
Waktu berlalu, haripun telah berganti. Pagi itu dengan penuh semangat Tiara keluar dari kamarnya untuk berangkat bekerja bersama Chika yang sudah menunggunya.
"Akhirnya aku kembali lagi ke kafe," ucap Tiara penuh semangat.
"Kenapa kau bersemangat sekali? bukankah lebih baik jika menghabiskan waktu di rumah untuk bersantai!" tanya Chika.
"Satu minggu berdiam diri di rumah sangat membosankan, jika bukan karena Pak Rafa yang memaksaku aku tidak akan mungkin melakukannya," balas Tiara.
"Sepertinya Pak Rafa sangat perhatian padamu, apa mungkin memang....."
"Memang apa? pikiranmu itu liar sekali, aku sudah menanyakan pada kak Rafa tentang kepergiannya yang ditunda saat aku pingsan," ucap Tiara memotong ucapan Chika.
"Lalu apa yang Pak Rafa katakan? pasti pak Rafa membatalkan kepergiannya karena mengkhawatirkanmu bukan?"
"Tentu saja tidak, kak Rafa memang membatalkan kepergiannya karena ada hal penting lainnya yang harus kak Rafa selesaikan!"
"Hal penting apa Tiara? itu pasti hanya alasan Pak Rafa saja," ucap Chika.
"Tidak Chika, kau saja yang berpikiran terlalu jauh," balas Tiara.
"Aahhh kau sama sekali tidak peka, sudah jelas-jelas Pak Rafa memberikan perhatian lebih padamu, apa kau sama sekali tidak menyadarinya?" tanya Chika yang membuat Tiara terdiam beberapa saat.
"Bukankah kau sendiri yang bilang jika kak Rafa memang seperti itu pada semua karyawannya? kak Rafa hanya berusaha membuat semua pekerja yang bekerja di kafenya nyaman," balas Tiara.
"Kau benar, tapi aku bisa melihat sikap Pak Rafa padamu sangat berbeda, perhatian yang Pak Rafa berikan padamu bukan perhatian sebagai atasan pada karyawannya, tapi lebih dari itu!"
"Sudahlah jangan membahasnya lagi, belum tentu apa yang kau katakan itu benar," ucap Tiara berusaha mengabaikan apa yang Chika ucapkan tentang Rafa.
"Bagaimana jika yang aku katakan itu benar? wah rasanya pasti menyenangkan sekali memiliki kekasih seorang pemilik kafe tempat kita bekerja," ucap Cika sambil bertepuk tangan kecil membayangkan hal itu terjadi.
"Sadarlah Chika, hal itu hanya akan terjadi di novel dan film-film romantis, pada kenyataannya dunia yang kita jalani tidak semudah itu!" ucap Tiara.
"Coba bayangkan saja dulu Tiara, pasti menyenangkan!" ucap Chika yang seolah masih belum keluar dari dunia kehaluannya.
"Apa kau tidak pernah berpikir jika bisa jadi kak Rafa sedang dekat dengan seseorang atau mungkin kak Rafa sudah memiliki kekasih atau bahkan sudah memiliki istri?"
"Hahaha tidak mungkin Tiara, aku sudah bekerja bersama Pak Rafa sejak pertama kali kafe buka dan aku tidak pernah melihat Pak Rafa bersama perempuan satupun," ucap Chika penuh keyakinan.
"Mungkin saja kak Rafa memang tipe laki-laki yang tertutup dengan hubungannya," ucap Tiara memikirkan kemungkinan yang terjadi.
"Tidak Tiara, aku yakin pak Rafa tidak memiliki kekasih apalagi istri, apa kau tidak bisa merasakan aura bujangan yang terpancar dari Pak Rafa hahaha....."
Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan Chika. Ia tidak terlalu memikirkan tentang kehidupan pribadi Rafa karena baginya hubungannya dengan Rafa sebatas atasan dan bawahan.
Masa lalunya bersama Bima membuat Tiara enggan untuk memulai kembali hubungan baru dengan laki-laki. Ia lebih memilih untuk fokus menggapai impian yang sudah sejak lama ia impikan.
"Lupakan masa lalumu Tiara, buka lembaran baru bersama orang-orang baru yang akan memberikan kebahagiaan baru untukmu!" ucap Chika.
Tiara hanya tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu berlari cepat meninggalkan Chika.
"Yang lebih dulu sampai di kafe harus ditraktir minuman!" ucap Tiara setengah berteriak.
"Aaahhh kau curang!" balas Chika sambil berlari mengikuti Tiara yang sudah hampir sampai di kafe.
Tiara yang lebih dulu sampai di kafepun segera menggunakan seragam lalu mulai berkutat dengan kesibukannya.
Dengan penuh semangat Tiara membersihkan semua meja pelanggan, membuat pesanan pelanggan dan menyapa pelanggan dengan senyum manisnya.
Ia benar-benar sudah merindukan pekerjaan pertamanya itu.
**
Di tempat lain, Rafa yang baru saja sampai di kafe pertamanya segera membawa langkahnya masuk dan mengabaikan Bima yang duduk di bangku outdoor.
Namun tidak seperti sebelumnya, jika sebelumnya Bima mengabaikan Rafa yang berjalan di hadapannya kini Bima segera beranjak dari duduknya dan menahan Rafa.
"Tolong beritahu aku dimana Tiara sekarang, aku hanya ingin menemuinya untuk meminta maaf!" ucap Bima pada Rafa.
Rafapun melepaskan tangan Bima yang menahan tangannya lalu berjalan masuk ke dalam kafenya.
__ADS_1
Namun tiba tiba Bima mendorong Rafa dengan cukup kuat, membuat Rafa jatuh terjerembab dan dengan cepat Bima berjongkok di depan Rafa sambil mencengkeram kerah kemeja Rafa.
"Jangan menguji kesabaranku lagi Rafa, cepat katakan padaku dimana Tiara sekarang atau aku akan membuat kafemu viral di dunia maya karena keributan kita hari ini!" ucap Bima penuh emosi.
Beberapa pelanggan yang ada disana begitu terkejut dengan apa yang terjadi di hadapan mereka. Beberapa dari mereka berusaha menjauhkan Bima dari Rafa dan beberapa lainnya mengambil ponselnya untuk mengabadikan keributan itu.
"Sikapmu ini sangat kekanak-kanakan sekali Bima, Tiara akan semakin membencimu jika dia melihat sikapmu yang seperti ini!" ucap Rafa setelah beberapa orang berhasil menjauhkan Bima dari Rafa.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin bertemu dengannya," balas Bima.
Rafa hanya diam sambil merapikan pakaiannya lalu menghubungi satpam yang bekerja di kafenya untuk mengusir Bima pergi dari kafenya.
Tak lama kemudian satpampun datang lalu memaksa Bima untuk keluar dari kafe.
"Aku tidak akan membiarkanmu memiliki Tiara, aku bersumpah akan menemukan Tiara dan mengambilnya darimu," ucap Bima sebelum ia benar-benar diseret keluar dari kafe oleh satpam.
Rafa dengan jelas mendengar ucapan Bima, namun ia hanya mengabaikannya dan lebih memilih untuk meminta maaf pada para pelanggannya atas keributan yang terjadi.
"Siapapun yang merekam kejadian tadi saya harap bisa segera menghapus rekaman itu, saya akan memberikan voucher minuman gratis untuk kalian yang bersedia menghapus rekaman itu," ucap Rafa di hadapan beberapa pelanggan yang ada di kafenya.
Beberapa dari merekapun saling memandang, mereka ragu untuk menghapus video yang baru saja mereka rekam karena mereka berniat untuk menggugah rekaman video itu ke media sosial.
"Jika sampai rekaman itu terunggah di media sosial saya akan menuntut siapapun pengunggahnya, kalian tidak akan bisa lolos meskipun kalian menggunakan second account, saya pasti akan bisa menemukan kalian," ucap Rafa dengan nada yang sedikit mengancam.
"Kalian tidak akan mendapatkan keuntungan apapun dari video yang kalian miliki, tapi jika kalian bersedia menghapusnya saya akan memberikan voucher gratis minuman selama satu tahun," lanjut Rafa.
Akhirnya beberapa pelanggan yang merekam keributan antara Rafa dan Bima bersedia menghapus video rekaman mereka.
Setelah memastikan semuanya terhapus, Rafapun memenuhi janjinya untuk memberikan voucher gratis, tidak hanya pada mereka yang menghapus videonya, tapi juga pada pelanggan lain yang membantunya menjauhkan Bima darinya.
Dengan sedikit kesal Rafa menjatuhkan dirinya di atas sofa di ruangannya. Ia hanya bisa berharap tidak akan ada video yang tersebar dari keributan yang baru saja terjadi.
Di sisi lain, Ana yang melihat kejadian itu segera mengirim pesan pada Chika.
"Laki laki yang mencari Tiara datang lagi, namanya Bima bukan? dia menyerang pak Rafa dan membuat keributan disini!"
**
Pesan masuk dari Anapun terlihat di layar ponsel Chika yang menyala, meski tidak membukanya, pesan itu terlihat secara keseluruhan oleh Tiara.
Tiarapun segera menghubungi Rafa untuk memastikan apa yang terjadi. Namun beberapa kali Tiara menghubungi Rafa tidak ada jawaban sama sekali dari Rafa, membuat Tiara semakin khawatir.
Tanpa Tiara tau, saat Rafa terjatuh ponselnya terlempar cukup jauh hingga membuat layar ponselnya mati.
Tiarapun menghubungi Ana untuk menanyakan keadaan Rafa pada Ana
"Halo Ra, ada apa? tumben sekali kau menghubungiku," tanya Ana setelah dia menerima panggilan Tiara.
"Bagaimana keadaan kak Rafa? kak Rafa baik-baik saja bukan?" tanya Tiara yang terdengar panik.
"Aaa.... apa maksudmu? kenapa.... kenapa kau tiba-tiba menanyakan keadaan Pak Rafa padaku?" balas Ana bertanya dengan gugup karena ia sengaja tidak memberitahu Tiara tentang hal itu agar Tiara tidak panik.
"Sudahlah jangan berusaha menyembunyikannya dariku, aku sudah membaca pesanmu di ponsel Chika, jadi sekarang tolong katakan padaku bagaimana keadaan Pak Rafa karena aku tidak bisa menghubungi Pak Rafa," ucap Tiara.
"Pak Rafa baik-baik saja, kau tidak perlu mengkhawatirkannya," balas Ana.
"Sungguh? kau tidak berbohong padaku bukan?" tanya Tiara meragukan jawaban Ana.
"Sungguh Tiara, aku tidak berbohong padamu, ponsel Pak Rafa terlempar cukup jauh tadi jadi mungkin ponsel Pak Rafa sedang bermasalah saat ini," ucap Ana berusaha meyakinkan Tiara.
"Kenapa kau hanya memberitahu Chika tentang hal itu? kenapa kau tidak memberitahuku?" protes Tiara pada Ana.
"Aku hanya tidak ingin kau mengkhawatirkan Pak Rafa, aku juga tidak ingin kau kembali mengingat laki-laki jahat itu!"
"Laki-laki jahat?" tanya Tiara memastikan pendengarannya.
"Iya, laki-laki yang sering mencarimu kesini, Pak Rafa meminta kita semua untuk tidak memberitahukan dimana keberadaanmu pada laki-laki itu, namanya Bima bukan?"
"Kak Bima, sejak kapan dia mencariku?" tanya Tiara.
__ADS_1
"Mmmmm..... entahlah tapi sudah beberapa hari ini dia selalu datang ke kafe sejak pagi, dia selalu menanyakan keberadaanmu tapi tidak ada satupun dari kita yang berani memberitahu dimana keberadaanmu saat ini," jawab Ana menjelaskan.
"kak Bima datang saat pagi, apa mungkin pertengkaran kak Gita dan kak Bima yang dilihat Kevin itu karena kak Gita yang melarang kak Bima untuk mencariku ke kafe?" batin Tiara bertanya dalam hati.
"Maaf Tiara aku harus mengerjakan pekerjaanku, kau bisa menghubungiku lagi jika masih ada yang kau tanyakan!" ucap Ana.
"Baiklah, terima kasih," balas Tiara lalu mengakhiri panggilannya pada Ana.
"apa sebenarnya yang kak Bima pikirkan, kenapa kak Bima bersikap kasar pada kak Gita hanya untuk mencariku?" batin Tiara bertanya dalam hati.
**
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore saat Rafa baru saja sampai di kafe keduanya.
Tiara yang sejak tadi menunggu kedatangan Rafa segera beranjak dari duduknya saat ia melihat Rafa berjalan masuk ke kafe.
"Kenapa kau belum pulang?" tanya Rafa pada Tiara.
"Ada yang ingin Tiara tanyakan," jawab Tiara.
"Masuklah!" ucap Rafa lalu berjalan masuk ke ruangannya diikuti oleh Tiara.
Rafa dan Tiara kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan Rafa.
"Apa kau sengaja menungguku?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Ada apa?" tanya Rafa.
"Tiara tahu kak Rafa baru saja bertengkar dengan kak Bima, apa kakak baik-baik saja?" ucap Tiara sekaligus bertanya.
"Dari mana kau tahu?" balas Rafa bertanya.
"Tiara tidak sengaja membaca pesan Anna pada Chika, Tiara menghubungi kakak tapi tidak tersambung," jawab Tiara.
"Ponselku sedang bermasalah dan aku belum sempat membawanya ke tempat servis," ucap Rafa.
"Kakak belum menjawab pertanyaan Tiara, apa kak Rafa baik-baik saja?" ucap Tiara mengulang pertanyaannya.
"Seperti yang kau lihat aku baik-baik saja, apa kau begitu mengkhawatirkanku?"
"Tolong jangan bertengkar lagi dengan kak Bima kak, abaikan saja kak Bima," ucap Tiara.
"Kenapa? apa kau takut jika dia akan terluka karena aku?" tanya Rafa.
"Tiara tidak ingin kak Rafa terlibat masalah karena Tiara, Tiara tidak ingin kejadian di kampus dulu terulang lagi," jawab Tiara.
"Kejadian di kampus itu sama sekali bukan kesalahanmu Tiara, jadi berhentilah memikirkan hal itu!" ucap Rafa.
"Tiara tidak mungkin melupakannya kak, kak Rafa dikeluarkan dari kampus karena kakak menolong Tiara yang pingsan saat itu," balas Tiara.
"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Tiara, sekarang pulanglah dan beristirahatlah!" ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya.
Namun Tiara masih duduk di tempatnya, ia memainkan jarinya seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan namun ia ragu untuk mengatakannya.
Menyadari hal itu, Rafapun kembali duduk di samping Tiara.
"Ada apa Ra? apa ada yang ingin kau katakan?" tanya Rafa pada Tiara.
"Tiara ragu apakah Tiara harus mengatakan hal ini pada kak Rafa atau tidak," ucap Tiara yang membuat Rafa semakin penasaran.
"Katakan saja Ra, kau hanya akan membuat pikiranmu terbebani jika kau tidak mengatakannya padaku," ucap Rafa.
"Mmmm.... bagaimana jika Tiara menemui kak Bima?" tanya Tiara yang membuat Rafa begitu terkejut.
"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu Tiara? aku sengaja membawamu pindah kesini untuk menjauhkanmu dari Bima, tapi kenapa kau sekarang ingin menemuinya? apa kau sudah lupa tentang apa yang sudah dia lakukan padamu?" tanya Rafa yang tidak mengerti arah pikiran Tiara.
"Tiara hanya ingin mempertegas semuanya pada kak Bima agar kak Bima berhenti mencari Tiara dan Tiara tidak perlu lagi bersembunyi dari kak Bima," balas Tiara menjelaskan alasannya.
"Lalu apa menurutmu Bima akan mendengarkan ucapanmu? apa dia akan menjauh darimu setelah kau menemuinya? dia hanya akan semakin yakin bahwa kau masih mencintainya jika kau menemuinya!" protes Rafa tidak setuju.
__ADS_1
"Tapi Tiara tidak bisa terus-menerus menghindar dari kak Bima, Tiara tidak ingin banyak orang terlibat karena masalah Tiara dengan kak Bima!" ucap Tiara.
"Tiara tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kak Rafa karena kak Rafa terus-menerus melindungi Tiara dari kak Bima, jadi Tiara harus berusaha untuk bisa menjaga diri Tiara sendiri," lanjut Tiara berusaha meyakinkan Rafa.