
Rafa baru saja tiba di restoran tempat sang Mama mengundangnya untuk makan malam bersama pada hari ulang tahun mamanya.
Rafa segera memarkirkan mobilnya lalu berjalan ke arah pintu utama restoran itu bersama Maya.
"Setidaknya kau bisa memberikan sedikit senyummu pada mama hari ini," ucap Rafa pada Maya karena sedari tadi Maya hanya terdiam dengan raut wajah yang tampak kesal.
Maya tersenyum tipis, ia tahu apa yang harus ia lakukan agar Mama Rafa tidak mencurigai hubungannya dengan Rafa.
"Aku tahu apa yang harus aku lakukan Rafa, aku tidak sebodoh itu," ucap Maya.
"Jika kau memang tahu apa yang harus kau lakukan seharusnya kau tidak menghabiskan waktumu untuk mabuk!" balas Rafa.
"Tidak perlu sok peduli padaku, jalani saja kehidupanmu seperti sebelumnya tanpa menghiraukanku," ucap Maya.
"Jangan terlalu percaya diri, aku berkata seperti itu bukan karena aku peduli padamu, tapi karena aku tidak ingin mamamu dan mamaku berpikir bahwa aku bukan suami yang baik!"
"Haah memangnya selama ini kau suami yang baik?" balas Maya mengejek.
"Aku memang bukan suami yang baik untukmu, lalu kenapa kau tidak menggugatku saja?" ucap Rafa sekaligus bertanya yang membuat Maya terdiam.
"Itu karena aku masih membutuhkanmu, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja Rafa," ucap Maya dalam hati.
Baru saja Rafa dan Maya masuk, mereka melihat Putra di luar ruangan tempat dimana Mama Rafa mengadakan makan malam.
"Kenapa kau ada disini?" tanya Rafa pada Putra.
Karena Rafa dan Putra memang sudah berteman dekat sejak kecil, Putrapun sudah dianggap anak sendiri oleh orang tua Rafa. Meskipun pada kenyataannya Rafa dan Putra sedang tidak berhubungan baik sejak pertengkaran mereka di masa lalu.
"Kenapa kau baru datang? om dan tante baru saja pulang," balas Putra.
"Pulang? kenapa?" tanya Rafa terkejut.
"Tante Rossa tiba-tiba merasa pusing dan om Adam mengajak tante Rossa pulang," jawab Putra menjelaskan.
"Apa yang terjadi pada Mama Rossa? Mama Rossa baik-baik saja bukan?" tanya Maya yang tampak khawatir.
"Aku juga tidak tahu, tetapi Tante Rossa tidak ingin pergi ke rumah sakit dan memilih untuk pulang ke rumah, kalian bisa menghampiri tante Rosa di rumah jika memang mengkhawatirkan keadaan tante Rossa," jawab Putra.
Tanpa banyak bertanya lagi Rafapun segera membawa langkahnya pergi diikuti oleh Maya yang berlari kecil mengejar langkah Rafa yang terlalu cepat baginya.
Tak lama kemudian Tiarapun berjalan menghampiri Putra setelah dia menyelesaikan urusannya di toilet.
"Maaf membuat kak Putra menunggu, ayo kita pulang!" ucap Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Putra.
Merekapun berjalan keluar dari restoran itu berdua.
"Tunggu disini, aku akan mengambil mobil!" ucap Putra lalu berjalan ke arah tempat parkir, sedangkan Tiara menunggu Putra di depan pintu masuk restoran.
Saat Tiara tengah berdiri menunggu Putra, ia melihat mobil Rafa yang baru saja keluar dari area parkir.
"Itu seperti mobil kak Rafa, apa kak Rafa baru saja dari sini?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
TIIIIINNNN TIIIIINNNN
Suara klakson dari Putra membuat Tiara cukup terkejut lalu segera membawa langkahnya masuk ke dalam mobil Putra.
"Apa yang sedang kau lihat? sepertinya serius sekali!" tanya Putra yang melihat Tiara tampak serius memperhatikan sesuatu.
"Bukan apa-apa hehe....." jawab Tiara dengan menggelengkan kepalanya.
"Jadi bagaimana sekarang? apa kau mau pulang atau kita pergi ke tempat lain dulu?" tanya Putra pada Tiara.
"Kita langsung pulang saja kak, Tiara ingin beristirahat saja di rumah," jawab Tiara.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang," ucap Putra lalu mengendarai mobilnya ke arah rumah tempat tinggal Tiara.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Putrapun menghentikan mobilnya di depan rumah Tiara.
"Apa tidak ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku Tiara?" tanya Putra sebelum Tiara turun dari mobilnya.
"Terima kasih sudah mengantar Tiara pulang," balas Tiara.
"Bukan itu, tentang sesuatu yang terjadi di kantor, apa kau tidak ingin memberitahuku?" ucap Putra sekaligus bertanya.
Tiara menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum.
"Tidak terjadi apapun di kantor kak, kak Putra percaya saja Tiara pasti bisa menjaga profesionalisme Tiara di kantor, Tiara tidak akan mencampur aduk antara masalah pribadi dengan masalah di kantor," ucap Tiara yang seolah mengerti maksud dari pertanyaan Putra yang tertuju pada hubungannya dengan Dita.
"Kau bisa memberitahuku jika itu cukup mengganggumu, kau berhak mendapatkan kenyamanan di tempat kerjamu Tiara!" ucap Putra.
"Terima kasih kak, Tiara akan berusaha untuk mengatasinya sendiri, semakin banyak melibatkan kak Putra akan membuat berita tidak benar itu semakin tersebar luas," balas Tiara.
"Tapi itu tidak membuatmu menjauhiku bukan?" tanya Putra khawatir.
"Tentu saja tidak, kak putra adalah atasan Tiara di kantor jadi mana mungkin Tiara menjauhi kak Putra," jawab Tiara
"Baguslah kalau begitu, aku hanya tidak ingin kau menjauhiku karena hal itu," ucap Putra.
"Itu tidak akan terjadi kak, Tiara permisi," ucap Tiara lalu turun dari mobil Putra.
Setelah Putra meninggalkan rumah Tiara, Tiarapun masuk ke dalam rumahnya dan segera menjatuhkan dirinya di atas ranjang setelah ia berganti pakaian dan menghapus make up nya.
Sedangkan di sisi lain Putra bisa tersenyum lega karena Tiara tidak memilih untuk menjauhinya. Putra mengetahui bagaimana Dita berbicara buruk tentang hubungannya dengan Tiara yang tentu saja membuat Tiara dibicarakan oleh beberapa orang di kantor.
Beberapa dari mereka ada yang percaya tentang berita buruk itu, namun beberapa yang lain memilih untuk tidak menghiraukannya.
Sejak pertama kali Putra bertemu Tiara, ia merasa ada sesuatu yang menarik dari dalam diri Tiara. Ia tidak bisa menjelaskan dengan pasti apa yang membuatnya tertarik pada gadis cantik yang penuh semangat itu, tapi yang pasti ia merasa ingin selalu berada dekat dengan Tiara.
Meskipun begitu, Putra harus tetap bisa menjaga profesionalismenya di kantor agar tidak membuat suasana kantor menjadi tidak nyaman bagi Tiara dan juga dirinya.
Setelah Putra tahu tentang kabar buruk itu seketika Putra berpikir bahwa Tiara akan menjauhinya, namun ternyata Tiara tidak melakukan hal itu dan itu membuatnya bisa bernafas lega.
Namun masih ada satu hal yang mengganjal yaitu tentang dirinya yang membantu Tiara agar Tiara mendapatkan kesempatan kedua tanpa Tiara tahu.
Putra khawatir jika Tiara akan berpikir jika dia bisa mendapatkan kesempatan kedua karena bantuan Putra, bukan karena kemampuannya sendiri, Putra khawatir jika Tiara akan marah dan kecewa pada dirinya sendiri.
**
Di tempat lain, Rafa yang baru saja sampai di rumah orang tuanya segera berjalan masuk bersama Maya.
Rafa dan Maya segera membawa langkah mereka ke arah kamar mama dan papa Rafa. Tepat saat itu papa Rafa baru saja keluar dari kamar berniat untuk mengambilkan minuman untuk sang istri.
"Apa yang terjadi pada Mama pa? mama baik-baik saja bukan?" tanya Rafa pada sang papa.
"Masuklah!" ucap papa Rafa tanpa menjawab pertanyaan Rafa.
Rafa dan Mayapun segera membawa langkah mereka masuk ke dalam kamar dan mendapati mama Rafa sedang terbaring di ranjang.
"Mama, apa yang terjadi pada mama? apa Mama baik-baik saja?" tanya Rafa pada sang mama.
"Hanya sedikit pusing saja, tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mama," balas Mama Rafa.
"Apa tidak sebaiknya ke rumah sakit saja ma?" tanya Maya.
Mama Rafa menggelengkan kepalanya membawa pandangannya menatap Maya yang duduk di tepi ranjangnya.
Mendapat tatapan penuh intimidasi dari mama mertuanya membuat Maya cukup gugup, terlebih saat ia menyadari jika ia sudah berbohong pada Mama Rafa beberapa hari yang lalu.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Mama Rafa dengan masih menatap Maya.
"Apa maksud Mama? kenapa Mama tiba-tiba bertanya seperti itu pada Maya?" balas Maya bertanya.
"Jelaskan saja apa yang terjadi Maya, Mama tidak akan marah, Mama hanya ingin tahu apa yang membuatmu berbohong pada mama," ucap Mama Rafa yang membuat Rafa segera membawa pandangannya pada Maya karena Rafa sama sekali tidak tahu tentang kebohongan yang sudah Maya ucapkan pada sang mama.
"Kenapa Mama menganggap Maya berbohong?" tanya Maya yang masih tidak mengerti apa yang Mama Rafa ketahui.
"Ada apa ini sebenarnya? Kenapa Mama berkata seperti itu pada Maya?" tanya Rafa pada sang mama.
"Kau ingat saat mama ingin menemui Maya bukan? Mama mencium bau alkohol dari mulutnya dan dia berkata jika semalam dia mengadakan pesta kecil bersamamu dan kalian berdua minum cukup banyak alkohol, tapi mama tahu itu tidak mungkin karena mama melihatmu baik-baik saja pagi itu jadi Mama pastikan jika Maya sudah membohongi Mama," jawab Mama Rafa menjelaskan.
"Aaaahh tentang itu.... sebenarnya Maya tidak sepenuhnya berbohong ma, malam itu kita memang sedang mengadakan pesta kecil tapi Rafa sengaja membeli soda untuk Rafa sendiri dan Rafa sama sekali tidak meminum alkohol, mungkin karena Maya terlalu mabuk jadi dia mengira jika Rafa ikut minum alkohol malam itu," ucap Rafa beralasan.
Mama Rafa menghela nafasnya panjang seolah tidak bisa mempercayai ucapan Rafa begitu saja.
"Apa Mama tidak mempercayai Rafa?" tanya Rafa pada sang mama.
"Bukan maksud Mama tidak mempercayaimu Rafa, hanya saja mama merasa hubungan kalian berdua tidak benar-benar berjalan dengan baik, Mama merasa semua ucapanmu itu hanya alasan saja," balas Mama Rafa.
"Sudahlah ma, jangan berlebihan seperti itu, itu hanya pikiran Mama sendiri," sahut papa Rafa yang baru saja masuk ke dalam kamar.
"Hmmmm..... mungkin papa benar, kalian berdua pulang saja, Mama ingin segera beristirahat malam ini," ucap Mama Rafa lalu menarik selimut dan berbaring membelakangi Rafa dan Maya.
Rafa masih terdiam di tempatnya seolah tidak ingin meninggalkan sang Mama, sedangkan Maya segera beranjak dari duduknya dan keluar dari kamar Mama Rafa.
"Mama harus tahu jika Rafa sangat menyayangi mama, Rafa ingin melakukan apapun agar Mama bahagia tapi Rafa minta maaf jika sikap Rafa membuat Mama bersedih, selamat ulang tahun ma, semoga mama bisa menjalani kehidupan Mama dengan lebih bahagia," ucap Rafa sambil membelai rambut sang Mama dengan lembut lalu berjalan keluar meninggalkan kamar sang mama.
**
Hari-hari telah berganti, Tiara menjalani harinya sebagai pegawai dari perusahaan X dengan penuh semangat. Meskipun tidak jarang beberapa orang disana memandangnya sebelah mata karena berita tidak benar yang Dita sebarkan, namun Tiara memilih untuk mengabaikannya dan lebih fokus pada pekerjaan yang harus diselesaikan.
Tiara sama sekali tidak memperdulikan orang-orang yang berbicara buruk tentangnya di belakangnya.
Meskipun begitu, Tiara akan dengan jelas menyangkal siapapun yang berbicara langsung di hadapannya tentang hubungannya dengan Putra.
Bagaimanapun juga Tiara merasa harus tetap menjaga harga dirinya terlebih berita buruk itu menyangkut Putra, atasannya sekaligus seseorang yang cukup dekat dengannya di luar pekerjaan.
Hingga pada suatu hari Dita menemui Tiara bersama seseorang yang bekerja di divisi personalia untuk memberitahu Tiara jika Tiara mendapatkan kesempatan kedua karena bantuan Putra.
"Aku memang bekerja di divisi personalia dan aku mendengarnya sendiri bahwa Pak Adam yang meminta divisi personalia untuk kembali menghubungimu atas permintaan Pak Putra," ucap seseorang itu.
"Jadi sudah jelas bukan bahwa kau bisa kembali ke perusahaan ini karena kau memanfaatkan Pak Putra, karena kau tahu jika Pak Putra memang cukup dekat dengan Pak Adam," ucap Dita.
Tiara terdiam untuk beberapa saat, ia benar-benar tidak tahu jika ternyata Putra ikut andil dalam keberuntungannya mendapatkan kesempatan kedua untuk mengikuti tes terakhirnya.
"Kau beruntungan karena kau bisa memanfaatkan Pak Putra dan keberuntungan yang kau dapatkan itu membuatmu semakin terlihat sangat murahan," ucap Dita lalu berjalan pergi begitu saja.
"Kau salah Dita!" ucap Tiara yang membuat Dita menghentikan langkahnya dan membawa pandangannya pada Tiara.
"Aku bisa menjadi bagian dari perusahaan ini karena kemampuanku sendiri, aku bisa mengalahkanmu di divisi pemasaran karena kemampuanku, bukan karena bantuan Pak Putra," ucap Tiara dengan tegas.
"Hahaha.... terserah kau saja, tidak akan ada yang mempercayaimu sekarang," balas Dita lalu berjalan pergi begitu saja.
Saat Tiara kembali ke meja kerjanya, teman-teman Tiara segera mendatangi Tiara untuk menanyakan tentang gosip yang baru saja beredar.
"Jadi benar Pak Putra yang membantumu lolos tes terakhirmu?" tanya salah satu teman Tiara.
"Apa kalian semua juga berpikir seperti itu?" balas Tiara bertanya.
"Kami tahu bagaimana cara kerjamu dan hasil kerjamu selama ini, tetapi gosip itu berasal dari divisi personalia sendiri, jadi....."
"Jadi apa hanya karena Pak Putra membantu Tiara untuk mendapatkan kesempatan kedua itu artinya Pak Putra yang meloloskan Tiara? Tiara juga memiliki kemampuan Tiara sendiri kak, lolos atau tidaknya Tiara itu karena hasil tes Tiara bukan karena Pak Putra yang meloloskan Tiara," ucap Tiara memotong ucapan temannya.
__ADS_1
"Lebih baik kau tanyakan pada Pak Putra secara langsung, apakah benar Pak Putra yang membantumu untuk mendapatkan kesempatan kedua, bisa jadi seseorang dari personalia itu hanya mengarang cerita saja!" ucap teman Tiara yang lain.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun. Gosip baru yang menyebar itu seolah membuat dirinya terkungkung oleh pandangan mata yang memberikan tatapan tidak suka padanya.