Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keyakinan yang Runtuh


__ADS_3

Setelah beberapa lama menunggu, perlahan jari tangan Mama Rafa tampak bergerak diikuti dengan kedua mata yang mengerjap dengan pelan.


Papa Rafapun segera memencet tombol yang ada di dekat ranjang sang istri untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokterpun datang dan memeriksa keadaan Mama Rafa.


"Keadaannya sudah membaik, tekan tekanan darahnya sudah berangsur turun tetapi belum dititik normal, jadi saya harap pasien bisa mengurangi beban pikirannya dan dijauhkan dari hal-hal yang membuatnya stress," ucap dokter menjelaskan.


"Baik dok, terima kasih," balas papa Rafa.


Dokterpun meninggalkan ruangan Mama Rafa, meninggalkan Mama Rafa bersama suami dan anaknya.


"Ma, Rafa disini ma," ucap Rafa sambil menggenggam tangan sang mama.


Namun sang mama melepaskan tangannya dari genggaman Rafa dan mengalihkan pandangannya dari Rafa.


Rafapun membawa pandangannya ke arah sang papa seolah mempertanyakan tentang sikap sang Mama padanya.


"Ada apa ma? apa Mama marah pada Rafa?" tanya Rafa yang berusaha menggenggam tangan sang Mama namun lagi lagi mamanya menarik tangannya dari Rafa.


"Lebih baik kau tunggu saja di luar!" ucap sang papa pada Rafa.


"Tapi pa...."


"Kau ingat apa yang dikatakan dokter bukan?"


"Baiklah," balas Rafa pasrah lalu berjalan keluar dari ruangan sang mama.


Kini hanya ada papa Rafa yang menemani sang mama.


"Ada apa ma? kenapa sikap Mama seperti itu?" tanya sang suami pada sang istri.


Mama Rafa hanya diam dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


"Mama mendengar penjelasan dokter bukan? mama tidak boleh memikirkan hal-hal yang membuat Mama stress, jadi tolong hilangkan semua pikiran buruk itu dari kepala mama!"


"Bagaimana mungkin mama bisa menghilangkannya sedangkan Mama tahu bahwa pikiran buruk itu benar-benar terjadi," ucap Mama Rafa.


"Apa maksud Mama? apa itu ada hubungannya dengan Rafa?" tanya papa Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Mama Rafa.


"Ada apa dengan Rafa ma? ceritakan pada papa, jangan memendamnya sendiri!" lanjut papa Rafa bertanya.


"Mama tidak sengaja bertemu dokter yang menangani program kehamilan Rafa dan Maya, tapi dokter itu menjelaskan bahwa Rafa dan Maya bukanlah pasiennya, dokter itu bahkan menanyakan pada dokter obgyn lainnya tentang Rafa dan Maya tapi tidak ada satupun dari mereka yang yang mempunyai pasien bernama Rafa dan Maya," jawab Mama Rafa menjelaskan.


"Mungkin ada kesalahan dari rumah sakit yang....."


"Tidak mungkin pa, tidak mungkin rumah sakit melakukan kesalahan sebesar itu, jelas-jelas Mama melihat nama dokter yang ada di lembar pemeriksaan yang Maya berikan pada mama dan mama mengenal dokter itu dengan baik, dokter itu bahkan meminta Mama untuk memeriksa kembali lembar pemeriksaan itu untuk memastikan keasliannya," ucap Mama Rafa


"Jadi apa menurut mama Maya dan Rafa membohongi kita?" tanya papa Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Mama Rafa.


"Ada baiknya kita menanyakan hal ini pada mereka berdua, Mama jangan terlalu memikirkan hal-hal buruk yang hanya berdasarkan asumsi mama saja," ucap papa Rafa.


"Tidak perlu menanyakannya pada mereka, mereka pasti akan semakin berbohong pada mama," balas Mama Rafa.


"Rafa tidak mungkin sengaja membohongi mama, sebaiknya kita tanyakan dulu pada mereka agar tidak ada kesalahpahaman di antara kita semua," ucap papa Rafa.


"Mama tidak akan bisa memaafkan diri Mama sendiri jika ternyata kehidupan rumah tangga Rafa dan Maya tidak berjalan seperti seharusnya, apalagi jika mereka sampai bercerai, sepertinya Mama tidak akan sanggup menerima hal itu," ucap Mama Rafa.


"Jangan berkata seperti itu ma," balas papa Rafa berusaha menenangkan sang istri.


"Rafa anak Mama satu-satunya pa, Mama akan merasa sangat bersalah jika sampai hal itu terjadi, karena mama yang memaksa Rafa untuk menikah dengan Maya," ucap Mama Rafa.


Rafa yang mendengar hal itu dari depan ruangan sang mama hanya terdiam. Ia tidak menyangka jika sang Mama menyimpan beban karena rasa bersalahnya jika sampai ia bercerai dengan Maya.


"apa yang harus aku lakukan sekarang? sepertinya aku akan terjebak dalam pernikahan ini selamanya," batin Rafa dalam hati.


Rafa kemudian mengambil ponsel yang ada di saku celananya lalu menghubungi Maya.


"Halo ada apa?" tanya Maya dengan nada suara yang malas.

__ADS_1


"Mama sedang di rumah sakit, bisakah kau datang kesini?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Aku sedang sibuk, ada kasus besar yang....."


"Tidak bisakah kau mengesampingkan pekerjaanmu sebentar saja, Mama sekarang terbaring di rumah sakit karena kesalahanmu!" ucap Rafa memotong ucapan Maya.


"Karena kesalahanku? apa maksudmu?" tanya Maya tak mengerti.


"Sepertinya Mama tahu tentang kebohonganmu," jawab Rafa.


"Kebohonganku? apa maksudmu tentang surat pemeriksaan yang aku tunjukkan pada mamamu?" tanya Maya.


"Iya, kau harus datang kesini dan menjelaskan pada mama alasan yang masuk akal agar Mama tidak mencurigai hubungan kita," jawab Rafa yang membuat Maya mengernyitkan keningnya.


"tidak mencurigai hubungan kita? bukankah dia ingin menceraikanku? kenapa dia takut orang tuanya tahu tentang hubungan kita?" batin Maya bertanya dalam hati.


"Cepatlah datang dan jelaskan pada mama alasan yang bisa diterima oleh Mama, aku harap apa yang akan kau jelaskan nanti tidak akan memperburuk keadaan Mama saat ini," ucap Rafa lalu mengakhiri panggilannya pada Maya.


Maya yang saat itu sedang mengerjakan pekerjaannya segera merapikan meja kerjanya lalu keluar dari rumah dan mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit tempat Mama Rafa dirawat.


Sesampainya disana, iapun segera mencari keberadaan ruangan Mama Rafa dan mendapati Rafa yang tengah terduduk di depan ruangan itu.


"Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau tidak masuk?" tanya Maya pada Rafa.


"Sepertinya Mama sangat marah padaku, karena mama berpikir bahwa kau dan aku membohongi mama," jawab Rafa.


"Ayo masuk, aku akan mencari alasan yang bisa membuat mamamu melunak," ucap Maya yang hendak membuka pintu ruangan itu, namun segera ditahan oleh Rafa.


"Keadaan Mama sedang buruk sekarang, jadi aku mohon jaga ucapanmu agar tidak memperburuk keadaan mama," ucap Rafa mengingatkan.


Maya hanya tersenyum tipis lalu membuka pintu ruangan itu.


"Selamat malam ma, pa," ucap Maya menyapa.


Papa Rafa hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya sedangkan sang Mama mengalihkan pandangannya dari Maya dan Rafa.


"Boleh Maya berbicara pada mama?" tanya Maya pada Mama Rafa yang tidak juga menoleh ke arahnya.


"Tentang hasil pemeriksaan yang Maya berikan pada Mama, Maya benar-benar minta maaf, Maya tidak tahu jika akhirnya kebohongan Maya akan membuat Mama seperti ini," ucap Maya yang membuat Mama Rafa segera membawa pandangannya pada Maya.


"Jadi kau mengakui bahwa kau berbohong?" tanya Mama Rafa.


Maya menunduk dengan menganggukkan kepalanya pelan.


"Kau juga tahu hal itu Rafa?" tanya Mama Rafa pada Rafa.


"Rafa...."


"Tidak ma, Rafa sama sekali tidak terlibat dengan kebohongan yang Maya buat, Maya minta maaf karena sudah berbohong pada Mama, tapi Maya mempunyai alasan kenapa Maya melakukan hal itu," ucap Maya memotong ucapan Rafa.


"Apapun alasannya kau tetaplah berbohong!" ucap Mama Rafa.


"Setidaknya mama dengar dulu alasan Maya," ucap papa Rafa.


"Maya dan Rafa sudah cukup lama menikah dan sampai sekarang kita belum dikaruniai buah hati, mungkin itu yang membuat semuanya berpikir bahwa pernikahan Maya dan Rafa tidak bahagia, terlebih mama dan mama Rossa yang selalu mempertanyakan hal itu pada Maya dan Rafa," ucap Maya


"Maya sengaja melakukan kebohongan itu agar mama dan mama Rossa tidak terus-menerus menanyakan hal yang sama pada Maya dan Rafa, Maya hanya tidak ingin hal itu menjadi beban untuk Maya dan rafa dalam menjalani rumah tangga kita," lanjut Maya memberi alasan.


Mama Rafa hanya terdiam mendengar penjelasan Maya. Meskipun ia sedang marah pada Maya tetapi ia mendengarkan dengan baik apa yang Maya katakan padanya.


"Maya hanya ingin mama dan Mama Rossa membiarkan Maya dan Rafa menjalani kehidupan rumah tangga kita sendiri, apapun yang terjadi dalam rumah tangga kita akan kita selesaikan secara dewasa tanpa campur tangan para orang tua," ucap Maya.


"Sekali lagi Maya minta maaf, Maya berjanji tidak akan mengulangi hal ini lagi," lanjut Maya.


Mama Rafa menghela nafasnya lalu membawa pandangannya pada Maya dan Rafa bergantian.


Ia bisa memahami alasan yang disampaikan oleh Maya, tanpa ia sadar ia sudah menjadi beban bagi anak dan menantunya karena pertanyaan-pertanyaan klise yang sering ia tanyakan pada Rafa dan Maya.


"Ternyata selama ini Mama membebani kalian berdua," ucap Mama Rafa.

__ADS_1


"Tidak ma, Maya tidak pernah berpikir seperti itu, Maya hanya ingin Mama Rossa membiarkan Maya dan Rafa menjalani rumah tangga kita sendiri, tolong mama jangan salah paham," balas Maya.


"Pasti selama ini kalian menjalani kehidupan yang sulit karena mama yang selalu mempertanyakan hal-hal yang membebani kalian," ucap Mama Rafa.


Rafa kemudian mendekat ke arah mamanya dan menggenggam tangan sang mama.


"Tidak ma, Mama tidak pernah membebani Rafa ataupun Maya, jadi tolong jangan berpikir seperti itu," ucap Rafa pada sang mama.


"Sekarang mama harus berhenti mengkhawatirkan rumah tangga Maya dan Rafa, Mama harus menjalani hari-hari Mama dengan bahagia tanpa beban pikiran dan tekanan yang membuat Mama stres, Maya dan Rafa akan sangat merasa bersalah jika keadaan Mama seperti ini karena memikirkan kita berdua," ucap Maya pada Mama Rafa.


"Bisakah kalian berdua berjanji pada Mama?" tanya Mama Rafa sambil menggenggam tangan Rafa dan Maya.


"Berjanjilah untuk saling mempertahankan rumah tangga kalian," lanjut Mama Rafa yang membuat Rafa dan Maya saling pandang dan terdiam untuk beberapa saat.


"Berjanjilah Rafa, berjanjilah Maya, Mama tidak akan memaafkan diri Mama sendiri jika sampai kejadian buruk menimpa rumah tangga kalian berdua," ucap Mama Rafa.


Rafa merasa ragu untuk mengatakan janji yang tidak akan pernah bisa ia tepati dan ia tidak ingin melanggar janjinya pada sang mama.


Namun ia juga tidak bisa mengabaikan permintaan sang Mama yang memintanya untuk berjanji, karena hal itu pasti akan membuat sang mama kembali memikirkan hal-hal buruk tentang pernikahannya dengan Maya jika ia tidak membuat janji yang sang Mama inginkan.


"Rafa......"


"Permisi," ucap dokter yang baru saja masuk ke ruangan Mama Rafa, membuat Rafa dan Maya segera melepaskan tangan mereka dari genggaman tangan Mama Rafa.


"Saya akan memeriksa keadaan pasien terlebih dahulu, jadi silakan menunggu di luar sebentar," ucap dokter.


Maya, Rafa dan sang papapun keluar dari ruangan itu sampai dokter selesai memeriksa keadaan Mama Rafa.


Dokterpun menjelaskan jika keadaan Mama Rafa sudah membaik dan tekanan darahnya sudah kembali normal.


Maya, Rafa dan sang papapun kembali masuk ke ruangan Mama Rafa.


"Dokter bilang keadaan Mama sudah membaik, tekanan darah Mama sudah kembali normal, jadi Rafa mohon Mama jangan memikirkan hal-hal yang membuat Mama tertekan," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh sang mama.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Rafa berdering, membuat Rafa mempunyai alasan untuk menghindar dari sang mama agar ia tidak harus membuat janji pada sang mama.


Setelah Rafa berpamitan pergi, ia pun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat terlantar.


"maafkan Rafa ma, Rafa tidak bisa menjanjikan hal yang pasti akan Rafa ingkari nantinya," ucap Rafa dalam hati.


Rafa menghela nafasnya kasar, mengacak-acak rambutnya dengan kesal karena merasa tidak ada jalan keluar dari masalah yang sedang dihadapinya saat itu.


Di saat ia yakin untuk menceraikan Maya tiba-tiba saja takdir meruntuhkan keyakinannya, saat ia melihat bagaimana sang Mama sangat berharap pada pernikahannya dengan Maya.


Tooookkk tooookkk tooookkk


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Rafa, iapun segera membuka pintu kamarnya dan mendapati Maya yang sudah berdiri di depan kamarnya.


"Ada yang harus kita bicarakan!" ucap Maya.


"Katakan saja," balas Rafa.


"Akhir-akhir ini sepertinya hubungan kita semakin kacau, aku tidak menyalahkanmu karena akupun melakukan hal semauku sendiri tanpa berdiskusi denganmu terlebih dahulu, jadi mulai sekarang bisakah kita menjalaninya seperti dulu lagi?" ucap Maya sekaligus bertanya.


"Menjalaninya seperti dulu? apa maksudmu?" tanya Rafa tak mengerti.


"Kita jalani kehidupan kita masing-masing tanpa saling memperdulikan satu sama lain, tapi di depan orang tuaku dan orang tuamu kita harus menunjukkan bahwa kita keluarga yang bahagia," jawab Maya menjelaskan.


"Keluarga yang bahagia?" tanya Rafa dengan tersenyum mengejek.


"Kau tidak ingin terjadi hal yang sama pada mamamu seperti saat ini bukan? jadi kau tidak akan rugi jika berpura-pura bahagia di depan orang tuamu!" ucap Maya yang membuat Rafa terdiam.


"Aku mempertahankan pernikahan kita sama sekali bukan karena aku mencintaimu, karena aku hanya tidak ingin kehilangan apa yang sudah ada di tanganku dan kaupun harus mempertahankan pernikahan kita agar tidak terjadi sesuatu yang buruk pada mamamu, bukankah itu cukup adil?" lanjut Maya.


"Sampai kapan kita akan terus seperti ini?" tanya Rafa yang merasa frustasi dengan pernikahannya.


"Entahlah.... jalani saja sampai kau tiba-tiba bisa mencintaiku atau aku yang akan mencintaimu," jawab Maya dengan tersenyum tipis lalu berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Rafa begitu saja

__ADS_1


"Cinta? aku bahkan tidak pernah mengenal bagaimana cinta yang sesungguhnya," ucap Rafa lalu menutup pintu kamarnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


__ADS_2