Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Sebuah Pertemuan


__ADS_3

"Tiara!" ucap Rafa yang begitu terkejut melihat Tiara duduk diantara para pegawainya.


"Dia yang baru saja kembali dari Amerika Pak, dia mendapatkan hak istimewanya karena sudah lulus dari S2 nya dengan hasil yang cukup baik dan mendapatkan promosi karena bersedia dipindahkan dari Amerika," ucap asisten pribadi Rafa menjelaskan.


Rafa hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum. Tiba-tiba saja hatinya yang sudah lama membeku kini mencair saat melihat gadis yang dicintainya ada di depan matanya.


Mendapat senyum dari Rafa yang merupakan CEO tempatnya bekerja, Tiarapun hanya membalas dengan senyuman tipis dan sedikit menundukkan kepalanya.


Sedangkan Rafa sedang bergulat dengan hatinya sendiri, berusaha untuk tidak salah tingkah di depan para pegawainya.


Namun karena terlalu terkejut dengan kedatangan Tiara, beberapa kali Rafa kehilangan fokusnya bahkan terlihat gugup, tetapi beruntung asisten pribadinya bisa mengendalikan situasi agar tidak semakin kacau.


Setelah beberapa lama, meetingpun selesai. Semua yang ada di ruangan itupun keluar satu persatu termasuk Tiara. Kini hanya ada Rafa yang berada di dalam ruangan. Rafapun segera mengambil ponselnya dan menghubungi Putra.


"Aku sedang sibuk," ucap Putra saat ia baru saja menerima panggilan Rafa.


"Tunggu sebentar!" ucap Rafa sebelum Putra mengakhiri panggilannya.


"Ada apa? aku sedang makan malam bersama klien sekarang!"


"Ini tentang Tiara, apa kau tahu dia kembali kesini?" tanya Rafa.


"Iya aku tahu," jawab Putra yang terdengar santai.


"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Rafa.


"Kenapa aku harus memberitahumu? memangnya kau siapanya!" balas Putra.


"Aaarrghhh kau menyebalkan sekali, apa kau tahu aku hampir gila disini karena tiba-tiba melihatnya!"


"Hahaha..... bukankah itu yang kau inginkan!"


"Iya tapi ini terlalu tiba-tiba, aku belum siap, aku...."


"Takdir berjalan tanpa menunggumu siap Rafa, anggap saja kau sudah mendapatkan kesempatan keduamu dan jangan sampai kau menyia-nyiakannya," ucap Putra memotong ucapan Rafa.


"Lalu bagaimana denganmu? kapan kau akan kembali?" tanya Rafa.


"Aku? entahlah, belum ada perintah yang mengharuskanku untuk kembali," jawab Putra.


"Bukankah papa sudah memintamu untuk kembali?"


"Itu karena tante Rossa yang memintaku untuk kembali, benar bukan?"


"Kau benar, tapi tidak bisakah kau kembali saja, Mama sangat merindukanmu karena biasanya kau yang lebih sering datang ke rumah daripada aku!"


"Aku tidak bisa datang dan pergi hanya karena masalah pribadi Rafa," ucap Putra.


"Tapi bukankah kau meminta dipindahkan ke Amerika karena ingin mengikuti Tiara?"


"Kau benar, anggap saja itu keistimewaan yang diberikan oleh om Adam padaku dan itu sudah lebih dari cukup untukku, sekarang aku tidak ingin meminta lebih lagi," balas Putra.


"Tapi mama yang memintamu untuk kembali, lagi pula sudah tidak ada Tiara disana lalu apa alasanmu tetap berada disana?"


"Kau adalah anak tante Rossa, kau yang seharusnya lebih sering mengunjungi tante Rossa dan kenapa aku masih berada disini karena memang di sinilah tempatku bekerja, aku tidak akan kembali jika hanya karena masalah pribadi," balas Putra.


"Tapi....."


"Ini adalah keputusanku Rafa, selama ini Om Adam dan tante Rossa sudah melakukan banyak hal untukku dan sekarang aku harus lebih mandiri karena aku tidak tahu bagaimana lagi cara yang bisa aku lakukan untuk membalas budi pada Om Adam dan tante Rossa," Ucap Putra memotong ucapan Rafa.


"Baiklah kalau begitu, tapi aku masih berharap kau akan kembali kesini, bukankah lebih menyenangkan jika dua sahabat tinggal berdekatan?"


"Hahaha apa kau sudah merindukanku sekarang?"


"Terserah kau saja, lanjutkan saja makan malammu aku akan melanjutkan pekerjaanku!" ucap Rafa lalu mengakhiri panggilannya pada Putra.


Di sisi lain Tiara yang sudah memasuki ruangan kerjanya masih terdiam untuk beberapa saat. Ia berusaha untuk menenangkan hatinya yang tengah bergejolak saat itu.

__ADS_1


Keputusan besarnya untuk meninggalkan Amerika bukanlah keputusan yang mudah karena itu artinya ia akan bertemu dengan beberapa orang dari masa lalu yang pernah menyakitinya.


Namun pada akhirnya Tiara tetap memilih untuk meninggalkan Amerika demi karirnya. Ia tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ia dapatkan, mengingat bagaimana ia berusaha untuk bisa berada di titik yang dia inginkan.


Tiara sudah mempersiapkan dirinya dengan baik, mempersiapkan hatinya agar ia bisa melakukan pekerjaannya dengan profesional tanpa melibatkan perasaannya.


Sejak Tiara membawa langkahnya ke kantor, degup jantungnya sudah berdetak dengan kencang, terlebih saat ia duduk di ruangan meeting untuk menunggu kedatangan Rafa, detik jam seolah berdetak dengan lambat dan membuat Tiara semakin gugup dan gelisah.


Saat Rafa datang dan berada tepat di depan matanya, Tiara berusaha keras untuk bisa mengendalikan hati dan pikirannya.


Ia tidak ingin membiarkan pikirannya mengulas tentang kebersamaannya bersama Rafa, apalagi kekecewaan dan kesedihan yang ia rasakan karena Rafa.


Tiara tidak ingin hal itu bisa mempengaruhi pekerjaannya nantinya, itu kenapa Tiara memilih untuk lebih banyak diam tanpa menatap Rafa.


Bahkan saat Rafa memberikan senyuman padanya, Tiara hanya menganggapnya sebagai senyum dari seorang atasan pada pegawai barunya.


Tiara menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan, ia melakukan hal itu beberapa kali sampai ia merasa kegugupannya sudah mereda.


"Semangat Tiara, fokus saja bekerja dan jangan memperdulikan hal lainnya," ucap Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara tahu betul jika dia memutuskan untuk kembali ke perusahaan itu dengan posisinya yang baru, maka ia akan bekerja secara langsung di bawah Rafa yang artinya ia akan lebih sering bertemu Rafa daripada sebelumnya saat ia pertama kali bekerja disana.


Tiara menerima konsekuensi itu demi karir yang ingin dicapainya, meskipun itu artinya ia harus berusaha dengan keras untuk tidak melibatkan perasaan dalam pekerjaannya.


Namun tak dapat dipungkiri kembalinya Tiara ke perusahaan itu seolah membawa kembali kenangan indahnya bersama rasa sakit dan kecewa yang pernah ia rasakan karena Rafa.


Untuk beberapa saat rasa sesak kembali menghimpit dadanya, mengingat bagaimana dulu Rafa mengecewakannya, namun Tiara berusaha keras untuk mengabaikan apa yang ada dalam pikirannya ia hanya berusaha fokus untuk mengerjakan pekerjaannya tanpa mempedulikan masa lalunya bersama Rafa.


"Ini adalah jalan yang sudah aku pilih, aku harus menerima konsekuensi apapun yang akan terjadi, tapi yang pasti aku harus melakukan pekerjaanku dengan baik," ucap Tiara sambil memulai mengerjakan pekerjaannya.


Seperti biasa Tiara selalu mengerjakan pekerjaannya dengan detail dan cermat, ia selalu bisa memberikan kesan yang memuaskan atas semua pekerjaan yang diselesaikannya.


Selain karena kerja keras dan kecerdasannya, semangatnya membuatnya bisa berada di titik kesuksesannya.


Tiara tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang datang padanya, meskipun ia tahu akan ada banyak badai yang menghalanginya tetapi ia tidak akan mudah menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya.


Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 06.00 petang saat Tiara baru saja merapikan meja kerjanya.


Tiara kemudian membawa langkahnya meninggalkan ruang kerjanya bersama beberapa teman-teman barunya.


Saat berada di lobby tanpa sengaja Tiara berpapasan dengan Rafa. Melihat Rafa yang berdiri dan menatap ke arahnya, Tiarapun segera mengalihkan pandangannya ke arah teman-temannya dan membawa langkahnya dengan cepat ke arah pintu keluar.


Melihat Rafa di hadapannya memberikan setetes embun sejuk sekaligus bara yang datang dengan bersamaan. Bahagia dan luka kembali bergejolak dalam hatinya setiap ia melihat Rafa di hadapannya.


Tiara kemudian membawa langkahnya ke arah halte, tak lama kemudian bus yang ditunggunyapun datang, Tiara segera masuk ke dalam bus yang akan membawanya ke kafe tempat Chika bekerja.


Sesampainya Tiara di kafe, Tiarapun segera membawa langkahnya masuk ke dalam kafe namun ia tidak melihat keberadaan Chika disana.


"Kenapa dia tidak ada? bukankah dia mengatakan jika sedang berada di kafe?" batin Tiara bertanya dalam hati sambil membawa pandangannya memperhatikan para waiters yang bekerja.


"Selamat datang kak, silakan duduk!' ucap seorang waiters pada Tiara.


Tiarapun menganggukkan kepalanya dengan tersenyum lalu duduk di salah satu bangku yang ada disana sembari memilih menu yang ia pesan.


"Mohon ditunggu sebentar ya kak," ucap waiters itu lalu berjalan pergi meninggalkan Tiara untuk menyiapkan pesanan Tiara.


Tak lama kemudian waitress itu kembali dengan satu cup minuman dan makanan ringan.


"Maaf kak, saya mau bertanya," ucap Tiara pada waiters.


"Iya kak, ada apa?" balas waiters dengan ramah.


"Apa Chika tidak sedang bekerja hari ini?" tanya Tiara.


"Chika?" tanya waiters mengulangi ucapan Tiara.


"Iya Chika, dia bekerja disini bukan?" balas Tiara.

__ADS_1


"Aaahh mungkin maksudnya kak Chika, supervisor disini?"


"Supervisor?" tanya Tiara yang sekarang terkejut mendengar ucapan waiters.


"Iya kak, dulu dia bekerja sebagai waiters tapi sekarang Pak Rafa sudah menjadikan kak Chika supervisor disini," jelas si waiters.


"Aahh begitu rupanya, sudah lama saya tidak mendengar kabarnya, apa dia sedang ada disini sekarang?"


"Ada kak, saya panggilkan sebentar," jawab si waiters lalu berjalan pergi untuk memanggil Chika yang saat itu sedang berada di ruangannya.


Tak lama kemudian seorang gadis dengan berpakaian rapi dan potongan rambut sebahu berjalan ke arah Tiara, membuat Tiara tidak bisa menyembunyikan senyumnya melihat sahabat yang sudah lama tidak dijumpainya.


Tiarapun segera berdiri lalu memeluk Chika yang sudah ada di hadapannya, merekapun saling berpelukan untuk beberapa saat.


"Kenapa kau tidak memberitahuku jika kau sudah menjadi supervisor disini? aku hampir saja pergi karena tidak melihatmu disini," ucap Tiara pada Chika.


"Hahaha maafkan aku, bagaimana denganmu? kenapa kau baru memberitahuku jika kau sudah kembali?"


"Aku sengaja ingin memberikan kejutan padamu hehehe...." balas Tiara.


"Hmmm..... kau berhasil membuatku terkejut, selamat atas posisi barumu di perusahaan Tiara, akhirnya kau benar-benar bisa mendapatkan apa yang selama ini kau inginkan dan sepertinya kau bisa mendapatkannya dengan waktu yang cukup singkat!"


"Terima kasih Chika, aku juga tidak menyangka jika aku akan mendapatkan banyak kesempatan untuk meraih apa yang aku inginkan, walaupun ada banyak hal yang sempat membuatku ragu!"


Saat tengah asik mengobrol bersama Chika, tiba-tiba pandangan Tiara tertuju pada seseorang yang berjalan dengan cepat keluar dari kafe bersama anak kecil yang berada dalam gendongannya.


Namun karena Tiara yang dari tadi fokus dengan Chika dan hanya melihat sekilas ke arah seseorang itu, Tiara tidak bisa mengenali siapa seseorang yang dilihatnya itu.


Ia hanya merasa jika seseorang itu tampak tidak asing, meskipun ia hanya melihat sekilas saja.


"Ada apa Tiara? apa kau mengenalnya?" tanya Chika pada Tiara yang masih memperhatikan punggung seseorang yang baru saja keluar dari kafe dengan menggandeng anak kecil itu.


"Tidak, memangnya siapa dia?" jawab Tiara sekaligus bertanya.


"Dia pegawai baru disini, pak Rafa yang memintanya secara langsung untuk bekerja disini padahal dia sudah mempunyai anak dan dia bekerja bersama anaknya," jawab Chika.


"Kenapa dia bekerja dengan membawa anaknya?" tanya Tiara.


"Entahlah tapi yang aku dengar dari teman-teman yang lain mereka pernah mendengar obrolan perempuan itu dengan Pak Rafa, pada intinya perempuan itu sudah ditelantarkan oleh suaminya dan keadaan ekonominya juga sedang buruk," jawab Chika menjelaskan.


"Waahh kasihan sekali, tapi kenapa kak Rafa mau membantunya? apa kak Rafa mengenalnya secara pribadi?" tanya Tiara penasaran.


"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi yang pasti pak Rafa memberikan kelonggaran padanya saat dia bekerja karena dia juga harus mengurus anaknya yang masih kecil," jawab Chika.


"Siapa perempuan itu? tidak mungkin kak Rafa membantunya jika kak Rafa tidak mengenalnya dengan baik," batin Tiara bertanya dalam hati.


"Lupakan soal perempuan itu, bagaimana hubunganmu dengan Pak Rafa? sepertinya masih belum ada kemajuan sama sekali," ucap Chika sekaligus bertanya.


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" balas Tiara bertanya yang seolah enggan untuk menjawab pertanyaan Chika.


"Beberapa kali aku bertemu pak Rafa dan selalu menanyakan tentangmu, tapi Pak Rafa hanya menjawabnya singkat, seperti memang belum ada kemajuan apapun dalam hubungan kalian," jawab Chika.


"Memangnya apa yang kak Rafa katakan padamu?" tanya Tiara yang tiba-tiba penasaran.


"Aku hanya bertanya bagaimana kabar Tiara dan Pak Rafa selalu menjawab jika kau baik-baik saja dan sedang fokus dengan karirmu, hanya jawaban-jawaban klise seperti itu yang selalu Pak Rafa katakan," jawab Chika.


"Apa kak Rafa tidak mengatakan sesuatu yang lain?" tanya Tiara yang dibalas gelengan kepala oleh Chika.


"Sebenarnya apa yang membuat kalian belum juga meresmikan hubungan kalian? bukankah sudah jelas Pak Rafa menyukaimu dan sepertinya kaupun juga menyukai Pak Rafa," tanya Chika.


"Banyak hal yang sudah terjadi dan maaf karena aku tidak bisa memberitahumu, tapi yang pasti aku sedang berusaha untuk menyembuhkan hatiku saat ini," jawab Tiara dengan tersenyum hambar.


"Memangnya kenapa? apa Pak Rafa menyakitimu? apa kalian berdua bertengkar?"


"Terlalu rumit untuk dijelaskan Chika, aku tidak ingin memikirkan hal itu sekarang, aku hanya ingin bekerja dengan baik dan membiarkan waktu membawa kemanapun jalan takdirku pergi," jawab Tiara.


"Padahal aku sangat berharap jika kau bisa memiliki hubungan lebih dengan Pak Rafa, aku bisa melihat dengan jelas bagaimana pak Rafa memberikan perhatian lebih padamu saat kau baru pertama kali bergabung di kafe, jadi aku yakin pak Rafa memang benar-benar mencintaimu," ucap Chika.

__ADS_1


Tiara hanya tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun. Ia tidak bisa menceritakan pada Chika tentang apa yang sebenarnya terjadi, terlebih tidak ada yang tahu tentang pernikahan Rafa dengan Maya.


__ADS_2