
Bima mengendarai mobilnya meninggalkan rumah orang tuanya. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah dimana ia dan Gita tinggal.
Sepanjang perjalanan ia masih memikirkan apa yang sudah ia lakukan pada Tiara yang membuat Tiara berada pada posisi yang menyulitkan baginya.
"Maafkan aku Ra, maaf karena sudah bersikap egois selama ini," ucap Bima menyesali perbuatannya.
Sesampainya di rumah, Bima segera membawa langkahnya naik ke lantai 2 dan masuk ke kamarnya.
"Apa mama dan papa memarahimu?" tanya Gita pada Bima yang sudah berbaring di ranjang.
"Gita, apa kau tidak berpikir bahwa kita sudah sangat jahat pada Tiara?" tanya Bima tanpa menjawab pertanyaan Gita.
"Apa maksudmu? kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" balas Gita bertanya.
"Bodohnya aku tidak benar-benar mengerti apa yang sebenarnya sedang aku lakukan, aku tidak tahu bahwa apa yang aku lakukan itu menyakiti Tiara," ucap Bima.
"Bisakah kau tidak membicarakan Tiara, Bima!" balas Gita kesal.
"Apa kau tidak pernah berpikir bagaimana tersiksanya Tiara selama ini? dia sudah kehilangan kedua orang tuanya dan harus tinggal bersama mama tiri yang tidak menyayanginya, apa...."
"Apa kau juga tidak memikirkan bagaimana tersiksanya aku? aku mengetahui bahwa calon suamiku ternyata menyukai adik tiriku, bahkan aku mengetahui bahwa suami dan adik tiriku menjalin hubungan di belakangku, tapi aku hanya bisa diam dan berpura-pura tidak mengetahuinya, apa kau pikir itu mudah bagiku? apa kau pikir apa yang Tiara lakukan itu bukan hal yang jahat?" ucap Gita memotong ucapan Bima.
"Kau memilih diam karena kau tidak peduli bukan? karena kau tidak mencintaiku dan karena kaupun tahu bahwa pernikahan kita berdua hanyalah rencana orang tua kita,x balas Bima.
"Tapi bagaimanapun juga aku perempuan yang haus kasih sayang Bima, kau sudah mengikrarkan janji sucimu di depan penghulu, apa itu sama sekali tidak berarti bagimu?"
"Tidak, karena aku tidak sungguh-sungguh mengucapkan sesuatu yang kau anggap janji suci itu," jawab Bima yang membuat Gita semakin kesal.
"Kau dan Tiara sama jahatnya, kalian berdua berhubungan di belakangku bahkan setelah kau menjadi suamiku, aku disini juga korban Bima, aku disini juga merasa tersakiti dengan hubungan kalian berdua!" ucap Gita.
"Jangan menyalahkan Tiara, dia sudah lama memendam perasaannya dan tidak pernah mengatakannya padaku, jika bukan karena aku yang mengajaknya untuk melanjutkan hubungan kita mungkin tidak akan pernah ada hubungan antara aku dan Tiara," balas Bima.
"Kau selalu saja membelanya," ucap Gita.
"Aku hanya mengatakan yang sesungguhnya dan sekarang aku sangat menyesal karena lebih memilih mengikuti ucapan orang tuaku daripada memilih untuk mempertahankan Tiara."
"Jika kau memang mencintainya seharusnya kau tidak menerima perjodohan kita!"
"Itulah kebodohanku Gita, selama ini aku sangat ingin menjadi pimpinan di perusahaan dan hanya karena hal itu aku gagal untuk mempertahankan hubunganku dengan Tiara, tapi sekarang aku sadar bahwa pilihanku salah dan tidak seharusnya aku menikahimu," ucap Bima.
"Jika kau memang menyesal ceraikan saja aku!" balas Gita membuat Bima segera membawa pandangannya pada kita.
"Menceraikanmu bukanlah solusi dari masalah ini, karena percuma jika aku tidak bisa mendapatkan Tiara lagi, kita sudah terlalu jauh menjalani sandiwara ini, jadi lebih baik kita lanjutkan sampai kita mendapatkan apa yang menjadi tujuan kita," ucap Bima.
"Aku tidak mempunyai tujuan apapun, bahkan aku tidak menginginkan kehadiran anak dalam kandunganku ini," ucap Gita.
"Jika kau tidak mempunyai tujuan, maka mamamulah yang memiliki tujuan besar itu dan jika terjadi sesuatu yang buruk pada anak dalam kandunganmu tentu semua orang akan sangat marah padamu," ucap Bima memperingatkan Gita.
Gita hanya terdiam lalu membawa langkahnya ke atas ranjang dan berbaring membelakangi Bima dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"hidupku memang hanya untuk menjadi boneka bagi Mama, aku tidak pernah pernah hidup dengan pilihanku sendiri, aku hanya bisa hidup dengan jalan yang sudah dibuat oleh Mama," ucap Gita dalam hati.
"sandiwara ini sudah terlalu jauh, aku sudah tidak bisa mundur lagi, maka satu-satunya jalan adalah aku harus melanjutkannya sampai aku mendapatkan apa yang sudah papa janjikan padaku walaupun hal ini bisa menyakiti Tiara," ucap Bima dalam hati.
**
Di tempat lain Rafa baru saja menyelesaikan pekerjaannya, namun saat ia akan menutup laptopnya tiba-tiba dia terpikirkan ucapan Tiara padanya yang membuatnya urung untuk menutup laptopnya.
Rafa kemudian membuka mesin pencariannya dan mengetik nama "Do Kyungsoo"
Tak butuh waktu lama identitas Do Kyungsoo sudah beberapa fotonyapun terpampang di layar laptop Rafa.
"Penyanyi, aktor, penulis lagu, 12 Januari 1993, apa hebatnya dia? mari kita cari tahu," ucap Rafa lalu mencari tahu tentang semua prestasi yang dimiliki oleh penyanyi sekaligus aktor yang merupakan salah satu member dari boy group EXO itu.
Rafa mengganggu anggukkan kepalanya saat ia membaca apa saja prestasi yang sudah diraih oleh Do kyungsoo, Rafa bahkan mendengarkan beberapa lagu yang dinyanyikan oleh Do Kyungsoo yang membuatnya mengerti alasan Tiara menyukai Do Kyungsoo.
Rafa kemudian mengirimkan salah satu file lagu dari Do kyungsoo kepada Tiara sebagai penyemangat bagi Tiara yang ia yakini sedang mengerjakan skripsinya saat itu.
__ADS_1
"Bersemangatlah!" tulis Rafa dalam pesannya pada Tiara.
Tooookkk tooookkk tooookkk
Suara ketukan pintu membuat Rafa beranjak dari duduknya lalu membuka pintu kamarnya.
"Ada apa?" tanya Rafa pada Maya.
"Sejak kapan kau mendengarkan lagu Korea?" balas Maya bertanya setelah dia mendengar Rafa memutar lagu Korea.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, apa ada sesuatu yang penting?" tanya Rafa tanpa menjawab pertanyaan Maya.
"Minggu depan ada pesta pernikahan saudaraku, jadi kita harus datang kesana," ucap Maya.
"Aku tidak bisa," jawab Rafa yang hendak menutup pintunya namun ditahan oleh Maya.
"Bukankah kau sudah dikeluarkan dari kampus? kau pasti memiliki banyak waktu luang bukan?" tanya Maya.
"Kau sama sekali tidak mengerti kesibukanku Maya, aku juga memiliki kesibukan lain jadi pergilah sendiri, aku tidak bisa menemanimu," balas Rafa.
"Tapi ini acara penting, keluarga besarku pasti akan menanyakanmu jika aku tidak datang bersamamu," ucap Maya berusaha membujuk Rafa.
"Itu acaramu bukan acaraku, lagi pula kau tinggal memberikan alasan bahwa aku sedang sibuk," balas Rafa.
"Mereka pasti akan curiga jika aku selalu memberikan alasan yang sama setiap ada acara keluarga, apa kau tidak memikirkan hal itu?"
"Mama dan papakupun akan curiga karena kau tidak pernah datang ke rumahku, seharusnya kau juga memikirkan hal itu sebelum kau memaksaku datang ke acara keluargamu!" balas Rafa lalu benar-benar menutup pintu kamarnya.
Rafa hanya menghela nafasnya kasar lalu kembali ke meja kerjanya. Sedangkan Maya segera kembali ke kamarnya dengan membawa langkahnya yang kesal pada sikap Rafa yang sama sekali tidak peduli padanya.
**
Di kamarnya, Tiara yang sedang fokus mengerjakan skripsinya dibuat terkejut dengan pesan Rafa yang baru saja masuk.
"Kenapa kak Rafa mengirimiku lagu ini?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
"Jangan bilang kak Rafa sedang mencari tahu tentang Do Kyungsoo," tulis Tiara.
Sampai beberapa menit berlalu tidak ada balasan dari Rafa, membuat Tiara yang tengah mengerjakan skripsinya harus berkali-kali mengecek ponsel di hadapannya.
"Kenapa tidak dibalas?" tanya Tiara sambil melihat kembali pesan yang dikirimnya pada Rafa.
"Biarlah, aku tidak peduli," ucap Tiara lalu fokus pada buku di hadapannya namun sayangnya ia masih memikirkan kenapa Rafa tidak membalas pesannya.
Tiarapun kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa kembali fokus. Tiara kemudian menutup laptopnya lalu merebahkan badannya di ranjang dengan kembali mengecek pesan yang dikirimnya pada Rafa.
"Dia hanya menggangguku saja, benar-benar menyebalkan sekali," ucap Tiara kesal.
Tiara kemudian menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal namun tiba-tiba ia segera beranjak dan memukul-mukul kepalanya sendiri.
"Bodoh sekali, kenapa aku menjadi kesal seperti ini!" ucap Tiara merutuki kebodohannya sendiri.
"Oke lebih baik membaca buku saja daripada memikirkan yang tidak tidak," ucap Tiara lalu mengambil buku dan membacanya di atas ranjang.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering, membuat Tiara dengan cepat mengambil ponselnya namun ia hanya mengelola nafasnya kasar saat melihat nama Bima yang baru saja mengirimkan pesan padanya.
"Aku sangat menyesal Tiara, maafkan aku," tulis Bima pada pesannya.
Tiara hanya membaca notifikasi pesan yang masuk dari Bima tanpa membukanya apalagi membalasnya.
"Mungkin lebih baik jika aku memblokir kontak semua orang yang ada di rumah itu," ucap Tiara lalu kembali mengambil ponselnya dan memblokir nomor Bima, Gita dan Mama Laras.
Tiara sama sekali tidak ingin berhubungan dengan semua orang yang ada di rumah itu. Ia tidak ingin terlibat lagi dengan sandiwara yang mereka mainkan.
Meskipun Tiara sadar bahwa ia juga melakukan kesalahan pada Gita dengan menjalin hubungan dengan Bima, namun fakta bahwa Gita selama ini membencinya membuatnya benar-benar kecewa pada Gita, karena selama ini ia pikir Gita menyayanginya seperti ia menyayangi Gita.
__ADS_1
"Tiara seperti ini juga demi kak Gita, agar kak Bima bisa fokus pada kak Gita dan melupakan Tiara," ucap Tiara dengan menghela nafasnya panjang lalu kembali melanjutkan membaca bukunya.
Setelah beberapa lama membaca, mata Tiarapun mulai terasa berat, namun tiba-tiba ponselnya kembali berdering membuat Tiara segera kembali mengambil ponselnya.
"Kau hanya boleh menyukainya sebagai penyemangatmu, bukan sebagai bahan kehaluanmu!"
Mata Tiara yang sebelumnya terasa sangat berarti tiba-tiba saja menjadi terang benderang setelah ia membaca pesan dari Rafa.
Tiarapun segera membalas pesan Rafa dan tanpa terasa merekapun terus berbalas pesan sampai larut malam.
"Ini sudah sangat malam beristirahatlah, kau harus bekerja besok pagi!"
Tiara menganggukkan kepalanya dengan tersenyum meskipun ia tahu bahwa Rafa tidak melihatnya saat itu.
Setelah mengakhiri pesannya dengan Rafa, Tiarapun segera menarik selimutnya dan menenggelamkan kepalanya di dalam selimut seperti yang biasa ia lakukan agar ia bisa tidur dengan nyenyak.
**
Hari telah berganti, Tiara keluar dari rumah bukan untuk pergi ke kafe melainkan pergi ke kampus untuk bimbingan skripsi.
Tiara juga sudah meminta izin pada Rafa sebelumnya dan Rafapun mengizinkannya seperti biasa.
Sesampainya Tiara di kampus, Tiara segera menunggu dosen pembimbingnya datang. !Namun bukannya dosen pembimbing yang sebelumnya melainkan Bima yang datang menghampirinya.
Bima membawa langkahnya dengan penuh senyum ke arah Tiara duduk. Tiara yang memang sedang ada janji dengan dosen pembimbingnya hanya bisa diam meski dirinya sangat ingin pergi dari tempat itu.
"Aku tahu kau sudah menungguku," ucap Bima lalu duduk di hadapan Tiara.
"Maaf kak, Tiara sedang menunggu dosen pembimbing Tiara," balas Tiara.
"Dan aku adalah dosen pembimbing yang kau tunggu," ucap Bima yang membuat Tiara begitu terkejut.
"Kenapa tiba-tiba kak Bima yang menjadi dosen pembimbing Tiara? kenapa kak....."
"Pak Bima, saya dosenmu disini Tiara jadi tolong bersikaplah yang sopan," ucap Bima yang tiba-tiba berbicara formal pada Tiara.
"Tidak, Tiara tidak ingin kak Bima yang menjadi dosen pembimbing Tiara," ucap Tiara lalu segera beranjak dari duduknya namun segera ditahan oleh Bima.
"Duduklah, kau harus melakukan bimbingan skripsi sekarang!" ucap Bima dengan tegas, namun bukannya mengikuti ucapan Bima Tiara malah menarik tangannya dengan kasar lalu berlari pergi meninggalkan Bima begitu saja.
Tiara bermaksud untuk mencari dosen pembimbingnya yang sebelumnya, ia ingin menanyakan kenapa tiba-tiba Bima yang menjadi dosen pembimbingnya.
Namun Tiara tidak bisa menemukan bahkan ia tidak bisa menghubungi dosen pembimbingnya yang sebelumnya, membuat Tiara segera menemui dekan fakultasnya.
Dekannyapun menjelaskan bahwa dosen pembimbing Tiara tiba-tiba sakit keras dan harus dirawat di rumah sakit dan Bima yang menawarkan diri untuk menggantikan menjadi dosen pembimbing Tiara.
"Apa tidak ada dosen yang lain Pak? Tiara sedikit merasa canggung dengan Pak Bima karena kita sudah lama bertetangga," tanya Tiara berharap dekannya mau menerima alasannya untuk mengganti Bima.
"Justru akan lebih menyenangkan jika kau mengenal baik dosen pembimbingmu bukan? sudahlah Tiara terima saja Bima sebagai dosen pembimbingmu, jika kau banyak bertanya dan protes seperti ini kau bisa mendapat masalah, karena masalahmu yang sebelumnya saja belum benar-benar selesai!"
"Padahal ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah Tiara bersama Pak Rafa," gerutu Tiara yang didengar dengan jelas oleh dekannya.
"Sekarang ini semua mata tertuju padamu Tiara, jadi jangan membuat ulah jika kau memang ingin segera lulus dari universitas ini," ucap dekan lalu pergi meninggalkan Tiara begitu saja.
Tiarapun hanya bisa membawa langkahnya dengan malas untuk menemui Bima.
"Aku tahu kau akan kembali lagi, duduklah!" ucap Bima sambil menggeser kursi untuk Tiara, namun Tiara memilih untuk duduk di kursi lain yang sedikit lebih jauh dari Bima.
"Ra, kau...."
"Mari kita mulai bimbingan skripsi hari ini pak, Tiara tidak bisa berlama-lama disini karena Tiara harus bekerja," ucap Tiara memotong ucapan Bima.
"Aaahh iya, tentang itu aku belum menanyakannya padamu, dimana kau bekerja?"
"Tolong jangan membahas hal lain yang tidak ada hubungannya dengan skripsi Tiara atau Tiara akan melaporkan hal ini pada dekan," ucap Tiara mengancam yang hanya membuat Bima tertawa mendengar ancaman Tiara.
Tiarapun hanya diam dengan raut wajah kesal melihat Bima yang tertawa di hadapannya.
__ADS_1