Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Mulai Bekerja


__ADS_3

Tiara tidak mengerti kenapa Gita mengirimkan pesan seperti itu padanya, namun Tiara memilih untuk mengabaikan pesan dari Gita.


Tiara kemudian menghubungi Kevin, memberitahu Kevin bahwa ia menunggunya di kantin fakultas mereka.


Setelah beberapa lama menunggu, Kevinpun datang.


"Kau bilang tidak akan ke kampus, apa kau ada bimbingan skripsi sekarang?" tanya Kevin pada Tiara.


"Tidak ada, aku sengaja kesini untuk menemuimu," jawab Tiara dengan penuh senyum.


"Sepertinya ada kabar bahagia, apa aku benar?" tanya Kevin menerka dan hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.


"Cepat ceritakan padaku apa yang membuatmu sangat bahagia seperti ini?" tanya Kevin tak sabar.


"Aku sudah mendapatkan pekerjaan Kevin, aku juga sudah mendapatkan tempat tinggal dari pekerjaanku itu, jadi hari ini juga aku akan keluar dari rumahmu," ucap Tiara penuh semangat.


Namun berbeda dengan Tiara, Kevin tampak tidak terlalu senang dengan apa yang baru saja Tiara katakan.


"Aku sedang senang saat ini Kevin, kenapa wajahmu sepertinya tidak senang mendengar kabar baik ini?" tanya Tiara.


"Aku senang karena kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan, aku hanya bersedih saja karena pada akhirnya kau benar-benar tidak melanjutkan kuliahmu," ucap Kevin.


"Aku belum menceritakan semuanya Kevin, ini adalah bagian yang paling menyenangkan dalam hidupku," ucap Tiara yang membuat Kevin mengernyitkan keningnya.


"Aku tetap akan melanjutkan kuliahku Kevin," lanjut Tiara yang membuat Kevin begitu terkejut.


"Apa kau serius Ra?" tanya Kevin tak percaya.


"Aku serius Kevin, setiap bulannya gajiku akan dipotong untuk biaya kuliahku jadi aku tetap bisa melanjutkan kuliahku sambil bekerja!"


"Apa gajimu akan cukup untuk biaya hidupmu jika gajimu dipotong?" tanya Kevin khawatir.


"Tenang saja Kevin, aku pasti bisa membaginya dengan baik, lagi pula tempat bekerjaku sudah menyediakan tempat tinggal untuk karyawannya jadi aku bisa lebih berhemat karena tidak perlu memikirkan biaya tempat tinggal," jawab Tiara menjelaskan.


"Baguslah kalau begitu, aku harap kau bisa fokus menjalani pekerjaan dan skripsimu dengan baik, tapi dimana kau bekerja Ra?"


"Aku bekerja di kafe di daerah X, aku akan mengirimkan lokasinya padamu saat aku sudah berada disana," jawab Tiara.


"Tetap jaga kesehatanmu Ra, kau harus bisa membagi waktumu dengan baik dan tidak kehilangan waktu untuk beristirahat," ucap Kevin mengingatkan.


"Tentu saja Kevin, kau jangan terlalu mengkhawatirkanku seperti itu, aku pasti bisa menjaga diriku dengan baik," balas Tiara.


"Kapan kau akan pulang? aku harus segera mengemasi barang-barangku dan pergi ke tempat tinggalku yang baru," lanjut Tiara bertanya.


"Aku masih harus berada di kampus sampai malam Ra, apa kau tidak keberatan jika aku mengantarmu kesana nanti malam," jawab Kevin sekaligus bertanya?


"Kalau begitu aku akan pergi kesana sendiri, aku harus mengemasi barangku secepat mungkin karena besok aku sudah harus bekerja," jawab Tiara.


"Kalau begitu aku akan bolos saja, aku akan mengantarmu......"


"Jangan Kevin, aku bisa pergi kesana sendiri, kau bisa datang ke tempat kerjaku jika kau ada waktu luang," ucap Tiara memotong ucapan Kevin.


"Kau memang gadis yang mandiri, aku pasti akan segera menemuimu di tempat kerjamu," ucap Kevin sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan penuh senyum sambil menyeruput minuman di hadapannya.


Setelah mengobrol cukup lama dengan Kevin, Tiarapun meninggalkan kampus dan pulang ke rumah Kevin.


Tepat jam 05.00 sore Tiara sudah selesai memasukkan barang-barangnya ke dalam koper miliknya lalu keluar dari kamarnya.


Tiara terlebih dulu berpamitan pada mama dan papa Kevin sekaligus berterima kasih karena sudah diterima dengan baik di rumah itu.


Karena membawa cukup banyak barang Tiarapun memesan taksi. Saat Tiara akan masuk ke dalam taksi tiba-tiba seseorang menarik tangannya dengan kasar.


"Kak Bima, apa yang kak Bima lakukan disini?" tanya Tiara sambil menarik tangannya dari Bima.


"Ayo pulang Ra," ucap Bima tanpa menjawab pertanyaan Tiara.


"Tidak, rumah itu bukan rumah Tiara lagi, tidak ada alasan bagi Tiara untuk kembali ke rumah itu," balas Tiara yang hendak membuka pintu taksi itu namun Bima dengan cepat menutupnya.

__ADS_1


"Mama laras sendiri yang memintamu untuk kembali Tiara, bukankah Gita juga memintamu untuk kembali, ayo pulanglah Ra, kita selesaikan masalah kita baik-baik!" ucap Bima berusaha membujuk Tiara.


"Lebih baik kak Bima pergi sekarang atau Tiara akan berteriak," ucap Tiara yang tidak gentar dengan ajakan Bima.


Tiba-tiba satpam rumah Kevin mendatangi Tiara dan Bima atas permintaan orang tua Kevin yang saat itu melihat Tiara seperti sedang diganggu oleh seorang laki-laki.


Satpam itupun membantu Tiara untuk melanjutkan perjalanannya bersama taksi dan meminta Bima untuk pergi.


Tiara kemudian berhasil pergi dengan taksi yang sudah dipesannya, sedangkan Bima segera masuk ke dalam mobilnya untuk membuntuti taksi yang dinaiki Tiara.


Sampai di suatu jalan yang tidak terlalu ramai Bima mendekati taksi yang ditumpangi Tiara dan dengan cepat menghentikan mobilnya tepat di depan taksi yang tengah melaju saat itu.


Beruntung sopir taksi itu bisa menginjak remnya dengan cepat sehingga tidak sampai menabrak mobil Bima.


"Jangan hiraukan dia Pak, kita lanjutkan perjalanan kita," ucap Tiara pada sopir taksi.


"Waduh maaf mbak, saya tidak berani terlibat keributan seperti ini," balas si sopir taksi yang enggan untuk melajukan mobilnya.


"Tapi pak....."


"Sebaiknya mbak keluar saja dan silakan diselesaikan masalahnya, maaf saya tidak ingin terlibat," ucap supir taksi yang memaksa Tiara untuk keluar dari taksinya.


"Tiara keluarlah, kau harus pulang ke rumah!" ucap Bima sambil menggedor-gedor kaca pintu taksi itu.


"Saya mohon keluarlah mbak, jangan sampai laki-laki itu membuat kerusakan pada taksi saya," ucap si sopir taksi memohon pada Tiara.


Tiarapun dengan terpaksa keluar dari taksi dengan membawa koper dan tas besarnya.


"Tolong berhentilah mengganggu Tiara kak, Tiara ingin memulai kehidupan Tiara yang baru tanpa kelicikan kalian semua," ucap Tiara penuh emosi.


"Aku mencintaimu Tiara, aku benar-benar mencintaimu, semua ini terjadi bukan karena keinginanku, aku mohon mengertilah," ucap Bima dengan memegang kedua bahu Tiara.


"Selalu Tiara yang harus mengerti posisi kakak, sedangkan kak Bima sendiri tidak pernah mengerti posisi Tiara, selalu Tiara yang dianggap salah pada hubungan ini padahal hubungan ini tidak akan terjadi jika kak Bima tidak membalas perasaan Tiara saat itu," ucap Tiara sambil melepaskan kedua tangan Bima dari bahunya dengan kasar.


Tiara kemudian membawa langkahnya pergi meninggalkan Bima.


"Gita membutuhkanmu Ra, dia benar-benar sangat membutuhkanmu saat ini," ucap Bima yang membuat Tiara menghentikan langkahnya.


Untuk beberapa saat Tiara berpikir apakah ia harus menemui Gita dan kembali ke rumah itu atau tidak, namun tiba-tiba sebuah mobil berhenti di dekat Tiara dan Bima.


Sang pemilik mobilpun keluar dari mobilnya lalu menghampiri Tiara. Tanpa Tiara dan Bima tahu Rafa sempat melihat ketegangan di antara Tiara dan Bima beberapa saat yang lalu, yang membuat Rafa memutuskan untuk menghampiri Tiara.


Melihat koper dan tas besar yang Tiara bawa Rafapun bisa menyimpulkan bahwa Tiara akan pergi ke tempat tinggalnya yang berada di dekat kafe.


"Apa kau mau pindah sekarang Tiara?" tanya Rafa pada Tiara.


"Iya Pak, apa Tiara boleh meminta tolong Pak Rafa untuk mengantar Tiara?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Ayo saya akan mengantarmu," jawab Rafa sambil meraih koper di tangan Tiara, namun tiba-tiba Bima menarik dengan kasar koper itu.


"Berhenti mencampuri urusanku Rafa!" ucap Bima yang tampak emosi saat itu.


"Bukankah kau dengar sendiri, Tiara yang meminta tolong padaku," balas Rafa.


"Kau bukan lagi dosennya sekarang, kau tidak berhak atas apapun yang dia lakukan," ucap Bima.


"Tolong pergilah kak jangan mengganggu Tiara lagi, apapun yang terjadi di rumah itu bukan lagi menjadi urusan Tiara," ucap Tiara sambil menarik kopernya dari Bima


"Tapi Gita....."


"Setelah semua kebohongan yang dilakukan kak Gita, apa menurut kakak Tiara bisa mempercayai kak Gita begitu saja? Tiara sudah cukup bersabar kak, Tiara sudah cukup mengalah selama Tiara tinggal di rumah itu dan sekarang Tiara benar-benar tidak akan pernah kembali lagi kesana," ucap Tiara memotong ucapan Bima lalu berjalan ke arah mobil Rafa.


Dengan sigap Rafa membuka bagasi mobilnya lalu menaruh koper dan tas besar Tiara disana kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan Bima bersama Tiara.


Selama perjalanan Tiara hanya diam tanpa mengatakan apapun, begitu juga Rafa yang tidak ingin terlalu ikut campur dengan masalah pribadi Tiara.


"aku sudah memutuskan untuk keluar dari rumah itu, akupun harus menjauh dari semua masalah yang ada di rumah itu, aku tidak peduli lagi apapun yang terjadi pada mereka yang tinggal di rumah itu termasuk kak Gita, maafkan Tiara kak mungkin ini yang terbaik untuk kita agar kak Gita tidak perlu lagi berpura-pura menyayangi Tiara seperti dulu," ucap Tiara dalam hati.


Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di depan rumah besar dengan halaman yang cukup luas di depannya.

__ADS_1


"Kita sudah sampai Ra," ucap Rafa membayarkan lamunan Tiara.


"Aaah iya pak," balas Tiara lalu segera keluar dari mobil Rafa, begitu juga Rafa yang keluar dari mobilnya untuk membantu menurunkan koper dan tas besar milik Tiara.


"Apa Tiara akan tinggal disini pak?" tanya Tiara menatap rumah besar di hadapannya.


"Iya, di rumah ini ada banyak kamar dan ada beberapa karyawan kafe yang tinggal disini, jadi kau bisa mulai untuk mengakrabkan dirimu dengan mereka sebelum kamu mulai bekerja besok," jawab Rafa.


"Baik Pak, terima kasih sudah mengantar Tiara," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Rafa.


Rafa kemudian meninggalkan rumah itu, sedangkan Tiara segera membawa langkahnya ke arah pintu utama rumah itu.


Saat Tiara akan mengetuk pintu tiba-tiba dari arah belakangnya seseorang memanggil nama Tiara, membuat Tiara segera membalikkan badannya untuk melihat si pemilik suara.


Tiarapun tersenyum senang saat melihat Chika yang berlari ke arahnya.


"Akhirnya kau datang, ayo masuk aku akan menunjukkan kamarmu!" ucap Chika lalu membuka pintu dan mengajak Tiara masuk ke dalam rumah itu.


"Apa kau juga tinggal disini?" tanya Tiara pada Chika.


"Iya, kamarku ada tepat di sebelah kamarmu," jawab Chika.


"Ini kamarmu, kau bisa membereskan barang-barangmu terlebih dahulu dan beristirahat sebelum bertemu dengan teman teman yang lain," ucap Chika pada Tiara.


Tiara menganggukkan kepalanya dan berterima kasih lalu masuk ke dalam kamarnya. Tak lupa Tiara mengunci pintu kamarnya lalu merebahkan dirinya di atas ranjang sebelum ia membereskan barang-barangnya.


"Aku akan memulai hidup baruku hari ini, jadi semua kesedihan dan kekecewaan hari kemarin harus benar-benar aku lupakan," ucap Tiara lalu segera beranjak dan merapikan barang-barang miliknya.


Malam semakin larut saat Tiara baru saja keluar dari kamar setelah beristirahat cukup lama. Tiara menghampiri beberapa orang yang ada di teras rumah untuk berkenalan dengan mereka satu persatu.


Mereka semuapun menyambut Tiara dengan baik, membuat Tiara merasa betah tinggal di rumah itu.


Hari telah berganti. Mentari pagi telah datang menyambut hari baru bagi Tiara, hari dimana ia mulai bekerja di kafe milik Rafa.


Setelah mandi dan berganti pakaian, Tiarapun membawa langkahnya keluar dari rumah untuk berangkat ke kafe yang jaraknya cukup dekat dari rumah tempat tinggalnya.


Sesampainya di kafe, Tiara disambut oleh Chika yang bersiap untuk pulang karena ia baru saja menyelesaikan shift malamnya, sedangkan Tiara bersiap untuk shift paginya.


Hari itu Tiara lalui dengan sangat sibuk karena dia harus banyak belajar hal baru tentang pekerjaannya.


Beruntung dia memiliki banyak teman kerja yang bisa membantunya untuk mengenal pekerjaannya dengan baik.


"Apa benar kau masih kuliah sekarang?" tanya Ana, salah satu teman baru Tiara disana.


"Iya, Pak Rafa mengizinkanku melanjutkan kuliah," jawab Tiara.


"Kau beruntung Tiara, karena sejauh yang aku tahu pak Rafa tidak pernah menerima pelamar kerja yang masih berkuliah," ucap Ana.


"Benarkah? mungkin karena Pak Rafa sempat menjadi dosen pembimbingku jadi Pak Rafa menerimaku bekerja disini dan mengizinkanku untuk tetap melanjutkan kuliahku," balas Tiara.


"Atau mungkin pak Rafa menyukaimu hehehe...."


"Jangan berbicara sembarangan," ucap Tiara sambil membulatkan matanya mendengar ucapan Ana.


Tak lama kemudian Rafa datang dan masuk ke dalam kafe.


"Tiara ikut saya!" ucap Rafa tanpa membawa pandangannya pada Tiara.


"Baik Pak," balas Tiara lalu mengikuti langkah Rafa masuk ke dalam ruangannya.


"Apa hari ini kau tidak ada jadwal bimbingan skripsi?" tanya Rafa pada Tiara.


"Tidak ada Pak," jawab Tiara.


"Saya sudah memberitahu semua karyawan disini bahwa kau bekerja sambil kuliah, jadi jika kau tiba-tiba ada panggilan untuk bimbingan skripsi jangan ragu untuk izin meninggalkan pekerjaanmu karena semuanyapun mengerti jika bimbingan skripsi memang sering berubah jadwalnya," ucap Rafa.


"Iya pak Tiara mengerti," balas Tiara.


"Baiklah lanjutkan pekerjaanmu dan bawakan saya coklat panas 2 menit dari sekarang!" ucap Rafa.

__ADS_1


"2 menit?" tanya Tiara mengulangi ucapan Rafa.


"Waktumu tinggal 1 menit 50 detik," ucap Rafa yang membuat Tiara segera berlari keluar dari ruangan Rafa, membuat Rafa hanya tersenyum tipis melihat sikap Tiara.


__ADS_2