
Tiara membawa langkahnya memasuki kafe yang berada tak jauh dari kantor tempatnya bekerja untuk mencari keberadaan Rafa.
Saat matanya tengah berkeliling, seketika ia tersenyum saat melihat seseorang yang dicarinya tengah duduk dengan menatap ponsel di tangannya.
Dengan penuh senyum Tiarapun membawa langkahnya ke arah seseorang yang tampak sedang gelisah saat itu.
Di sisi lain, Rafa yang sedari tadi tidak melepas pandangannya pada ponsel di tangannya tiba-tiba menyadari jika seseorang tengah berdiri di hadapannya. Rafapun segera mengangkat kepalanya dan begitu terkejut saat melihat Tiara disana.
"Tiara!"
Tiara tersenyum lalu menggeser kursi yang ada di depan Rafa dan duduk disana.
"Aku pikir kau marah padaku," ucap Rafa.
"Tiara tidak akan kesini jika Tiara marah," balas Tiara.
Rafa kemudian memanggil waiters lalu memesan beberapa makanan ringan dan minuman untuk dirinya dan Tiara.
"Tentang kejadian di kafe kemarin aku minta maaf jika sikapku berlebihan, aku sama sekali tidak bermaksud untuk ikut campur terlalu jauh, aku minta maaf," ucap Rafa pada Tiara.
"Tiara mengerti, Tiara juga minta maaf jika sikap Tiara berlebihan, Tiara sudah memikirkannya, mungkin kak Rafa berkata seperti itu karena tidak ingin Tiara dekat dengan seseorang yang salah seperti kak Bima, benar seperti itu bukan?"
Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Tiara tidak tahu apa sebenarnya masalah kak Rafa dengan kak Putra, tetapi sejauh yang Tiara tahu kak Putra laki-laki yang baik tapi bagaimanapun juga Tiara harus tetap berhati-hati dan tidak terlalu jauh berhubungan dengan kak Putra," ucap Tiara.
"Kak Rafa tidak perlu khawatir, Tiara pasti bisa menjaga diri dengan baik," lanjut Tiara.
"Apa kau tahu jika aku dan Putra memiliki masalah?" tanya Rafa.
"Tiara tidak tahu pasti, Tiara hanya mendengarnya dari Chika dan teman yang lain bagaimana sikap kak Rafa saat melihat kak Putra di kafe, jadi Tiara berpikir jika di antara kalian berdua pasti terjadi sesuatu," jawab Tiara.
"Kau benar, memang terjadi sesuatu antara aku dan Putra, itu adalah masa lalu tapi rasanya aku masih tidak bisa memaafkannya sampai sekarang," ucap Rafa.
"Apa kak Rafa sudah membicarakannya dengan kak Putra?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Apapun masalah kalian berdua, Tiara harap kak Rafa dan kak Putra bisa menyelesaikannya dengan baik, Tiara percaya kak Rafa pasti tahu apa yang seharusnya kak Rafa lakukan," ucap Tiara.
"Aku tahu, tetapi aku tidak bisa melakukannya, melihatnya saja membuat emosiku naik ke ubun-ubun, terlalu lama dengannya bisa membuatku kehilangan kesabaran," balas Rafa.
Tiara tersenyum lalu menggeser minuman coklat miliknya ke arah Rafa.
"Minum coklat akan membuat suasana hati kak Rafa lebih baik," ucap Tiara dengan tersenyum.
Rafapun membalas senyuman Tiara dengan menggeser minuman miliknya ke arah Tiara, tentu saja minuman yang tidak mengandung kafein.
Mereka berduapun terkekeh lalu menyeruput minuman mereka masing-masing yang sudah mereka tukar.
"Bagaimana pekerjaanmu Tiara? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Rafa.
"Entahlah, apa ini berjalan dengan baik atau tidak, tetapi Tiara akan menjalaninya dengan penuh semangat karena ini adalah bagian dari mimpi terbesar Tiara," jawab Tiara.
"Kenapa begitu? apa terjadi sesuatu di kantor?" tanya Rafa.
Tiara kemudian menjelaskan tentang masalah dirinya dan Dita, tentang sikap Dita yang terkadang membuatnya canggung dan ucapan Dita yang seolah tidak menyukai keberadaannya di kantor.
"Dia pasti merasa tersaingi olehmu Tiara, dia pasti tidak percaya pada kemampuannya sendiri, itu kenapa dia memintamu untuk mengalah karena sudah pasti kau yang akan tetap bertahan di divisi pemasaran," ucap Rafa penuh keyakinan.
"Padahal Tiara ingin tetap berada di divisi pemasaran bersama Dita, Tiara hanya tidak menyangka jika Dita akan berbicara seperti itu pada kak Putra," balas Tiara.
"Kau harus bisa membuka pikiranmu pada semua orang di sekitarmu Tiara, jangan berpikir bahwa semua orang baik padamu tanpa ada maksud lain, banyak dari mereka yang mungkin dekat denganmu tetapi hanya ingin berniat buruk padamu," ucap Rafa.
"Tiara mengerti kak, Tiara akan berhati-hati, tapi itu tidak membuat Tiara menjauh dari mereka, karena bagaimanapun juga mereka adalah teman kerja Tiara, jadi Tiara harus tetap berhubungan baik pada mereka," balas Tiara.
"Kau benar, memang seharusnya seperti itu, kau harus bisa menjaga profesionalisme dalam pekerjaan dan mengesampingkan masalah pribadimu dengan orang lain di sekitarmu," ucap Rafa.
Tiara hanya mengangguk anggukkan kepalanya sambil menikmati french fries di hadapannya.
"Sepertinya kau cukup dekat dengan Putra, sejak kapan kalian kenal?" ucap Rafa sekaligus bertanya.
"Sejak Tiara pertama kali mengikuti seminar," jawab Tiara.
"Jadi benar kau dekat dengannya?" tanya Rafa dengan raut wajah yang mulai serius.
__ADS_1
"Tidak juga, bukankah kak Putra memang dekat dengan semua orang? sepertinya dia memang sosok yang menyenangkan, membuatnya bisa dengan mudah dekat dengan banyak orang," jawab Tiara.
"Tapi kau bahkan pergi ke kafe bersama Putra," ucap Rafa.
"Tiara ingin berangkat sendiri saat itu, tetapi kak Putra memaksa Tiara untuk pergi bersamanya," balas Tiara.
"Lain kali kau harus tegas menolaknya agar dia tidak mengganggumu lagi!" ucap Rafa.
"Tapi Tiara tidak merasa terganggu," balas Tiara dengan santai yang membuat Rafa semakin kesal, namun ia berusaha untuk tetap bisa menahan kekesalannya.
"Baiklahlah, jangan membahasnya lagi!" ucap Rafa lalu menyeruput minuman miliknya.
Tiara hanya terkekeh melihat sikap Rafa. Rafa yang lebih dulu memulai pembicaraan tentang Putra dan Rafa juga yang tampak kesal pada jawaban Tiara tentang Putra.
Tiara kemudian menceritakan banyak hal tentang beberapa hari kesibukannya sebagai karyawan baru di perusahaan besar yang tanpa ia tahu adalah milik papa Rafa.
Tiara menceritakan semua kesibukannya pada Rafa dengan penuh semangat. Rafapun mendengarkan dan memperhatikan setiap kata yang Tiara ucapkan.
Raut wajah keceriaan pada Tiara seolah membaurkan rasa rindu yang sudah lama Rafa rasakan. Ia benar-benar menikmati waktunya bersama Tiara meskipun hanya sebatas mengobrol dan sesekali bercanda.
"Jadi jika memang Tiara pada akhirnya dipindahkan ke divisi yang lain Tiara tidak akan kecewa pada diri Tiara sendiri,karena Tiara tahu Tiara sudah sangat berjuang sejauh ini," ucap Tiara di akhir ceritanya.
"Aku setuju denganmu, justru kau harus memberi apresiasi pada dirimu sendiri, self reward bukanlah hal yang berlebihan untuk kau berikan pada dirimu sendiri," balas Rafa.
"Tiara sudah memberikan reward untuk diri Tiara sendiri," ucap Tiara.
"Benarkah? apa itu?" tanya Rafa.
"Buku baru hehehe.... Tiara baru membelinya bersama kak Putra kemarin," jawab Tiara yang seketika membuat Rafa menyesal karena sudah menanyakan hal itu pada Tiara.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam saat dentuman musik di bar terdengar memenuhi gendang telinga.
Beberapa laki-laki dan perempuan tampak tengah asyik berjoget tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya. Beberapa dari mereka ada yang berpasangan ada juga yang hanya sendirian.
Hanya ada raut wajah kegembiraan yang terpancar dari orang-orang yang berada disana, termasuk seorang wanita yang hanya duduk di kursi dengan segelas wine di tangannya.
"Apa aku harus mengantarmu pulang setelah ini?" tanya laki-laki yang bernama Bagas pada wanita yang tampak setengah mabuk di hadapannya.
"Baiklah, lebih baik kita ke hotel saja," ucap Bagas.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, Bagaspun membawa wanita yang bersamanya masuk ke dalam mobilnya. Bagas kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan bar ke arah hotel yang tidak terlalu jauh dari sana.
Sesampainya di hotel, Bagas segera melakukan check in dan membawa wanitanya ke kamar yang sudah dipesannya.
Bagas dan wanita itupun menjatuhkan diri di atas ranjang. Mereka saling menatap untuk beberapa saat sebelum akhirnya melakukan hal yang di luar batas sebagai seseorang yang belum menikah hingga mereka sama sama tertidur dengan nyenyak.
Waktupun berlalu membawa matahari kembali merekahkan sinar teriknya saat jam sudah menunjukkan pukul 10.00 siang.
Maya mengerjapkan matanya sambil memegangi kepalanya yang sedikit terasa pusing.
Ia tersenyum tipis saat melihat seseorang yang berada di sampingnya.
"Bangunlah, kita sudah terlambat!" ucap Maya membangunkan laki-laki di sampingnya dengan suara pelan sambil menyentuh pipi laki-laki itu.
Tanpa menunggu lama laki-laki di samping Mayapun mengerjapkan matanya lalu tersenyum ke arah Maya kemudian meraih Maya ke dalam dekapannya.
"Lima menit lagi, aku masih ingin seperti ini denganmu," ucap Bagas yang masih memeluk Maya erat, dengan kedua mata yang kembali terpejam.
Mayapun hanya menganggukkan kepalanya pelan sambil menenggelamkan dirinya dalam pelukan Bagas, laki-laki yang semalam bersamanya di bar.
"Sepertinya aku akan mendapat masalah setelah ini," ucap Maya setelah 5 menit berlalu.
Bagas hanya terkekeh lalu melepaskan Maya dari dekapannya.
Bagas kemudian meraih pakaian yang ada di lantai lalu memberikannya pada Maya.
Setelah mereka berdua mengenakan pakaian, mereka membasuh wajah terlebih dahulu sebelum meninggalkan kamar hotel.
"Apa mobilku masih ada di bar?" tanya Maya pada Bagas.
"Iya, aku akan meminta seseorang untuk mengantarnya pulang ke rumahmu, sekarang aku akan mengantarmu pulang," jawab Bagas.
__ADS_1
Mayapun hanya menganggukkan kepalanya lalu berjalan bersama Bagas meninggalkan hotel.
Sesampainya di depan rumah Maya, Bagaspun menghentikan mobilnya.
"Tidak bisakah kita lebih lama lagi bersama? rasanya sangat menyedihkan harus berpisah denganmu setiap hari," ucap Bagas sambil memegang tangan Maya.
"Jangan bersedih, kita akan bertemu lagi nanti malam," balas Maya lalu mencium tangan Bagas.
Bagas hanya tersenyum lalu membelai rambut Maya dengan lembut sebelum Maya keluar dari mobilnya.
Maya kemudian masuk ke dalam rumah setelah mobil Bagas meninggalkan rumahnya.
"Hari ini aku akan bersantai di rumah, tidak ada yang boleh menggangguku!" ucap Maya lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
**
Jam sudah menunjukkan pukul 12.00 siang saat Tiara duduk di kantin seorang diri. Tak lama kemudian seseorang menghampirinya dan duduk di depannya.
"Dimana temanmu?" tanya Putra pada Tiara.
"Apa maksud Pak Putra Dita?" balas Tiara bertanya.
"Iya, biasanya kau selalu dengannya, apa dia marah padamu?"
"Dia sedang izin karena sakit, sepertinya dia sangat memikirkan ucapan Pak Putra kemarin," jawab Tiara.
"Memang seharusnya dia memikirkannya agar dia tidak mengulangi perbuatannya," ucap Putra.
"Dia hanya tidak ingin dipindahkan dari divisi pemasaran Pak, Tiara mengerti apa yang dia rasakan sekarang," ucap Tiara.
"Aku juga mengerti Tiara, tapi bukan berarti aku membenarkan apa yang dia lakukan padamu," balas Putra.
"Apa menurut Pak Putra Tiara layak berada di perusahaan ini? Tiara takut jika kedatangan Tiara membuat Dita tidak nyaman berada disini."
"Kenapa kau bertanya seperti itu? hasil tesmu sudah menunjukkan bahwa kau layak menjadi bagian dari perusahaan ini, tentang Dita kau tidak perlu terlalu memikirkannya, mungkin dia memang temanmu tapi kau harus tetap menjaga profesionalisme dalam pekerjaan, kau paham maksudku bukan?"
"Iya pak, Tiara paham," jawab Tiara.
"Aku sudah mengatakan padamu bahwa tidak hanya kemampuan dan kecerdasan yang dibutuhkan untuk menjadi bagian dari perusahaan ini, tapi juga mental yang kuat yang menjadikanmu bertahan dan berkembang lebih baik di perusahaan ini!" ucap Putra mengingatkan.
Biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan masuk dari Rafa.
"Halo kak, ada apa?" tanya Tiara setelah dia menerima panggilan Rafa.
"Aku sedang ada di dekat kantormu, apa kau bisa keluar untuk makan siang?" ucap Rafa sekaligus bertanya.
Karena Tiara baru memesan minuman, diapun mengiyakan ajakan Rafa untuk makan siang di luar kantor.
Tiara kemudian berpamitan pada Putra, ia memberitahu Putra jika ia sudah ditunggu seseorang untuk makan siang di luar kantor.
Tiara kemudian membawa langkahnya meninggalkan kantin, berjalan keluar dari kantornya.
Sedangkan Putra masih berada di tempatnya duduk, memikirkan siapa seseorang yang dipanggil "kak" oleh Tiara saat Tiara menerima panggilan di ponselnya.
"Tidak mungkin dia sudah mempunyai kekasih bukan? selama ini aku selalu melihatnya sendirian, jadi rasanya tidak mungkin jika dia memiliki kekasih," batin Putra bertanya dalam hati.
Di sisi lain Tiara dan Rafa sudah berada di dalam mobil, Rafa mengendarai mobilnya ke arah kafe yang berada tak jauh dari kantor tempat Tiara bekerja.
Mereka memesan makanan dan minuman lalu menikmati makan siang mereka bersama di kafe itu.
Setelah menyelesaikan makan siang sembari mengobrol, Tiarapun meminta izin untuk ke toilet sebelum mereka meninggalkan kafe.
"Tiara, kau disini rupanya!" ucap Putra yang terkejut melihat Tiara yang baru saja keluar dari toilet.
"Iya, kenapa pak Putra ada disini juga?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Aku baru saja menemui temanku, jika tahu tujuan kita sama pasti aku sudah mengantarmu kesini," ucap Putra.
"Aaahh iya, Tiara permisi dulu Pak," ucap Tiara lalu berjalan meninggalkan Putra.
Tiara dan Rafapun meninggalkan meja mereka, berjalan keluar dari kafe.
__ADS_1
Di sisi lain, Putra hanya berdiri di tempatnya ketika melihat Tiara yang berjalan membelakanginya bersama seorang laki-laki.
"Aaahhh dia bersama laki-laki, apa mungkin itu kekasihnya? sepertinya aku tidak asing dengan laki-laki itu," batin Putra dalam hati memperhatikan Tiara dan Rafa yang berjalan keluar dari kafe.