
Jam sudah menunjukkan pukul 05.00 sore saat Tiara mengemasi barang-barangnya di atas meja kerjanya.
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Dita pada Tiara.
"Iya, aku harus pergi menemui temanku setelah ini," jawab Tiara.
"Aahhh begitu, baiklah aku juga pulang sekarang," ucap Dita lalu ikut membereskan barang-barangnya yang ada di meja lalu meninggalkan meja kerjanya bersama Tiara.
"Kau tidak perlu menungguku untuk pulang Dita, kau bisa pulang sesuai dengan jam kerjamu jika kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu," ucap Tiara pada Dita saat mereka sudah berada di dalam lift.
"Kenapa kau selalu pulang terlambat Tiara? apa agar para senior memujimu dan memilihmu untuk tetap berada di divisi pemasaran?" tanya Dita dan membuat Tiara mengeringitkan keningnya.
"Aku sama sekali tidak pernah berpikiran seperti itu, apa kau sungguh berpikir seperti itu tentangku?" balas Tiara yang terkejut dengan ucapan Dita.
"Hehehe tidak, aku hanya bercanda, bukankah kita harus sama-sama berjuang agar bisa tetap berada di divisi pemasaran?"
Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, terkadang ia tidak bisa memahami candaan Dita. Meskipun begitu ia tidak mau terlalu memikirkannya, karena Dita adalah teman pertamanya saat ia mengikuti seminar di perusahaan itu.
"Kemana kau pergi? apa kau akan menemui temanmu bersama Pak Putra?" tanya Dita yang lagi lagi membuat Tiara menggelengkan kepalanya pelan karena tidak mengerti arah pemikiran Dita.
"Kau sedang serius atau sedang bercanda sekarang? pertanyaanmu membuatku tidak nyaman," balas Tiara.
"Hahaha..... kenapa kau sensitif sekali hari ini, apa kau sedang datang bulan?"
Tiara hanya bisa tersenyum tipis tanpa mengatakan apapun, mereka kemudian berpisah di trotoar jalan raya.
Dita pulang dengan menaiki taksi sedangkan Tiara pulang dengan berjalan kaki, tidak sampai 15 menit Tiarapun sampai di tempat kosnya.
Tiara segera mandi dan berganti pakaian lalu meraih tas selempangnya, memasukkan ponselnya ke dalam tas kemudian keluar dari tempat kosnya untuk pergi ke kafe kedua Rafa.
Saat Tiara tengah duduk di halte, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya, Tiarapun menoleh ke kanan dan kirinya dan semua yang ada di sekitarnya seolah mengabaikan mobil itu. Tiarapun memilih untuk mengabaikannya juga karena ia tidak mengenali mobil yang tengah berhenti di depannya.
Tak lama kemudian si pemilik mobil keluar dan menghampiri Tiara.
"Kak Putra!" ucap Tiara terkejut karena ternyata pemilik mobil itu adalah Putra.
"Kau mau kemana? biarkan aku mengantarmu!"
"Tidak perlu kak, terima kasih, Tiara mau menemui teman Tiara di kafe," ucap Tiara.
"Kafe tempatmu bekerja dulu?" tanya Putra yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Ayo aku akan mengantarmu!"
"Terima kasih kak, tapi Tiara akan naik bus saja," ucap Tiara menolak dengan halus.
"Ayolah Tiara, aku tidak punya banyak waktu, polisi akan segera datang jika aku memarkirkan mobilku disini," ucap Putra yang sedikit memaksa, membuat Tiara tidak punya pilihan lain selain mengikuti ucapan Putra.
Tiarapun masuk dan duduk di samping Putra yang sudah ada di balik kemudi. Putra kemudian mengendarai mobilnya ke arah tempat kerja Tiara yaitu kafe kedua Rafa.
"Kau pasti masih berhubungan baik dengan teman-temanmu di kafe," ucap Putra memecah kesunyian di antara mereka berdua.
"Tentu saja, bagi Tiara teman-teman yang ada di kafe bukan sekedar teman kerja melainkan keluarga, karena kita sangat dekat dan saling peduli satu sama lain," balas Tiara.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, mobil Putrapun mulai memasuki tempat parkir kafe. Tiara dan Putra kemudian keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam kafe.
"Kak Putra tunggu di atas, Tiara akan memesankan minuman best seller yang ada di kafe ini untuk kak Putra," ucap Tiara pada Putra.
"Baiklah, aku menunggumu di atas," balas Putra lalu berjalan naik ke lantai 2, sedangkan Tiara berjalan ke arah Chika yang saat itu sedang bekerja.
Chika yang sedari tadi melihat Tiara memasuki kafe bersama seorang laki-laki segera melambaikan tangannya pada Tiara yang berjalan ke arahnya.
"Belum ada satu minggu kau pergi dari sini tetapi semuanya sudah merindukanmu," ucap Chika pada Tiara.
"Apa kau juga merindukanku?" tanya Tiara.
"Tentu saja, bagaimana kabarmu dan bagaimana pekerjaan barumu sekarang?" jawab Chika sekaligus bertanya.
"Semuanya menyenangkan, karena inilah yang dari dulu aku tunggu, bagaimana denganmu?"
"Sudah kubilang aku merindukanmu dan yang paling tersiksa sejak kepergianmu adalah......" Chika menghentikan ucapannya lalu tersenyum penuh arti, seolah membiarkan Tiara menebak kelanjutan dari apa yang dia ucapkan.
"Adalah......."
__ADS_1
"Tentu saja Pak Rafa," balas Chika.
"Kau ada-ada saja, sepertinya aku tidak melihat mobil Pak Rafa di depan," ucap Tiara.
"Jika tahu kau ada disini, pak Rafa pasti akan segera kesini," ucap Chika.
"Aahh ya, sepertinya kau tadi bersama laki-laki, siapa dia?" lanjut Chika bertanya.
"Apa kau tidak mengingatnya? dia yang pernah kesini dan menolongku saat aku pingsan," jawab Tiara.
"Aaahh iya aku ingat, pantas saja wajahnya tidak asing, kenapa kau bisa kesini bersamanya? kau tidak sedang berkencan dengannya bukan?" tanya Chika penuh selidik.
"Hentikan pikiranmu yang terlalu jauh itu Chika, aku baru mengenalnya mana mungkin aku berkencan dengannya, lagi pula aku benar-benar tidak sedang memikirkan hal itu, aku sedang menikmati masa-masa indahku sebagai pegawai perusahaan yang selama ini aku impikan," ucap Tiara.
"Hmmm.... aku harap Pak Rafa tidak datang kesini hari ini," ucap Cika yang membuat Tiara mengernyitkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Karena aku tidak ingin Pak Rafa melihatmu dengan laki-laki itu, walaupun dia cukup tampan tapi aku lebih mendukungmu jika kau bersama Pak Rafa daripada bersama laki-laki itu," jawab Chika yang membuat Tiara menggelengkan kepalanya.
"Sudahlah jangan membahasnya lagi, tolong buatkan aku dua minuman best seller yang ada disini dan juga kentang goreng, aku menunggunya di atas," ucap Tiara lalu berjalan meninggalkan Chika begitu saja.
Tiara membawa langkahnya ke arah Putra yang sudah duduk di bangku yang merupakan tempat favorit Tiara selama dia bekerja di kafe itu.
"Apa kau sadar kau sudah meninggalkanku sangat lama?" tanya Putra sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya.
"Hehehe maafkan Tiara, Tiara mengobrol sebentar bersama teman Tiara," balas Tiara.
"Ya ya ya aku mengerti, temanmu pasti merindukanmu," ucap Putra.
"Karena memang Tiara yang paling berisik disini, jadi pasti rasanya sangat sepi karena Tiara sudah tidak ada di sini hehehe...."
Tak lama kemudian Chika datang dengan membawa pesanan Tiara, kemudian berjalan pergi meninggalkan Tiara berdua bersama Putra.
"Kak Putra harus mencoba ini, ini minuman best seller disini, Tiara dan teman Tiara sendiri yang membuat menu baru ini," ucap Tiara mempromosikan menu baru hasil temuannya bersama Chika.
Putrapun mencoba minuman itu lalu mengangguk-anggukkan kepalanya, menikmati setiap potongan kecil strawberry yang ada di dalamnya.
"Mmmm..... tidak semanis dirimu hahaha...." jawab Putra lalu tertawa.
Tiara hanya memutar kedua bola matanya karena Putra mulai mengeluarkan candaan khasnya.
"Untuk aku yang tidak menyukai strawberry minuman ini cukup menarik, rasanya segar, sedikit asam dan tidak terlalu manis," ucap Putra.
"Kak Putra tidak menyukai strawberry? bagaimana jika Tiara memesankan minuman yang lain?"
"Tidak perlu, aku bisa menikmati minuman ini jika aku meminumnya bersamamu," balas Putra dengan tersenyum manis pada Tiara, namun Tiara hanya menggelengkan kepalanya pelan lalu mengalihkan pandangannya dari Putra.
Di sisi lain, Rafa yang baru saja sampai di kafe begitu terkejut saat ia melihat Tiara bersama Putra berada di lantai dua kafenya.
Ia merasa begitu kesal saat melihat Tiara yang tampak akrab dengan Putra, mereka bahkan tampak sedang bercanda dan tertawa.
"Bisa-bisanya dia datang kesini bersama Tiara, pasti dia terlalu percaya diri karena aku sudah meminta bantuannya!" ucap Rafa lalu berjalan dengan cepat masuk ke dalam kafenya.
Tidak seperti biasanya, Rafa yang biasanya segera masuk ke ruangannya namun kali ini ia segera membawa langkahnya menaiki lantai 2 untuk menghampiri Tiara.
"Berdirilah, ikut aku!" ucap Rafa pada Tiara tanpa basa-basi.
Tiara yang sedang mengobrol bersama Putra begitu terkejut dengan kedatangan Rafa yang tiba-tiba.
"Kemana?" tanya Tiara pada Rafa.
"Jangan banyak bertanya, ikut saja!" ucap Rafa lalu menarik tangan Tiara agar Tiara beranjak dari duduknya.
"Tapi Tiara....."
"Ini tentang janjiku padamu," ucap Rafa memotong ucapan Tiara lalu menarik tangan Tiara pergi begitu saja.
Putra yang melihat hal itu hanya terdiam di tempatnya, ia tidak mengerti apa yang baru saja terjadi.
"Ada apa dengan Rafa? kenapa dia seperti itu?" batin Putra bertanya dalam hati.
Jika saja bukan Rafa yang mengajak Tiara pergi, Putra pasti sudah menahannya. Namun karena tidak ingin terjadi keributan, Putrapun membiarkan Rafa membawa Tiara pergi.
__ADS_1
Putra memilih untuk menunggu Tiara di tempatnya, entah sampai kapan tapi dia akan tetap menunggu disana.
Setelah menuruni tangga, Tiara segera menarik tangannya dari Rafa.
"Ada apa dengan kak Rafa? apa kak Rafa sedang marah pada Tiara?" tanya Tiara yang melihat raut kemarahan pada wajah Rafa.
Rafa hanya menghela nafasnya kasar lalu berjalan ke arah ruangannya diikuti oleh Tiara.
"Tidak bisakah kita bicarakan hal itu nanti? Tiara sedang bersama kak Putra sekarang," tanya Tiara pada Rafa, namun Rafa hanya diam mengabaikan Tiara lalu membuka pintu ruangannya dan menarik Tiara agar masuk ke ruangannya.
"Aku tidak suka melihatmu dengannya," ucap Rafa pada Tiara.
"Kenapa? kak Putra laki-laki yang baik, dia bahkan mengantar Tiara kesini karena....."
"Kau baru mengenalnya Tiara, kau tidak benar-benar tahu bagaimana dia sebenarnya," ucap Rafa memotong ucapan Tiara.
"Jika kak Rafa memiliki masalah dengan kak Putra selesaikan masalah kalian dengan dewasa, jangan melibatkan Tiara apalagi meminta Tiara untuk menjauhi kak Putra, karena kak Rafa sama sekali tidak berhak untuk menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh dekat dengan Tiara," ucap Tiara dengan tegas.
"Aku hanya....."
"Tiara sangat berterima kasih atas bantuan kak Rafa selama ini, atas kepedulian kak Rafa pada Tiara, tapi bukan berarti kak Rafa berhak atas hidup dan pilihan Tiara, Tiara permisi!" ucap Tiara memotong ucapan Rafa lalu berjalan keluar dari ruangan Rafa begitu saja.
Sedangkan Rafa masih berada di tempatnya berdiri, ia tersenyum tipis dengan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kau benar, aku memang tidak memiliki hak atas hidup dan pilihanmu," ucap Rafa lalu menjatuhkan dirinya di atas sofa yang ada di ruangannya.
Di sisi lain, Tiara segera berjalan ke arah Cika untuk membayar pesanannya kemudian membawa langkahnya naik ke lantai 2 untuk menemui Putra.
"Kita pergi dari sini kak!" ucap Tiara lalu berjalan meninggalkan Putra begitu saja, sedangkan Putra segera berlari kecil mengikuti Tiara keluar dari kafe.
"Kenapa kita tiba-tiba pergi?" tanya Putra pada Tiara.
Tiara hanya menggelengkan kepalanya dengan tersenyum tanpa mengatakan apapun.
"Baiklah kita pergi dari sini," ucap Putra lalu masuk ke dalam mobilnya bersama Tiara, kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.
"Kemana kita akan pergi sekarang? aku bisa mengantarmu karena kebetulan aku sedang senggang," tanya Putra pada Tiara.
"Apa kak Putra bisa mengantar Tiara ke toko buku? ada beberapa buku yang harus Tiara beli!"
"Oke siap, dimana kau biasa membeli buku?" balas Putra sekaligus bertanya.
Tiara kemudian menunjukkan alamatnya pada Putra dan Putrapun segera mengendarai mobilnya ke arah alamat yang baru saja diberitahu oleh Tiara.
Sesampainya di toko buku, Tiara dan Putrapun segera masuk dan berjalan di antara banyak rak buku yang menjulang tinggi.
"Apa sebenarnya maksud kak Rafa berbicara seperti itu, dia membuatku kesal saja," batin Tiara yang tanpa sadar memikirkan ucapan Rafa padanya.
"Buku apa yang sedang kau cari Tiara?" tanya Putra pada Tiara karena tanpa Tiara sadar dia berjalan pada deretan komik dan novel.
"Aaahhh Tiara salah tempat rupanya," ucap Tiara lalu berbalik ke arah lain untuk menemukan buku yang dia cari.
"Baru kali ini aku melihat kak Rafa seperti itu, apa yang sebenarnya terjadi? apa yang membuat kamu Rafa begitu marah?" batin Tiara bertanya dalam hati saat ia sudah ada di depan buku yang dia cari.
"Tiara, apa kau sedang melamun lagi?" tanya Putra membuyarkan lamunan Tiara.
"Aaahhh tidak, Tiara hanya sedang berpikir hehehe...." jawab Tiara lalu segera mengambil buku yang dicarinya kemudian membayarnya dan berjalan keluar dari toko buku itu bersama Putra.
"Kita pulang sekarang ya kak!" ucap Tiara pada Putra.
"Apa tidak ada tempat lain yang ingin kau tuju?" balas Putra bertanya.
"Tidak kak, Tiara ingin beristirahat saja," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Putra lalu mengendarai mobilnya ke arah tempat kost Tiara sesuai dengan arah yang Tiara tunjukkan.
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, merekapun sampai di tujuan.
"Apa kau tinggal disini?" tanya Putra pada Tiara sebelum Tiara turun dari mobilnya.
"Iya kak, terima kasih sudah mengantar Tiara ke kafe dan membeli buku!"
"Lain kali kau bisa meminta tolong padaku kemanapun kau ingin pergi," ucap Putra yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
__ADS_1