Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Tersesat


__ADS_3

Tiara masih berada di depan minimarket, ia masih menunggu Bima pergi agar Bima berhenti mengikutinya. Namun sampai beberapa lama menunggu, Tiara mulai kesal karena Bima tak kunjung pergi.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering sebuah pesan masuk dari Rafa.


"Apa kau masih bimbingan skripsi?"


Tiarapun segera membalas pesan Rafa.


"Tiara sudah selesai bimbingan skripsi kak!"


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara kembali berdering, namun bukan sebuah pesan yang masuk melainkan panggilan dari Rafa.


"Kau sedang dimana Ra? aku ingin mengajakmu melihat progres kafe baru kita," tanya Rafa setelah Tiara menerima panggilan Rafa.


"Tiara sedang di......"


Tiara membawa pandangan yang ke sekelilingnya untuk mencari tahu dimana keberadaannya saat itu.


"Tiara tidak tahu tepatnya ada dimana karena Tiara sedang menghindar dari kak Bima yang mengikuti Tiara sejak selesai bimbingan skripsi tadi," lanjut Tiara.


"Kenapa Bima mengikutimu?" tanya Rafa.


"Tiara juga tidak mengerti kak, mungkin kak Bima ingin tahu dimana Tiara tinggal jadi Tiara memilih untuk berhenti di minimarket agar kak Bima berhenti mengikuti Tiara," jawab Tiara.


"Apa dia masih ada di dekatmu sekarang?" tanya Rafa.


"Iya, kak Bima masih ada disini kak, sudah hampir 1 jam kak Bima tidak pergi juga," jawab Tiara.


"Kenapa tidak kau datangi saja dan minta dia untuk pergi?"


"Tiara malas berbicara dengannya, Tiara juga tidak ingin terjadi keributan nantinya," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu, bagikan saja lokasimu padaku, aku akan kesana sekarang!" ucap Rafa.


"Jangan kak, kak Bima pasti akan melihat kak Rafa dan....."


"Tenang saja, dia tidak akan mengenaliku dan aku pastikan dia akan berhenti mengikutimu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Benarkah? bagaimana caranya?"


"Bagikan saja lokasimu sekarang dan tunggu aku disana," ucap Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


Panggilanpun berakhir, Tiara segera membagikan lokasinya pada Rafa. Entah apa yang akan Rafa lakukan yang terpenting baginya adalah ia bisa pergi dari Bima yang mengikutinya.


Setelah beberapa lama menunggu tiba-tiba sebuah motor berhenti di dekat Tiara, seseorang dengan jaket dan helm khas ojek online itupun memanggil Tiara.


"Tiara!" panggilnya yang membuat Tiara segera membawa pandangannya ke arah ojek online itu.


Tiara hanya diam tanpa mengatakan apapun karena ia merasa tidak memesan ojek online.


Seseorang itupun membuka masker dan kaca helmnya lalu tersenyum, membuat Tiara tersadar jika seseorang itu adalah Rafa.


"Kak Rafa, kenapa....."


"Ssssstttt.... ayo naiklah," ucap Rafa memotong ucapan Tiara sambil memberikan satu helmnya pada Tiara.


Dengan senang Tiarapun menerima helm itu dan menggunakannya lalu duduk di belakang Rafa.


"Bagaimana jika kak Bima masih mengikuti kita kak?" tanya Tiara pada Rafa.


"Aku akan melewati jalan tikus yang ada di sekitar sini agar mobil Bima tidak bisa mengikuti kita," jawab Rafa lalu mengendarai motornya meninggalkan minimarket bersama Tiara.


Tak lama setelah Rafa pergi, mobil Bimapun mulai berjalan mengikuti Tiara yang sedang dibonceng Rafa saat itu.


Namun karena Rafa membawa motornya masuk ke dalam gang sempit, Bimapun memilih untuk berputar balik dan mengurungkan niatnya mengikuti Tiara karena ia tidak bisa membawa mobilnya masuk ke dalam gang sempit itu.


"Sepertinya Bima sudah tidak bisa mengikuti kita," ucap Rafa yang memperhatikan dari spion motornya.


Tiarapun membawa pandangannya ke belakangnya dan benar saja sudah tidak ada mobil Bima yang mengikutinya karena mereka sudah masuk ke gang sempit yang tidak bisa dimasuki oleh mobil.


"Iya, kak Bima sudah tidak mengikuti kita kak!" ucap Tiara senang.


Rafa kemudian menghentikan motornya, berniat untuk mengambil ponselnya di saku pakaiannya, namun ia baru tersadar bahwa ia meninggalkan ponselnya di kafe.


"Coba aktifkan GPSmu Tiara, kita harus keluar dari sini," ucap Rafa pada Tiara.


"Kenapa harus menggunakan GPS? jangan bilang kak Rafa tidak mengetahui jalan keluar dari tempat ini?" tanya Tiara menerka.


"Aku hanya asal mengendarai saja untuk menghindar dari Bima, aku pikir aku bisa keluar dari sini dengan menggunakan GPS tapi ternyata aku meninggalkan ponselku di kafe," ucap Rafa.

__ADS_1


"Apa kak Rafa sama sekali tidak mengetahui daerah ini?" tanya Tiara sambil mengambil ponselnya dari dalam tasnya.


"Tidak, aku bahkan lupa gang mana yang tadi aku masuki, sepertinya semua gang disini sama," jawab Rafa.


"Aahh kak Rafa payah sekali," ucap Tiara sambil menyalakan ponselnya namun tidak bisa, layarnya hanya berwarna hitam pertanda daya ponselnya sudah habis.


"Aaahh tidak.... sepertinya ponsel Tiara kehabisan daya," ucap Tiara panik.


"Apa kau serius Tiara?" tanya Rafa yang segera membawa pandangannya ke arah Tiara di belakangnya.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya sambil menunjukkan layar ponselnya yang gelap pada Rafa.


"Baiklah, ini bukan masalah besar, aku hanya perlu kembali melewati jalan yang aku lewati tadi," ucap Rafa berusaha tetap tenang lalu kembali menyalakan mesin motornya.


Rafapun kembali mengikuti jalan sempit yang ia lewati sebelumnya, namun sampai lebih dari 15 menit berlalu Rafa tidak juga menemukan jalan keluar dari gang sempit yang dilaluinya.


"Apa kak Rafa yakin melewati jalan ini tadi?" tanya Tiara.


"Mmmmm..... sepertinya iya," jawab Rafa ragu.


"Sudahlah kak Rafa tidak perlu malu mengakuinya, kak Rafa bahkan tidak ingat gang mana yang kak Rafa masuki tadi!" ucap Tiara pasrah.


Hampir 30 menit Rafa masih berputar-putar di dalam gang sempit yang memiliki banyak percabangan yang membuatnya benar-benar kehilangan jalan untuk keluar dari gang sempit itu.


"Apa kak Rafa tidak merasa bahwa jalanan disini seperti labirin?" tanya Tiara ada Rafa.


"Iya kau benar, apa yang harus kita lakukan sekarang?" jawab Rafa sekaligus bertanya sambil menghentikan motornya untuk menghemat bensin.


"Tiara akan coba bertanya pada seseorang," ucap Tiara lalu turun dari motor kemudian bertanya pada seseorang yang sedang duduk di depan warung.


Seseorang itupun menjelaskan pada Tiara arah agar mereka bisa kembali ke jalan raya besar.


Rafapun kembali menyalakan mesin motornya lalu mengendarai motornya sesuai dengan arah yang Tiara berikan, namun sampai lebih dari 10 menit mereka masih berputar-putar di daerah yang sama.


"Apa kau yakin ini arah yang benar Tiara?" tanya Rafa meragukan Tiara.


"Entahlah kak, Tiara juga tidak yakin hehehe....." balas Tiara yang juga tidak benar-benar yakin tentang ingatannya.


Seketika Rafapun menepikan motornya dan segera membawa pandangannya menghadap Tiara yang duduk di belakangnya. Tiarapun hanya memamerkan senyum dengan deretan gigi putihnya tanpa merasa berdosa.


"Coba nyalakan lagi ponselmu Tiara, barangkali bisa kembali hidup," ucap Rafa.


Tiarapun mengikuti perintah Rafa, ia kembali menekan lama tombol power di ponselnya namun tetap saja ponselnya hanya menunjukkan layar gelap.


"Belum, kenapa? apa kau lapar?" jawab Rafa sekaligus bertanya yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Bagaimana jika kita makan disana?" tanya Tiara sambil menunjuk sebuah kedai makanan yang berada tak jauh dari tempat mereka berdua.


"Apa kau yakin? sepertinya tempat itu tidak bersih," tanya Rafa yang merasa enggan untuk makan di tempat yang Tiara tunjuk.


"Kalau begitu kak Rafa saja yang mencari tempatnya," ucap Tiara.


Rafapun kembali menyalakan mesin motornya lalu mencari tempat makan yang dianggapnya bersih.


Namun sampai beberapa lama mereka berkendara, Rafa tidak juga menemukan tempat makan yang sesuai dengan seleranya.


"Tolong berhenti sebentar kak," ucap Tiara yang membuat Rafa segera menghentikan motornya.


Tiara kemudian turun dari motor lalu berjalan sedikit menjauh dari Rafa dan berjongkok sambil memegang perutnya karena ia merasa mual. Ia juga merasa perutnya nyeri karena terlambat makan.


Rafa yang melihat hal itu segera mendekati Tiara dan begitu khawatir karena melihat raut wajah Tiara yang tampak pucat.


"Ada apa denganmu Ra? apa kau sakit?" tanya Rafa khawatir.


"Perut Tiara sakit sekali kak, Tiara juga mual," jawab Tiara yang masih memegang perutnya dengan berjongkok.


"Apa karena kau belum makan siang?" tanya Rafa memastikan yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Tapi disini tidak ada tempat makan yang bersih Tiara, kau....."


"Tiara sudah terbiasa makan di pinggir jalan kak, yang penting Tiara tidak terlambat makan," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Baiklah kalau begitu, kita makan di tempat yang kau pilih tadi," ucap Rafa sambil membantu Tiara berdiri.


Rafapun mengendarai motornya untuk mencari warung makan yang Tiara tunjuk beberapa saat yang lalu.


Sesampainya disana tanpa ragu Tiara segera melangkah masuk, sedangkan Rafa melangkahkan kakinya dengan ragu mengikuti Tiara.


Tiarapun memesan dua porsi makanan serta minuman untuk dirinya dan Rafa.


"Kenapa kau memesan dua makanan?" tanya Rafa.


"Tentu saja untuk kak Rafa juga," jawab Tiara sambil menyendok makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Untukmu saja, aku sedang tidak berselera makan," ucap Rafa yang enggan untuk memakan makanan di tempat itu.


"Ini enak loh kak, coba saja dulu!" ucap Tiara sedikit memaksa.


"Tidak Ra, aku tidak lapar," balas Rafa menolak.


Namun tiba tiba ......


KRRRRRKKKK KRRRRRKKKK.....


Rafa seketika memegang perutnya dan mengalihkan pandangannya dari Tiara yang saat itu hanya terkekeh karena mendengar suara dari perut Rafa yang protes karena sudah ingin dijamah oleh makanan.


"Ayolah kak, coba saja dulu, kalau memang kakak tidak suka tidak perlu dilanjutkan," ucap Tiara yang kembali memaksa Rafa.


Namun bukannya mencoba makanan di hadapannya, Rafa lebih memilih untuk menahan lapar daripada harus memasukkan makanan yang dinilainya tidak bersih itu ke dalam perutnya.


Tiara kemudian menyendok makanan Rafa lalu menyodorkannya ke hadapan Rafa, memaksa Rafa untuk segera membuka mulutnya.


"Ini tidak seburuk yang kak Rafa pikirkan," ucap Tiara berusaha meyakinkan Rafa.


Rafapun menutup kedua matanya lalu membuka mulutnya dan menerima suapan dari Tiara.


Tak disangkanya rasa dari masakan yang ia makan saat itu cukup nikmat. Entah karena keadaan perutnya yang sedang lapar atau memang rasa dari masakan itu yang enak, Rafapun tanpa ragu menikmati makanan miliknya sampai habis tak tersisa.


Tiara yang melihat hal itu hanya bisa tersenyum senang karena berhasil membuat Rafa menghabiskan makanannya.


"Bagaimana? enak bukan?" tanya Tiara setelah Rafa menghabiskan makanannya.


"Lumayan, tidak seburuk yang aku pikirkan," jawab Rafa.


"Ini pertama kalinya aku makan di tempat seperti ini dan sepertinya aku tidak akan pernah makan di tempat seperti ini jika bukan karenamu Tiara," lanjut Rafa yang membuat Tiara terkekeh.


Saat Rafa akan membayar semua makanan yang dipesan Tiara, si pemilik warungpun memberitahu bahwa Tiara sudah membayarnya terlebih dahulu.


"Kakak bisa menggantinya lain kali," ucap Tiara lalu berjalan keluar dari warung itu diikuti oleh Rafa.


"Baiklah lain kali aku akan mengajakmu makan, tapi bukan di tempat seperti ini lagi," ucap Rafa.


"Tidak masalah," balas Tiara.


Rafa kembali mengendarai motornya bersama Tiara menjelajahi jalanan yang ada di daerah itu.


Namun sampai matahari semakin turun, Rafa dan Tiara tidak juga menemukan jalan keluar.


"Kak, lihatlah! sepertinya disana ada danau," ucap Tiara sambil menunjuk ke arah danau yang berada tak jauh dari tempat mereka saat itu.


"Apa kau ingin pergi kesana?" tanya Rafa yang segera dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Rafapun mengendarai motornya ke arah danau itu. Sesampainya disana mereka berdua segera turun dari motor dan berjalan ke arah dermaga.


Tiara duduk dengan menjuntaikan kakinya ke bawah dengan Rafa yang duduk di sampingnya.


Tiara tersenyum senang melihat pemandangan indah di hadapannya. Lukisan alam senja yang ia lihat saat itu seolah memberikan kedamaian dalam hatinya yang sempat bergejolak karena semua permasalahan hidupnya.


"Mana yang lebih kau sukai? matahari terbenam atau matahari terbit?" tanya Rafa pada Tiara.


"Dua-duanya sama-sama indah, tetapi Tiara lebih suka matahari terbenam seperti ini," jawab Tiara


"Kenapa?" tanya Rafa.


"Karena matahari yang tenggelam tidak pernah mengingkari janjinya, dia akan selalu tenggelam meninggalkan lukisan yang indah seperti ini tapi dia akan selalu kembali esok paginya dengan cahaya yang sama indahnya, seolah dia ingin kepergian dan kedatangannya memberikan sesuatu yang indah pada siapapun yang melihatnya," jawab Tiara dengan menatap cahaya senja yang semakin pudar.


"Bagaimana dengan mendung? kau tidak akan bisa melihat cahaya indah itu saat mendung bukan?" tanya Rafa.


"Kak Rafa benar, mendung datang seperti masalah hidup yang datang tanpa bisa kita hindari, tapi setelah semua itu terlewati cahaya indah itu akan kembali hadir bukan? mendung tidak akan membuat cahaya itu hilang selamanya," balas Tiara.


"Pada akhirnya matahari senja tetap menepati janjinya untuk kembali saat pagi," lanjut Tiara dengan tersenyum menatap sinar jingga.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan menatap Tiara tanpa kata. Wajah cantik dengan hidung mancung itu semakin terlihat bercahaya di bawah senja yang semakin padam.


Melihat Tiara yang hanya mengenakan pakaian berlengan pendek, Rafapun melepaskan kemejanya lalu memberikannya pada Tiara.


"Pakailah, disini sangat dingin!" ucap Rafa.


"Kak Rafa juga akan kedinginan jika tidak memakainya," balas Tiara.


"Kau lebih membutuhkannya," ucap Rafa.


"Tapi......"


"Kau harus menjaga kesehatanmu Tiara, jangan sampai sakit, karena kau harus bekerja dan mengerjakan skripsimu!" ucap Rafa memotong ucapan Tiara.


"Baiklah, tapi jangan salahkan Tiara kalau kak Rafa kedinginan," balas Tiara sambil memakai kemeja milik Rafa yang tampak terlalu besar untuknya.

__ADS_1


__ADS_2