Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Hari Wisuda


__ADS_3

Tiara dan Rafa sudah sampai di depan makam. Setelah membeli bunga, merekapun berjalan masuk ke area pemakaman.


"Nikmati waktumu bersama mama dan papamu, aku tidak akan mengganggumu," ucap Rafa pada Tiara lalu berjalan ke arah makam sang kakek.


Tiarapun membawa langkahnya ke arah makam dan mama dan papanya lalu duduk diantara keduanya seperti biasa.


"Tiara berhasil ma pa, Tiara berhasil mendapatkan gelar cumlaude seperti yang Tiara harapkan, rasanya langkah Tiara untuk meraih mimpi Tiara semakin dekat, Tiara sangat bahagia sekaligus takut, Tiara takut jika kebahagiaan yang Tiara rasakan ini hanyalah sementara sebelum datang sesuatu yang menyedihkan bagi Tiara," ucap Tiara.


"Entah kenapa Tiara merasa ada suatu hal yang tidak Tiara inginkan terjadi, entah apa, kenapa dan kapan hal itu akan terjadi tapi Tiara merasa takut setiap Tiara memikirkannya," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.


Namun Tiara segera mengangkat kepalanya dan membawa senyumnya pada mama dan papanya. Tiara memang selalu menceritakan semua yang ia rasakan pada mama dan papanya namun ia tidak ingin ketakutannya itu menutupi kebahagiaan yang ia dapatkan saat itu.


"Mama dan papa jangan khawatir, Tiara pasti bisa menghadapi semua masalah yang ada di depan nanti, kepergian mama dan papa membuat Tiara semakin kuat untuk bisa menjalani segala takdir yang sudah digariskan untuk Tiara, entah itu sesuatu yang membahagiakan atau menyedihkan," ucap Tiara.


Di sisi lain Rafa yang saat itu tengah duduk di samping makam kakeknya hanya terdiam menatap batu nisan dengan nama kakeknya yang tertulis disana.


Dalam hatinya ia mempertanyakan banyak hal tentang keinginan kakeknya yang pada akhirnya membuatnya menikahi Maya, perempuan yang sama sekali tidak dicintainya, bahkan setelah cukup lama pernikahan mereka tidak ada sedikitpun cinta yang tumbuh di hatinya.


"Rafa masih belum bisa mencintainya kek, hati Rafa seolah tertutup untuknya, bukan karena dia perempuan yang tidak baik, hanya saja hati Rafa tidak memilihnya, sama seperti Rafa dia juga menjalani pernikahan ini dengan terpaksa hanya demi karir yang sudah lama dia impikan," ucap Rafa dalam hati.


"Maafkan Rafa karena tidak bisa menjalani pernikahan ini dengan baik, mungkin kakek akan sangat kecewa melihat bagaimana keadaan pernikahan Rafa yang sebenarnya, tapi tidak ada yang bisa Rafa lakukan karena memang sama sekali tidak ada cinta di antara kita berdua," lanjut Rafa dengan menundukkan kepalanya.


Ia tidak bermaksud menyesal karena sudah menuruti permintaan kakeknya hanya saja ia berharap jika Tuhan bisa memberikan waktu lebih lama pada kakeknya Rafa pasti bisa meyakinkan kakeknya untuk tidak memaksanya menikahi Maya, dengan begitu ia tidak akan terjebak pada pernikahan tanpa cinta yang selama ini dia jalani bersama Maya.


"Sekarang Rafa takut kek, Rafa takut jika suatu hari nanti Rafa benar-benar jatuh cinta pada perempuan lain, Rafa tidak ingin dianggap sebagai suami yang buruk, Rafa juga tidak ingin perempuan yang Rafa cintai nanti dianggap sebagai perempuan kedua dalam rumah tangga Rafa."


"Bolehkah Rafa mencintai perempuan lain di saat Rafa masih berstatus menjadi suami Maya? bolehkah Rafa menginginkan perempuan lain dalam hidup Rafa? jika tidak boleh lalu apa yang harus Rafa lakukan dengan rumah tangga Rafa yang sama sekali tidak ada cinta di dalamnya? bahkan tidak ada perhatian dan kepedulian sedikitpun antara Rafa dan Maya."


Rafa menghela nafasnya panjang, tersenyum getir menatap batu nisan di hadapannya, mengusapnya pelan lalu beranjak dan berdiri menatap Tiara dari kejauhan.


"andai aku bisa memutar waktu, andai kita bisa bertemu lebih dulu, pasti pernikahan ini tidak akan terjadi, pasti ada alasan kuat untuk aku menolak pernikahan ini karena ada seseorang yang harus aku perjuangkan," ucap rafa dalam hati.


Saat melihat Tiara yang mulai beranjak, Rafapun berjalan menghampiri Tiara lalu keluar dari area pemakaman bersama Tiara.


Rafa kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan pemakaman bersama Tiara.


"Apa kak Rafa baik-baik saja?" tanya Tiara yang melihat Rafa tampak murung saat itu.


"Kenapa kau bertanya seperti itu? apa aku terlihat menyedihkan?" balas Rafa bertanya dengan tersenyum tipis.


"Kak Rafa terlihat murung," jawab Tiara dengan menatap Rafa dari samping.


"Aku hanya sedang merindukan kakek," ucap Rafa beralasan.


"Tiara juga sering merindukan mama dan papa, mungkin untuk beberapa saat Tiara bersedih tapi Tiara segera menghapus kesedihan Tiara karena Tiara yakin Mama dan papa tidak ingin melihat Tiara bersedih meratapi kepergian mereka, kakek kak Rafa juga pasti seperti itu, tidak ingin melihat cucunya yang tampan ini bersedih," ucap Tiara yang membuat Rafa tersenyum dengan membawa pandangannya sekilas ke arah Tiara.


"Kau memang pandai membahagiakan orang lain Ra, kau juga harus bisa membahagiakan dirimu sendiri," ucap Rafa.


"Tentu saja, bukankah Tiara selalu terlihat bahagia?"


"Kau harus benar-benar bahagia Tiara, bukan sekedar terlihat bahagia," balas Rafa yang membuat Tiara terdiam.


"Memikirkan kebahagiaanmu sendiri bukanlah sesuatu yang egois, itu adalah bentuk mencintai diri sendiri dan kau harus belajar melakukan itu," ucap Rafa.


"Apa menurut kak Rafa selama ini Tiara tidak benar-benar bahagia?" tanya Tiara.


"Jangan bertanya padaku Ra, bahagia atau tidak hanya kaulah yang tahu apa yang sebenarnya kau rasakan," balas Rafa.


Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum sambil menatap jalan raya yang tampak padat saat itu.


"semua kepahitan yang sudah terjadi membuat Tiara belajar banyak hal tentang arti kebahagiaan dan kekeluargaan yang sesungguhnya," ucap Tiara dalam hati.

__ADS_1


"Dan kau juga harus belajar untuk tidak selalu berbicara dalam hati," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa dengan terkejut.


"Kak Rafa mendengarnya?" tanya Tiara yang membuat Rafa terkekeh.


"Kenapa kak Rafa tertawa? apa kak Rafa benar-benar mendengarnya? apa selama ini kak Rafa selalu mendengar suara hati Tiara?" tanya Tiara.


"Hahaha..... kau ada-ada saja, mana ada manusia yang bisa seperti itu," balas Rafa.


"Tapi kak Rafa selalu tahu setiap Tiara berbicara dalam hati," ucap Tiara.


"Aku hanya memperhatikan raut wajahmu saja, kau pikir aku cenayang yang bisa mendengar suara hatimu?" balas Rafa.


"Memangnya kenapa dengan raut wajah Tiara?" tanya Tiara yang segera menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


"Entahlah sulit untuk menjelaskannya, tapi aku tahu bagaimana perubahan raut wajahmu saat kau sedang berbicara di dalam hati," ucap Rafa yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.


"Kak Rafa aneh sekali, apa jangan-jangan kak Rafa memang keturunan cenayang ya!"


"Hahaha mungkin kau benar," ucap Rafa yang membuat Tiara menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalau begitu kak Rafa pasti tahu bagaimana hasil yudisium tadi!" ucap Tiara.


"Tentu saja aku tidak tahu, kau sama sekali belum menceritakannya padaku," balas Rafa.


"Tiara tidak akan menceritakannya, kak Rafa pasti tahu karena kak Rafa memiliki ilmu cenayang hehehe....." ucap Tiara yang membuat Rafa terkekeh.


Sebenarnya bagi Rafa tidaklah sulit untuk mengetahui hasil yudisium Tiara, karena Rafa masih memiliki beberapa teman dosen di kampus Tiara yang bisa memberinya semua informasi yang ia mau.


**


Hari yang Tiara tunggupun tiba, hari dimana Tiara melaksanakan wisudanya di kampus. Meski ia mendapatkan undangan untuk membawa orang tua atau walinya datang, tetapi Tiara memilih untuk menyimpan undangan itu dan tidak memberikannya pada siapapun karena ia benar-benar sudah tidak ingin berhubungan lagi dengan mama tirinya.


Dengan selempang bertuliskan cumlaude, Tiara duduk dengan anggun di antara para mahasiswi dan mahasiswa yang wisuda hari itu.


Meskipun ia begitu bahagia dan bangga pada dirinya sendiri, terselip sebuah rasa sedih di sebagian kecil ruang hatinya.


Di saat semua teman-temannya ditemani oleh keluarga ataupun orang terdekat mereka, Tiara hanya seorang diri tanpa ada siapapun yang menemaninya.


Beruntung ia cukup dekat dengan keluarga Kevin yang memberikannya selamat dan merasa bangga pada pencapaian yang Tiara dapatkan.


"Orang tuamu pasti sangat bangga padamu Tiara," ucap mama Kevin pada Tiara.


Setelah acara wisuda selesai, Tiara dan teman-temannyapun keluar dari gedung acara untuk berfoto bersama dengan melempar topi toga ke atas seperti yang biasa dilakukan oleh mereka yang baru saja selesai wisuda.


Saat Tiara tengah berfoto bersama teman-temannya, tiba-tiba Tiara menatap satu sudut yang membuatnya terdiam.


Ia melihat seseorang yang berdiri dengan memegang buket bunga yang cukup besar. Seseorang itupun tersenyum penuh kehangatan saat ia menyadari bahwa Tiara sudah menyadari kedatangannya.


"kak Rafa, apa kak Rafa kesini untuk menemuiku?" batin Tiara bertanya dalam hati.


"Ayo Ra, kita berfoto di tempat lain!" ucap teman Tiara mengajak Tiara pergi.


"Kalian duluan saja," balas Tiara.


"Baiklah kita pergi dulu, kau cepatlah menyusul!" ucap teman Tiara lalu berlari pergi untuk berfoto di tempat lain, sedangkan Tiara masih berdiri di tempatnya menatap Rafa yang perlahan berjalan ke arahnya dengan senyum yang membuat Rafa semakin terlihat tampan saat itu.


Langkah Rafa seolah berjalan beriringan dengan detik waktu yang semakin membuat degup jantung Tiara berdetak kencang.


"Selamat Ra, aku sangat bangga padamu," ucap Rafa sambil memberikan buket bunganya pada Tiara.


"Terima kasih kak, terima kasih," ucap Tiara dengan kedua mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


"jangan menangis Ra, kau membuatku ingin memelukmu," ucap Rafa dalam hati.


Tiara yang menyadari kedua matanya yang mulai penuh oleh air mata segera mendongakkan kepalanya menatap langit luas di atasnya, agar air matanya tidak tumpah di hadapan Rafa saat itu.


"Apa tidak ada keluargamu yang datang Ra?" tanya Rafa yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Kau benar-benar menjadi anak yang membanggakan dengan selempang itu, aku yakin itu akan menjadi salah satu pintu yang akan membawamu menuju impianmu," ucap Rafa mengalihkan pembicaraan karena tidak ingin membuat Tiara semakin bersedih.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, tenggorokannya seolah tercekat membuatnya tidak mampu mengatakan apapun.


Kedatangan Rafa membuat hatinya dipenuhi oleh rasa haru dan bahagia. Di saat ia tidak memiliki siapapun Rafa datang memberikannya kebahagiaan yang ia harapkan.


"Pak Rafa!" panggil seorang dosen yang merupakan teman Rafa.


"Aku akan menemui temanku sebentar, kau berfotolah bersama teman-temanmu, aku akan menemuimu lagi nanti," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


Tiara hanya berdiri di tempatnya, menatap Rafa yang berjalan pergi meninggalkannya. Senyum di bibirnya masih jelas tergambar, menunjukkan betapa bahagianya ia saat itu.


Hingga tiba-tiba seseorang memanggil namanya, seorang wanita asing yang tidak pernah ia lihat dan ia kenal sebelumnya.


"Tiara Anastasia," panggilnya.


Tiarapun hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun pada wanita yang sudah berdiri di hadapannya.


"Perkenalkan saya Maya Paradista, pengacara yang ditunjuk oleh Pak Ardi Nugraha untuk mengurus warisannya," ucap Maya dengan mengulurkan tangannya pada Tiara.


Tiarapun menerima uluran tangan Maya tanpa mengatakan apapun.


"Selamat atas wisudamu Tiara dan selamat atas predikat cumlaude yang kau dapatkan, mama dan papamu pasti bangga jika mereka melihatmu saat ini," ucap Maya.


"Terima kasih, tapi maaf sebelumnya, ada keperluan apa Anda mencari saya?" tanya Tiara.


"Tentu saja saya ingin bertemu denganmu untuk membicarakan tentang warisan yang ditinggalkan oleh Pak Ardi padamu, apa ada ibu Laras dan Gita yang menemanimu disini?" jawab Maya sekaligus bertanya.


"Tidak," jawab Tiara singkat.


"Waaahh sepertinya hubungan kalian sedang tidak baik, apa benar seperti itu?" tanya Maya yang membuat Tiara merasa tidak nyaman dengan pertanyaan Maya.


"Mungkin sebaiknya kita tidak membicarakan hal itu disini," ucap Tiara.


"Aaahh iya kau benar, maaf sudah mengganggu waktumu, tapi bolehkah saya meminta nomormu untuk membuat janji pertemuan kita yang selanjutnya?"


"Bagaimana jika bertemu di cafe X jam 07.00 nanti malam?" balas Tiara yang merasa enggan untuk memberikan nomornya pada Maya.


"Oke baiklah, saya akan menunggumu disana tepat pukul 07.00 malam," ucap Maya yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Saya permisi," ucap Tiara lalu berjalan pergi meninggalkan Maya untuk menemui teman-temannya yang sedang berfoto di tempat lain, sekaligus menghindar dari Maya yang dianggapnya bekerja sama dengan mama tirinya.


Sedangkan Maya masih berdiri di tempatnya menatap Tiara yang berjalan menjauh darinya.


"Ada apa dengan sikapnya? kenapa dia seperti sedang mencurigaiku?" tanya Maya pada dirinya sendiri.


"Sepertinya memang terjadi sesuatu yang tidak aku tahu, aku harus memastikannya terlebih dahulu sesuai dengan permintaan Pak Ardi," ucap Maya.


Saat Maya baru saja berbalik, tanpa sengaja ia hampir saja menabrak seseorang yang membuatnya seketika terdiam.


"Maya, apa yang kau lakukan disini?" tanya Rafa yang begitu terkejut melihat keberadaan Maya.


"Aku baru saja menemui klienku, kau sendiri kenapa ada disini? bukankah kau sudah dikeluarkan dari kampus?" jawab Maya sekaligus bertanya.


"Aku..... tentu saja bertemu dengan temanku," jawab Rafa.

__ADS_1


"Memangnya masih ada yang mau berteman denganmu setelah skandal yang membuatmu dikeluarkan dari kampus?" tanya Maya dengan senyum mengejek lalu berjalan pergi meninggalkan Rafa begitu saja.


Maya memang mengetahui video yang membuat Rafa dikeluarkan dari kampus, tetapi ia tidak tahu siapa perempuan yang ada di video itu dan iapun tidak tertarik untuk mencari tahu tentang siapa perempuan itu.


__ADS_2