Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Yakin


__ADS_3

Tiara terdiam untuk beberapa saat setelah ia mendengar ucapan Rafa, hingga akhirnya Rafa menghentikan mobilnya di depan vila miliknya.


"Aku juga ingin menjadi bagian dari kebahagiaanmu Tiara," ucap Rafa dengan tersenyum lalu keluar dari mobilnya.


Tiara hanya tersenyum lalu keluar dari mobil dan berjalan mengikuti Rafa.


"Ikut aku, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu," ucap Rafa sambil berjalan ke arah taman belakang vilanya.


"Ada apa kak?" tanya Tiara sambil berjalan mengikuti Rafa.


"Lihatlah, apa kau mengingatnya?" ucap Rafa sekaligus bertanya sambil menunjuk sebuah bunga yang tumbuh dengan subur bersama bunga bunganya yang mulai bermekaran.


"Bunga bunga ini...... apa ini bunga yang Tiara tanam bersama bibi?" tanya Tiara sambil memperhatikan satu per satu bunga bunga mekar di hadapannya.


"Iya, bibi yang memberi tahuku," jawab Rafa.


"Waaahhh..... indah sekali!" ucap Tiara penuh senyum di wajahnya.


Rafa kemudian memetik salah satu bunga itu lalu menyelipkannya di telinga Tiara.


"Perfect," ucap Rafa sambil membelai rambut Tiara.


"Kak Rafa berlebihan," ucap Tiara lalu membawa langkahnya meninggalkan taman.


Rafa hanya terkekeh lalu berjalan masuk ke dalam vila bersama Tiara.


"Selamat datang Tuan Rafa, non Tiara," sapa bibi sambil menyiapkan makanan dan minuman di meja.


"Terima kasih Bi," ucap Tiara dan Rafa bersamaan.


Tiara dan Rafapun menikmati minuman dan makanan ringan yang baru saja bibi siapkan.


"Bagiamana kabar Mama dan kakakmu Tiara? aku dengar kau sekarang tinggal di rumahmu yang lama, apa kau tinggal bersama mama dan kakakmu?" tanya Rafa.


"Iya, Tiara tinggal disana bersama mama Laras dan kak Gita, tapi darimana kak Rafa tau?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Mudah untuk mencari tau semua hal tentangmu Tiara, aku bahkan bisa saja mencari tau dimana kau tinggal saat kau berada di Amerika," balas Rafa.


"Tapi kak Rafa tidak melakukan apapun dengan hal itu, kenapa?"


"Karena aku tau tau kau sedang mempersiapkan masa depanmu disana, aku tau aku sudah merusak rencana masa depanmu disini jadi aku tidak ingin merusaknya lagi, aku membiarkanmu meraih mimpi barumu disana dengan harapan masih ada namaku yang tersimpan di hatimu," jelas Rafa.


"Bagaimana jika Tiara benar benar melupakan kak Rafa?" tanya Tiara.


"Aku yakin itu tidak akan terjadi, jika memang itu terjadi maka aku akan kembali padamu untuk membuatmu mengingatku lagi," jawab Rafa.


Tiara hanya tersenyum tipis mendengar jawaban Rafa karena pada kenyataannya sekuat apapun ia berusaha untuk melupakan Rafa, hatinya tetap kembali jatuh pada Rafa.


"Aku tidak tau kapan sebenarnya waktu yang tepat untuk kembali padamu Tiara, aku takut kehadiranku dalam hidupmu hanya akan mengungkit kembali masa lalu buruk diantara kita," ucap Rafa.


"Tiara juga tidak pernah berpikir jika pada akhirnya Tiara akan kembali dalam kehidupan kak Rafa, Tiara bahkan tidak pernah berpikir untuk kembali ke perusahaan kak Rafa, tapi takdir ternyata tidak mendukung Tiara," balas Tiara.


"Aku minta maaf Tiara, entah harus bagaimana aku meminta maaf padamu, entah dengan cara seperti apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku, tapi yang pasti aku menyesal karena sudah mengecewakanmu Tiara," ucap Rafa bersungguh sungguh.


Tiara menghela nafasnya panjang kemudian membawa pandangannya menatap Rafa.


"Lupakan saja apa yang sudah terjadi kak, Tiara tidak ingin berlarut larut dalam kekecewaan itu," ucap Tiara.


"Tapi aku ingin mendapatkan maaf darimu Tiara, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkanku?"


"Ada satu pertanyaan yang harus kak Rafa jawab dengan jujur," ucap Tiara.


"Baiklah, tanyakan saja, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur," balas Rafa.


"Tentang pernikahan kakak dengan kak Maya, kenapa pernikahan itu bisa terjadi?" tanya Tiara.


Rafa kemudian menjelaskan pada Tiara tentang kenapa ia menikahi Maya, tentang paksaan sang mama dan pesan terakhir dari kakeknya sebelum meninggal.


"Tidak hanya aku, Maya juga terpaksa menerima perjodohan itu karena dia dijanjikan firma hukum oleh papanya," ucap Rafa di akhir penjelasannya.


"Apa tidak pernah sedikitpun kak Rafa mencintai kak Maya? kalian berdua tinggal satu atap bertahun tahun, bukan tidak mungkin jika cinta akan tumbuh diantara kak Rafa dan kak Maya, benar bukan?"


"Mungkin itu hanya terjadi pada Maya, tapi tidak denganku, aku tidak pernah menganggap dia istriku, bahkan sampai aku menceraikannyapun aku tidak pernah mencintainya," ucap Rafa.


"Kenapa?" tanya Tiara.


"Entahlah, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta sebelum aku bertemu denganmu Tiara," jawab Rafa.


"Bagaimana dengan saat sekolah?" tanya Tiara.

__ADS_1


"Aku hanya fokus belajar dan berkegiatan di sekolah, aku bahkan tidak mempunyai banyak teman dekat saat masih sekolah," jawab Rafa.


"Tapi bukankah ada seseorang yang menyukai kak Rafa saat di sekolah?" tanya Tiara dengan tersenyum.


"Seseorang? siapa maksudmu?" balas Rafa bertanya.


"Kak Putra sudah menceritakan semuanya, Tiara tidak menyangka jika kak Rafa ternyata pendendam juga," ucap Tiara.


"Apa saja yang Putra katakan padamu? dia pasti menjelek-jelekkanku bukan?" tanya Rafa penasaran.


"Tidak juga, kak Putra menceritakan semuanya tentang kenapa kak Rafa dan kak Putra bertengkar sampai kalian dewasa, apa kak Rafa tidak sadar jika sikap kak Rafa itu sangat kekanak-kanakan sekali!"


"Justru Putra yang kekanak-kanakan Tiara, dia hampir membuatku di keluarkan dari sekolah waktu itu, kau bisa bayangkan bukan bagaimana respon mama dan papa nanti jika aku benar benar dikeluarkan dari sekolah karena kesalahan yang tidak aku lakukan!"


"Hahaha..... rupanya sampai sekarang kak Rafa masih menyimpan dendam itu, hahaha......"


"Kau tertawa? apa menurutmu itu lucu?"


"Hahaha..... tentu saja lucu, kak Rafa yang Tiara kenal sebagai dosen yang dingin, atasan dan CEO yang tegas ternyata menyimpan dendam hanya karena kesalahpahaman saat remaja," ucap Tiara yang tidak bisa menahan tawanya.


"Kau sendiri bagaimana dengan Kevin? apa kalian tidak pernah bertengkar?" tanya Rafa.


"Tentu saja tidak, kita sama sama bisa bersikap dewasa, kita....."


"Bagaimana dengan kekasih Kevin? bukankah kau selalu bertengkar dengannya?" tanya Rafa memotong ucapan Tiara.


"Dari mana kak Rafa tau?" balas Tiara bertanya.


"Tentu saja aku tau, aku pernah melihat dia bertengkar denganmu saat di kafe," jawab Rafa.


"Tapi itu dulu kak, sekarang dia sangat baik pada Tiara," ucap Tiara.


"Benarkah? bukankah dia tidak menyukaimu karena kau sangat dekat dengan Kevin?" tanya Rafa.


"Sekarang semuanya sudah berbeda kak, kita bisa bersikap dewasa, berbeda dengan kak Rafa hahaha......"


Rafa hanya menghela nafasnya kasar mendengar ucapan Tiara yang selalu mengoloknya.


Dalam hatinya Rafa merasa begitu bahagia karena bisa melihat Tiara tertawa bersamanya.


"Terima kasih Tiara," ucap Rafa.


"Terima kasih? untuk apa?" tanya Tiara tak mengerti.


"Tapi Tiara tidak bisa menjanjikan apapun pada kak Rafa, Tiara hanya bisa menjalani apa yang ada di hadapan Tiara saat ini!" ucap Tiara.


"Aku tidak menuntut apapun darimu Tiara, aku hanya akan berusaha untuk mengambil hatimu lagi tanpa memaksamu," balas Rafa.


**


Waktu berlalu, hari hari telah berganti. Tiara menjalani hari harinya dengan penuh semangat dan kebahagiaan.


Senyum cerianya selalu tampak pada raut wajah yang semakin menambah kecantikannya.


Bersamaan dengan itu Tiarapun semakin dekat dengan Rafa. Kini sudah tidak ada jarak lagi diantara mereka berdua.


Di kantor, mereka memang sebagai atasan dan bawahan. Namun di luar kantor, mereka berdua sangat dekat. Tak jarang mereka menghabiskan waktu berdua hanya untuk berlibur ataupun sekedar hangout berdua.


Putra yang masih berada di Amerikapun mengetahui hal itu. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain ikut senang melihat kedekatan Tiara dan Rafa.


Putra memang menyukai Tiara, tetapi ia lebih memilih kebahagiaan Tiara dan ia tau jika Tiara hanya bahagia bersama Rafa.


Putra bersyukur, akhirnya drama panjang kehidupan Tiara dan Rafa hampir sampai di ujung kebahagiaan.


Meskipun itu artinya dirinya akan benar benar kehilangan Tiara nantinya, tapi ia tidak peduli asalkan ia bisa melihat Tiara bahagia bersama Rafa.


**


Semburat cahaya jingga tampak terlukis di ujung barat langit sore. Tiara sedang duduk di tepi dermaga bersama Rafa yang duduk di sampingnya.


"Ternyata indahnya masih sama seperti dulu," ucap Tiara menatap goresan jingga di hadapannya.


"Apa bahagianya juga sama seperti dulu?" tanya Rafa.


"Sepertinya sekarang lebih bahagia," jawab Tiara dengan tersenyum ke arah Rafa.


"Aku akan berusaha untuk terus membuatmu bahagia Tiara, aku akan berusaha bahkan sampai melebihi batas kemampuanku," ucap Rafa.


"Kak Rafa sudah melakukan banyak hal untuk Tiara, dari pertama kali kita bertemu kak Rafa seperti memang ditakdirkan untuk datang pada Tiara," ucap Tiara.

__ADS_1


"Memangnya kau ingat kapan pertama kali kita bertemu?" tanya Rafa.


"Tentu saja ingat, kak Rafa pernah memberi tahu Tiara tentang hal itu, kita pertama kali bertemu di makam bukan?"


"Benar sekali, apa kau sudah mengingatnya sekarang?"


"Mmmmm.... belum, Tiara hanya ingat karena kak Rafa pernah memberi tahu Tiara hehehe...."


"Hmmm..... sepertinya pertemuan kita yang pertama sama sekali tidak berkesan bagimu," ucap Rafa.


"Tentu saja berkesan, Tiara bersembunyi di mobil dan tiba tiba saja Tiara sampai di rumah kak Rafa," balas Tiara.


"Aahh iya, apa itu rumah yang kak Rafa tempati bersama kak Maya?" lanjut Tiara bertanya.


"Iya, tetapi setelah bercerai aku memberikan rumah itu untuknya, sekarang aku tidak tau apakah rumah itu masih menjadi miliknya atau tidak," jawab Rafa.


"Sebenarnya Tiara tau jika rumah yang dulu pernah Tiara tinggali di dekat kantor adalah rumah kak Rafa karena kak Maya yang memberi tahu Tiara, jika kak Maya tidak mengatakannya mungkin sampai sekarang Tiara masih berpikir jika itu adalah rumah teman kak Rafa," ucap Tiara.


"Maya? darimana Maya mengetahuinya?"


"Kak Maya melihat surat kepemilikan rumah itu di kamar kak Rafa," jawab Tiara.


"Jadi dia diam diam mencari tau tentangmu rupanya," ucap Rafa dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Kak... Tiara ingin berfoto disini, bisakah kak Rafa mengambil ponsel Tiara di mobil?" ucap Tiara sekaligus bertanya.


"Kau bisa berfoto dengan ponselku, aku akan mengirimnya padamu nanti," balas Rafa.


"Tapi Tiara ingin menggunakan ponsel Tiara kak," ucap Tiara.


"Baiklah, aku akan mengambilnya," balas Rafa lalu beranjak dari duduknya untuk mengambil ponsel Tiara di dalam mobil.


Tak lama kemudian Rafapun kembali dengan membawa ponsel Tiara.


Melihat Rafa yang berjalan ke arahnya, Tiarapun segera beranjak dari duduknya lalu berjalan menghampiri Rafa.


Tiara membawa langkahnya dengan debaran dalam dadanya yang semakin bergemuruh hingga akhirnya ia semakin dekat dengan Rafa dan menjatuhkan pelukannya pada Rafa.


"Tiara sudah mengambil keputusan kak!" ucap Tiara yang masih memeluk Rafa.


"Keputusan apa yang kau maksud Tiara? tolong jangan membuatku salah paham," tanya Rafa yang berusaha untuk tidak terlalu berharap atas sikap Tiara yang tiba tiba memeluknya.


"Sudah tidak ada lagi keraguan yang Tiara rasakan kak, Tiara yakin apa yang Tiara rasakan ini memang benar," ucap Tiara.


"Apa kau....."


"Tiara juga merasakan apa yang kak Rafa rasakan, bertahun tahun berpisah tidak membuat Tiara benar benar melupakan kak Rafa, Tiara hanya berusaha menyembuhkan kekecewaan Tiara tanpa melupakan kebersamaan Tiara bersama kak Rafa," ucap Tiara memotong ucapan Rafa.


"Sekarang Tiara sudah datang pada kak Rafa, Tiara sudah datang dan memeluk kak Rafa seperti yang selama ini kak Rafa tunggu," lanjut Tiara dengan semakin erat memeluk Rafa.


"Apa kau yakin dengan apa yang kau ucapkan Tiara?" tanya Rafa memastikan sambil melepaskan dirinya dari pelukan Tiara dan menatap kedua mata Tiara.


"Tiara yakin kak, sepenuhnya yakin," jawab Tiara.


Rafa tersenyum bahagia kemudian membawa Tiara ke dalam dekapannya. Ia memeluk Tiara dengan erat seolah tidak akan pernah melepasnya lagi.


"Aku sangat mencintaimu Tiara, benar benar mencintaimu, seumur hidupku aku akan terus berusaha untuk bisa membahagiakanmu," ucap Rafa yang semakin erat memeluk Tiara.


Rafa kemudian melepaskan Tiara dari pelukannya, membawa kedua matanya jatuh pada kedua mata Tiara.


"Maukah kau melanjutkan lembar baru kebahagiaanmu bersamaku Tiara? maukah kau menjadi pasangan hidup dan matiku?" tanya Rafa dengan menatap ke dalam mata Tiara.


"Tiara mau kak, mari kita tulis bersama lembar baru kebahagiaan kita sampai usia sudah tidak mampu menghitungnya lagi," balas Tiara yang segera membuat Rafa memeluknya dengan erat.


Di bawah langit gelap dengan cahaya jingga di ujung barat, dua manusia yang dipenuhi cinta itu tengah berpelukan bersama debar debar dalam dada mereka masing masing.


Saat malam semakin larut, Rafa dan Tiarapun memutuskan untuk pulang. Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah Tiara.


Dalam perjalanan, mereka terus bergandengan tangan, hanya sesekali Rafa melepas genggaman tangannya pada Tiara karena ia harus tetap fokus menyetir.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di depan rumah Tiara.


"Terima kasih untuk hari ini kak," ucap Tiara.


"Justru aku yang sangat berterima kasih padamu Tiara," balas Rafa.


Tiara hanya tersenyum malu kemudian segera turun dari mobil Rafa.


Rafa yang sudah meninggalkan rumah Tiara bukannya pulang ke rumahnya melainkan pergi ke sebuah toko perhiasan.

__ADS_1


Disana Rafa memilih cincin yang akan segera ia berikan pada Tiara. Rafa tidak akan menunda lebih lama lagi, ia akan memberi tahu kedua orang tuanya jika ia akan segera menikahi Tiara.


Kali ini ia yakin dengan pernikahannya, ia yakin dengan masa depan yang kini sudah ada di hadapannya.


__ADS_2