Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Keluarga Baru Tiara


__ADS_3

Tiara mengayuh sepedanya bersama Rafa yang juga mengayuh sepeda di belakangnya. Mereka menyusuri jalan raya ke arah taman tempat mereka akan berkumpul dengan para staf yang mengikuti project baru mereka.


Sesampainya di taman merekapun berkumpul dengan para staf yang lainnya lalu kembali bersepeda bersama melewati beberapa KM jalan protokol di kota.


Hingga akhirnya mereka sampai di tujuan terakhir, yaitu stadion yang berada di dekat kafe milik Rafa. Rafa kemudian menghubungi Chika, meminta Chika untuk memberikan makanan ringan dan juga minuman pada semua staf yang ikut bersepeda hari itu.


"Tiara, kau juga ikut bersepeda?" tanya Chika saat ia melihat Tiara disana.


"Terpaksa," jawab Tiara dengan membawa ekor matanya ke arah Rafa yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Apa Pak Rafa yang memaksamu?" tanya Chika berbisik yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Chika hanya terkekeh lalu ke pergi, berniat untuk mengambilkan Tiara minuman. Namun sebelum Chika kembali, Rafa sudah berjalan ke arah Tiara sambil membawa satu botol minuman dan satu kotak makanan ringan untuk Tiara, membuat Chika urung untuk kembali pada Tiara.


"Ini adalah salah satu menu baru di kafe, kau harus mencobanya!" ucap Rafa pada Tiara.


"Terima kasih," balas Tiara sambil menerima minuman dan makanan dari Rafa kemudian beranjak dari duduknya untuk menghindar dari Rafa.


Tiara memilih untuk duduk bersama teman-temannya yang lain agar Rafa tidak kembali menghampirinya. Namun ternyata ia salah, Rafa justru berjalan ke arah teman-teman Tiara dan menanyakan respon mereka tentang menu baru kafenya.


Rafa bertanya pada satu persatu teman-teman Tiara hingga akhirnya ia juga bertanya pada Tiara.


"Bagaimana menurutmu Tiara?" tanya Rafa pada Tiara.


"Enak pak," jawab Tiara singkat.


"Jawabanmu terlalu singkat Tiara, tidak bisakah kau mendeskripsikan tentang minuman dan makanan itu?" tanya Rafa yang memang sengaja ingin mengobrol lebih lama bersama Tiara.


"Menurut Tiara minuman dan makanannya sudah sempurna, tingkat kemanisan minumannya sudah pas jadi tidak terlalu manis ataupun kurang manis, makanannya juga enak walaupun ditaruh di kotak seperti ini dia tetap crispy," jawab Tiara.


"Ada beberapa varian lain di kafe, jika kau ingin mencobanya kau bisa datang ke kafe!" ucap Rafa.


"Apa hanya Tiara yang boleh datang ke kafe Pak?" sahut teman Tiara yang lain.


"Tentu saja semuanya boleh datang ke kafe," jawab Rafa yang membuat semuanya bertepuk tangan kecil.


"Setelah ini akan ada mobil yang mengangkut sepeda kalian, kalian juga akan diantarkan kembali pulang ke rumah kalian masing-masing," ucap Rafa pada semua stafnya yang ada disana.


Setelah beberapa lama beristirahat, mobil pengangkut sepeda dan sebuah minibus datang.


"Terima kasih atas partisipasinya untuk project baru kita, semoga produk baru yang akan kita luncurkan nanti bisa sukses di pasaran," ucap Rafa pada semua stafnya lalu mempersilakan mereka semua untuk naik ke minibus.


"Tiara, tolong bantu saya mengangkat sepeda sepeda ini!" ucap Rafa pada Tiara yang hendak masuk ke dalam bus.


"Baik Pak," balas Tiara lalu mengambil sepeda-sepeda yang ada disana untuk ia bawa mendekat ke arah mobil yang digunakan untuk mengangkut sepeda.


Sebelum Tiara menyelesaikan perintah Rafa, minibus yang akan mengantar para staf pulang tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan Tiara.


"Tunggu..... tunggu!" teriak Tiara berusaha menghentikan minibus yang sudah melaju semakin jauh.


"Percuma kau berteriak seperti itu, mereka tidak akan mendengarmu!" ucap Rafa.


"Ini semua gara-gara kak Rafa," batin Tiara kesal dalam hati.


Setelah semua sepeda sudah berhasil dinaikkan ke dalam mobil, kecuali sepeda Rafa, mobil itupun segera pergi meninggalkan Rafa berdua bersama Tiara disana.


"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Rafa.


"Terima kasih, tapi Tiara bisa pulang sendiri," balas Tiara menolak.


"Bagaimana caramu pulang? kau bahkan tidak terlihat membawa ponsel untuk memesan taksi," tanya Rafa.


"Tiara akan menunggu taksi disini dan membayarnya saat sudah sampai di rumah," jawab Tiara lalu berdiri di pinggir jalan untuk menghentikan taksi.


Namun, menit demi menit berlalu, sampai hampir setengah jam Tiara berdiri di pinggir jalan ia belum juga mendapatkan taksi yang kosong. Semua taksi yang lewat di depannya sudah memiliki penumpang di dalamnya.


"Sampai kapan kau akan disini? hari-hari seperti ini taksi sangat sibuk, pasti sangat sulit untuk menunggu taksi tanpa memesannya melalui ponsel," ucap Rafa.

__ADS_1


"Sial, apa yang harus aku lakukan sekarang? apa aku harus meminjam ponsel kak Rafa?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Aku hanya bisa membantumu dengan mengantarmu pulang karena aku juga tidak membawa ponsel," ucap Rafa yang seolah mengerti isi hati Tiara.


Tiara terdiam untuk beberapa saat, berusaha memikirkan cara lain agar ia bisa pulang tanpa harus diantar oleh Rafa.


"Tiara akan menemui Chika di kafe, Tiara permisi," ucap Tiara lalu segera berjalan ke arah zebra cross untuk menyeberang dan berlari kecil ke arah kafe untuk meminta bantuan Chika.


Rafapun hanya menghela nafasnya saat melihat bagaimana Tiara yang tidak ingin menerima bantuannya. Rafapun mengayuh sepedanya ke arah kafe untuk mengikuti Tiara.


Sesampainya di kafe, tak lama setelah Tiara masuk Rafa melihat Tiara keluar dari kafe dengan raut wajah yang lemas.


"Apa kau sudah mendapat bantuan dari Chika?" tanya Rafa.


"Ternyata Chika sudah pergi," jawab Tiara tak bersemangat.


"Sekarang kau tidak punya pilihan lain, kau hanya bisa menerima bantuanku Tiara, karena kau tidak membawa uang kau tidak bisa naik bus karena tidak mungkin bus akan berhenti untuk menunggumu mengambil uang di rumah," ucap Rafa yang merasa menang di atas awan.


"Pak Rafa bener, tapi bagaimana Pak Rafa akan mengantar Tiara? apa ada mobil Pak Rafa disini?" tanya Tiara.


"Tidak harus menggunakan mobil untuk bisa mengantarmu pulang Tiara, bukankah ada sepeda ini," balas Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Pak Rafa pasti bercanda," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku tidak sedang bercanda Tiara, aku benar-benar ingin mengantarmu pulang," balas Rafa berusaha meyakinkan Tiara.


"Tapi bagaimana Pak Rafa bisa mengantar Tiara pulang dengan sepeda itu?" tanya Tiara tak mengerti.


"Bukankah kau bisa duduk disini?" balas Rafa dengan menunjuk bagian top tube sepedanya.


"Duduk disitu? apa Pak Rafa yakin?" tanya Tiara ragu.


"Tentu saja yakin, ayolah sebelum hari semakin siang dan matahari akan semakin membakarmu," jawab Rafa.


"Tapi......"


"Tiara akan duduk disini tapi Pak Rafa harus janji jangan pernah menyentuh Tiara seperti itu," ucap Tiara.


"Baiklah aku minta maaf, sekarang naiklah kita harus segera sampai di rumahmu sebelum matahari semakin terik," ucap Rafa.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam sebelum akhirnya ia benar-benar memutuskan untuk duduk di top tube sepeda Rafa.


"Apa kau siap?" tanya Rafa sebelum ia mengayuh sepedanya.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, tiba-tiba saja jantungnya terasa berdetak begitu cepat, dadanya berdebar bersama perasaan aneh yang mulai menguasai hatinya.


Rafa tersenyum penuh kemenangan melihat Tiara yang kini berada sangat dekat dengannya, Rafapun segera mengayuh sepedanya dengan pelan, meninggalkan kafe dan mengayuhnya ke arah jalan raya.


"Menurutmu jalan mana yang harus aku lewati agar kita bisa lebih cepat sampai di rumahmu?" tanya Rafa pada Tiara.


"Sebaiknya di lampu merah itu Pak Rafa belok ke kanan," jawab Tiara.


"Bukankah itu akan melewati gang sempit nantinya?" tanya Rafa.


"Memang bukan jalan raya besar tetapi gangnya tidak terlalu sempit untuk dilalui sepeda, jika Pak Rafa lewat jalan itu kita akan lebih cepat sampai di rumah Tiara," jawab Tiara.


"Kenapa kau sangat ingin melewati jalan sempit itu? apa kau tidak takut tersesat dan berakhir di danau?" tanya Rafa mengingat apa yang pernah terjadi di antara mereka berdua.


"Tiara sangat hafal jalan itu Pak, bukankah tadi Pak Rafa yang bertanya tentang jalan yang bisa membawa Pak Rafa cepat sampai di rumah Tiara!" balas Tiara yang mulai kesal.


"Hahaha.... aku hanya bercanda Tiara, kau jangan terlalu seriusNd ucap Rafa sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.


"Pak Rafa tadi sudah berjanji tidak menyentuh Tiara sembarangan, apa pak Rafa lupa?" tanya Tiara kesal.


"Aaahhh iya maafkan aku hehehe...." ucap Rafa dengan terkekeh, melihat Tiara yang tampak kesal membuatnya semakin gemas pada Tiara.


Meskipun matahari cukup terik siang itu dan jarak dari stadion ke arah rumah Tiara cukup jauh, namun Rafa mengayuh sepedanya dengan penuh senyum.

__ADS_1


Tidak ada sedikitpun lelah yang ia rasakan, yang ada hanya rasa bahagia karena ia bisa berada dekat dengan Tiara.


Di sisi lain, Tiara yang sudah cukup lama berada di posisinya saat itu ia sudah mulai merasa nyaman. Debaran dalam hatinya yang masih bergemuruh mulai memberikan rasa nyaman yang membuatnya tidak ingin saat itu cepat berlalu.


Tiara bahkan tidak sadar jika Rafa mengayuh sepedanya ke arah lain, bukan ke arah dimana mereka akan lebih cepat sampai jika melewati jalan yang Tiara tunjukkan.


Rafa memang sengaja mengayuh sepedanya melalui jalan yang lebih jauh dari rumah Tiara, karena Rafa tidak ingin momen yang membahagiakannya itu berlalu dengan cepat.


"Bagaimana kuliahmu di Amerika, Tiara? sepertinya menyenangkan mengingat kau tidak pernah kembali bahkan saat libur," tanya Rafa berbasa-basi.


"Hanya ada hal yang menyenangkan disana, Tiara juga tidak memiliki tujuan apapun untuk kembali kesini jadi untuk apa Tiara kembali," balas Tiara


"Lalu kenapa kau tiba-tiba memutuskan untuk kembali? apa ada sesuatu atau seseorang yang membuatmu akhirnya kembali kesini?" tanya Rafa.


"Tiara kembali semata-mata hanya untuk karir Tiara, tidak ada hubungannya dengan sesuatu ataupun seseorang seperti yang pak Rafa maksud," jawab Tiara.


Rafa hanya tersenyum tipis, sepanjang perjalanan Rafa selalu berusaha untuk mencari topik pembicaraan agar mencairkan kebekuan di antara mereka berdua.


Sampai akhirnya merekapun sampai di rumah tempat tinggal Tiara.


"Kenapa rasanya cepat sekali sampai," ucap Rafa saat ia sudah menghentikan sepedanya di depan rumah Tiara.


Tiarapun segera turun dan berterima kasih pada Rafa.


"Tiara juga berterima kasih karena pak Rafa sudah memperkerjakan kak Gita, terima kasih atas sikap baik pak Rafa, tapi mungkin kak Gita tidak akan lama bekerja di kafe," ucap Tiara pada Rafa


"Kenapa? apa dia sudah punya pekerjaan yang lain?" tanya Rafa.


"Pak Rafa tidak perlu tau, tapi yang pasti Tiara sangat berterima kasih atas niat baik pak Rafa, Tiara permisi," ucap Tiara lalu berjalan masuk ke rumahnya.


Rafa hanya menghela nafasnya, menatap Tiara yang sudah masuk ke dalam rumahnya.


"Hmmm.... dia bahkan tidak memintaku untuk beristirahat di rumahnya," gerutu Rafa lalu mengendarai sepedanya pergi dari rumah Tiara.


**


Hari-hari telah berlalu, Rafa selalu berusaha untuk mendekati Tiara dengan segala macam cara yang ia lakukan namun tetap saja Tiara seolah tidak mempedulikannya.


Meskipun begitu, Rafa tidak menyerah, ia merasa masih banyak hal yang bisa ia lakukan agar ia bisa kembali mendapatkan Tiara.


Di sisi lain Tiara tidak terlalu memikirkan apa yang Rafa lakukan padanya, meskipun tak dapat dipungkiri debaran dalam dadanya selalu datang setiap ia berada dekat dengan Rafa, namun ia berusaha untuk mengabaikannya.


Tiara kini fokus dengan keluarganya. Setelah ia mendapatkan rumah peninggalan sang papa, Tiarapun memberitahu Gita dan Mama Laras agar mereka pindah ke rumah itu.


Hari itu adalah hari dimana nama Laras dan Gita kembali ke tempat tinggal mereka yang sempat mereka jual pada orang lain.


Raut penuh kebahagiaan terpancar dari wajah Gita dan Mama Laras. Selain Gita, Bintang dan Mama Laras, Tiara juga tinggal di rumah itu.


Kini rumah itu penuh dengan kebahagiaan karena pada akhirnya mereka bisa berkumpul bersama tanpa ada dendam ataupun niat buruk yang tersimpan.


"Terima kasih Tiara, mama tidak tahu bagaimana harus berterima kasih atas semua kebaikanmu pada mama dan juga Gita," ucap Mama Laras pada Tiara.


"Kita adalah keluarga ma, jadi memang sudah sewajarnya kita saling membantu," balas Tiara.


"Dari dulu kau memang sangat baik Tiara, aku hanya bisa berdoa agar kebaikan selalu berpihak padamu," ucap Gita.


"Terima kasih kak, mulai sekarang kak Gita tidak perlu bekerja lagi di kafe kak Rafa, Tiara akan memberikan modal untuk kak Gita bekerja dari rumah jika kak Gita bersedia," ucap Tiara.


"Tentu saja aku bersedia Tiara, aku pasti akan mengembalikan modal yang kau berikan setelah aku mendapatkan keuntungan dari usahaku," balas Gita penuh semangat.


"Mama juga tidak perlu menjadi asisten rumah tangga lagi, Tiara sudah meminta orang kepercayaan papa untuk mempercayakan Mama memegang salah satu bisnis papa," ucap Tiara pada Mama Laras.


"Astaga Tiara, kau benar-benar membuat Mama terharu, terima kasih banyak Tiara, Mama pasti akan memperlakukanmu dengan sangat baik, Mama akan menebus semua kesalahan Mama padamu selama ini," ucap Mama Laras lalu memeluk Tiara.


Merekapun saling berpelukan, tidak terkecuali Bintang yang ikut memeluk Tiara dari pangkuan Gita.


Tiara benar-benar merasa bahagia saat itu, berkumpul kembali bersama keluarga tirinya memang bukanlah tujuannya untuk kembali, namun hal itu menjadi hadiah paling indah untuk Tiara setelah kembalinya ia dari Amerika

__ADS_1


__ADS_2