
Maya sedang berada di ruang tengah setelah ia memberikan makanan buatannya untuk Rafa. Sudah lebih dari satu jam ia menunggu dan tidak mendengar sedikitpun pergerakan dari kamar Rafa.
"Apa obat itu sudah bereaksi? aku harus memastikannya terlebih dahulu sebelum aku masuk ke kamarnya," batin Maya dalam hati sambil membawa langkahnya ke kamar Rafa dengan menggenggam kunci cadangan kamar Rafa.
Maya terdiam beberapa saat di depan kamar Rafa, telinganya ia tempelkan di pintu Rafa untuk memastikan jika tidak ada suara apapun yang terdengar dari kamar Rafa.
Maya kemudian mengetuk pintu kamar Rafa dan memanggil Rafa untuk memastikan dugaannya.
Tooookkkk tooookkk tooookkk
"Rafa, apa kau sudah tidur?" tanya Maya dari depan pintu kamar.
Hening, tidak ada jawaban sama sekali. Maya tersenyum senang karena ia pikir ia sudah berhasil membuat Rafa pingsan malam itu.
Namun saat Maya baru saja memegang handle pintu kamar Rafa, tiba-tiba pintu itu terbuka dari dalam.
Maya begitu terkejut melihat Rafa yang kini berdiri tepat di depannya.
"Ada apa lagi?" tanya Rafa pada Maya.
"Aku.... aku hanya ingin memastikan apa kau sudah minum obatmu," jawab Maya beralasan.
"Aku bukan anak kecil Maya, aku bisa menjaga diriku sendiri," ucap Rafa lalu kembali menutup pintu kamarnya.
Mayapun hanya terdiam di tempatnya berdiri, ia tidak mengerti kenapa Rafa belum juga pingsan setelah lebih dari satu jam ia memberikan minuman buatannya pada Rafa yang sudah ia bubuhi obat sebelumnya.
"Kenapa dia terlihat baik-baik saja? Apa mungkin dia tidak meminumnya?" batin Maya bertanya dalam hati.
Di sisi lain, Rafa masih terduduk di tepi ranjangnya, menatap bubur buatan Maya dan minuman yang Maya berikan padanya.
Entah kenapa ia merasa enggan menyentuh apa yang sudah Maya siapkan untuknya, bahkan sekedar untuk mencicipi atau minumpun Rafa tidak ingin.
Rafa menghela nafasnya panjang lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua mata sayunya menatap langit langit kamarnya dengan tatapan kosong.
Hatinya terasa sakit saat rindu yang ia rasakan semakin terasa berat. Rindu itu tidak akan terasa sakit jika saja Rafa bisa sekedar bertemu dengan gadis yang dirindukannya itu.
Gadis cantik dengan senyum penuh keceriaan yang mampu membuka pintu hati Rafa, gadis cantik yang sudah memberikan banyak hal indah dalam hidup Rafa, gadis cantik yang sudah pergi karena rasa kecewanya pada Rafa.
"Apa kau disana juga merindukanku Tiara ataukah hanya aku yang merindukanmu disini? ini benar-benar sangat menyiksaku meskipun sudah berkali-kali aku berusaha untuk merelakan kepergianmu, aku bukan menyerah untuk mendapatkanmu Tiara, aku hanya memberikan waktu untukmu menyembuhkan kekecewaanmu, setelah semua ini berakhir aku akan segera menemuimu, berusaha untuk mendekatimu dan tidak akan pernah melepaskanmu sedetikpun setelah aku berhasil mendapatkanmu," ucap Rafa dalam hati.
Sebelum Rafa menutup matanya ia membawa pandangannya ke sudut kamarnya, menatap rak yang berisi beberapa barang yang berhubungan dengan boy group favorit Tiara.
"Aku bahkan belum sempat memberikan semua itu padamu, tapi aku yakin aku memiliki kesempatan untuk memberikan semuanya padamu suatu hari nanti, kita lihat saja Tiara kemana takdir akan membawa kita berdua," ucap Rafa dalam hati lalu memejamkan matanya.
Malam yang semakin larut akhirnya membawa Rafa memasuki dunia mimpinya.
**
Hari itu adalah hari pertama Tiara bekerja di kafe. Setelah jam kuliahnya selesai Tiara menghabiskan waktunya beberapa jam di perpustakaan kampus untuk mengerjakan tugas dan mempelajari beberapa hal lainnya.
Tepat pukul 5 sore Tiara meninggalkan kampus untuk berangkat ke kafe. Sebelumnya ia sudah memberitahu Yuna jika ia akan bekerja di kafe mulai hari itu, jadi ia sudah tidak bisa lagi menemani Yuna untuk berada di perpustakaan kampus sampai malam.
Yunapun memahami hal itu dan membiarkan Tiara meninggalkannya lebih dulu. Tiara kemudian mengayuh sepedanya meninggalkan kampus menuju ke arah kafe tempat ia akan bekerja.
Tiara membutuhkan waktu 15 menit dari kampusnya untuk bisa sampai ke kafe. Sesampainya di kafe, masih ada waktu lebih dari setengah jam bagi Tiara untuk berkenalan dengan teman-teman barunya yang juga pegawai dari kafe itu karena Tiara bekerja tepat pukul 06.00.
Dengan seragam berwarna coklat bertuliskan nama kafe itu, Tiarapun mulai mempelajari beberapa hal baru disana. Ia juga menceritakan pada teman barunya jika ia sempat bekerja di kafe sebelumnya, jadi sedikit banyak Tiara sudah mengerti cara kerja di kafe meskipun ada beberapa hal baru yang harus ia pelajari.
Tidak sulit bagi Tiara untuk akrab dengan teman-teman barunya selain karena dirinya yang mudah bergaul teman-teman barunya juga begitu menyenangkan dan bisa menerima Tiara dengan baik.
__ADS_1
Saat pelanggan mulai tampak sepi dan tidak ada kegiatan yang harus Tiara kerjakan, iapun sesekali membaca bukunya. Tiara tidak ingin waktunya terbuang sia-sia karena prioritas utamanya adalah menyelesaikan kuliahnya dengan baik.
Meskipun begitu, Tiara masih bisa berkomunikasi dengan baik bersama teman-temannya yang juga bekerja di kafe. Tiara tidak ingin kesibukannya belajar membuatnya menjauh atau dijauhi dari teman-teman barunya.
Tiara harus benar-benar bisa membagi waktunya dengan baik, ia harus bisa menempatkan dirinya pada situasi apapun agar ia tetap bisa menjalani kuliah dan pekerjaannya dengan seimbang.
Tepat pukul 11.00 malam jam kerja Tiara selesai, karena setiap harinya ia hanya bekerja selama 5 jam mulai dari pukul 06.00 sampai pukul 11.00 malam.
Setelah ia melepas seragam kafenya, iapun berpamitan pada teman-temannya sebelum ia meninggalkan kafe.
Meskipun malam sudah cukup larut, namun jalan raya masih sangat ramai seolah kota itu memang terbangun selama 24 jam.
Hal itu cukup menguntungkan bagi Tiara yang harus bersepeda seorang diri setiap pukul 11.00 malam.
Sesampainya Tiara di tempat tinggalnya, ia segera mandi dan berganti pakaian. Sebelum ia tertidur ia menyempatkan waktunya untuk belajar dan mengerjakan beberapa tugasnya yang belum ia selesaikan.
Meskipun ia semakin sibuk, tetapi ia benar-benar menikmati kesibukannya. Namun setiap hari Minggu ia akan memberi waktu bagi dirinya sendiri untuk melupakan semua kesibukannya dan hanya bersenang-senang bersama teman-temannya.
Tiara sengaja melakukan hal itu untuk menghindari stres karena tekanan kesibukannya, bagaimanapun juga ia harus bisa menjaga dirinya dengan baik agar tidak merepotkan teman-temannya.
Tentang Rafa, Tiara memang belum benar-benar melupakannya, namun Tiara tidak ingin berlarut-larut pada kenangan yang mengingatkannya tentang Rafa.
Setiap memori tentang kebersamaannya bersama Rafa datang, Tiara segera mengingatkan dirinya sendiri jika Rafa sudah memiliki istri. Jadi seindah apapun kebersamaannya bersama Rafa, ia hanya menganggap semua itu mimpi indahnya saja dan kini ia harus terbangun dari mimpinya untuk menjalani hari-harinya yang sesungguhnya.
**
Hari demi hari telah berlalu, Tiara bisa membuktikan pada Bella dan Kevin bahwa ia bisa menjalani kesibukannya dengan baik.
Ia bisa membagi waktunya sebagai mahasiswi dan juga sebagai pegawai kafe dengan seimbang.
Meskipun beberapa kali Tiara menyempatkan waktunya untuk belajar saat bekerja di kafe, tetapi ia bisa mengerjakan pekerjaannya di kafe dengan sangat baik, ia juga rajin mengerjakan beberapa hal lainnya yang membuat James akhirnya memutuskan untuk mempekerjakan Tiara sesuai kontrak yang sudah ia siapkan.
Tiara dan teman-temannya yang lainpun ikut senang saat Tiara sudah menandatangani kontrak kerjanya di kafe. Itu artinya James sudah mengakui jika Tiara bisa bekerja dengan baik di kafenya.
Pagi itu, Tiara menghubungi Bella, ia ingin bertemu dengan Bella untuk memberitahu Bella bahwa dirinya sudah menandatangani kontrak kerjanya di kafe milik anak dari rekan kerja papa Bella.
Tiara ingin berterima kasih pada Bella karena jika bukan karena Bella ia tidak akan mungkin bisa bekerja di kafe itu, karena sebelumnya James sudah menolaknya mentah-mentah.
Setelah Tiara menghubungi Bella, merekapun bersepakat untuk bertemu di taman yang berada tidak jauh dari kafe tempat Tiara bekerja.
Karena hari itu adalah hari Minggu, Tiara memilih untuk berjalan kaki ke arah taman. Tiara menikmati langkah demi langkah yang ia lalui.
Daun-daun kuning yang berguguran di sepanjang jalan sekilas mengingatkan Tiara dengan kebersamaannya bersama Rafa saat mereka berada di Tokyo.
Namun sekali lagi, Tiara segera menyadarkan dirinya sendiri bahwa semua ingatan kebahagiaannya bersama Rafa hanyalah mimpi indah yang harus segera ia lupakan.
"Bangun Tiara, itu hanya mimpi yang harus kau lupakan, kehidupan sesungguhnya ada di hadapanmu," batin Tiara pada dirinya sendiri.
Setelah beberapa lama berjalan, iapun sampai di taman tempat ia akan bertemu Bella.
Dengan senyum di wajahnya, Tiarapun membawa langkahnya ke arah Bella yang sudah lebih dulu sampai di taman itu.
"Sebenarnya kau dari mana saja? aku sudah sangat lama menunggumu disini!" gerutu Bella kesal saat Tiara baru saja duduk di sampingnya.
"Kau pasti kesini menggunakan mobil bukan? sedangkan aku kesini jalan kaki, jadi sudah pasti kau yang sampai terlebih dulu," balas Tiara.
"Huh terserah kau saja!" ucap Bella lalu memberikan sebungkus roti pada Tiara.
"Untukku?" tanya Tiara memastikan.
__ADS_1
"Jangan kau pikir aku peduli padamu, aku membelinya satu gratis satu jadi daripada aku buang lebih baik kau makan bukan?" balas Bella beralasan.
"Apapun alasanmu terima kasih, aku memang belum makan apapun pagi ini!" ucap Tiara lalu membuka roti itu, namun ia tiba-tiba ragu untuk memakannya.
"Roti ini tidak mengandung kafein bukan?" tanya Tiara memastikan karena ia tidak ingin pingsan di taman karena memakan sesuatu yang mengandung kafein.
"Apa kau tidak bisa melihat isinya berwarna merah? jadi sudah jelas itu adalah strawbery!" jawab Bella.
"Aku hanya ingin memastikannya saja, bukankah akan sangat merepotkanmu jika aku pingsan disini!" ucap Tiara.
"Memangnya kenapa kau mengajakku bertemu disini?" tanya Bella.
"Aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin berterima kasih padamu, jika bukan karena bantuanmu aku pasti tidak bisa bekerja di kafe dan kemarin aku sudah menandatangani kontrak kerjaku di kafe, semua itu berkat bantuanmu Bela," ucap Tiara dengan menatap Bella yang duduk di sampingnya.
"Tidak perlu berlebihan, Kevin yang memintaku untuk melakukan hal itu," balas Bella yang seolah acuh pada Tiara.
"Aku juga sudah berterima kasih pada Kevin, kalian berdua benar-benar sahabat terbaikku, aku beruntung sekali bertemu dengan kalian," ucap Tiara.
"Sepertinya kau sudah salah paham, aku sama sekali tidak ingin bersahabat denganmu, aku melakukannya hanya karena Kevin yang menyuruhku jadi kau tidak perlu berpikir terlalu jauh!" ucap Bella lalu beranjak dari duduknya.
"Apapun itu aku sangat berterima kasih padamu," balas Tiara yang juga ikut beranjak lalu memeluk Bella dari belakang yang membuat Bella berusaha untuk melepaskan kedua tangan Tiara yang memeluknya dengan erat.
"Kau benar-benar menyebalkan, jika tahu begini aku tidak akan mau bertemu denganmu disini," ucap Bella kesal, sedangkan Tiara hanya tersenyum seolah tidak melakukan kesalahan apapun.
"Apa hanya itu yang ingin kau katakan padaku?" tanya Bella yang hanya dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara.
"Benar-benar menyebalkan, kau bisa menghubungiku jika hanya ingin mengatakan hal itu, aku pergi dulu dan jangan pernah memintaku untuk bertemu denganmu lagi jika tidak ada sesuatu yang sangat penting," ucap Bella lalu berjalan pergi begitu saja.
"Take care my best friend," ucap Tiara dengan melambaikan tangannya meskipun Bella mengabaikannya.
**
Hari telah berganti, Tiara sudah berada di tempat kerjanya saat itu. Seperti biasa ia membersihkan beberapa meja yang baru saja ditinggalkan oleh pelanggan lalu membuang beberapa cup minuman yang ada di meja.
Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam saat Tiara tengah sibuk mengantar beberapa pesanan pelanggannya.
"Iced Americano, table number seven!" ucap teman Tiara sambil memberikan nampan yang berisi americano dingin.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu membawa nampan itu ke arah meja nomor 7 sesuai dengan instruksi yang diberikan oleh temannya.
Dengan penuh senyum Tiara membawa langkahnya ke arah meja nomor 7, namun tiba-tiba raut wajahnya berubah saat ia mengenali siapa laki-laki yang berada di meja nomor 7.
"Kak Putra!" ucap Tiara yang melihat Putra tampak sibuk dengan ponselnya.
"Tiara, kau..... bekerja disini?" tanya Putra yang juga tampak terkejut melihat Tiara berdiri di hadapannya.
Tiara tersenyum dengan menganggukkan kepalanya lalu menaruh pesanan Putra di meja.
"It's been along time, right?"
"Yaaa...." balas Tiara dengan tersenyum dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Kapan jam kerjamu selesai? ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan denganmu," tanya Putra.
"Sekitar satu jam lagi kak," jawab Tiara setelah ia melihat jam di tangan kirinya.
"Oke baiklah, aku akan menunggumu disini," ucap Putra.
Tiara kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia benar-benar tidak menyangka jika ia akan bertemu Putra disana. Terlebih saat ia berharap tidak akan pernah bertemu dengan orang-orang dari masa lalunya termasuk Putra.
__ADS_1
Namun ia mengerti jika ia hanya bermasalah dengan Rafa, sedangkan Putra selalu bersikap baik padanya jadi tidak ada alasan baginya untuk menjauh dari Putra.
Setelah jam kerjanya selesai Tiarapun segera melepas seragamnya lalu membawa langkahnya ke arah Putra setelah ia berpamitan pada teman-temannya.