertanya dalam hati.
Ada sebuah ketakutan dalam hatinya jika tiba-tiba saja Tiara kembali luluh dan benar-benar kembali pada Bima.
Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, tetapi Rafa bisa melihat dengan jelas bahwa masih ada sisa rasa dalam hati Tiara untuk Bima yang merupakan cinta pertamanya.
"Tiara mengatakan hal ini pada kak Rafa karena selama ini kak Rafa sudah banyak membantu Tiara, tapi Tiara minta maaf jika Tiara akan tetap menemui kak Bima walaupun kak Rafa melarangnya," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya kemudian berjalan keluar dari ruangan Rafa.
"Entah kak Rafa setuju atau tidak tapi aku akan tetap menemui kak Bima, aku harus menyelesaikan masalah ini dan berhenti bersembunyi dari kak Bima, ini tidak hanya demi diriku sendiri tapi juga demi kak Rafa dan yang lainnya, aku tidak akan membiarkan kak Bima mengganggu kak Rafa dan teman-temanku yang lain," ucap Tiara dalam hati lalu berjalan keluar dari kafe.
Di sisi lain, Rafa mengacak-acak rambutnya kesal, ia tidak tahu apa yang sedang ia pikirkan saat itu.
Cemburu? khawatir? semua rasa tidak nyaman itu seolah mengusik dirinya saat Tiara berkata jika ia ingin menemui Bima.
"aku tidak boleh egois, aku tidak boleh kekanak-kanakan seperti ini," ucap Rafa dalam hati lalu segera beranjak dari duduknya dan berlari keluar mengejar Tiara.
Beruntung Tiara masih berjalan di depan kafe, Rafapun segera berlari dan menahan tangan Tiara.
"Aku akan menemanimu!" ucap Rafa dengan menatap kedua mata Tiara yang terkejut dengan kedatangan Rafa yang tiba-tiba.
"Menemani Tiara?" tanya Tiara tak mengerti.
"Iya, aku akan menemanimu menemui Bima, aku tidak mungkin membiarkanmu bertemu Bima sendirian Tiara!" ucap Rafa memperjelas perkataannya.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum senang.
"Kapan kau akan bertemu dengannya?" tanya Rafa sambil melepaskan tangan Tiara darinya.
"Bagaimana jika kak Rafa saja yang menentukan waktunya, karena Tiara tetap tidak ingin kak Bima memiliki kontak Tiara!"
"Baiklah, aku akan mengabarimu nanti!" ucap Rafa.
"Terima kasih kak," ucap Tiara yang hanya dibalas senyum oleh Rafa.
"Pulanglah, kau harus beristirahat!" ucap Rafa sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu berjalan pulang meninggalkan kafe, sedangkan Rafa masih berdiri di tempatnya menatap Tiara yang berjalan semakin jauh darinya.
"mungkin memang lebih baik seperti ini, aku harap kau bisa tegas pada Bima, aku harap kau tidak akan luluh pada semua ucapan manisnya yang busuk," ucap Rafa dalam hati.
Rafa menghela nafasnya panjang lalu berjalan masuk ke dalam kafe saat Tiara sudah tidak tampak lagi di matanya.
Waktupun berlalu, langit senja mulai gelap bersamaan dengan perginya matahari dan kembalinya sang bulan.
Tidak seperti biasanya hari itu Rafa memilih pulang lebih cepat dari biasanya. Namun tiba-tiba sebuah mobil melaju tak terkendali dan menabrak mobil Rafa yang masih terparkir di depan kafe.
Rafapun segera berlari ke arah si pengendara mobil yang menabrak mobilnya dan mendapati seorang anak laki-laki yang tampak belum cukup umur dan dalam keadaan mabuk duduk di balik kemudi.
Rafa segera menghubungi polisi untuk membantunya menyelesaikan masalah itu karena anak laki-laki yang tengah mabuk itu benar-benar tidak bisa diajak bicara dengan baik.
Alhasil Rafapun tidak bisa pulang dengan menggunakan mobilnya. Rafa memesan taksi yang akan mengantarnya pulang.
Sesampainya di rumahnya, Rafa mendapati sebuah mobil yang terparkir di depan gerbang rumahnya.
Rafa mengingat mobil itu, mobil itu adalah mobil laki-laki yang pernah mengantar Maya pulang, laki-laki yang juga pernah Rafa temui bersama Maya di hotel.
Namun Rafa tidak terlalu mempedulikannya, ia berjalan masuk ke dalam rumahnya begitu saja.
__ADS_1
Baru saja Rafa membuka pintu utama rumahnya, ia sedikit terkejut melihat apa yang terjadi di ruang tamu rumahnya.
Untuk beberapa detik ia melihat Maya yang tampak tengah berciuman dengan laki-laki pemilik mobil yang ada di depan rumahnya.
Melihat Rafa yang tiba-tiba datang, Mayapun segera mendorong laki-laki itu dan mengalihkan pandangannya karena gugup.
"Siapa dia?" tanya laki-laki itu pada Maya.
"Pulanglah, aku akan menjelaskannya padamu nanti," ucap Maya tanpa menjawab pertanyaan laki-laki itu.
Rafa hanya tersenyum tipis lalu berjalan masuk ke kamarnya. Sedangkan Maya segera menarik tangan laki-laki itu untuk diajak keluar dari rumahnya.
"Apa kau bisa mengendarai mobil? sepertinya kau cukup mabuk," tanya Maya pada laki-laki itu.
"Tenang saja, aku masih bisa mengendalikannya," jawabnya lalu memeluk Maya sebelum ia meninggalkan Maya.
Setelah laki laki itu pergi, Maya segera menghampiri Rafa. Ia mengetuk pintu kamar Rafa berkali kali namun tidak kunjung terbuka karena Rafa sedang mandi saat itu.
Ia juga tidak bisa membukanya sendiri karena Rafa selalu mengunci kamarnya.
Setelah beberapa lama menunggu akhirnya Maya melihat Rafa keluar dari kamar dan berjalan ke arah dapur untuk mengambil minum.
"Aku pikir kau pulang malam seperti biasanya," ucap Maya yang tidak diindahkan oleh Rafa.
"Apa tidak ada yang ingin kau tanyakan padaku?" lanjut Maya bertanya dengan hati hati.
Rafa hanya menggelengkan kepalanya lalu membuka pintu kamarnya, namun Maya segera menahan Rafa sebelum Rafa menutup pintu kamarnya.
"Dia teman lama sekaligus klienku, dia...."
"Kau tidak perlu menjelaskannya padaku, lagipula aku tidak peduli apa hubunganmu dengannya," ucap Rafa memotong ucapan Maya lalu menutup pintu kamarnya.
"Teman lama? klien? alasan klise," ucap Rafa dengan tersenyum tipis.
**
Hari telah berganti, Tiara dan Chika berjalan ke arah kafe, bersiap untuk memulai hari mereka di kafe seperti biasa.
"Tiara, apa kau marah padaku?" tanya Chika pada Tiara saat mereka tengah menyusuri trotoar untuk sampai ke kafe.
"Tentang pesan Ana yang kau baca di hpku, Ana sudah menceritakannya padaku," ucap Chika.
"Aaahh tentang itu, aku tidak bermaksud lancang membaca pesan itu, aku hanya tidak sengaja melihatnya saat kau menaruh hpmu di depanku," ucap Tiara.
"Aku tidak mempermasalahkannya, justru aku tidak ingin kau salah paham tentang hal itu!"
"Tenang saja, aku mengerti, kalian sengaja tidak memberitahuku demi kebaikanku juga bukan?"
"Iya, meskipun aku tidak mengenal laki laki itu, tapi aku yakin dia bukan laki laki yang baik, apa aku salah?"
"Tidak, kau tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar," jawab Tiara.
"Apa maksudnya?"
Tiara tersenyum lalu mengambil ponselnya untuk melihat jam.
"Masih ada waktu 30 menit," ucap Tiara lalu menarik tangan Chika, mengajaknya duduk di kursi yang ada di trotoar.
Tiara dan Chika memang terbiasa berangkat ke kafe lebih awal dari jadwal yang seharusnya, jadi mereka masih memiliki waktu setengah jam sebelum jam kerja mereka dimulai.
"Namanya kak Bima, dia tetangga sekaligus dosenku di kampus," ucap Tiara memulai ceritanya.
Ia merasa sudah saatnya ia menceritakan sebagian dari cerita hidupnya pada Chika, teman terbaiknya selain Kevin.
"Dari kecil aku sudah dekat dengan kak Bima, bisa dibilang aku tumbuh besar bersama kak Bima sampai dia menganggapku adik, dia laki laki yang penyayang dan penuh perhatian, itu yang membuatku tanpa sadar jatuh cinta padanya, sampai akhirnya aku benar benar yakin kalau aku menyukainya lebih dari sekedar kakak," ucap Tiara bercerita.
"Apa dia juga juga menyukaimu? atau tetap menganggapmu adik?" tanya Chika.
"Aku tidak tau pasti bagaimana perasaannya yang sebenarnya, tapi setelah tanpa sengaja dia tau perasaanku padanya, dia juga mengungkapkan hal yang sama, tapi..... ada sesuatu yang tidak bisa aku ceritakan padamu, pada akhirnya dia mengecewakanku, dia menyakitiku, bahkan mungkin dia mempermainkanku," ucap Tiara dengan tersenyum hambar.
"Tapi kenapa dia masih mencarimu sekarang?" tanya Chika.
__ADS_1
"Aku tidak tau, dia selalu mempunyai alasan atas semua sikapnya yang mengecewakan dan menyakitiku, mungkin dulu aku akan mudah luluh, tapi sekarang tidak, aku membencinya, sangat membencinya," ucap Tiara dengan kedua mata yang berkaca-kaca, mengingat bagaimana sikap Bima padanya.
"Tapi aku tidak melihat kebencian di matamu," ucap Chika yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Tiara.
"Benarkah?" tanya Tiara dengan tersenyum tipis, senyum yang seolah mengejek dirinya sendiri.
"Jangan membohongimu dirimu sendiri Tiara, jika dia memang bukan laki laki yang baik, lupakan dia tanpa harus membencinya, karena jika kau memaksakan dirimu untuk membencinya maka semakin sulit untukmu melupakannya," ucap Chika.
"Aku sudah menjalani hampir seluruh hidupku bersama kak Bima, aku terbiasa dengan sikap manis, perhatian dan kasih sayangnya, terlalu banyak hal indah yang tidak akan mudah untuk aku lupakan, tapi bukan berarti aku masih mencintainya, justru hatiku terasa hambar sekarang," ucap Tiara.
"Buka hatimu untuk orang lain Tiara, biarkan lukamu disembuhkan oleh cinta yang baru," ucap Chika.
Tiara hanya tersenyum lalu beranjak dari duduknya.
"Ayo berangkat, kita masih punya waktu 10 menit," ucap Tiara lalu berjalan ke arah kafe diikuti oleh Chika.
"Apa kau baik baik saja?" tanya Chika pada Tiara saat mereka sudah sampai di halaman kafe.
"Tentu saja," jawab Tiara dengan senyum mengembang di wajahnya.
Chikapun ikut tersenyum lalu berlari mendahului Tiara.
"Kali ini kau harus mentraktirku!" ucap Chika dengan setengah berteriak yang membuat Tiara segera berlari mengikuti Chika.
Tiara dan Chikapun mulai mengerjakan pekerjaan mereka sampai jam kerja mereka selesai.
"Sepertinya pak Rafa tidak datang hari ini," ucap Chika yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Sejak pak Rafa sudah tidak menjadi dosen, waktunya semakin banyak dihabiskan di kafe, lumayanlah untuk penyegaran di kafe hehehe...." ucap Chika dengan tertawa kecil.
"Kalau mau lebih segar ditambah es hehehe...." balas Tiara.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa.
"Jika pekerjaanmu sudah selesai pulanglah, aku akan menjemputmu 1 jam lagi, kita akan bertemu Bima!"
Tiarapun membalas pesan Rafa dengan emoticon berbentuk jempol lalu segera mengajak Chika pulang.
Setelah mandi dan bersiap siap, Tiarapun menunggu Rafa di teras dan tak lama kemudian tampak mobil Rafa yang berhenti di depan gerbang.
Tiarapun segera beranjak dari duduknya dan masuk ke mobil Rafa.
"Dimana kita akan bertemu kak Bima kak?" tanya Tiara pada Rafa.
"Di kafe yang tidak jauh dari sini," jawab Rafa.
Setelah mereka sampai di tempat yang dituju, Tiara dan Rafapun masuk ke dalam kafe dan mendapati Bima yang sudah menunggu kedatangan mereka.
"Bisakah kau menunggu di tempat lain?" tanya Bima pada Rafa.
"Tidak," jawab Rafa singkat.
"Tapi...."
"Katakan saja apa maksud kak Bima ingin menemui Tiara," sahut Tiara memotong ucapan Bima.
"Aku ingin meminta maaf padamu Tiara, tentang apa yang terjadi sebelumnya, aku terpaksa melakukannya karena paksaan mama Laras, mama Laras memaksaku menuruti semua perintahnya agar mama Laras tidak semakin menyiksamu nantinya," ucap Bima menjelaskan.
"Tiara maafkan, apa ada yang lain?" balas Tiara.
"Jangan menjauhiku, aku benar benar tidak bisa tanpamu Tiara!" ucap Bima yang membuat Tiara tersenyum tipis.
"Menjauh atau tidak itu adalah hak Tiara sepenuhnya dan Tiara memilih untuk menjauh dari kak Bima bukan cuma karena kak Gita, tapi juga karena perasaan Tiara pada kak Bima sudah berubah, jadi Tiara mohon jangan pernah mengganggu Tiara lagi!"
"Tidak, kau berbohong, aku tau kau masih mencintaiku!" ucap Bima percaya diri.
"Memang tidak mudah untuk berhenti mencintai kak Bima, tapi sikap kak Bima sendiri yang membuat Tiara semakin yakin dan pada akhirnya berhasil membuat Tiara melupakan semua itu, kenangan, cinta, dan semua hal tentang kak Bima, Tiara sudah melupakannya," balas Tiara.
"Kau berbohong, kau tidak akan menemuiku jika kau sudah tidak mencintaiku!" ucap Bima tak percaya.
__ADS_1
"Tiara menemui kak Bima hanya untuk mengingatkan kak Bima agar jangan mencari Tiara lagi, apalagi sampai melakukan hal yang di luar batas pada semua orang terdekat Tiara, terutama kak Rafa," balas Tiara.
"Kenapa? apa karena kau mencintainya? apa karena kau tau dia menyukaimu?" tanya Bima yang membuat Tiara seketika terdiam.