Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bekal Makan Siang


__ADS_3

Hari hari telah berganti. Tiara menjalani harinya sebagai pegawai perusahaan besar dengan baik, bukan karena ia dekat dengan Rafa ataupun Putra, melainkan karena kemampuannya dalam menyelesaikan pekerjaannya.


Karena Tiara hanya pegawai biasa, iapun sangat jarang bisa bertemu dengan Rafa. Meskipun begitu, mereka sering menghabiskan waktu bersama di luar kantor, entah itu berolahraga bersama atau sekedar membaca buku bersama.


Sedangkan Putra, ia masih berusaha mendekati Tiara dengan caranya sendiri. Meskipun ia tau apa yang Rafa lakukan dengan Tiara adalah sebuah kesalahan, namun Putra tidak terlalu ambil pusing karena ia yakin sebaik apapun Rafa menyembunyikan pernikahannya, suatu saat nanti Tiara akan mengetahuinya.


Pagi itu, Putra sudah berada di rumah orang tua Rafa. Ia sengaja datang pagi pagi sekali karena permintaan mama Rafa.


Putrapun diajak sarapan bersama oleh mama dan papa Rafa.


"Dibanding dengan Rafa, justru kau yang lebih sering datang kesini Putra," ucap Rossa, mama Rafa.


"Itu karena Rafa lebih sibuk daripada Putra Tante," balas Putra.


"Kau selalu saja membelanya, apa kalian sudah baikan?" tanya Rossa yang hanya dibalas senyum oleh Putra.


"Jangan membahasnya di meja makan ma, mama membuat Putra kehilangan selera makannya," sahut Adam, papa Rafa.


Merekapun menikmati sarapan mereka sembari sesekali mengobrol.


"Tante memintamu datang kesini bukan hanya untuk mengajakmu sarapan bersama Putra, tapi karena Tante ingin meminta tolong padamu," ucap Rossa.


"Meminta tolong apa Tante?" tanya Putra.


"Beberapa hari ini Tante sering mencoba resep masakan baru jadi Tante berpikir untuk memberikannya pada Tiara," jawab Rossa.


"Tiara? kenapa tiba tiba Tante Rossa memberikan masakan Tante pada Tiara?" tanya Putra tak mengerti.


"Karena Tiara yang sudah membuat Tante bisa mengurangi beban pikiran Tante, dia bilang melakukan hobi yang Tante suka akan membuat beban pikiran berkurang dan ternyata benar, Tante jadi lebih sering memasak dan mulai mencoba resep baru, jadi Tante ingin memberikan hasil masakan Tante untuk Tiara sebagai bentuk terima kasih Tante," jelas Rossa.


"Sejak bertemu dengan Tiara, tantemu ini memang selalu membicarakan Tiara, padahal baru beberapa kali bertemu," sahut Adam.


"Tiara memang perempuan yang menyenangkan om, wajar jika Tante rossa menyukainya," ucap Putra.


"Apa kau juga menyukainya?" tanya Adam yang membuat Putra seketika menundukkan kepalanya dengan tersenyum.


"Kenapa papa menanyakan hal yang sudah pasti? siapapun laki laki yang dekat dengan Tiara pasti akan dengan mudah menyukainya, dia memang sangat baik, mama bisa merasakan ketulusannya sejak mama baru bertemu dengannya," ucap Rossa.


"Tante benar, jika orang tua putra masih ada, Putra pasti sudah mengenalkannya pada orangtua Putra," ucap Putra yang membuat mama dan papa Rafa saling pandang untuk beberapa saat.


"Bukankah kami sudah seperti orangtuamu Putra?" tanya Rossa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Putra.


"Om dan Tante memang sudah seperti orangtua bagi Putra, terima kasih karena sudah mengizinkan putra menjadi bagian dari keluarga ini," ucap Putra.


"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi bagian dari keluarga ini Putra, jika kau memang menyukai Tiara, om dan Tante akan siap membantumu untuk melamar Tiara," ucap Rossa yang membuat Putra begitu terkejut.


"Mama jangan berlebihan, biarkan Putra dan Tiara menjalani hubungan mereka pelan pelan, kita sebagai orang tua cukup mendukung saja," sahut Adam.


"Terima kasih om tante, lagipula hubungan Putra dan Tiara belum sejauh itu," ucap Putra.


"Tapi kalian sudah berpacaran bukan?" tanya Rossa yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Putra.


"Kenapa? sepertinya kau sangat menyukainya? apa dia sudah menyukai laki laki lain?" tanya Rossa penasaran.


"Entahlah, sepertinya hanya Putra yang memiliki perasaan itu, jadi Putra hanya akan mendekatinya pelan pelan," jawab Putra.


"Jangan khawatir, Tante akan membantumu," ucap Rossa sambil menepuk nepuk pelan bahu Putra.


Adam yang melihat hal itu hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya pelan. Sang istri memang sangat peduli pada Putra, sebagai suami ia hanya akan mengawasi sang istri agar tidak melewati batasnya.


Bagaimanapun juga, ia dan istrinya tidak memiliki hak apapun atas Putra.


Setelah selesai sarapan bersama, Putrapun berpamitan untuk berangkat ke kantor sambil membawa tas bekal yang akan ia berikan pada Tiara.


"Jangan lupa minta Tiara untuk memanaskannya terlebih dahulu!" ucap Rossa setengah berteriak saat Putra sudah hampir masuk ke dalam mobil


"Baik Tante," balas Putra.


Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah kantor tempatnya bekerja.


Baru saja Putra menginjakkan kakinya di kantor, Rafa sudah menghubunginya.


"Kenapa kau belum menyerahkan laporanmu?" tanya Rafa setelah Putra menerima panggilan Rafa.


"Aku baru sampai kantor Rafa, tenang saja, aku akan memberikannya padamu sekarang juga!"


Dengan langkah cepatnya Putra segera menuju ke ruangannya. Ia menaruh tas bekal yang ia bawa di meja kerjanya lalu segera menyalakan komputernya.


"Dari mana saja kau?" tanya Rafa saat ia menghampiri Putra di meja kerjanya.


"Ini laporan yang kau minta," ucap Putra sambil memberikan sebuah flashdisk tanpa menjawab pertanyaan Rafa.

__ADS_1


Rafa kemudian kembali ke ruangannya dan melanjutkan pekerjaannya.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 12 siang saat Putra baru saja keluar dari lift di lantai tempat Tiara bekerja.


Tepat saat Putra sampai, Tiara baru saja beranjak dari duduknya bersiap untuk pergi makan siang bersama teman temannya.


"Apa kau akan pergi makan siang?" tanya Putra pada Tiara.


"Iya pak, apa ada yang harus Tiara kerjakan?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Tidak ada, ini makan siang dari Tante Rossa untukmu, Tante Rossa bilang ini sebagai bentuk terima kasihnya padamu," ucap Putra sambil memberikan tas bekal yang dibawanya pada Tiara.


"Waaahh.... terima kasih pak, padahal Tante Rossa tidak perlu repot seperti ini," ucap Tiara senang.


Setelah kepergian Putra, teman teman Tiarapun menatap Tiara dengan tatapan iri melihat kedekatan Tiara dengan Putra.


"Pak Putra sangat perhatian padamu Tiara," ucap salah satu teman Tiara.


"Ini bukan dari pak Putra, ini dari....."


Tiara menghentikan ucapannya, ia berpikir akan lebih rumit nantinya jika teman temannya tau bahwa tas bekal itu pemberian dari mama Rafa, CEO tempat mereka bekerja.


"Dari siapa? calon mertua? hahaha......" ledek teman teman Tiara.


"Terserah kalian saja," balas Tiara lalu berjalan ke arah pantry untuk memanaskan makanan yang ada di dalam tas bekal itu.


Setelah memanaskannya, Tiarapun menikmati makanan itu di pantry seorang diri.


"Waaahhh, ini enak sekali," ucap Tiara dengan mengangguk anggukkan kepalanya menikmati makanan buatan mama Rafa.


"Apa yang harus aku lakukan untuk berterima kasih pada Tante Rossa? rasanya sangat canggung jika harus menemui Tante Rossa bersama kak Rafa, lagipula Tante Rossa kan menitipkan makanan ini pada kak Putra," batin Tiara dalam hati.


Setelah menghabiskan makanannya dan mencuci kota makannya, Tiarapun membawa langkahnya keluar dari pantry.


Saat ia baru saja meninggalkan pantry, tanpa sengaja ia berpapasan dengan Rafa.


"Selamat siang pak," ucap Tiara dengan penuh senyum karena sangat jarang baginya untuk bisa bertemu dengan Rafa di kantor.


"Siang," balas Rafa dengan tersenyum.


Sebuah pertemuan singkat dengan senyum penuh cinta sudah cukup membuat Tiara dan Rafa kembali bersemangat.


"Tunggu dulu!" ucap Rafa yang membuat Tiara menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya menghadap Rafa.


"Tas itu....."


"Aaahh ini, Tante Rossa menitipkan makan siang untuk Tiara lewat pak Putra," ucap Tiara.


"Putra? kenapa....."


"Sepertinya kita bicarakan hal ini di luar kantor saja pak, Tiara permisi," ucap Tiara memotong ucapan Rafa lalu berjalan pergi begitu saja.


"Kenapa mama menitipkan makan siang untuk Tiara pada Putra? kenapa juga mama membuat makan siang untuk Tiara?" batin Rafa bertanya dalam hati.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 6 petang saat Tiara baru saja merapikan meja kerjanya.


Tiara kemudian mengirim pesan pada Putra untuk memastikan apakah Putra sudah meninggalkan kantor atau belum.


"Tiara mau mengembalikan tas bekalnya kak, apa kak Putra masih ada di kantor?"


Tak butuh waktu lama, Putrapun membalas pesan Tiara.


"Apa kau tidak ingin mengembalikannya pada Tante Rossa secara langsung?"


Tiara terdiam untuk beberapa saat. Jika dipikir pikir lebih baik jika mengembalikannya secara langsung pada Tante Rossa sekaligus berterima kasih atas makan siang buatan Tante Rossa.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Sebuah pesan masuk dari Putra.


"Aku akan menemui Tante Rossa sepulang bekerja, apa kau mau ikut?"


"Boleh, jam berapa kak Putra akan pulang?" balas Tiara.


"10 menit lagi, tunggu saja di lobby!"


"Baiklah."


Tiara kemudian beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah lift untuk menunggu Putra di lobby.


Tapi baru saja Tiara duduk di lobby, ia baru terpikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Pasti mereka akan berpikir yang tidak tidak jika melihatku keluar bersama kak Putra, lebih baik aku menunggu kak Putra di basement saja!" ucap Tiara dalam hati lalu berjalan ke arah basement.


Tak lupa Tiara mengirim pesan pada Putra, memberi tahu Putra bahwa dirinya menunggu di basement.


10 menitpun berlalu, dari kejauhan Tiara melihat Putra yang berjalan ke arahnya.


"Kenapa kau menunggu disini?" tanya Putra sambil membuka pintu mobilnya.


"Agar orang orang tidak berpikir yang tidak tidak jika melihat Tiara dengan pak Putra," jawab Tiara.


"Memangnya semengganggu itu ya?" tanya Putra.


"Tiara hanya tidak ingin kabar buruk mempengaruhi pak Putra nantinya," jawab Tiara


"Jangan mengkhawatirkanku Tiara, aku sama sekali tidak masalah dengan hal itu," ucap Putra.


"Tapi Tiara akan merasa sangat bersalah jika terjadi sesuatu yang buruk pada karir pak Putra karena berita tidak benar itu!"


"Bagaimana jika kita buat berita itu menjadi benar?" tanya Putra dengan tersenyum ke arah Tiara.


"Mmmaa.... maksudnya?" tanya Tiara terkejut mendengar ucapan Putra.


Meskipun tidak mengatakannya secara langsung, tetapi Tiara bisa memahami maksud dari ucapan Putra yang sebenarnya.


"Hahaha.... kenapa kau gugup sekali? apa pertanyaanku membuatmu terkejut?" tanya Putra yang berusaha untuk kembali mencairkan suasana yang sedikit tegang.


Tiara hanya tersenyum canggung tanpa mengatakan apapun hingga akhirnya mereka sampai di depan rumah orang tua Rafa.


Tiara memperhatikan rumah mewah di hadapannya saat mobil Putra mulai memasuki halaman rumah yang luas itu. Tiara baru sadar jika rumah itu berbeda dengan rumah yang pernah ia datangi saat ia tidak sengaja tertidur di dalam mobil Rafa.


"Ooh jadi kak Rafa tinggal di rumah yang terpisah dengan orang tuanya!" ucap Tiara dalam hati.


Tepat saat Putra dan Tiara baru saja keluar dari mobil, mama dan papa Rafa berjalan keluar dari rumah dengan pakaian yang rapi.


"Tiara!" panggil mama Rafa dengan raut wajah yang tampak senang melihat kedatangan Tiara.


Rossa kemudian menghampiri Tiara, memeluknya dan memberikan kecupan singkat di pipi kanan dan kiri Tiara.


"Sepertinya kita datang di waktu yang tidak tepat Tiara," ucap Putra pada Tiara.


"Justru ini waktu yang sangat tepat, kalian berdua bisa ikut om dan Tante sekarang," balas Rossa.


"Terima kasih tante, tapi lebih baik Tiara datang lagi saja lain kali, Tiara tidak ingin mengganggu waktu om dan Tante," ucap Tiara.


"Kalian sama sekali tidak mengganggu, ayo kita pergi sekarang, Tante akan mengajak kalian makan malam di tempat yang spesial," ucap Rossa sambil menarik tangan Tiara masuk ke dalam mobilnya yang sudah terparkir di halaman rumah.


Alhasil Tiara dan Putrapun ikut makan malam bersama mama dan papa Rafa.


"Putra saja yang menyetir om, om tunjukkan jalannya saja!" ucap Putra lalu duduk di balik kemudi, sedangkan Adam duduk di samping Putra dan Tiara duduk di kursi belakang bersama Rossa.


"Apa Rafa juga ikut om?" tanya Putra.


"Tidak, sebenarnya ini hanya makan malam biasa antara om dan Tante saja, kebetulan ada kalian berdua dan sepertinya ada yang sangat senang saat melihat kalian berdua datang," jawab Adam sambil membawa ekor matanya ke arah sang istri yang duduk di belakangnya.


Rossa hanya terkekeh mendengar ucapan sang suami. Setelah beberapa lama berkendara, merekapun sampai di tempat yang dituju.


Merekapun masuk ke dalam restoran lalu memilih tempat duduk dengan pemandangan gemerlap lampu kota.


"Bagaimana kabar tante Rossa? sepertinya tante sangat mahir memasak, apa tante sering memasak?" tanya Tiara pada Rossa.


"Kabar tante baik Tiara, pada awalnya Tante hanya memasak untuk menghilangkan stres, tapi akhirnya Tante semakin suka memasak, jadi Tante sering memasak dan mencoba menu baru walaupun sedang tidak stres," jawab Tante Rossa.


"Masakan Tante Rossa enak sekali, terima kasih sudah mengizinkan Tiara menikmati masakan Tante," ucap Tiara.


"Kalau kau suka Tante akan sering membuatnya untukmu," ucap Rossa.


"Tiara suka Tante, tapi akan sangat merepotkan Tante nantinya jika Tante sering membuatnya untuk Tiara," balas Tiara.


"Tante sama sekali tidak merasa repot, kan ada Putra yang membantu Tante memberikannya padamu," ucap Rossa.


"Kau tidak keberatan bukan?" lanjut Rossa bertanya pada Putra.


"Tentu saja tidak Tante," balas Putra.


"Kau memang selalu bersemangat jika menyangkut Tiara, apa kau menyukainya?" ucap Rossa sekaligus bertanya, membuat Putra begitu terkejut.


Tidak hanya Putra, Tiara yang mendengar hal itu juga tampak terkejut.


Untuk beberapa saat suasana menjadi cukup canggung. Meskipun Putra memang menyukai Tiara, ia berusaha untuk mendekati Tiara dengan pelan dan pasti.


Namun pertanyaan Rossa pada Putra di hadapan Tiara membuat Putra cukup gugup.

__ADS_1


__ADS_2