Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Alasan Bima


__ADS_3

Gita terdiam tak percaya mendengar apa yang baru saja Bima katakan melalui sambungan telepon. Ia bisa mendengar jelas bahwa Bima memanggilnya dengan panggilan sayang padahal ia sedang menghubungi Bima dengan menggunakan ponsel Tiara saat itu.


"Aku baru tahu jika kau dan Tiara sedekat ini," ucap Gita dengan menatap lekat-lekat Tiara yang berdiri di sampingnya.


Mendengar suara Gita, Bimapun terdiam dan terkejut karena tidak menyangka jika yang menghubunginya adalah Gita, bukan Tiara seperti yang ia harapkan.


Sama seperti Bima, Tiarapun terkejut mendengar apa yang Gita katakan, ia tidak tahu apa yang sudah Gita dengar dari Bima tapi melihat respon Gita membuatnya menjadi khawatir dan gugup, takut jika Bima berbicara sesuatu yang membuat Gita mengetahui hubungan dirinya dengan Bima.


"Gita, aku....."


"Cukup Bima, aku tidak ingin mendengarkan semua alasanmu, bagiku ini sudah cukup jelas untuk membuatku mengerti bagaimana hubunganmu dengan Tiara yang sebenarnya," ucap Gita memotong ucapan Bima lalu mengakhiri panggilan itu begitu saja.


Gita kemudian mengembalikan ponsel Tiara dengan tatapan penuh kebencian.


"Ada apa kak? kenapa kakak menatap Tiara seperti itu?" tanya Tiara gugup.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?" tanya Gita yang segera mengalihkan pandangannya dari Tiara.


"Apa maksud kakak? Tiara tidak mengerti," balas Tiara tidak menjawab pertanyaan Gita.


"Apa kau tahu apa yang diucapkan Bima setelah dia menerima panggilanku? tanpa ragu dia memanggil sayang, itu artinya dia memang sudah biasa seperti itu padamu bukan?"


"Tolong jangan salah paham kak, kak Bima pasti....."


"Berhenti membohongiku Tiara, kau sudah menyembunyikan hubunganmu dengan Bima dariku dan sekarang jangan berharap jika aku akan mempercayai ucapanmu!" ucap Gita memotong ucapan Tiara.


"Tiara....."


"Pergilah Tiara, tinggalkan aku disini," ucap Gita yang sudah tidak ingin mendengar ucapan Tiara lagi.


"Tapi kak......"


"Pergilah Tiara, keberadaanmu disini hanya membuatku semakin emosi," ucap Gita dengan nada tinggi yang membuat Tiara segera menundukkan kepalanya lalu berjalan keluar dari ruangan Gita.


Tiara duduk terdiam memikirkan apa yang harus ia lakukan saat itu. Tak lama kemudian Bimapun datang. Bima berlari kecil melewati Tiara begitu saja seolah tidak melihatnya disana.

__ADS_1


Bima segera masuk ke ruangan Gita, berharap Gita mau menerima penjelasannya.


"Beri aku satu kali kesempatan untuk menjelaskan semuanya padamu, setelah ini terserah kau akan percaya padaku atau tidak," ucap Bima pada Gita.


"Kalian berdua sama-sama munafik," ucap Gita tanpa membawa pandangannya pada Bima.


"Aku akan terima apapun yang akan kau katakan padaku, keluarkan semua amarahmu dan maki aku sepuasmu aku tidak peduli, tapi kau harus tahu bahwa kau sudah salah paham," ucap Bima.


"Salah paham apa? sudah jelas-jelas kau memanggil sayang padahal kau tahu bahwa yang menghubungimu adalah nomor Tiara bukan nomorku!"


"Itulah yang ingin aku jelaskan padamu Gita, aku sangat sibuk di kampus sampai tidak memperhatikan ponselku dan saat aku melihat ponselku sudah ada banyak panggilan darimu, saat aku akan memasukkan ponselku ke dalam saku ponselku kembali berdering dan aku berpikir jika saat itu kau yang menghubungiku, jadi tanpa ragu aku menerima panggilan itu dengan memanggilmu sayang, tanpa aku tahu jika ternyata itu adalah nomor Tiara," ucap Bima berusaha memberi alasan.


"Seharusnya kau bisa melihat nama Tiara di ponselmu bukan?"


"Aku terburu-buru pulang karena aku mengkhawatirkanmu yang sudah berkali-kali menghubungiku dan tidak sempat aku jawab, jadi saat ponselku kembali berdering seketika aku berpikir jika itu adalah nomormu yang menghubungiku," balas Bima beralasan.


"Kau sedang tidak membohongiku bukan?" tanya Gita memastikan.


Bima menggelengkan kepalanya pelan kemudian duduk di tepi ranjang Gita lalu membelai rambut Gita dengan lembut.


"Maafkan aku, aku tahu kalian berdua memang sangat dekat dari dulu, tidak seharusnya aku cemburu seperti ini, apalagi salah paham tanpa mendengarkan penjelasanmu," ucap Gita.


Bima hanya tersenyum dengan menggenggam tangan Gita, ia senang karena dengan mudah Gita luluh padanya.


"Mungkin juga karena hormon kehamilan yang membuatku menjadi lebih sensitif dan mudah marah," ucap Gita yang membuat Bima begitu terkejut.


"Hormon kehamilan?" tanya Bima memastikan apa yang ia dengar.


"Iya, aku sedang hamil Bima, sebentar lagi kita akan menjadi orang tua," jawab Gita sambil mengusap perutnya yang masih datar.


Seketika Bima terdiam dan melepaskan tangan Gita dari genggamannya. Ia memang sudah melakukan hubungan suami istri dengan Gita beberapa kali, tetapi ia tidak menyangka jika Gita akan hamil secepat itu.


"Kenapa reaksimu seperti itu? apa kau tidak suka dengan kehamilanku?" tanya Gita yang melihat Bima hanya terdiam.


"Bukan begitu, aku hanya sedikit terkejut karena pernikahan kita baru satu bulan yang lalu," jawab Bima.

__ADS_1


"Mungkin karena kita sering melakukannya saat aku dalam masa subur," ucap Gita.


Bima menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengatakan apapun. Ia tidak menyangka jika Gita akan hamil dalam waktu dekat setelah pernikahan mereka.


Di sisi lain Tiara membawa langkahnya meninggalkan ruangan Gita setelah Bima datang.


Ia memikirkan apa yang harus ia lakukan setelah Gita mengetahui hubungannya dengan Bima.


"Tiara!" panggil Rafa sambil berlari kecil ke arah Tiara.


"Pak Rafa, kenapa Pak Rafa masih ada disini?" tanya Tiara yang terkejut dengan keberadaan Rafa disana.


"Sebenarnya saya sudah pulang tetapi saya kembali karena saya melihat tasmu yang tertinggal di mobil," jawab Rafa sambil mengembalikan tas milik Tiara yang tertinggal di mobilnya.


"Aahh iya, lagi lagi saya ceroboh, maaf sudah merepotkan Pak Rafa," ucap Tiara.


"Tidak apa, apa kau akan pulang sekarang?" tanya Rafa


"Iya, saya akan pulang bersama Kevin, sebentar lagi dia akan datang menjemput saya," jawab Tiara.


"Baiklah kalau begitu, saya pulang dulu," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum tipis oleh Tiara.


Meskipun hatinya sedang hancur saat itu, dia harus berusaha untuk tetap terlihat baik-baik saja di depan Rafa.


Setelah beberapa lama menunggu, Kevinpun datang. Kevin segera memberikan helmnya pada Tiara tanpa banyak bertanya karena Tiara sudah menghubunginya beberapa saat yang lalu dan menjelaskan semua yang baru saja terjadi padanya.


"Kenapa kau hanya diam Kevin? biasanya kau selalu bawel," tanya Tiara sambil mengenakan helm pemberian Kevin.


"Sudahlah Ra, jangan banyak bicara, naiklah!" balas Kevin.


"Hahaha.... apa aku terlihat sangat menyedihkan di matamu?" tanya Tiara menertawakan dirinya sendiri.


"Tidak..... hal kecil seperti ini tidak akan melemahkanmu, aku tahu itu," jawab Kevin sambil menarik hidung mancung Tiara.


"Aaaaawwww berhenti menariknya atau hidungku akan semakin panjang seperti Pinokio!" protes Tiara sambil memukul lengan Kevin.

__ADS_1


Rafa yang memperhatikan hal itu dari dalam mobil hanya tersenyum tipis. Meskipun ia melihat Tiara yang tertawa lepas bersama Kevin, tapi iya tahu Tiara sedang berusaha menyembunyikan kesedihannya saat itu.


__ADS_2