
Rafa masih menjalani hari-harinya sebagai CEO perusahaan besar milik orang tuanya. Di samping itu ia juga masih menjalankan bisnis kafenya yang kini sudah semakin berkembang dan memiliki banyak cabang di berbagai kota.
Nama Rafa Mahendra ini tidak hanya dikenal sebagai CEO penerus perusahaan orang tuanya, namanya kini cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis karena kepiawaiannya dalam memimpin perusahaan dan mengelola bisnis kafenya secara bersamaan.
Rafa benar-benar menjalani hidupnya dengan lebih baik setelah perceraiannya dengan Maya. Ia tidak peduli bagaimana Maya yang masih berusaha mendekatinya, ia tidak akan memberikan celah bagi Maya untuk kembali dalam kehidupannya.
Bukan karena ia merasa dendam ataupun marah pada Maya, tapi karena ia ingin masa lalu buruknya benar-benar berakhir tanpa ada bayang-bayang yang menghantuinya.
Keputusannya untuk memindahkan Bagas ke Singapura adalah bagian dari rencananya agar Bagas bisa membawa Maya pergi darinya, namun ternyata Maya menolak ajakan Bagas dan memilih untuk tetap tinggal dengan semua cacian dan umpatan yang tidak berhenti Maya dengar.
Tapi apapun yang terjadi dengan Maya, Rafa tidak akan peduli. Baginya Maya hanyalah orang asing yang hanya singgah dalam mimpi buruknya dan ia tidak akan membiarkan mimpi buruk itu terjadi di kehidupan nyata yang sedang ia jalani.
Dalam hatinya ia selalu memanggil nama Tiara, mengulas semua kebersamaannya bersama Tiara sebelum matanya terpejam di setiap malam.
Bertahun-tahun tidak bertemu bahkan tidak berkomunikasi nyatanya tidak membuat Rafa melupakan Tiara begitu saja.
Kedatangan Tiara dalam hidupnya bukan hanya sekedar singgah untuk sementara, tetapi kedatangan Tiara sudah menaburkan benih-benih cinta yang kini tumbuh abadi dalam hatinya.
Berbeda dengan Putra yang akan membiarkan apapun pilihan Tiara asalkan Tiara bahagia, Rafa justru akan berusaha untuk mendekati Tiara dan mendapatkannya tak peduli apapun yang harus ia lakukan.
Tiara adalah cinta pertama dalam hidupnya, ia merasa kebahagiaannya hanya bersama Tiara.
Rafa sudah pernah merasakan kesakitannya saat ia kehilangan Tiara dan ia berjanji pada dirinya sendiri untuk kembali membawa Tiara dalam hidupnya, membahagiakannya dan menghujaninya dengan seluruh cinta yang ia miliki.
Untuk saat ini ia hanya perlu bersabar, menunggu waktu yang tepat baginya untuk kembali mendekati Tiara. Ia akan menantikan buah dari kesabarannya selama ini dan ia yakin hari bahagia baginya akan tiba suatu hari nanti.
Tentang Putra, ia tidak akan menghalangi Putra jika memang Putra masih berusaha untuk mendekati Tiara.
Terlebih saat Rafa tahu hal besar apa yang sudah orang dua Putra lakukan untuk keluarganya. Kini baginya Putra tidak hanya sekedar sahabat tetapi juga bagian dari keluarga dan malaikat pelindung keluarganya.
Rafa yakin pada cinta yang ia miliki, seberapa keraspun Putra berusaha dan seberapa jauhpun Tiara pergi, cinta dalam hatinya akan tetap bisa menarik Tiara kembali padanya.
Itulah yang membuatnya tidak mengkhawatirkan apapun saat Tiara berada jauh darinya dan saat ia tahu jika Putra mendekati gadis yang dicintainya.
Rafa yakin ketulusannya akan membawa kembali cinta yang kini berada jauh darinya. Ia percaya hatinya adalah rumah bagi cinta yang dimiliki dirinya dan Tiara.
Sama seperti orang tuanya, Rafa hanya bisa mempertahankan persahabatannya dengan Putra, mempertahankan hubungan baik mereka sebagai ucapan terima kasih atas hal besar yang sudah dilakukan orang tua Putra di masa lalu.
**
Hari itu Rafa baru saja selesai jogging di taman yang berada tidak jauh dari rumahnya.
Saat Rafa tengah berjalan ke arah mobilnya, tiba tiba seorang wanita yang sedang menggandong anak kecil menabrak dirinya.
"Maaf Bu" ucap Rafa sambil membantu seseorang yang terjatuh di hadapannya.
Meskipun sebenarnya seseorang itu yang menabraknya Rafa tetap meminta maaf dan membantunya berdiri.
Namun Rafa begitu terkejut saat ia mengenali siapa perempuan yang ada di hadapannya saat itu.
"Kak Gita!"
"Rafa....."
"Hei hentikan dia, dasar pencuri!" teriak seorang pria yang berlari ke arah Gita.
"Rafa tolong bantu aku, bawa aku pergi dari sini, aku mohon!" ucap Gita memohon pada Rafa.
"Ada apa kak? apa benar kak Gita mencuri?" tanya Rafa yang merasa ragu untuk membawa Gita pergi.
"Aku terpaksa Rafa, aku mohon bantu aku kali ini saja!"
Rafa menggelengkan kepalanya pelan sambil menggenggam erat tangan Gita.
"Terima kasih sudah menahannya, wanita ini adalah pencuri, aku akan membawanya ke kantor polisi sekarang juga!" ucap pria yang kini sudah berada di hadapan Rafa.
"Memangnya apa yang dia curi?" tanya Rafa pada pria itu.
"Dia bilang akan menjual laptopnya padaku tetapi setelah dia menerima uangnya dia membawa pergi laptopnya saat aku lengah," jawab pria itu menjelaskan.
__ADS_1
"Apa itu benar kak?" tanya Rafa pada Gita namun Gita hanya terdiam dengan menundukkan kepalanya.
Rafa menghela nafasnya lalu membawa pandangannya pada pria di hadapannya.
"Berapa uang yang dia bawa kabur?" tanya Rafa pada pria itu.
"8 juta, aku memberinya uang 8 juta untuk membeli laptopnya, tetapi dia malah membawa pergi laptop itu setelah dia menerima uangnya," jawab pria itu.
"Tunggu sebentar, aku akan mengembalikan uang itu," ucap Rafa.
"Kak Gita tunggu disini dan jangan kemana-mana!" ucap Rafa pada Gita lalu berlari pergi begitu saja.
Setelah beberapa lama, Rafapun kembali lalu memberikan uang sejumlah 8 juta pada pria itu.
"Ini uang yang sudah dia ambil, masalah sudah selesai dan kau bisa pergi!" ucap Rafa pada pria yang mengejar Gita.
Pria itupun menghitung uang yang Rafa berikan lalu berjalan pergi begitu saja setelah ia memastikan uang yang ia terima sesuai dengan uang yang ia berikan pada Gita.
Setelah pria itu pergi, Gitapun hendak berjalan pergi namun dengan cepat Rafa menahan tangan Gita.
"Rafa tidak ingin ikut campur dengan masalah kak Gita, tetapi sepertinya kita harus bicara!" ucap Rafa.
Merekapun akhirnya duduk di bangku yang ada di dekat taman. Gita menjelaskan jika dirinya sudah bercerai dengan Bima karena Bima yang selalu bersikap kasar, tidak hanya pada Gita tapi juga pada Laras, bahkan pada anak kandungnya sendiri.
Gita juga menjelaskan jika dia dan mamanya sudah menjual rumah yang mereka tempati, karena keadaan ekonomi yang semakin sulit mereka terpaksa tinggal di tempat kost yang kecil dan bekerja tanpa menghasilkan uang yang cukup untuk kebutuhan mereka setiap hari.
"Tidak mudah mencari pekerjaan dengan keadaanku yang seperti ini Rafa, Mama yang bekerja sebagai asisten rumah tangga tidak bisa menjaga anakku, jadi aku sendiri yang harus menjaganya dan yang pasti aku tidak bisa bekerja dengan membawa anakku," ucap Gita di akhir ceritanya.
Rafa hanya terdiam mendengar semua cerita Gita, ia tidak menyangka jika hal buruk itu menimpa Gita.
Apa yang sudah Gita dan mamanya lakukan pada Tiara memang sangat jahat, namun melihat keadaan Gita dan mamanya seperti itu membuat Rafa ikut bersedih.
"Jika Tiara tahu apa yang terjadi padaku saat ini dia pasti akan menertawakanku," ucap Gita.
"Tapi Tiara tidak seperti itu kak," balas Rafa.
"Kau benar, dia memang anak yang baik bahkan terkadang terlalu baik dan naif," ucap Gita dengan tersenyum hambar.
"Apa sampai sekarang kak Gita masih membencinya?" tanya Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Gita.
"Aku tidak mempunyai cukup waktu untuk membencinya, yang aku pikirkan sekarang hanyalah bagaimana caranya bertahan hidup demi anakku," ucap Gita.
"Bagaimana keadaan Tiara sekarang dan bagaimana hubunganmu dengannya?" lanjut Gita bertanya.
"Sangat panjang untuk diceritakan tapi yang pasti Tiara sekarang sedang berada di luar negeri, dia baru saja menyelesaikan S2 nya di Amerika tahun lalu dan bekerja di cabang perusahaan yang berada disana, satu persatu mimpi Tiara tercapai berkat kerja kerasnya," jawab Rafa menjelaskan.
"Dia memang sangat pekerja keras, dia selalu teguh dengan pendiriannya, aku ikut senang mendengarnya bisa menjalani kehidupannya dengan baik," ucap Gita.
"Tapi bagaimana hubungan kalian berdua? kenapa kau tidak menceritakannya padaku?" lanjut Gita bertanya.
"Terlalu rumit untuk dijelaskan kak, yang pasti kita sama-sama sedang berusaha untuk saling melupakan masa lalu yang buruk, Rafa sedang berusaha untuk memulai kembali lembaran baru dengan lebih baik," jawab Rafa.
"Sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengannya dan tidak mendengar kabar darinya, wajar jika aku tidak tahu sama sekali tentang apa yang terjadi dengan kalian," ucap Gita.
"Lalu bagaimana dengan Bima? apa dia tidak memberikan tanggung jawabnya sebagai ayah dari anak ini?" tanya Rafa sambil membawa pandangannya pada anak kecil yang ada di gendongan Gita.
"Sejak kita resmi bercerai dia sama sekali tidak peduli denganku, apalagi dengan anaknya, aku bahkan sudah tidak tahu dimana keberadaannya sekarang, karena yang terakhir kali aku dengar perusahaan orang tuanya sedang bermasalah lalu mereka pindah ke luar pulau," jawab Gita menjelaskan.
Rafa hanya terdiam mendengar penjelasan Gita. Semua yang ia dengar pagi itu benar-benar membuatnya terkejut, tentang keadaan Gita dan mamanya dan tentang pernikahan Gita dengan Bima.
Rafa kini semakin percaya pada karma yang pasti datang pada tempat yang tepat.
"Dimana tempat tinggal kak Gita? Rafa akan mengantar kak Gita pulang!"
Rafa dan Gita kemudian masuk ke dalam mobil, Rafa mengendarai mobilnya ke arah tempat tinggal Gita sesuai dengan petunjuk yang Gita berikan.
"Jika kak Gita mau kak Gita bisa datang ke kafe Rafa yang berada tidak jauh dari sini, kak Gita bisa bekerja disana," ucap Rafa pada Gita saat mereka baru saja sampai di depan tempat tinggal Gita.
"Tapi bagaimana dengan anakku? Mama tidak mungkin bisa menjaganya karena Mama juga sibuk dengan pekerjaannya!"
__ADS_1
"Kak Gita bisa membawanya, Rafa akan memberitahu karyawan yang lain untuk memberikan kelonggaran pada kak Gita agar kak Gita masih bisa menjaga anak kak Gita saat sedang bekerja," jawab Rafa.
"Benarkah? kau tidak sedang mengerjaiku bukan?"
"Tidak ada untungnya Rafa melakukan hal itu, jika kak Gita mau tak Gita bisa datang ke kafe yang berada di dekat stadion kota kapanpun kak Gita senggang."
"Terima kasih banyak Rafa, aku pasti akan datang kesana," ucap Gita penuh semangat.
Rafa hanya menganggukkan kepalanya pelan dengan tersenyum.
Setelah Gita keluar dari mobilnya, Rafapun mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Sepanjang perjalanan Rafa masih memikirkan apa yang terjadi pada Gita dan mamanya. Ia tidak mengerti bagaimana respon Tiara jika Tiara tahu tentang apa yang terjadi pada keluarga tirinya.
Namun ia yakin Tiara akan cukup bersedih melihat keadaan keluarga tirinya saat itu.
**
Di tempat lain, Tiara baru saja keluar dari ruangan direkturnya. Ia kembali ke meja kerjanya dengan pandangan kosong seperti sedang memikirkan sesuatu yang berat untuk ia putuskan.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Tiara bertanya dalam hati.
biiiiippp biiiipp biiiiippp
Ponsel Tiara berdering, sebuah pesan masuk dari Putra.
"Akan ada festival di taman kota nanti malam, apa kau mau datang bersamaku?"
Tiara tersenyum tipis lalu membalasnya dengan sebuah emoticon yang mengiyakan ajakan Putra.
Tiara kemudian menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya pelan, seolah membuang semua beban pikiran dalam kepalanya.
"Baiklah Tiara jangan terlalu memikirkannya, jalani saja apa yang menurutmu baik," ucap Tiara menasehati dirinya sendiri.
Setelah Tiara menyelesaikan pekerjaannya, iapun segera membereskan meja kerjanya dan meninggalkan ruangannya.
Waktu berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 07.00 malam saat Tiara baru saja meninggalkan rumah tempat tinggalnya bersama Putra.
Hentakan musik dan lagu yang mengguncang malam itu membuat Tiara melepaskan sedikit beban di kepalanya. Setelah hampir 2 jam Tiara dan Putra berdiri untuk menikmati festival musik, merekapun memutuskan untuk keluar dari kerumunan yang ada disana.
Tiara kemudian menjelaskan pada Putra tentang keputusan yang akan ia ambil, apakah ia akan tetap berada disana atau ia akan kembali pulang ke Indonesia.
"Apa kau yakin dengan keputusanmu Tiara?" tanya Putra memastikan.
"Tiara yakin kak, Tiara sudah memikirkannya dengan matang," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, semoga itu yang terbaik untukmu," ucap Putra.
**
Satu bulan telah berlalu, Rafa baru saja kembali dari luar kota. Seperti biasa pagi itu Rafa berangkat ke kantor dengan penuh semangat.
Sesampainya di kantor ia segera disambut oleh asisten pribadinya.
"Selamat pagi Pak, apa Pak Rafa sudah memeriksa file yang saya kirimkan pada Pak Rafa tempo hari?"
"File tentang meeting pagi ini?" tanya Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh asisten pribadinya.
"Aku belum sempat membacanya, bukankah itu hanya resume para pegawai yang menempati posisi baru mereka?" jawab Rafa sekaligus bertanya
"Iya Pak benar dan mereka akan mengikuti meeting pagi ini sekaligus memperkenalkan diri sebagai pimpinan baru di masing-masing divisi," jawab asisten pribadi Rafa.
Rafa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lalu masuk ke ruangannya.
Tepat pukul 08.00 pagi Rafa berjalan memasuki ruangan meeting lalu duduk di kursi yang berada di ujung barisan.
Meeting pagi itu bukan membahas hal krusial yang terjadi di perusahaan, melainkan hanya memperkenalkan para pegawai yang menempati posisi barunya di perusahaan yang tentunya akan bekerja secara langsung di bawah Rafa.
Saat Rafa tengah memperhatikan satu persatu para karyawan yang berjajar di hadapannya, Rafa begitu terkejut saat melihat gadis cantik yang duduk tidak jauh dari tempatnya.
__ADS_1
Rafa bahkan beberapa kali mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya.