Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Kesempatan Kedua untuk Tiara


__ADS_3

Di perusahaan X


Siang itu Putra segera berlari kecil memasuki lift yang akan membawanya menemui CEO sekaligus pemilik perusahaan X, Adam Mahendra yang merupakan papa Rafa.


Karena pekerjaannya yang menumpuk Putra hampir saja lupa jika ia harus menemui papa Rafa untuk membicarakan tentang Tiara sesuai dengan permintaan Rafa.


"Semoga Om Adam masih ada di ruangannya," ucap Putra dalam hati.


TRIIIING


Pintu lift terbuka, Putrapun segera keluar dan membawa langkahnya ke arah ruangan papa Rafa.


Putra mengetuk pintu beberapa kali sebelum akhirnya suara dari dalam memintanya untuk masuk.


Putra bisa bernafas lega karena ia tidak terlambat untuk menemui papa Rafa yang super sibuk setiap harinya, sehingga dipastikan tidak akan ada waktu baginya untuk membicarakan hal yang tidak penting.


Melihat Putra masuk ke ruangannya, Adam melihat jam kecil yang ada di meja kerjanya.


"Ada apa Putra? bukankah ini sudah jam makan siang?" tanya Adam pada Putra yang sudah dikenalnya cukup lama.


"Iya Pak, Putra sengaja menemui Pak Adam saat jam makan siang karena ada sesuatu yang ingin Putra bicarakan," balas Putra.


Meskipun sangat dekat dengan keluarga Rafa tetapi Putra tetap memanggil papa Rafa seperti itu saat ia berada di kantor, karena bagaimanapun juga papa Rafa adalah atasannya.


"Ada apa? apa ada masalah?" tanya Adam yang masih tampak sibuk dengan komputer yang ada di hadapannya.


"Ini tentang pelamar kerja yang baru saja diterima di perusahaan kita, sepertinya harus ada keputusan yang dirubah," ucap Putra yang membuat Adam menghentikan kesibukannya dan membawa pandangannya pada Putra.


"Apa maksudmu? kenapa kau membicarakan hal itu denganku?" tanya Adam tak mengerti karena masalah tentang pelamar kerja seharusnya Putra bicarakan dengan HRD.


"Putra sengaja membicarakan hal ini pada Pak Adam karena hanya Pak Adam yang bisa membantu Putra, Putra sudah membicarakan hal ini pada HRD tetapi HRD tidak bisa mengubah keputusan yang sudah dibuat," balas Putra.


"Memangnya apa masalahnya sampai kau meminta tolong padaku seperti ini?" tanya Adam penasaran karena ia tahu Putra tidak akan membicarakan hal itu padanya jika itu tidak menyangkut sesuatu yang sangat penting.


"Saat tes terakhir kemarin ada satu pelamar kerja yang bernama Tiara, dia pingsan sebelum menyelesaikan interviewnya dan dinyatakan tidak lolos saat itu juga, Putra berpikir bahwa hal itu tidak adil untuknya karena dia adalah pelamar kerja dengan peringkat pertama di tes keduanya, rasanya sangat tidak mungkin jika dia tidak lolos di tes terakhirnya," ucap Putra menjelaskan.


"Bukankah hasil tes terakhir sudah diputuskan dan sudah ada penempatan pada masing-masing pelamar kerja yang lolos?"


"Iya Pak, tapi tidak bisakah Tiara mendapatkan kesempatan kedua? setidaknya dia harus menyelesaikan tes terakhirnya sebelum ia dinyatakan tidak lolos, lagi pula saat itu dia pingsan bukan karena kemauannya sendiri tapi karena dia kelelahan dan bisa jadi itu karena dia terlalu banyak menghabiskan waktunya untuk mempersiapkan diri pada tes terakhirnya."


Adam terdiam untuk beberapa saat, memikirkan semua yang baru saja Putra katakan padanya.


"Divisi mana yang dia pilih saat melamar kerja?" tanya Adam.


"Divisi pemasaran Pak," jawab Putra.


"Tapi bukankah sudah ada yang lolos di divisi pemasaran? kalaupun dia lolos kemungkinan besar dia tidak akan ditempatkan di divisi yang dia inginkan!"


"Itu bukan masalah Pak, yang terpenting dia mendapatkan kesempatan kedua, dia akan menunjukkan bahwa dia benar-benar layak untuk menjadi bagian dari perusahaan ini," ucap Putra.


"Kenapa kau yakin sekali? apa kau mengenalnya?" tanya Adam.


"Putra bisa melihatnya hanya dengan beberapa kali bertemu dan mengobrol dengannya," balas Putra dengan menahan senyumnya yang membuat Adam tersenyum tipis mengerti maksud senyum yang ditahan oleh Putra.


"Kau pasti tahu dunia kerja itu tidak semenyenangkan yang orang pikirkan, ada kalanya kita dituntut oleh tekanan yang terus-menerus datang tanpa memberikan jeda, apa kau yakin dia akan bisa menghadapinya jika dia sudah pingsan bahkan sebelum dia menghadapi dunia kerja yang sesungguhnya?"


"Dia memiliki kemampuan yang sangat disayangkan jika dibiarkan pergi begitu saja dari perusahaan ini, mungkin 3 bulan percobaan bisa membuat mentalnya menjadi lebih kuat," balas Putra.


"Kita tidak punya waktu untuk bermain-main dengan hal itu Putra, siapa yang layak dan tidak layak sudah ditentukan pada tes terakhir mereka, jadi aku minta maaf karena tidak bisa membantumu untuk memberikan kesempatan kedua pada temanmu itu," ucap Adam yang membuat Putra kecewa.


"Tidak bisakah pak Adam mempertimbangkan hasil tesnya yang sebelumnya? dia bahkan hampir mendapatkan nilai yang sempurna di tes keduanya, kesalahannya hanya satu yaitu pingsan sebelum dia menyelesaikan tes terakhirnya, rasanya itu sangat tidak adil untuknya," ucap Putra yang masih berusaha membujuk atasannya.


Adam menghela nafasnya panjang, ia mengerti Putra tidak akan menerima begitu saja keputusannya.


"Keputusan HRD sudah aku setujui dan itu tidak akan berubah," ucap Adam.


Putra kemudian memberikan sebuah berkas yang sedari tadi dibawanya.


"Itu adalah hasil tes tulis Tiara sebelum dia interview, Pak Adam bisa melihat bagaimana dia memikirkan penyelesaian atas masalah yang dia hadapi di perusahaan, menurut Putra itu sangatlah bagus untuk seseorang yang belum berpengalaman di perusahaan besar, hanya saja dua poin terakhir sepertinya tidak bisa dikerjakan dengan baik karena bisa jadi saat itu dia sedang menahan dirinya agar tidak pingsan, membuatnya kesulitan untuk fokus dan pada akhirnya dia pingsan ketika 15 menit interview," ucap Putra menjelaskan.

__ADS_1


Lagi-lagi Adam hanya menghela nafasnya sebelum ia membaca berkas yang Putra berikan padanya. Jika bukan karena ia mengenal Putra dengan baik dan memiliki hubungan di luar pekerjaan, Adam tidak akan membuang waktunya untuk meneladani protes Putra yang dianggapnya menyita waktunya.


Namun saat Adam membaca berkas yang ada di tangannya, ia cukup terkesan oleh jawaban yang Tiara jabarkan.


"Apa dia sudah punya pengalaman kerja sebelumnya?" tanya Adam pada Putra.


"Dia bekerja di kafe sebelum dia lulus kuliah dan sampai sekarang dia masih bekerja di kafe itu," jawab Putra.


"Hmmmm.... sepertinya kau berhasil merubah keputusanku," ucap Adam dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Jadi apa Tiara boleh mendapatkan kesempatan kedua untuk melakukan tes terakhirnya?" tanya Putra bersemangat.


"Aku akan mengaturnya, tapi jika dia tidak mendapatkan hasil yang cukup memuaskan maka aku tidak bisa lagi membantumu," jawab Adam.


"Baik Pak, terima kasih, Putra yakin pak Adam tidak akan kecewa melihat hasil Tiara nanti," ucap Putra dengan penuh senyum.


Putra kemudian meninggalkan ruangan Adam dengan senyum yang merekah di wajahnya. Ia sudah tidak sabar untuk memberitahu Rafa bahwa dia berhasil.


**


Hari telah berganti, pagi itu tiara keluar dari kamarnya untuk berangkat ke kafe bersama Chika.


Meskipun kecewa pada dirinya sendiri namun tidak ada yang bisa Tiara lakukan selain menerima apa yang sudah terjadi padanya.


"Anggap saja ini adalah ujian sebelum aku benar-benar menjadi bagian dari perusahaan itu," ucap Tiara saat ia berusaha untuk menyemangati dirinya sendiri.


Tak butuh waktu lama bagi Tiara untuk kembali melanjutkan hari-harinya dengan senyum cerianya, meskipun tak dapat dipungkiri bahwa kesedihan masih sangat terasa, namun ia memilih untuk mengabaikannya dan fokus pada apa yang ada di hadapannya.


Chika yang mengetahui bagaimana kecewanya Tiara saat ia tidak lolos pada tes terakhirnya tidak banyak bertanya dan lebih memilih untuk membantu Tiara melupakan kesedihannya, dengan begitu Tiara akan semakin mudah untuk kembali bangkit dengan semangat baru.


Hari itu Tiara menghabiskan waktunya di kafe sampai jam kerjanya selesai.


"Hari ini aku harus pulang cepat," ucap Tiara pada Chika.


"Kenapa?" tanya Chika penasaran.


"Aku akan membuat CV dan surat lamaran pekerjaan, setidaknya aku harus memiliki banyak pengalaman kerja sebelum aku kembali melamar pekerjaan di perusahaan yang aku inginkan," jawab Tiara menjelaskan.


Chika bersama Tiara kemudian berjalan pulang meninggalkan kafe.


Di sisi lain Rafa yang diam-diam memperhatikan Tiara sedikit merasa lega karena Tiara tampak baik-baik saja. Ia sudah tidak melihat kesedihan pada raut wajah Tiara meskipun ia tahu tidak mudah bagi Tiara untuk menerima kegagalannya setelah semua usaha yang sudah Tiara lakukan.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Rafa berdering, sebuah panggilan dari Putra membuat Rafa enggan untuk menerimanya. Namun karena beberapa saat yang lalu Rafa meminta tolong pada Putra iapun menerima panggilan Putra.


"Akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya kau menerima panggilanku juga," ucap Putra senang saat Rafa menerima panggilannya.


"Tidak perlu berbasa-basi, cepat katakan kenapa kau menghubungiku!" balas Rafa.


"Tidak bisakah kau berbicara denganku tanpa emosi?"


"Tidak bisa," jawab Rafa singkat.


"Jika begitu aku tidak akan memberitahumu," ancam Putra dengan menahan tawanya.


"Aku tidak peduli, aku akan mencari tahunya sendiri," balas Rafa lalu mengakhiri panggilan Putra begitu saja.


"Menyebalkan sekali, dia pasti sudah besar kepala karena aku meminta tolong padanya," ucap Rafa kesal.


Tak lama kemudian ponsel Rafa kembali berdering, Putra kembali menghubunginya namun Rafa memilih untuk mengabaikan panggilan Putra.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Setelah panggilan Putra tak terjawab, sebuah pesan dari Putra masuk yang membuat Rafa segera membaca pesan itu.


"Aku sudah membicarakannya dengan papamu, tidak mudah membuat papamu menuruti permintaanku, tapi aku berhasil, papamu sudah setuju dan membuat HRD merubah keputusannya untuk memberikan kesempatan kedua bagi Tiara."


Rafa tersenyum senang setelah ia membaca pesan dari Putra. Ia kini bisa bernafas lega karena Tiara bisa mendapatkan kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya.

__ADS_1


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Rafa kembali berdering, sebuah pesan masuk lagi dari Putra.


"Apa kau tidak ingin berterima kasih padaku?"


"Jangan harap," ucap Rafa selalu menghapus semua pesan Putra.


Meskipun sudah lama berlalu, Rafa masih belum juga memaafkan Putra.


**


Di tempat lain, Tiara yang sedang menyiapkan CV dan surat lamaran kerja begitu terkejut saat ia menerima panggilan dari nomor yang tak dikenalnya yang merupakan HRD yang memintanya untuk kembali melakukan tes terakhirnya di perusahaan X.


Tiara yang masih tidak percaya hanya bisa terdiam sampai akhirnya panggilan berakhir dan sebuah pesan masuk yang mengharuskannya untuk mengisi sebuah link yang sama seperti yang pernah ia terima sebelumnya.


"Apa aku sedang bermimpi sekarang? ini bukan penipuan, ini benar-benar link yang sama seperti yang aku terima dulu," ucap Tiara yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Tiara kemudian segera mengisi link yang dikirimkan padanya dan besok pagi ia harus kembali ke perusahaan X untuk melakukan tes terakhirnya.


Tiara kemudian mencari nama Rafa di penyimpanan kontaknya, ia sudah tidak sabar untuk menceritakan hal itu pada Rafa.


"Halo, kak Rafa dimana?" tanya Tiara setelah Rafa menerima panggilannya.


"Di kafe, ada apa?" jawab Rafa sekaligus bertanya.


"Tiara akan kesana, jadi tunggu Tiara disana!" jawab Tiara.


"Lebih baik tunggu saja di depan rumah, aku akan segera kesana, temani aku pergi ke toko buku!" ucap Rafa.


"Baiklah," balas Tiara.


Setelah beberapa lama menunggu, mobil Rafa pun tampak berhenti di depan tempat tinggalnya. Tiara segera berlari kecil dan segera masuk lalu duduk di samping Rafa.


"Kenapa kau terlihat senang sekali? ada apa?" tanya Rafa yang berpura-pura tidak tahu bahwa Tiara mendapatkan kesempatan kedua untuk melanjutkan tes terakhirnya.


Tiara tersenyum lalu mengambil ponselnya dan menunjukkan sebuah pesan pada Rafa.


"Kau akan melakukan tes terakhir lagi?" tanya Rafa setelah ia membaca pesan yang ada di ponsel Tiara.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan senyum merekah di wajahnya, tak dapat dipungkiri ia benar-benar senang saat itu.


"Waah ini kesempatan besar untukmu Tiara, kau harus bisa menyelesaikannya dengan lebih baik kali ini," ucap Rafa.


"Tentu saja, Tiara tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan ini," balas Tiara.


"Kau harus tetap menjaga kesehatanmu Tiara, jangan makan dan minum sembarangan jika kau tidak benar-benar tahu apa yang kau makan dan apa yang kau minum," ucap Rafa mengingatkan, karena khawatir jika Tiara akan makan dan minum sesuatu yang mengandung kafein tanpa Tiara sadari.


Tiara menganggukkan kepalanya dengan senyum yang tak kunjung memudar dari raut wajahnya yang semakin cantik.


"Ohh iya Tiara belum memberitahu kak Rafa kenapa Tiara gagal dalam tes terakhir kemarin," ucap Tiara.


"Aku sengaja tidak menanyakannya karena tidak ingin membuatmu terlalu memikirkannya," balas Rafa.


"Tapi Tiara harus menceritakannya agar kak Rafa tidak salah paham kenapa Tiara mendapatkan kesempatan kedua ini," ucap Tiara.


"Baiklah jelaskan saja," balas Rafa.


Tiarapun menjelaskan tentang apa yang terjadi, tentang dirinya yang tiba tiba merasa pusing sebelum tes tulisnya selesai, sampai akhirnya ia pingsan saat baru saja interview.


"Apa kau makan atau minum sesuatu yang mengandung kafein?" tanya Rafa.


"Tidak, Tiara tidak mungkin seceroboh itu kak," jawab Tiara.


"Apa kau lupa kau pernah meminum kopi tanpa kau sadar?" tanya Rafa dengan senyum mengejek.


Tiara hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Rafa. Ucapan Rafa memang benar, tapi ia yakin ia tidak mengkonsumsi sesuatu yang mengandung kafein hari itu walaupun sebenarnya ia juga penasaran kenapa ia pingsan saat itu.


"Tidak perlu terlalu memikirkannya, fokus saja pada tes terakhirmu besok pagi," ucap Rafa.

__ADS_1


Tiara hanya menganggukkan kepalanya, tanpa Tiara tahu bahwa Rafa memiliki andil dalam kesempatan kedua yang Tiara dapatkan.


__ADS_2