Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Bekerja di Kafe


__ADS_3

Di sisi lain, Bella yang baru saja menaiki taksi segera menghubungi Kevin, memberitahu Kevin jika ia sudah bertemu dengan Tiara.


"Dia baik-baik saja bukan?" tanya Kevin pada Bella.


"Sepertinya kau lebih mengkhawatirkan Tiara daripada aku," balas Bella cemburu.


"Karena aku yakin kau bisa menjaga diri dengan baik jadi aku tidak akan terlalu mengkhawatirkanmu," ucap Kevin.


"Kau benar aku memang bisa menjaga diri dengan baik disini dan kaupun juga harus menjaga hatimu dengan baik disana, aku benar-benar akan membunuhmu jika kau macam-macam di belakangku!" ucap Bella.


"Tentang Tiara, dia baik-baik saja tapi sepertinya dia sedang mencari pekerjaan," lanjut Bella.


"Pekerjaan? untuk apa?" tanya Kevin.


"Tanyakan saja padanya, jangan bertanya padaku, kau pikir aku orang tuanya!" balas Bella.


"Hahaha.... baiklah aku akan menghubunginya sendiri nanti," ucap Kevin.


"Tiara memintaku untuk membantunya bekerja di kafe milik anak rekan kerja papa, menurutmu bagaimana? apa aku harus membantunya atau tidak?" tanya Bella pada Kevin.


"Aku akan menghubunginya terlebih dahulu untuk memastikan kenapa dia memutuskan bekerja," jawab Kevin.


"Baiklah kalau begitu," balas Bella lalu mengakhiri panggilannya dengan Kevin.


"Huuufftt merepotkan sekali!" ucap Bella sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas.


**


Di dorm, Tiara menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya. Hari itu ia merasa cukup lelah setelah ia mendatangi beberapa kafe untuk mencari pekerjaan.


Tak lama kemudian Yuna datang lalu duduk di tepi ranjang Tiara, menanyakan tentang apa saja yang dilakukan Tiara hari itu karena ia tidak melihat Tiara sejak pagi.


Tiarapun menjelaskan jika dirinya baru saja mendatangi satu persatu kafe yang berada tidak jauh dari kampus mereka untuk mencari pekerjaan.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan masuk dari Kevin yang membuat Tiara segera menerima panggilan itu.


"Namja chingu?" tanya Yuna dengan menggunakan bahasa korea saat ia melihat nama Kevin pada layar ponsel Tiara.


Tiara hanya tersenyum dengan menggelengkan kepalanya lalu menerima panggilan Kevin.


"Halo Tiara, apa kau baru saja bertemu dengan Bella?" tanya Kevin.


"Iya aku bertemu dengannya, apa dia menceritakannya padamu?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Iya, dia memberitahuku jika dia melihatmu di kafe dan dia bilang kau sedang mencari pekerjaan, apa benar?" tanya Kevin.


"Iya benar, aku sedang mencari pekerjaan di kafe yang berada dekat dengan kampusku, tetapi sudah beberapa kafe aku datangi dan tidak ada yang menerima pegawai baru, terlebih pegawai asing sepertiku," jawab Tiara.


"Apa kau yakin ingin bekerja? Apa kau yakin itu tidak akan mengganggu kuliahmu nanti?" tanya Kevin memastikan.


"Aku yakin bisa melakukan keduanya dengan baik Kevin, apa kau meragukanku?"


"Tentu saja tidak, aku hanya tidak ingin fokusmu terbagi antara kuliah dan bekerja, bukankah sebaiknya kau fokus saja dengan kuliahmu!"


Tiara kemudian berbicara panjang lebar untuk meyakinkan Kevin bahwa dirinya pasti bisa menjalani keduanya dengan baik, ia juga meminta tolong pada Kevin untuk berbicara pada Bella agar membantunya mendapatkan pekerjaan di kafe milik anak dari rekan kerja papa Bella.


"Baiklah, aku akan berbicara dengannya nanti," ucap Kevin yang pada akhirnya membiarkan Tiara untuk melakukan apa yang ia inginkan


Tak lama setelah Kevin mengakhiri panggilannya, sebuah nomor baru mengirimkan pesan pada Tiara.


"Nanti malam temui aku di kafe X jika kau memang sangat ingin bekerja disana!"


Tiarapun tersenyum senang lalu membalas pesan itu dengan sebuah stiker lucu.

__ADS_1


Waktupun berlalu, karena saat itu adalah musim gugur, siang menjadi cepat berlalu membawa malam lebih cepat datang.


Tiarapun mempersiapkan dirinya untuk menemui Bella di cafe yang berada tak jauh dari dorm tempatnya tinggal.


Sesampainya di kafe, Tiara segera mengedarkan pandangannya untuk mencari Bella. Setelah menemukan tempat Bella duduk, iapun segera membawa langkahnya untuk menghampiri Bella.


"Kau membuatku repot saja!" ucap Bella saat Tiara baru saja duduk di hadapannya.


"Aku akan sangat berterima kasih padamu jika kau bisa membantuku untuk bekerja disini," balas Tiara penuh semangat.


"Bukankah lebih menyenangkan jika kau hanya fokus dengan kuliahmu dan mengisi waktu luangmu untuk pergi berlibur, kenapa kau harus repot-repot bekerja padahal biaya hidup dan biaya kuliahmu sudah ditanggung oleh perusahaan!"


"Kau dan aku berbeda Bella, kau bisa mendapat apapun yang kau inginkan dengan mudah tanpa perlu mengkhawatirkan hal mendesak yang tiba-tiba datang, sedangkan aku harus mempersiapkan semuanya dengan baik, jika bukan aku sendiri yang mempersiapkannya siapa lagi!" balas Tiara.


"Ternyata kau mandiri sekali, tapi asal kau tau, walaupun aku kuliah dan tinggal disini dengan biaya orang tuaku tapi aku juga memiliki kegiatan lain yang bisa membuatku menghasilkan uang sendiri, hanya saja aku tidak suka bekerja keras sepertimu, aku lebih suka bekerja dengan santai tanpa harus membuat kuku jari-jariku rusak!" ucap Bella.


Tak lama kemudian seorang pria datang menghampiri meja Tiara dan Bella lalu duduk diantaranya. Pria itu adalah anak dari rekan kerja papa Bella yang merupakan pemilik kafe dan tentu saja Bella mengenalnya dengan baik.


Bella berusaha meyakinkan pria itu agar menerima Tiara bekerja disana. Bella menjelaskan bagaimana Tiara bisa melakukan pekerjaannya dengan sangat baik di kafe tempat Tiara bekerja sebelumnya.


Pria yang bernama James itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan Bela. Sesekali ia membawa pandangannya pada Tiara yang sempat ia tolak saat melamar pekerjaan di kafenya.


James kemudian menanyakan beberapa hal pada Tiara tentang maksud dan tujuan Tiara untuk bekerja di kafe itu.


Tiarapun menjawab dengan lugas dan jelas semua pertanyaan James. Semakin lama James mendengarkan Tiara berbicara membuatnya tiba-tiba saja tertarik dengan cara bicara Tiara yang dinilainya menyenangkan dan cocok untuk menjadi waiters di kafe miliknya.


Meskipun sebenarnya James tidak sedang membutuhkan pegawai baru, namun pada akhirnya ia memberikan Tiara kesempatan untuk bekerja selama satu bulan, jika Tiara bisa bekerja dengan baik maka James akan mempekerjakan Tiara sesuai dengan kontrak kerja yang biasa James berikan pada para pegawai barunya.


Tiarapun begitu senang mendengarnya, berkali-kali ia mengucapkan terima kasih pada James karena sudah diberikan kesempatan untuk menunjukkan kinerjanya di kafe.


Setelah beberapa lama mengobrol, Tiara dan Bellapun meninggalkan cafe.


"Aku benar-benar sangat berterima kasih padamu karena sudah membantuku mendapatkan pekerjaan ini, aku janji aku pasti akan membalas semua perbuatan baikmu padaku," ucap Tiara pada Bela.


"Kau berlebihan sekali, aku melakukan ini hanya karena Kevin yang memintaku, bukan karena keinginanku sendiri!" balas Bella.


"Apa yang kau lakukan? kau gila!" teriak Bella sambil mengusap pipinya yang baru saja dicium oleh Tiara.


Tiara hanya tertawa sambil berlari pergi dari Bella dengan melambaikan tangannya ke arah Bella


"Terima kasih, aku akan menghubungimu lagi nanti!" ucap Tiara dengan berteriak.


Bella hanya tersenyum tipis lalu membawa langkahnya ke arah tempat ia memarkir mobilnya.


"Dia berlebihan sekali, apa dia mulai berpikir bahwa aku temannya!" ucap Bella sambil membersihkan pipinya dengan tisu basah yang ada di mobilnya.


**


Di sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas, seorang laki laki tampak sedang membakar beberapa daging dan sosis pada alat pembakaran.


Ya, dia sedang mengadakan pesta barbeque bersama teman teman barunya yang juga merupakan rekan kerjanya.


Dia adalah Putra, ia sudah lebih dulu tinggal di Amerika sebelum Tiara datang. Ia menyewa sebuah rumah sederhana dengan halaman yang cukup luas.


Setiap harinya Putra disibukkan dengan pekerjaan barunya, ia juga harus bersosialisasi dengan baik untuk mempermudah pekerjaannya.


Di tengah kesibukannya, Putra selalu menyempatkan dirinya untuk mencari Tiara. Dibantu dengan informasi yang ia dapatkan dari HRD perusahaan X tempat Tiara bekerja sebelumnya, Putra bisa mengetahui dimana Tiara tinggal.


Namun tidak mudah untuk bisa bertemu dengan Tiara, selain karena kesibukannya disana ia juga yakin jika Tiara sama sibuknya seperti dirinya.


Tapi Putra tidak menyerah, sudah beberapa kali Putra mendatangi tempat tinggal Tiara untuk melihat Tiara secara langsung tanpa Tiara ketahui.


Putra memang diam-diam memperhatikan Tiara, ia tidak ingin jika Tiara berpikir bahwa dirinya dengan sengaja pergi ke Amerika untuk mendekati Tiara.


Putra harus mempersiapkan rencananya dengan baik agar ia bisa mendekati Tiara dengan perlahan namun penuh dengan kepastian.

__ADS_1


Hingga saatnya nanti Putra akan menemui Tiara dan berusaha untuk mendapatkan hati Tiara, tidak peduli jika Tiara memang belum bisa benar-benar melupakan Rafa, karena ia sendiri yang akan membantu Tiara untuk melupakan Rafa dari hidupnya.


**


Di tempat lain, jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam saat Rafa masih berada di ruangan kerjanya.


Sejak kepergian Tiara ke Amerika Rafa memutuskan untuk menyibukkan dirinya dengan bekerja di kantor.


Rafa akan berangkat ke kantor pagi-pagi sekali dan bekerja lembur setiap hari. Tak jarang Rafa bahkan tidak pulang ke rumahnya, ia menghabiskan malamnya di klub hanya untuk menikmati kebisingan yang bisa meredakan segala macam pikiran yang mengganggunya.


Saat hampir pagi Rafa baru pulang untuk mandi dan berganti pakaian sebelum ia berangkat ke kantor.


Hampir 1 bulan Rafa terus melakukan hal itu dan tentu saja itu tidak baik untuk kesehatannya. Hingga akhirnya keadaan Rafapun benar-benar drop, Rafa dilarikan ke rumah sakit saat ia tiba-tiba pingsan saat memimpin rapat di kantornya.


Hal itu tentu saja membuat Maya khawatir, namun tidak ada yang bisa ia lakukan karena Rafa tidak pernah mendengarkan ucapannya terlebih setelah ia mengungkapkan perasaannya pada Rafa.


Sejak saat itu Rafa kembali bersikap dingin padanya, bahkan selalu menghindarinya. Apapun cara yang dilakukan Maya seolah tidak mempan untuk membuat Rafa membuka hatinya. Rafa seolah sudah menutup mata dan hatinya untuk Maya yang merupakan istri sahnya.


Setelah beberapa hari berada di rumah sakit, Rafapun sudah diperbolehkan pulang oleh dokter.


Pagi itu Maya bersama kedua orang tua Rafa menjemput Rafa dari rumah sakit dan mengantar Rafa untuk kembali pulang ke rumah dimana ia tinggal bersama Maya.


"Jaga kesehatanmu Rafa, Mama papa Dan Maya sangat mengkhawatirkanmu, karena tidak biasanya kau seperti ini!" ucap sang Mama pada Rafa.


"Jangan bekerja terlalu berlebihan, papa sudah cukup bangga padamu, jadi bekerjalah sewajarnya saja dan tetap memperhatikan kesehatanmu!" ucap sang papa.


"Maaf sudah membuat semuanya khawatir, Rafa hanya sedang ingin menyibukkan diri saja," balas Rafa.


Setelah orang tua Rafa meninggalkan rumah Rafa, kini tinggal Maya dan Rafa yang berada di kamar Rafa.


"Kau keluarlah!" ucap Rafa pada Maya.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau makan? aku akan menyiapkannya untukmu," tanya Maya.


"Tidak ada, aku hanya ingin kau keluar dari kamarku," jawab Rafa sambil mengalihkan pandangannya dari Maya.


"Maaf jika apa yang aku katakan membuatmu terbebani, tapi tidak dapat aku pungkiri bahwa bertahun-tahun tinggal bersamamu pada akhirnya membuatku jatuh cinta padamu, aku tidak peduli jika saat ini kau tidak mencintaiku, aku akan tetap berusaha untuk membuatmu mencintaiku," ucap Maya.


"Jangan pernah berharap apapun dariku Maya, seperti yang kau tahu sudah ada perempuan lain yang aku cintai dan kau tidak akan pernah bisa menggantikan dia di hatiku," balas Rafa.


"Aku tidak peduli Rafa, aku akan berusaha untuk mempertahankan pernikahan kita dan berusaha untuk membuatmu melupakan Tiara," ucap Maya.


"Kau tidak akan pernah bisa melakukan hal itu, bahkan jika kau memaksaku untuk tetap bersamamu sampai kapanpun hatiku tetap milik Tiara," balas Rafa.


"Tapi....."


"Aku mohon keluarlah, aku ingin beristirahat dengan tenang sekarang," ucap Rafa memotong ucapan Maya.


"Baiklah kalau begitu, istirahatlah yang cukup agar kau kembali sehat!" ucap Maya lalu berjalan keluar dari kamar Rafa.


"Aku akan melakukan apapun untuk tetap bisa membuatmu bersamaku Rafa, aku sudah tidak peduli apapun lagi selain kau, jadi jangan salahkan aku jika aku harus melakukan hal-hal yang tidak akan kau duga," ucap Maya dalam hati.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam saat Maya tengah menyiapkan makan malam dan minuman untuk Rafa.


Hari itu Maya sengaja meminta bibi untuk pulang cepat karena ia ingin dirinya sendiri yang merawat Rafa sampai Rafa benar-benar sembuh.


"Aku tidak akan melakukan hal ini jika kau tidak terus-terusan seperti ini padaku," ucap Maya sambil memasukkan sebuah obat ke dalam minuman Rafa lalu mengaduknya hingga larut bersama air yang nantinya akan ia berikan pada Rafa.


Maya kemudian membawa minuman dan makanan ke kamar Rafa. Ia mengetuk pintu beberapa kali karena saat ia mencoba membukanya, pintu kamar Rafa terkunci dari dalam.


"Aku hanya ingin membawakan makanan dan minuman untukmu Rafa, bukankah kau harus minum obat setelah makan?" ucap Maya sekaligus bertanya dari luar kamar Rafa.


Rafa kemudian beranjak dari ranjangnya lalu membuka pintu kamarnya. Dengan cepat Mayapun segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamar Rafa lalu duduk di tepi ranjang Rafa.


"Ini adalah bubur yang biasa dibuat oleh mamamu, aku yakin kau pasti menyukainya!" ucap Maya pada Rafa sambil menyandok bubur yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Aku bisa memakannya sendiri, keluarlah!" ucap Rafa sambil meraih sendok di tangan Maya.


Mayapun beranjak dan keluar dari kamar Rafa.


__ADS_2