
Di bawah langit malam dengan hembusan angin yang membelai bersama kesedihan, Tiara masih berada di tepi danau, duduk di atas dermaga bersama Rafa.
Ia merasa lebih lega setelah menceritakan semua masalahnya pada Rafa. Ia juga bisa sedikit mendapatkan jawaban tentang kebimbangannya.
Tiara merasa beruntung karena tidak ada yang berubah dari sikap Rafa padanya setelah Rafa mengetahui seluruh kisah hidupnya yang rumit, terlebih fakta bahwa dirinya pernah menjadi perempuan kedua dalam rumah tangga sang kakak.
Tanpa banyak bertanya Rafa bisa memahami keadaan Tiara saat itu dan tidak menyalahkan Tiara atas kesalahan yang pernah ia buat bersama Bima.
Entah kenapa Rafa begitu mempercayai Tiara seolah ia sudah mengenal Tiara sejak lama, meskipun pada kenyataannya dia baru mengenal bahkan bertemu Tiara.
"Bagaimana sekarang Ra? apa kau sudah mendapatkan jawaban dari kebimbanganmu?" tanya Rafa.
"Tiara masih belum yakin kak, tapi yang pasti Tiara tidak akan membiarkan Mama Laras dan kak Gita terusir dari rumah itu, tapi Tiara juga tidak ingin kembali ke rumah itu," jawab Tiara.
"Pikirkan baik-baik dan cobalah melihatnya dari sisi yang berbeda, aku yakin kau pasti bisa menentukan pilihanmu dengan baik," ucap Rafa.
Tiara tersenyum lalu membawa pandangannya pada Rafa, menatap laki-laki tampan itu dari samping.
"Kenapa kau tiba-tiba tersenyum seperti itu?" tanya Rafa pada Tiara yang masih menatapnya dengan tersenyum.
"Terima kasih sudah menjadi pendengar yang baik untuk Tiara kak, Tiara benar-benar merasa beruntung karena bisa mengenal kak Rafa," jawab Tiara.
"aku juga beruntung karena bisa mengenalmu Tiara, hanya dengan bersamamulah aku bisa merasakan debaran dalam dadaku yang tidak aku mengerti," ucap Rafa dalam hati.
"Mulai sekarang jangan pernah ragu untuk bercerita apapun padaku, aku akan mendengarkannya dengan senang hati," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Rafa dan Tiara kemudian membicarakan tentang rencana Tiara selanjutnya, tentang mimpinya untuk bisa menjadi bagian dari perusahaan besar yang ada di kotanya.
Sesekali mereka berdua bercanda dan tertawa, berusaha melupakan sejenak masalah yang ada.
"Hahaha..... Tiara bisa merasakan bagaimana malunya kak Rafa saat itu," ucap Tiara dengan tertawa puas, mengejek Rafa yang baru saja menceritakan hal bodoh yang pernah ia lakukan saat ia kuliah di luar negeri.
Rafa tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menatap Tiara yang tertawa puas di sampingnya.
"Kenapa kak Rafa menatap Tiara seperti itu? apa ada yang salah?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Aku senang melihatmu ceria lagi seperti ini," ucap Rafa yang enggan untuk mengalihkan pandangannya dari Tiara.
"Itu kenapa Tiara selalu berusaha untuk terlihat ceria agar semua orang senang berada di dekat Tiara," balas Tiara.
"Tapi bukan berarti kau selalu berbohong pada dirimu sendiri Ra, ada kalanya kau juga harus meluapkan kesedihan dan emosimu demi kesehatan mentalmu," ucap Rafa.
"Iya kak, Tiara mengerti," balas Tiara.
"Sudah malam, sebaiknya kita kembali pulang," ucap Rafa sambil beranjak dari duduknya diikuti oleh Tiara.
Tiara dan Rafapun masuk ke dalam mobil lalu meninggalkan danau.
"Kak Rafa tidak akan tersesat lagi bukan?" tanya Tiara memastikan.
"Jangan khawatir, kau bisa percaya padaku," jawab Rafa penuh percaya diri.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di depan rumah tempat tinggal Tiara tanpa harus berputar-putar di daerah sekitar danau seperti sebelumnya.
"Terima kasih untuk hari ini kak, Tiara merasa mendapat energi baru setelah menceritakan masalah Tiara pada kak Rafa," ucap Tiara sebelum ia turun dari mobil Rafa.
"Malam ini tidurlah yang nyenyak agar kau bisa memikirkan dengan baik keputusan apa yang akan kau ambil," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara, kemudian turun dari mobil Rafa
**
Hari telah berganti, pagi itu Tiara berangkat ke kafe untuk bekerja seperti biasanya. Setelah mengenakan seragamnya iapun mulai berkutat dengan kesibukannya untuk melayani beberapa pelanggan yang datang serta membersihkan meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan.
"Sepertinya aku mengenal laki-laki itu," ucap Chika yang membuat Tiara segera mengikuti arah pandangan Chika.
"Dia temanmu bukan?" tanya Chika memastikan.
"Kevin, kenapa dia ada disini tanpa memberitahuku?" tanya Tiara pada dirinya sendiri lalu berjalan menghampiri Kevin.
"Kevin, apa yang kau lakukan disini?" tanya Tiara saat ia sudah berdiri di hadapan Kevin.
"Tentu saja mencarimu," jawab Kevin.
__ADS_1
"Apa aku bisa meminta waktumu sebentar atau aku harus menunggumu sampai kau pulang?" lanjut Kevin bertanya.
"Duduklah, aku akan membuatkanmu minum!" ucap Tiara lalu berjalan masuk dan tak lama kemudian kembali dengan membawa dua cup minuman dan memberikan salah satunya pada Kevin.
"Ada apa kau mencariku?" tanya Tiara sambil menyeruput minuman miliknya.
"Sepertinya Tante Laras dan kak Bima belum berhenti mencarimu," jawab Kevin.
"Memangnya apa lagi yang mereka lakukan?" tanya Tiara.
"Hampir setiap hari tante Laras menerorku menanyakan dimana keberadaanmu dan kak Bima juga sudah mulai menanyakan tentangmu pada teman-teman lain di kampus," jawab Kevin menjelaskan.
"Aku sudah menduganya, itu pasti karena pengacara papa sudah menjelaskan semuanya pada mama Laras," ucap Tiara.
"Apa kau sudah bertemu dengan pengacara itu?" tanya Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Lalu apa yang dia katakan?" tanya Kevin penasaran.
Tiarapun menjelaskan pada Kevin tentang semua yang Maya katakan padanya.
"Tapi kau tidak mungkin pulang bukan?" tanya Kevin memastikan.
"Kau tahu aku sama sekali tidak ingin menginjakkan kaki lagi di rumah itu, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan Mama Laras dan kak Gita terusir dari rumah itu," ucap Tiara.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan mereka Tiara, mereka bahkan tidak mengkhawatirkanmu sama sekali, kak Gita juga sudah menikah dengan kak Bima yang artinya tanggung jawab kak Gita ada pada kak Bima," ucap Kevin.
"Mungkin aku bisa berpura-pura tidak peduli, tetapi aku takut aku akan menyesalinya jika sampai Mama Laras dan kak Gita benar-benar meninggalkan rumah itu," ucap Tiara.
"Tapi Ra......."
"Aku belum memutuskan apapun Kevin, aku akan memikirkannya lagi apa yang seharusnya aku lakukan," ucap Tiara memotong ucapan Kevin.
"Aku harap keputusanmu adalah hal yang terbaik untukmu Ra," ucap Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Setelah beberapa lama mengobrol, Kevinpun berpamitan pergi, sedangkan Tiara kembali melanjutkan kesibukannya sampai jam kerjanya selesai.
"Kau pulanglah dulu Chika, aku masih ingin disini," ucap Tiara pada Chika.
"Aku hanya ingin berada di keramaian, berada di dalam kamar sendirian membuatku overthinking, jadi lebih baik aku menghabiskan waktuku disini sampai malam," ucap Tiara.
"Baiklah, aku pulang dulu kalau begitu," ucap Chika lalu berjalan pergi meninggalkan kafe setelah melepas seragamnya.
Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam saat Tiara beranjak dari duduknya.
Tiarapun berpamitan pada teman-temannya untuk pulang. Saat Tiara baru saja membawa langkahnya berjalan di trotoar, tiba-tiba sebuah mobil berjalan pelan di sampingnya.
Tiara yang pada awalnya tidak menghiraukan mobil itu seketika membawa pandangannya ke arah sampingnya ketika mobil itu mulai berhenti tepat di sampingnya.
Tiara terdiam untuk beberapa saat karena ia baru menyadari jika mobil yang berhenti itu adalah mobil Bima.
Saat Tiara akan berlari pergi, Bima yang sudah keluar dari mobilpun segera menahan tangan Tiara dan mencengkeramnya dengan erat.
"Akhirnya aku menemukanmu Tiara, tidak sia-sia aku membuntuti Kevin dan menunggumu sampai malam seperti ini," ucap Bima yang sedari tadi sudah menunggu Tiara keluar dari kafe.
"Lepaskan Tiara kak," ucap Tiara sambil berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Bima, namun kekuatan Bima jauh lebih besar daripadanya, membuatnya merasa kesulitan untuk melepaskan tangannya dari Bima.
"Kau harus pulang Tiara, kali ini aku akan benar-benar memaksamu agar ikut pulang bersamaku," ucap Bima dengan semakin erat mencengkeram tangan Tiara lalu menarik Tiara agar berjalan ke arah mobilnya.
"Tidak, Tiara tidak mau!" ucap Tiara menolak dengan berusaha melawan Bima, namun hal itu hanya membuat tangannya semakin terasa sakit karena cengkeraman Bima yang semakin kuat.
"Tolong jangan seperti ini kak, sikap kak Bima benar-benar membuat Tiara semakin membenci kak Bima!" ucap Tiara yang tidak berhenti untuk berusaha terlepas dari Bima.
"Aku tidak peduli lagi Tiara, kepergianmu dari rumah membuat banyak masalah terjadi dan kau harus kembali ke rumah untuk menyelesaikan semua masalah yang kau buat," ucap Bima sambil membuka pintu mobilnya dengan satu tangannya.
Saat Bima akan mendorong Tiara masuk ke dalam mobil, tiba-tiba Rafa datang dan mencekeram kuat tangan Bima.
"Lepaskan atau kau akan menyesal!" ucap Rafa dengan menatap tajam kedua mata Bima.
Bima hanya tersenyum tipis lalu mendorong Tiara masuk ke dalam mobil dengan kasar, membuat Rafa semakin murka dan kehilangan kesabarannya.
Rafapun segera melayangkan tinjunya tepat di wajah Bima, membuat Bima jatuh tersungkur di dekat mobilnya.
__ADS_1
Tiara yang melihat hal itupun begitu terkejut lalu segera keluar dari mobil Bima.
"Aku sudah memperingatkanmu, kau akan menyesal jika tidak melepaskannya!" ucap Rafa dengan memegang kerah kemeja Bima penuh emosi.
Bima kemudian mengangkat kedua tangannya sebagai tanda untuk menyerah, membuat Rafa melepaskan Bima lalu beranjak dan hendak pergi bersama Tiara.
Namun tiba-tiba Bima menyerang Rafa dari belakang, membuat Rafa terjatuh dan dengan cepat Bima melayangkan pukulannya bertubi-tubi pada Rafa.
"Kak Bima hentikan!" teriak Tiara sambil berusaha menarik Bima agar menjauh dari Rafa.
"Kau terlalu bersikap sok pahlawan Rafa dan aku sangat muak melihatnya!" ucap Bima penuh emosi.
Melihat keributan yang terjadi, beberapa orangpun mulai berlarian ke arah Bima dan Rafa membuat Bima segera beranjak dan masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya pergi begitu saja.
"Kak Rafa......"
"Apa kau baik-baik saja Ra? dia tidak menyakitimu bukan?" tanya Rafa sambil menyeka darah di sudut bibirnya.
"Lihatlah keadaan kak Rafa sekarang, seharusnya Tiara yang mengkhawatirkan kak Rafa," ucap Tiara tanpa menjawab pertanyaan Rafa lalu membantu Rafa berdiri dan berjalan ke arah kafe.
"Pasti sakit sekali ya kak?" tanya Tiara sambil membawa pandangannya melihat luka di sudut bibir Rafa.
"Tidak, ini hanya luka kecil," jawab Rafa.
"Apa Tiara boleh masuk ke ruangan kak Rafa? Tiara ingin mengobati luka kak Rafa," tanya Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Rafa.
Saat Tiara dan Rafa masuk ke dalam kafe, Ana dan yang lainnyapun begitu terkejut melihat keadaan Rafa.
"Jangan bertanya sekarang, aku akan menjelaskannya nanti," ucap Tiara sebelum Ana dan yang lainnya menanyakan keadaan Rafa.
Rafa kemudian duduk di sofa yang ada di ruangannya, sedangkan Tiara segera mencari kotak P3K.
Tiara kemudian mulai membersihkan darah di sudut bibir Rafa lalu dengan pelan mengobatinya dengan obat merah.
Saat melihat tangan Tiara, Rafa melihat memar di pergelangan tangan Tiara akibat cengkeraman Bima.
"Tanganmu....." ucap Rafa sambil memegang tangan Tiara yang membuat Tiara segera menarik tangannya.
"Ini bukan apa apa dibanding luka kak Rafa," balas Tiara sambil menghela nafasnya menatap luka yang ada di sudut bibir Rafa.
"Kenapa nafasmu berat sekali Ra?" tanya Rafa sambil mengoleskan obat di pergelangan tangan Tiara yang memar.
"Tiara hanya merasa bersalah pada kak Rafa," jawab Tiara.
"Kenapa?" tanya Rafa.
"Sejak mengenal Tiara, kak Rafa jadi mendapat masalah, mulai dari dikeluarkan dari kampus, masuk rumah sakit dan sekarang kak Rafa harus terluka karena Tiara," jawab Tiara menjelaskan dengan menundukkan kepalanya.
Rafa tersenyum tipis lalu memegang dagu Tiara dan membawa pandangan Tiara ke arahnya.
"Aku terluka karena Bima, bukan karenamu," ucap Rafa dengan menatap kedalam mata Tiara.
Untuk beberapa saat mereka terdiam dengan saling menatap tanpa kata, namun Tiara segera mengalihkan pandangannya setelah ia tersadar dari lamunannya.
"Jika bukan karena kak Rafa membela Tiara, kak Bima tidak mungkin menyerang kak Rafa seperti ini," ucap Tiara dengan nada kesal.
"Apa kau sedang marah padaku sekarang?" tanya Rafa.
"Tidak, Tiara hanya kesal dengan situasi ini, Tiara sangat berterima kasih karena kak Rafa membantu Tiara terlepas dari kak Bima, tapi Tiara juga sangat merasa bersalah karena melihat kak Rafa terluka seperti ini," ucap Tiara.
"Ini hanya luka kecil Ra, kau jangan terlalu memikirkannya," ucap Rafa.
"Tapi tetap saja kak Rafa terluka karena Tiara, seharusnya kak Raka membiarkan Tiara dan kak Bima agar kak Rafa tidak terluka seperti ini!"
"Aku tidak bisa membiarkan seseorang menyakitimu Ra, aku akan sangat marah jika ada seseorang yang bersikap kasar padamu," ucap Rafa yang membuat Tiara segera membawa pandangannya pada Rafa, membuat Rafa tersadar jika ia sudah salah berbicara.
"Bagaimanapun juga kau adalah karyawanku, aku tidak ingin siapapun menyakiti karyawan yang sudah aku anggap seperti keluargaku sendiri," ucap Rafa berusaha memperjelas perkataannya yang sebelumnya terdengar ambigu.
Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, hampir saja ia salah paham dengan ucapan Rafa. Ia sempat berpikir jika Rafa begitu mengkhawatirkannya sebagai seorang gadis, bukan sebagai karyawannya.
"Kak Bima sekarang tahu jika Tiara bekerja disini kak, tapi sepertinya kak Bima belum tahu tempat tinggal Tiara, tapi mungkin kak Bima akan kembali lagi kesini sampai berhasil membawa Tiara kembali pulang ke rumah," ucap Tiara.
__ADS_1
"Jangan khawatir, aku akan membantumu, sekarang aku akan mengantarmu pulang karena ini sudah sangat malam," ucap Rafa lalu beranjak dari duduknya diikuti oleh Tiara.