Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Mencari Tiara


__ADS_3

Tiara baru saja masuk ke kamarnya dan segera mencari charger ponselnya agar ponselnya bisa menyala.


Saat daya baterainya sudah mulai terisi, Tiarapun menyalakan ponselnya dan tak lama kemudian dua pesan masuk dari Kevin.


"Maaf Ra, aku tidak bisa menemuimu sekarang, sepertinya kak Bima sedang mengikutiku!"


"Ra, kau dimana?"


Tiara menghela nafasnya lalu membalas pesan Kevin.


"Aku sudah pulang."


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering karena panggilan Kevin, Tiarapun menerimanya


"Halo Kevin, ada apa?"


"Aku menghubungimu dari tadi, tapi tidak pernah tersambung, apa kau menungguku lama di kafe?"


"Tidak, ponselku kehabisan baterai jadi aku tidak tau jika kau menghubungiku," jawab Tiara.


"Maafkan aku Ra, aku tidak tau jika kak Bima mengikutiku, aku baru sadar saat aku sudah keluar dari tol," ucap Kevin yang merasa bersalah pada Tiara.


"Tidak apa, kita bisa bertemu lain kali!" balas Tiara.


"Sebenernya aku ingin menemuimu karena ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu tentang kak Gita, tapi aku ragu apa kau mau mendengarnya atau tidak," ucap Kevin.


"Memangnya ada apa dengan kak Gita?" tanya Tiara penasaran, terlebih setelah ia melihat bekas tamparan dan memar di pipi Gita.


"Sepertinya kak Gita mengalami KDRT," jawab Kevin yang membuat Tiara begitu terkejut.


"KDRT? kenapa kau bisa berpikir seperti itu?" tanya Tiara.


"Aku tidak sengaja melihatnya sendiri, saat aku akan lari pagi dan melewati rumahmu, aku melihat kak Gita dan kak Bima bertengkar di depan rumah, sepertinya kak Gita melarang kak Bima pergi, tapi kak Bima tetap memaksa pergi, kak Bima bahkan sampai menampar kak Gita dengan cukup keras lalu masuk ke mobilnya dan pergi begitu saja," jelas Kevin.


"Lalu apa yang terjadi dengan kak Gita?" tanya Tiara khawatir.


"Saat aku mendekat untuk memastikan keadaan kak Gita, kak Gita segera berjalan masuk dan menutup gerbang rumahnya," jawab Kevin.


"ternyata benar apa yang aku pikirkan, kak Bima yang sudah membuat memar wajah kak Gita," ucap Tiara dalam hati.


"Tiara apa kau masih ada disana?" tanya Kevin membuyarkan lamunan Tiara.


"Aaahh iya, sebenarnya aku juga bertemu kak Gita kemarin dan melihat luka bekas tamparan di pipi kak Gita," ucap Tiara.


"Itu pasti karena perbuatan kak Bima, dia benar-benar jahat sekali!" balas Kevin.


"Aku tidak tahu apa yang membuat kak Bima bersikap sejahat itu pada kak Gita, tapi setelah semua yang terjadi aku mulai berpikir jika sebenernya kak Bima bukanlah laki laki baik seperti yang selama ini aku pikirkan," ucap Tiara.


"Tapi bukankah selama ini kak Bima sangat baik padamu? dia bahkan sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri!"


"Kau benar, itu sebelum kak Bima tahu bagaimana perasaanku padanya, setelah dia tahu dan kita menjalin hubungan aku semakin melihat bagaimana sifat asli kak Bima yang mudah sekali terpancing emosinya dan juga sangat egois!" ucap Tiara.


"Jika memang kak Bima seperti itu aku bersyukur kau bisa terlepas dari kak Bima, aku harap kau bisa menemukan laki-laki yang bisa menjaga dan menyayangimu dengan tulus Tiara," ucap Kevin.


"Memangnya masih ada laki-laki yang seperti itu?" tanya Tiara.


"Tentu saja ada, aku misalnya hahaha...."


"Dan kau sudah menjadi milik Bella, hmmmm..... sepertinya aku akan fokus saja pada impianku, aku tidak ingin memikirkan hal yang lainnya dulu!" ucap Tiara.


"Itu juga bukan hal yang buruk, lagi pula bukankah sudah ada Pak Rafa yang selalu ada disampingmu," balas Kevin


"Kenapa tiba-tiba membahas kak Rafa?" protes Tiara.


"Sepertinya kalian berdua sangat dekat, apa jangan-jangan..... kalian..... sudah...." Kevin menggantung kata-katanya, namun bisa dipahami dengan jelas oleh Tiara maksud dari ucapan Kevin.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, sudah malam aku akan tidur sebelum kau semakin berbicara yang tidak tidak, bye!" ucap Tiara lalu mengakhiri panggilan Kevin begitu saja.


Di tempatnya Kevin hanya tertawa mendengar ucapan Tiara. Sebagai sahabat ia hanya berharap jika Tiara akan mendapatkan laki-laki yang baik yang bisa menyayangi dan melindunginya dan di matanya laki-laki itu adalah Rafa, tanpa ia tahu jika Rafa sebenarnya sudah memiliki istri.


**


Malam yang panjang telah berlalu, pagi-pagi sekali Tiara keluar dari kamarnya berniat untuk pergi ke taman dan berolahraga disana.


Saat Tiara baru saja sampai di taman, ia melihat mobil Rafa yang terparkir di tempat parkir taman. Tiarapun segera berlari ke arah mobil Rafa lalu mengetuk kaca jendela mobil Rafa.


Rafa yang menolehpun segera disambut oleh lambaian tangan dan senyum manis Tiara, membuat Rafa segera keluar dari mobilnya.


"Aku baru saja menghubungimu, apa kau tidak membawa ponselmu?" ucap Rafa sekaligus bertanya yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


Tiara dan Rafa kemudian berjalan masuk ke area taman. Mereka mengitari jogging track terlebih dahulu sebelum menggunakan alat fitnes outdoor yang ada disana.


"Aahh iya, ada yang ingin Tiara tanyakan pada kak Rafa," ucap Tiara pada Rafa.

__ADS_1


"Apa?"


"Chika bilang kak Rafa membatalkan kepergian kakak ke luar kota saat Tiara pingsan kemarin, apa benar?"


"Iya," jawab Rafa singkat.


"Kenapa?"


"Karena ada hal lain yang lebih penting yang harus aku selesaikan," jawab Rafa.


"Hal penting apa?" tanya Tiara yang masih penasaran.


"Hal penting tentang kafe, memangnya kenapa? kenapa kau tiba tiba sangat penasaran dengan hal itu?"


Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan dengan tersenyum. Tidak mungkin ia memberi tau Rafa jika ia ingin memastikan alasan Rafa tidak pergi ke luar kota saat itu.


"andai saja kau tau jika aku membatalkan kepergianku karena aku mengkhawatirkanmu," ucap Rafa dalam hati.


"Besok hari Minggu, seharusnya Tiara mengikuti seminar besok," gerutu Tiara pelan karena ia tau jika Rafa tidak akan mengizinkannya untuk mengikuti seminar itu.


"Pergi saja jika kau ingin pergi, itu artinya kau ingin berlama lama libur dari kafe," balas Rafa.


"Kak Rafa memang berlebihan sekali, bukanlah kak Rafa sudah melihat jika Tiara baik baik saja?" protes Tiara.


"Aku tidak akan memaksamu Tiara, aku juga tidak akan menahanmu untuk pergi mengikuti seminar," ucap Rafa.


"Kak Rafa memang tidak memaksa, tidak menahan Tiara, tapi mengancam Tiara, sama saja," gerutu Tiara.


"Hahaha.... apa itu sebuah ancaman?"


"Tentu saja, apa kak Rafa tidak sadar?"


"Itu bukan ancaman Tiara, itu adalah bentuk kepedulianku padamu, karena aku ingin memastikan bahwa kau memang sudah baik baik saja, aku melakukan itu karena aku..... aku.... aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada karyawanku, bukanlah kau tau jika semua pekerja kafe sudah seperti keluarga!" balas Rafa beralasan di akhir ucapannya.


"Iya... Tiara tau...." balas Tiara malas.


**


Hari Minggu di perusahaan X


Sudah lebih dari 10 menit Putra berdiri di depan sebuah ruangan. Matanya mengawasi satu persatu orang yang keluar dari lift. Ia sedang menunggu seseorang saat itu hingga akhirnya jam sudah menunjukkan waktu dimana seminar seharusnya sudah dimulai.


"Apa yang kau lakukan disini? kenapa kau belum memulai acaranya?" tanya salah seorang teman Putra.


"Siapa?" tanya teman Putra.


"Seseorang," jawab Putra singkat.


TRIIIING


Pintu lift terbuka, seorang perempuan dengan tas selempangnya berlari kecil ke arah ruangan tempat dimana seminar akan dilaksanakan.


Putra yang melihatnyapun segera berlari mengikuti perempuan itu dan menepuk pundaknya dari belakang.


Perempuan itupun menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Maaf, saya salah orang," ucap Putra saat melihat wajah perempuan itu ternyata bukanlah seseorang yang ditunggunya.


Dengan langkah yang tak bersemangat putrapun membawa langkahnya masuk ke ruangan seminar.


"apa dia sudah ada disini?" tanya putra dalam hati sambil mengedarkan pandangannya mencari seseorang di dalam ruangan itu.


"Eheemm!"


Deheman kecil dari teman Putra membuat Putra tersadar dan segera memulai acara seminar itu.


Meskipun ia masih bersikap menyenangkan seperti sebelumnya, namun sesekali terlihat raut kekecewaan yang terpancar dari wajahnya karena tidak melihat seseorang yang sejak tadi ditunggunya.


"kenapa dia tidak datang? apa dia terlambat?" tanya Putra dalam hati sambil memperhatikan pintu masuk ruangan itu


"atau jangan jangan dia masih sakit, apa mungkin terjadi sesuatu yang buruk padanya?" batin Putra yang khawatir dengan pikirannya sendiri.


Menit demi menitpun berlalu, sampai acara seminar selesai Putra tidak juga melihat seseorang yang sudah lama ditunggunya.


Setelah menyelesaikan semua kewajibannya, Putrapun meninggalkan kantor. Ia mengendarai mobilnya ke arah kafe kedua Rafa berniat untuk menemui Tiara karena Tiaralah yang sejak tadi dia tunggu kedatangannya.


Namun saat ia sudah sampai di kafe Rafa, ia ragu untuk turun dari mobilnya, mengingat kejadian yang sebelumnya terjadi ia bisa melihat bagaimana Rafa yang masih tidak menyukai keberadaannya.


"Bodoh sekali, kenapa aku harus datang kesini? aku hanya akan memperburuk keadaan jika Rafa melihatku disini!" ucap Putra sambil mengetuk-ngetukkan jarinya pada setir mobil.


Putra menghela nafasnya panjang lalu mengendarai mobilnya meninggalkan kafe Rafa.


Saat mobilnya melewati taman, Putra melihat Tiara yang baru saja keluar dari area taman. Seketika Putrapun menghentikan mobilnya tepat di depan Tiara yang sedang berdiri, bersiap untuk menyebrang jalan.


"Sepertinya takdir masih berpihak padaku," ucap Putra senang lalu keluar dari mobilnya untuk menghampiri Tiara.

__ADS_1


Tiara yang melihat Putra keluar dari mobil di hadapannya hanya bisa terdiam karena terkejut.


"Akhirnya aku menemukanmu," ucap Putra menghampiri Tiara.


"Kenapa pak putra ada disini?" tanya Tiara pada Putra.


"seharusnya aku yang bertanya padamu, kenapa kau ada disini? kenapa kau tidak mengikuti seminar hari ini? apa kau sedang bersama kekasihmu disini? apa kalian sedang berkencan?" balas Putra dengan pertanyaan bertubi tubi.


"Tiara....."


"Kau baik baik saja bukan? apa kau sudah sehat?" tanya Putra sebelum Tiara menjawab satupun pertanyaannya.


"Tiara sehat, kenapa pak Putra bertanya seperti itu?"


"Hanya ingin memastikan saja karena kau tidak datang seminar hari ini, padahal sebelumnya kau terlihat sangat bersemangat untuk ikut seminar," jawab Putra.


"Jadi... apa yang kau lakukan disini? apa kau sungguh sedang berkencan dengan kekasihmu?" lanjut Putra bertanya.


"Tidak, Tiara baru saja berolahraga disini," jawab Tiara.


"Berolahraga? dengan siapa? sendiri?"


"Mmmmm.... bersama teman," jawab Tiara ragu.


"Jadi apa yang membuatmu tidak mengikuti seminar hari ini? apa hanya karena kau lebih memilih berolahraga bersama temanmu?" tanya Putra penuh selidik, yang membuat Tiara sedikit tidak nyaman.


"Tiara....."


Biiiiipppp biiiiippp biiiipp


Ponsel Tiara berdering, membuat Tiara menghentikan ucapannya untuk melihat pesan masuk di ponselnya.


"Aku menunggumu di tempat parkir!"


"di tempat parkir? bukankah pak Rafa memintaku untuk menunggu disini?" batin Tiara bertanya.


"Tiara!" panggil Putra yang melihat Tiara hanya terdiam menatap layar ponselnya.


"Aaahh iya, maaf pak Tiara harus pergi, Tiara permisi," ucap Tiara lalu meninggalkan Putra begitu saja.


"Minggu depan kau akan datang bukan?" tanya putra setengah berteriak.


Tiara yang sudah berlaripun membalikkan badannya, menghentikan langkahnya dan menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu kembali berlari untuk menemui Rafa di tempat parkir yang berada di sisi lain taman itu.


Putra tersenyum senang lalu berjalan masuk ke mobilnya kemudian mengendarainya meninggalkan taman.


Tanpa Tiara dan Putra tau, Rafa yang hendak menghampiri Tiara melihat Tiara bersama Putra.


Rafapun berbalik dan kembali ke tempat parkir setelah sebelumnya mengambil ponselnya yang tertinggal di dalam mobil.


Karena tidak ingin bertemu dengan Putra, Rafapun mengirim pesan pada Tiara. Entah kenapa suasana hatinya menjadi buruk jika ia bertemu Putra.


Ada sebuah rasa kesal, marah dan kecewa yang sudah lama ia pendam. Meski sudah lama berlalu, perasaan tidak nyaman itu selalu ia rasakan setiap ia melihat Putra.


Itu kenapa dia memilih untuk menghindar daripada terjadi keributan karena ia yang tidak bisa menahan emosinya.


Namun semua rasa yang membuat suasana hati buruk itu tiba tiba berubah saat Rafa melihat Tiara yang berlari kecil ke arahnya dengan senyum mengembang di bibirnya.


Api membara dalam dadanya seolah baru saja tersentuh oleh sejuknya senyum Tiara padanya.


"Kenapa kak Rafa menunggu disini?" tanya Tiara saat ia sudah berdiri di depan Rafa.


"Aku berubah pikiran, aku sudah sangat bosan dengan bubur ayam!" jawab Rafa beralasan.


"Jadi?"


"Aku akan mengajakmu ke tempat lain," ucap Rafa kemudian masuk ke dalam mobilnya diikuti Tiara.


Rafa mengendarai mobilnya ke arah sebuah rumah makan bergaya tradisional yang tidak terlalu jauh dari taman.


Disana disediakan berbagai macam makanan khas daerah tertentu di Indonesia. Rafa dan Tiarapun masuk ke rumah makan itu lalu memesan makanan dan minuman.


"Besok Tiara sudah boleh bekerja bukan?" tanya Tiara memastikan.


"Apa kau yakin sudah baik baik saja?" balas Rafa bertanya.


"Kaaaakkk.... Tiara bahkan sudah baik baik saja sejak baru meninggalkan rumah sakit, apa beberapa hari ini masih kurang cukup sebagai bukti jika memang Tiara sudah baik baik saja?"


"Hahaha.... iya iya.... kau juga pasti sudah sangat bosan bertemu denganku setiap hari!"


"Tidak juga, justru karena Tiara bertemu kak Rafa jadi Tiara tidak bosan berada di rumah setiap waktu," balas Tiara.


"Kau juga harus menikmati hari harimu dengan hal lain Tiara, lakukan apa yang kau sukai, jangan hanya berkutat antara kafe dan rumah saja!"


"Tiara sudah melakukan apa yang Tiara sukai kak, salah satunya mengikuti seminar," ucap Tiara dengan senyum manis di bibirnya yang membuat Rafa hanya menggelengkan kepalanya pelan, sedangkan Tiara hanya terkekeh.

__ADS_1


__ADS_2