
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Rafapun menghentikan mobilnya di depan rumah tempat Tiara tinggal.
"Kau tidak demam bukan?" tanya Rafa memastikan.
"Tidak kak, Tiara akan berganti pakaian dan segera berangkat ke kafe," jawab Tiara.
"Baiklah, aku akan menunggumu disini!"
"Jangan kak, Tiara akan berangkat sendiri, kak Rafa duluan saja!"
"Tapi ini masih hujan Tiara!"
"Tiara bisa meminjam payung nanti, terima kasih sudah mengantar Tiara pulang," ucap Tiara lalu keluar dari mobil Rafa.
Rafa hanya menghela nafasnya lalu mengendarai mobilnya meninggalkan rumah tempat tinggal Tiara.
Sedangkan Tiara segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan berganti pakaian. Tiara kemudian berdiri sambil merapikan rambutnya di depan sebuah cermin besar.
Matanya menatap pantulan dirinya yang ada di cermin dengan tatapan kosong. Ada sebuah kesedihan yang tersisa dalam hatinya, namun ia mencoba untuk menguburnya dalam dalam.
Ia tidak ingin terlihat lemah dan menyedihkan di depan orang lain. Setelah mengeringkan rambutnya, Tiara mengikat rambutnya ke atas seperti biasa lalu mengenakan make up tipisnya dengan menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Semangat Tiara, perjalanan ini masih sangat jauh, semua pasti akan baik baik saja," ucap Tiara berusaha menyemangati dirinya sendiri.
Tiara kemudian meraih tas selempangnya, memasukkan ponsel ke dalamnya lalu segera keluar dari kamarnya. Tiara kemudian meminjam payung pada temannya untuk berangkat ke kafe.
Sesampainya di kafe Tiara segara mengenakan seragamnya lalu mulai berkutat dengan pekerjaannya.
Karena hujan turun sejak beberapa jam yang lalu, suasana kafe menjadi lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa pelanggan yang berada di dalam kafe, membuat Tiara dan teman-temannya mempunyai lebih banyak waktu untuk bersantai.
Perlahan Tiara mulai melupakan kesedihannya, ia banyak bercerita, bercanda dan tertawa bersama teman-temannya.
"Kapan kau akan wisuda Tiara?" tanya Chika pada Tiara.
"Mungkin bulan depan, doakan saja agar skripsiku segera selesai," jawab Tiara.
"Tentu saja skripsimu akan cepat selesai, bukanlah kau mengerjakannya bersama pak Rafa?"
"Iya, pak Rafa banyak membantuku mengerjakan skripsi, tapi aku juga harus benar benar memahami materi skripsiku agar bisa lulus saat sidang nanti," balas Tiara.
"Kau sangat beruntung Tiara, pak Rafa sangat perhatian padamu," ucap Ana.
"Pak Rafa memang terlihat dingin, tapi selama ini pak Rafa memang sangat perhatian pada semua karyawannya, bukan hanya Tiara," ucap Chika.
"Iya sih, tapi aku merasa sepertinya sikap pak Rafa pada Tiara berbeda," balas Ana.
"Apa kau berkata seperti itu karena melihat pak Rafa yang membantuku mengerjakan skripsi?" tanya Tiara pada Ana.
"Tidak hanya itu, tapi aku bisa melihat tatapan mata pak Rafa padamu itu berbeda Tiara, seperti....."
"Seperti pak Rafa jatuh cinta pada Tiara?" sahut Chika memotong ucapan Ana.
"Iya benar..... itu maksudku!" balas Ana
"Kalian ada ada saja, sepertinya kalian terlalu banyak menonton drakor," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya.
"Serius Tiara, pak Rafa...."
"Ehemmm!!" Rafa berdehem cukup keras, membuat Ana seketika menghentikan ucapannya.
"Apa kalian sedang membicarakan saya?" tanya Rafa yang segera dibalas gelengan kepala oleh Ana.
"Mungkin pak Rafa salah dengar," ucap Chika.
"Jika ada keluhan tentang saya, kalian bisa langsung membicarakannya pada saya, bukankah dari dulu memang seperti itu peraturan di kafe kita?"
"Iya pak."
"Iya pak," jawab Ana dan Chika bersamaan.
"Kita jaga kenyamanan kafe dengan komunikasi yang baik, apapun keluhan, masukan dan kritik dari kalian pasti akan saya pertimbangkan, kalian tau itu bukan?"
"Iya pak, kami mengerti," balas Chika diikuti anggukan kepala Ana dan Tiara.
Rafa kemudian membawa langkahnya keluar dari kafe, membuat Tiara, Ana dan Chika bisa bernafas lega.
"Apa pak Rafa tidak pernah marah?" tanya Tiara yang merasa heran melihat sikap Rafa.
__ADS_1
"Tidak, bahkan pak Rafa pernah memecat salah satu karyawan yang ketahuan mencuri uang kafe tanpa memarahinya apa lagi membawanya ke jalur hukum," jawab Chika menjelaskan.
"Dari dulu pak Rafa selalu mengutamakan kenyamanan pegawainya selain pelanggan, pak Rafa selalu bersikap baik dan peduli pada semua karyawannya, itu yang membuat kita semua sudah seperti keluarga disini," ucap Ana.
"Waaaahhh.... aku baru tau jika pak Rafa bisa bersikap sehangat itu, padahal dulu pak Rafa sangat menyebalkan," ucap Tiara.
"Apa sampai sekarang juga masih menyebalkan?" tanya Chika.
"Entahlah, terkadang pak Rafa bisa menjadi kakak yang baik dan terkadang bisa menjadi kakak yang menyebalkan juga," jawab Tiara.
"Apa kau memanggil pak Rafa dengan panggilan 'kakak' saat di luar kafe?" tanya Ana yang dibalas anggukan kepala Tiara.
"Pak Rafa juga pernah memberi tahu kita hal itu, tapi kami merasa sungkan jika harus memanggil 'kakak' di luar kafe, jadi entah itu di dalam atau di luar kafe kita tetap memanggil 'pak rafa'," ucap Chika.
"Benarkah? apa sebaiknya aku juga memanggil 'pak rafa' saja?" tanya Tiara.
"Hahaha..... tidak perlu, senyamanmu saja Tiara!"
"Aku sudah lama tinggal bersama seorang kakak, jadi sekarang rasanya sangat aneh karena aku harus tinggal tanpa ada sosok kakak di dekatku, mungkin itu yang membuatku nyaman memanggil pak Rafa dengan panggilan 'kakak'," ucap Tiara.
"Aku mengerti Ra, walaupun kau tidak pernah menceritakan masalahmu padaku tapi aku tau ada masalah besar yang kau simpan di balik sikap ceriamu itu," ucap Chika.
"Aku juga tau, aku sering melihatmu tiba tiba melamun dan terlihat sendu, tapi saat aku atau yang lainnya menghampirimu kau jadi tiba tiba menjadi ceria," ucap Ana
"Benarkah aku seperti itu? apa aku terlihat menyedihkan di mata kalian?" tanya Tiara dengan membawa pandangannya pada Ana dan Chika.
"Tentu saja tidak, sudah ku bilang disini kita seperti keluarga, kau bisa menceritakan semua masalahmu pada kita, tapi sebagai keluarga, kita tidak akan memaksamu melakukan itu dan kau harus tau Tiara kapanpun kau butuh teman kita akan selalu ada untukmu," ucap Chika.
"Aaahh kalian baik sekali," ucap Tiara lalu memeluk Chika dan Ana.
Chika dan Apapun membalas pelukan Tiara sambil menepuk nepuk pelan punggung Tiara.
"Kita adalah keluarga Tiara, jangan ragu untuk berbagai kesedihan dan kebahagiaanmu bersama kita," ucap Ana.
Tiara menganggukkan kepalanya dengan senyum mengembang di bibirnya. Ia merasa sangat bersyukur karena bisa dipertemukan dengan orang orang yang menerimanya dengan baik.
Meskipun mereka adalah orang orang asing bagi Tiara, tapi mereka dengan senang hati membuka pintu kekeluargaan bagi Tiara.
"Sudah sudah, ada pangeranku datang!" ucap Chika yang tiba tiba melepaskan pelukannya saat melihat seorang laki laki masuk ke dalam kafe.
Tiara dan Anapun segera membawa pandangan mereka ke arah Chika pergi.
"Pelanggan yang sering kesini, sangat tampan bukan?" balas Ana dengan menatap laki laki yang dihampiri oleh Chika.
"Tidak setampan pak Rafa," ucap Tiara pelan lalu segera berjalan ke bagian luar kafe untuk mengepel lantai karena hujan yang sudah reda.
**
Waktu berlalu, Tiara, Chika, Ana dan beberapa teman mereka yang lain baru saja melepas seragam mereka karena jam kerja mereka sudah selesai dan digantikan oleh shift selanjutnya.
Merekapun berjalan pulang bersama. Sesampainya di rumah, mereka segera masuk ke kamar masing masing untuk beristirahat.
Sedangkan Tiara segera mandi dan berganti pakaian lalu mulai mengerjakan skripsinya. Tak lupa Tiara memutar lagu favoritnya untuk membangkitkan semangatnya.
Tiara mengambil buku catatannya yang berisi penjelasan Bima tentang materi skripsi yang harus ia kerjakan untuk bab barunya.
Tiarapun mulai fokus mengerjakan skripsinya dengan beberapa buku yang mulai berantakan di atas ranjangnya.
"Untung saja kak Rafa meminjamkan banyak buku padaku," ucap Tiara sambil membuka buku yang Rafa pinjamkan padanya.
Namun beberapa hal yang ia cari tidak ia temukan di buku Rafa. Tiara kemudian mengambil buku lain yang dia miliki, tapi saat mengambil buku itu memorinya tiba tiba saja mengulas kebersamaannya bersama Gita karena buku itu adalah buku pemberian Gita.
Tiara bisa mengingat dengan jelas saat Gita memberikan buku itu padanya.
"Apa saat itu kak Gita sudah mengetahui hubunganku dengan kak Bima?" tanya Tiara dengan menatap buku di hadapannya.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Dering ponsel Tiara membuat Tiara segera tersadar dari lamunannya.
"Aku punya buku baru untukmu," tulis Rafa pada pesannya.
"Buku lagi?" balas Tiara protes.
"Datanglah ke toko buku di dekat kafe, aku menunggumu disini!"
Tiara seketika menjatuhkan kepalanya di atas meja. Matanya menatap kosong ke arah buku buku yang berceceran di atas ranjangnya.
__ADS_1
"Buku itu saja belum benar benar aku pahami seluruhnya," gerutu Tiara tak bersemangat.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
"Bersemangatlah, kau harus mengerjakan skripsimu dengan cepat, wisuda, lalu masuk ke perusahaan yang kau impikan dan jangan lupakan janjiku padamu," tulis Rafa pada pesannya.
"Janji? janji apa maksud kak Rafa? apa janji tentang konser EXO?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara seketika tersenyum lalu segera beranjak dari duduknya.
"Aku tau kak Rafa bukan tipe laki laki yang suka mengingkari janjinya," ucap Tiara lalu segera bersiap keluar dari kamarnya.
Tiara membawa langkahnya ke arah toko buku yang berada di dekat kafe. Sesampainya disana Tiara segera berjalan masuk dan naik ke lantai dua.
Benar saja, sudah ada Rafa yang duduk disana sambil membaca buku.
Tiarapun segera membawa langkahnya duduk di depan Rafa.
"Kau pasti membutuhkan buku ini," ucap Rafa sambil menggeser buku yang ada di hadapannya ke arah Tiara.
Tiara mengambil buku itu lalu membukanya. Ia sangat mengenali buku yang ada di tangannya saat itu.
"Ini adalah buku yang kak Gita berikan padaku," ucap Tiara dalam hati.
"Apa kau membawa catatan materimu tentang bab selanjutnya?" tanya Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara kemudian mengeluarkan buku catatannya dan memberikannya pada Rafa.
"Aku sudah menduganya, beberapa materi ini ada dalam buku ini, jadi kau harus membaca buku ini dan beberapa buku lain yang kemarin aku berikan padamu," ucap Rafa.
Tiara hanya menganggukkan kepalanya lalu mulai membaca buku yang baru saja Rafa berikan. Meskipun itu buku yang sama dengan yang Gita berikan padanya, Tiara lebih memilih untuk menggunakan buku pemberian Rafa.
Ia bahkan berniat untuk mengembalikan buku yang ada di kamarnya pada Gita karena ia tidak ingin menggunakan buku pemberian Gita.
"Aku akan mengembalikan buku pemberian kak Gita secepatnya, aku tidak ingin berhutang apapun pada kak Gita," ucap Tiara dalam hati.
**
Hari Minggu telah tiba. Waktu bagi Tiara untuk beristirahat dari semua kesibukannya, namun waktu istirahatnya harus terganggu saat Bima mengirimkan pesan padanya.
"Kita bertemu di kafe dekat kampus jam 9 nanti!"
Meskipun Tiara memilih untuk mengabaikan pesan Bima, pada akhirnya Tiara tidak mempunyai pilihan lain karena Bima beralasan untuk bimbingan skripsi hari itu.
"Kita ubah jadwal bimbingan skripsinya menjadi hari Minggu karena hari Senin ada hal lain yang harus aku kerjakan!"
"Kenapa harus Minggu pak? apa tidak bisa hari lain saja?" protes Tiara.
"Jika kau masih ingin melakukan bimbingan skripsi datang saja ke kafe jam 9 nanti, tapi jika kau merasa tidak perlu bimbingan skripsi dariku maka kau tidak perlu datang!" balas Bima yang membuat Tiara semakin kesal.
Tiarapun mulai menyiapkan laptop dan buku bukunya untuk melakukan bimbingan skripsi bersama Bima.
Tepat saat jam menunjukkan pukul 9, Tiara baru saja sampai di depan kafe yang ada di dekat kampusnya.
Tiara membawa langkahnya masuk dengan mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bima.
Tak berapa lama kemudian Tiara melihat seseorang melambaikan tangan pada Tiara. Tiarapun segera membawa langkahnya ke arah Bima menunggunya.
Entah kenapa Tiara merasa hari itu Bima tidak banyak berbasa basi. Ia hanya fokus memeriksa bab baru Tiara sambil beberapa kali meminta Tiara untuk melakukan revisi.
Bima bahkan dengan cepat mengakhiri bimbingan skripsi hari itu. Meskipun sikap Bima cukup aneh, Tiara tidak ambil pusing dan segera beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dari kafe.
Tiara menaiki bus yang akan membawanya arah tempat tinggalnya. Namun belum sampai bus berhenti di halte yang seharusnya, Tiara melihat mobil Bima yang seolah tengah mengikutinya.
Tiarapun segera turun saat bus mulai berhenti di halte lain.
"entah kak Bima memang mengikutiku atau tidak, tapi aku tidak akan membiarkan kak Bima tau dimana aku tinggal," ucap Tiara dalam hati lalu segera membawa langkahnya masuk ke dalam sebuah gang.
Tiara kemudian berbelok ke arah mini market untuk memastikan apakah Bima mengikutinya atau tidak.
Benar seperti dugannya, ternyata Bima diam diam mengikutinya.
"Jadi ini alasan kak Bima merubah jadwal bimbingan skripsi hari ini? ini juga yang membuat sikap kak Bima aneh hari ini!" batin Tiara sambil menyeruput minuman yang baru saja dibelinya.
"Aku tidak boleh pulang sekarang, tapi aku harus kemana, aku bahkan tidak tau dimana aku saat ini," ucap Tiara dalam hati.
Tiara membawa pandangannya ke kanan dan kirinya, meskipun letak mini market itu di dalam gang, tetapi gang itu cukup lebar untuk bisa dimasuki mobil, membuat Tiara tidak mempunyai celah untuk kabur dari pandangan Bima.
__ADS_1
"Sampai kapan aku harus disini? kak Bima bahkan tidak bergerak sama sekali, sepertinya dia benar benar menunggu aku pergi dari sini!"
Tiarapun hanya bisa pasrah, entah sampai kapan ia harus duduk di depan mini market itu karena ia tidak ingin Bima tau dimana ia tinggal saat itu.