Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Sidang Skripsi


__ADS_3

Hari-hari telah berlalu melewati garis takdir yang sudah tergambarkan sejak dulu. Tiara berusaha keras mengerjakan skripsinya bersama Rafa hingga akhirnya ia bisa menyelesaikan skripsinya dengan baik.


Pagi itu adalah hari terakhirnya ia bertemu Bima sebagai dosen pembimbingnya. Seperti biasa Tiara berangkat ke kampus dengan menaiki bus dan sesampainya di kampus iapun segera berjalan ke arah ruangan dimana Bima menunggunya.


Saat Tiara masuk ke dalam ruangan itu sudah ada Bima yang menunggunya disana.


"Akhirnya kau bisa menyelesaikan skripsimu dengan baik Ra, sekarang kau hanya perlu memahami keseluruhan isi dari skripsi yang sudah kau kerjakan selama ini," ucap Bima pada Tiara yang kini sudah duduk di hadapannya.


"Tiara pasti akan berusaha semaksimal mungkin untuk melakukan yang terbaik Pak," balas Tiara.


"Sebenarnya aku memintamu untuk datang kesini bukan hanya ingin membahas tentang sidang skripsimu besok, tetapi ada sesuatu yang lebih penting dari itu," ucap Bima yang tampak serius saat itu.


"Jika Pak Bima tidak membicarakan tentang skripsi lebih baik Tiara pulang sekarang, Tiara tidak ingin membicarakan apapun yang tidak berhubungan dengan skripsi dan sidang Tiara besok," balas Tiara dengan tegas.


"Ini masih berhubungan dengan sidang skripsimu Tiara dan aku yakin kau membutuhkan apa yang ada di dalam flashdisk ini," ucap Bima sambil menaruh flashdisk di atas meja.


"Apa isi flash disk ini pak? kenapa Tiara membutuhkannya?" tanya Tiara tanpa menyentuh sedikitpun flashdisk yang ada di hadapannya.


"Aku sangat mengenal dosen pengujimu Tiara, apa yang ada di dalam flashdisk ini adalah garis besar pertanyaan yang akan diajukan oleh dosen penguji saat sidang skripsimu besok," ucap Bima yang membuat Tiara begitu terkejut.


"Kenapa Pak Bima memberikan flashdisk ini pada Tiara?" tanya Tiara tak mengerti.


"Jangan berpikir aku memberikan flashdisk ini cuma-cuma padamu, tentu aku menginginkan hal lain sebagai gantinya," balas Bima.


"Apa maksud Pak Bima? Tiara bahkan sama sekali tidak menginginkan flashdisk ini!"


"Jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan Tiara, aku tahu kau pasti sangat membutuhkan flashdisk ini agar kau bisa mendapatkan nilai yang sempurna dan masuk ke perusahaan besar yang kau inginkan," ucap Bima penuh keyakinan.


"Tapi Tiara....."


"Aku hanya ingin kau kembali ke rumah Tiara, tidak hanya aku tapi Mama Laras juga menginginkanmu kembali ke rumah, bagaimanapun juga kau masih anggota keluarga Mama Laras," ucap Bima memotong ucapan Tiara.


"Apa maksud Pak Bima itu yang harus Tiara lakukan untuk mendapatkan flashdisk ini?" tanya Tiara.


"Iya, kau hanya perlu kembali ke rumah dan kau akan mendapatkan apa yang selama ini kau impikan, lulus dengan nilai yang sempurna dan masuk ke perusahaan besar yang selama ini kau inginkan," jawab Bima.


"Terima kasih pak, tapi Tiara sama sekali tidak membutuhkan flashdisk ini," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya namun Bima segera menahan tangan Tiara.


"Aku tahu perusahaan mana yang kau inginkan Tiara dan kaupun pasti tahu bahwa tidak akan mudah untuk masuk ke perusahaan itu, jika kau memiliki nilai yang sempurna saat sidang nanti dosen penguji bisa saja memberikan kemudahan bagimu untuk bisa lolos saat tes di perusahaan yang kau inginkan, karena salah satu dosen penguji itu adalah pegawai di perusahaan itu," ucap Bima berusaha mempengaruhi Tiara.


Tiara terdiam untuk beberapa saat mencerna dengan baik semua kata yang diucapkan oleh Bima. Ia tahu pasti masuk ke perusahaan besar itu tidaklah mudah meskipun ia memiliki nilai yang cukup bagus, tetapi Tiara tidak ingin mendapatkan apa yang ia inginkan dengan cara yang curang.


"Pikirkan baik-baik Tiara, kau hanya perlu kembali ke rumah dan kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, kau tidak perlu khawatir dengan Gita dan Mama Laras, jika mereka menyakitimu akulah yang akan maju paling depan untuk melindungimu," ucap Bima yang masih berusaha meyakinkan Tiara.


Tiara hanya tersenyum tipis lalu menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Bima.


"Tolong Pak Bima jangan pernah berpikir bahwa Tiara akan melakukan hal curang ini, terlebih jika Tiara harus kembali ke rumah itu, sekali lagi Tiara tegaskan Tiara tidak akan pernah kembali ke rumah itu apapun alasannya," ucap Tiara lalu berlari pergi meninggalkan Bima begitu saja.


"Kau akan menyesal Tiara, kau akan menyesal karena tidak memanfaatkan kesempatan yang sudah aku berikan padamu," ucap Bima setengah berteriak.


Tiara masih mendengar ucapan Bima, namun ia hanya mengabaikannya dan terus berlari keluar dari ruangan itu.


"aku tidak akan menyesal, walaupun aku tidak bisa masuk ke perusahaan yang aku inginkan, walaupun aku harus mengecewakan kak Rafa, tetapi setidaknya aku mendapatkan hasil dari kerja kerasku tanpa kecurangan, aku yakin kebaikan tidak akan pernah salah alamat," ucap Tiara dalam hati sambil membawa langkahnya berjalan keluar dari kampus.


Tiara kemudian menaiki bus, bukan untuk pulang melainkan untuk pergi ke makam. Sesampainya di makam, Tiara menceritakan pada kedua orangtuanya tentang apa yang baru saja terjadi padanya.


"Tiara sudah melakukan hal yang benar bukan? Tiara tau mama dan papa pasti tetap akan bangga pada Tiara walaupun Tiara tidak berhasil masuk ke perusahaan yang Tiara inginkan, setidaknya Tiara tidak melakukan kecurangan demi meraih impian Tiara," ucap Tiara sambil menatap dua gundukan tanah di hadapannya.

__ADS_1


"Walaupun mungkin nanti kak Rafa akan kecewa jika Tiara gagal, tapi kak Rafa akan semakin kecewa jika kak Rafa tau kalau Tiara melakukan kecurangan dan Tiara tidak ingin hal itu terjadi," lanjut Tiara.


Setelah menceritakan banyak hal, Tiarapun beranjak dan berjalan keluar dari area pemakaman.


Tiara membawa langkahnya ke arah halte sembari memperhatikan mobil mobil yang lewat di depannya.


"biasanya kak Rafa selalu muncul tiba tiba, tapi sepertinya hari ini kak Rafa tidak akan datang," ucap Tiara dalam hati.


Hingga sampai bus yang Tiara tunggu datang, tidak ada tanda tanda kedatangan Rafa yang membuat Tiara segera membawa langkahnya masuk ke dalam bus.


"kenapa aku harus menunggu kak Rafa, biasanya kan hanya kebetulan saja," ucap Tiara dalam hati dengan menghela nafasnya panjang, seolah melepaskan kekecewaan yang sempat ia rasakan karena Rafa tidak datang dengan tiba tiba seperti sebelumnya.


Sesampainya Tiara di rumah tempat tinggalnya, ia segera masuk ke kamar lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya sebelum ia berangkat ke kafe saat sore hari.


Tak lupa ia menyempatkan waktunya untuk membaca materi skripsinya dan membaca beberapa buku yang Rafa pinjamkan padanya.


Sebelum jam 3, Tiara memasukkan beberapa bukunya ke dalam tas dan membawanya ke kafe untuk ia baca saat ia sedang senggang.


**


Hari hari yang ditunggupun tiba. Pagi itu Tiara sudah berpakaian rapi, bersiap untuk melakukan sidang skripsi di kampusnya.


Sebelum berangkat, Tiara mengirimkan pesan pada Rafa.


"Tiara berangkat sidang kak, do'akan Tiara!"


Hening, tak ada balasan dari Rafa.


"Kenapa belum dibalas? apa kak Rafa lupa kalau aku sidang hari ini?" tanya Tiara pada dirinya sendiri dengan kesal.


Setelah beberapa lama menunggu, bus yang ditunggunyapun datang. Sesampainya Tiara di kampus, ia segera membawa langkahnya ke arah tempat dimana ia dan teman temannya harus menunggu giliran untuk sidang hari itu.


Baru saja Tiara duduk, salah satu teman Tiara keluar dari ruangan dengan wajah yang tampak lemas.


"Kenapa wajahmu tidak bersemangat seperti itu?" tanya Tiara pada temannya.


"Aku tidak yakin dengan semua jawabanku tadi, padahal aku yakin jika aku sudah benar benar menguasai materi skripsiku, tapi dosen penguji benar benar menguji kemampuanku dan tiba tiba saja semua yang ada di kepalaku hilang," jawabnya dengan pandangan kosong.


"Jangan terlalu berpikiran buruk, kau sudah melakukan yang terbaik!" ucap Tiara berusaha memberikan semangat pada temannya.


"Kau akan merasakannya sendiri bagaimana tekanan dari dosen penguji nanti, andai saja aku tau apa yang akan mereka tanyakan, aku pasti bisa menjawabnya dengan lancar," ucap teman Tiara yang membuat Tiara teringat dengan flashdisk yang sempat Bima berikan padanya.


"Selain siap dengan materimu, kau juga harus siap mental Ra!" ucap teman Tiara yang membuat Tiara gugup.


Tiba tiba Bima datang dan memanggil Tiara. Jika bukan karena Bima adalah dosennya, Tiara pasti enggan untuk mengikuti Bima. Namun bagaimanapun juga Bima adalah dosen yang harus dia hormati di kampus.


Tiarapun beranjak dari duduknya lalu membawa langkahnya mengikuti Bima yang berjalan sedikit menjauh dari teman taman Tiara.


"Belum terlambat untuk berubah pikiran Ra, aku masih membawa flashdisk ini," ucap Bima sambil menunjukkan flashdisk yang ada di tangannya.


"Maaf Pak Bima, jika tidak ada sesuatu yang penting untuk dibicarakan Tiara permisi," ucap Tiara dengan berbicara formal.


"Kau terlalu sombong Tiara, kau bahkan tidak tahu apa yang akan ditanyakan oleh dosen penguji di dalam nanti, kau tidak akan pernah bisa menduga pertanyaan apa yang akan muncul meskipun kau sudah memahami dengan baik materi skripsimu," ucap Bima yang berusaha membuat Tiara semakin gugup agar Tiara mau menerima flashdisk pemberiannya dan kembali pulang ke rumah seperti apa yang dia inginkan.


"Tolong pak Bima bedakan antara sombong dan percaya diri, Tiara yakin pak Bima lebih memahami hal itu daripada Tiara," balas Tiara dengan tersenyum lalu berjalan pergi meninggalkan Bima begitu saja.


Mendapat perlakuan dari Tiara yang seperti itu membuat Bima semakin kesal, namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena Tiara benar-benar sudah menolak bantuannya. Entah karena Tiara yang memang tidak ingin menggunakan cara curang atau karena Tiara yang tidak ingin kembali ke rumah sebagai syarat yang Bima ajukan.

__ADS_1


"Kau memang selalu keras kepala Tiara, padahal aku hanya ingin membantumu," ucap Bima pelan lalu berjalan pergi dengan membawa langkah yang penuh kekesalan dalam dirinya.


Di sisi lain, Tiara yang masih menunggu gilirannya dibuat semakin gugup oleh teman-temannya yang merasa kesulitan saat menjawab pertanyaan dari para dosen penguji.


"aahhh sial, kenapa aku gugup seperti ini, aku belum masuk ke dalam ruangan tetapi rasanya kepalaku sudah kosong, semua materi yang sudah aku pahami tiba-tiba saja menghilang dari kepalaku," batin Tiara yang semakin panik.


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Rafa.


"Semangat Tiara, aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik, kau sudah sangat berusaha untuk bisa menyelesaikan skripsimu dengan baik, sekarang adalah final dari semua usahamu selama ini, kau harus tenang dan fokus karena aku yakin kau bisa melakukannya dengan baik!"


Tiara tersenyum membaca pesan dari Rafa, kegugupan dan kepanikannya seolah tiba-tiba saja menghilang setelah ia membaca pesan dari Rafa.


"Tiara Anastasia!"


Tiara segera memasukkan ponselnya ke dalam tas lalu beranjak dari duduknya setelah ia mendengar namanya dipanggil.


"Semangat Tiara, kau pasti bisa!" ucap Tiara menyemangati dirinya sendiri lalu berjalan masuk ke dalam ruangan, tempat dimana ia akan melakukan sidang skripsi bersama beberapa dosen penguji yang sudah duduk berjajar di dalam ruangan itu.


Detik demi detik jam terlewati, menit demi menitpun berlalu membawa akhir dari sidang skripsi yang selama ini Tiara tunggu.


Pada akhirnya pertanyaan pamungkas dari dosen pengujipun sudah terjawab dengan lugas dan tegas, membawa Tiara mengakhiri sidang skripsinya hari itu.


Tiara kemudian keluar dari ruangan itu lalu segera membawa langkahnya duduk untuk menenangkan detak jantungnya yang berdetak begitu cepat setelah ia beranjak dari hadapan dosen penguji.


Entah jawaban yang ia berikan cukup memuaskan bagi dosen penguji atau tidak, tapi yang pasti Tiara sudah berusaha menyampaikan apa yang selama ini ia pahami tentang materi skripsi yang ia kerjakan bersama Rafa.


Setelah menenangkan dirinya Tiarapun berjalan meninggalkan kampus.


TIIIIINNNN TIIIIINNNN TIIIIINNNN


Suara klakson membuat Tiara membawa pandangannya ke arah sumber suara saat ia baru saja berjalan melewati gerbang kampus.


Seseorang yang berada di dalam mobil itupun mengeluarkan kepalanya dan melambaikan tangannya ke arah Tiara, membuat Tiara segera berlari kecil ke arah seseorang itu dengan senyum mengembang di bibirnya.


"Masuklah," ucap Rafa sambil membuka pintu mobilnya dari dalam.


Tiara mengangguk lalu masuk dan duduk di samping Rafa.


"Apa kak Rafa sengaja menunggu Tiara?" tanya Tiara pada Rafa yang sudah mengendarai mobilnya meninggalkan kampus.


"Mmmmm.... tidak, aku hanya tidak sengaja lewat dan melihatmu baru saja keluar dari kampus," jawab Rafa berbohong karena sebenarnya ia sudah cukup lama menunggu Tiara di depan kampus.


"Bagaimana sidangmu tadi? apa semuanya berjalan lancar?" lanjut Rafa bertanya.


Tiara hanya diam tidak mengatakan apapun, ia membawa pandangannya pada Rafa dengan senyum merekah di bibirnya.


"Dilihat dari senyummu sepertinya semuanya berjalan lancar," ucap Rafa yang bisa melihat senyum Tiara dari ekor matanya.


"Terima kasih sudah banyak membantu Tiara kak, Tiara sudah berusaha semaksimal mungkin untuk sidang hari ini, jika nanti hasilnya tidak sesuai dengan apa yang Tiara dan kak Rafa harapkan, Tiara harap kak Rafa tidak terlalu kecewa pada Tiara," ucap Tiara dengan menatap Rafa dari samping.


Tepat saat lampu lalu lintas menyala merah Rafa menghentikan mobilnya dan membawa pandangannya menatap Tiara yang saat itu juga tengah menatapnya.


"Kau tidak pernah mengecewakanku Ra," ucap Rafa dengan menatap kedalam mata Tiara.


Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam dengan saling menatap satu sama lain.

__ADS_1


__ADS_2