Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Rumah Tangga Rafa Maya (2)


__ADS_3

Tiara masih duduk di samping Putra, ia begitu khawatir saat mendengar Putra mengatakan jika tante Rossa berada di rumah sakit.


Sedangkan Putra masih terdiam menatap layar ponselnya yang berisi video Maya bersama Bagas.


"Kak apa yang terjadi pada Tante Rossa?" tanya Tiara yang belum mendapatkan jawaban dari Putra.


Seketika Putra segera menyimpan ponselnya dan membawa pandangannya pada Tiara.


"Tante Rossa sedang berada di rumah sakit tapi kau jangan khawatir, dokter sudah melakukan yang terbaik untuk kesembuhan tante Rossa," ucap Putra.


"Apa yang membuat tante Rossa dirawat di rumah sakit kak? apa terjadi sesuatu yang membuat tante Rossa stres?" tanya Tiara.


"Tante Rosa hanya kelelahan Tiara, kau jangan terlalu memikirkannya," jawab Putra berbohong agar Tiara tidak terlalu mengkhawatirkan mama Rafa.


"Tapi....."


"Sepertinya kau harus segera masuk ke kafe sebelum kau terlambat," ucap Putra memotong ucapan Tiara setelah ia menatap jam di tangan kirinya.


"Baiklah Tiara pergi dulu, terima kasih sudah mengantar Tiara kak," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Putra.


Setelah Tiara turun dari mobilnya, Putrapun segera mengendarai mobilnya meninggalkan Tiara, tanpa ia sadar jika sepeda Tiara masih berada di dalam bagasinya.


Tiara yang belum sempat mengingatkan Putra untuk menurunkan sepedanyapun begitu terkejut saat tiba-tiba Putra mengendarai mobilnya dengan cepat meninggalkannya.


"Tidak biasanya kak Putra pergi begitu saja, apa benar tante Rossa baik-baik saja atau kak Putra berbohong agar aku tidak mengkhawatirkan tante Rossa?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.


Tiara kemudian menggelengkan kepalanya, berusaha untuk tetap berpikir positif sambil membawa langkahnya berjalan memasuki kafe.


Tiarapun segera mengenakan seragam kafe lalu memulai kesibukannya sebagai pegawai kafe seperti biasanya.


Di sela-sela kesibukannya, tidak dapat dipungkiri jika Tiara masih memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada Mama Rafa.


"Tidak mungkin tidak terjadi sesuatu jika tante Rossa berada di rumah sakit sekarang, kak Putra pasti berbohong agar aku tidak khawatir," ucap Tiara dalam hati.


"Lalu bagaimana dengan kak Rafa? kak Rafa pasti sangat mengkhawatirkan tante Rossa, aku tahu bagaimana kak Rafa sangat menyayangi tante Rossa jadi..... aahh tidak.... lupakan!"


"Tidak seharusnya aku memikirkan hal ini terlalu jauh," ucap Tiara dalam hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memukulnya pelan.


"What are you doing Tiara? are you okay?" tanya teman Tiara yang melihat Tiara tampak menggelengkan kepalanya sambil memukulnya pelan.


"I'm okay, just mmmm.... tired," jawab Tiara beralasan.


Tiara kemudian melanjutkan pekerjaannya, berusaha untuk tidak terlalu memikirkan Mama Rafa apalagi mengkhawatirkan Rafa.


Waktupun berlalu, jam kerja Tiara sudah hampir selesai namun ia belum juga melihat keberadaan Putra di kafenya.


"Dimana kak Putra? apa kak Putra sedang sibuk? bagaimana jika kak Putra tidak datang untuk mengembalikan sepedaku?" tanya Tiara pada dirinya sendiri sambil menatap pintu masuk kafe tempat ia bekerja.


Hingga akhirnya jam kerja Tiarapun benar-benar selesai dan ia belum juga melihat batang hidung Putra.


Dengan langkah yang tak bersemangat Tiarapun membawa langkahnya keluar dari kafe.


"Sepertinya aku harus berjalan kaki sampai ke dorm," gerutu Tiara kesal.


Namun belum sampai Tiara meninggalkan kafe, sebuah mobil berhenti tepat di depan Tiara lalu dengan cepat si pemilik keluar dari mobil dan menghampiri Tiara.


"Aku tidak terlambat bukan?" tanya Putra yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Tiara.


"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang!" ucap Putra sambil membuka pintu mobilnya untuk Tiara.


Setelah Tiara masuk, Putrapun berlari kecil lalu duduk di balik kemudi dan mengendarai mobilnya meninggalkan kafe.


"Maafkan aku, aku tadi terlalu terburu-buru jadi tidak sadar jika belum mengeluarkan sepedamu dari mobil," ucap Putra yang merasa bersalah pada Tiara.

__ADS_1


"Jika kak Putra sangat sibuk seharusnya kakak mengeluarkan sepeda Tiara saja, Tiara bisa pulang dengan bersepeda," ucap Tiara.


"Tidak, aku sudah tidak sibuk sekarang," balas Putra.


"Bagaimana dengan tante Rossa kak? apa keadaan tante Rossa sudah membaik?" tanya Tiara.


"Tekanan darah Tante Rossa sudah stabil, jadi kau tidak perlu khawatir lagi," jawab Putra berbohong.


"Kak Putra tidak sedang berbohong pada Tiara bukan? Tiara hanya mengkhawatirkan tante Rossa, sama sekali tidak mengkhawatirkan kak Rafa, jadi tolong jawab pertanyaan Tiara dengan jujur," ucap Tiara yang meragukan jawaban Putra.


"Maafkan aku Tiara, aku tidak bisa membuatmu terlalu mengkhawatirkan tante Rossa," ucap Putra dalam hati.


"Kenapa kau tidak mempercayaiku? apa aku terlihat berbohong di matamu?" tanya Putra.


"Iya, kak Putra seperti sedang berbohong pada Tiara sejak kak Putra tiba-tiba meninggalkan Tiara sebelum menurunkan sepeda tadi sore," jawab Tiara dengan membawa pandangannya menatap Putra yang duduk di sampingnya.


"Hahaha itu artinya kau tidak pandai menilai seseorang," balas Putra yang berusaha untuk tetap fokus menyetir meski ia tahu jika Tiara sedang menatapnya dengan tatapan tajam saat itu.


Tiara kemudian menghela nafasnya panjang lalu mengalihkan pandangannya dari Putra.


"Semoga tanpa rasa baik-baik saja," ucap Tiara sambil menatap jalan raya di hadapannya.


Sesampainya di dorm, Putrapun segera mengeluarkan sepeda Tiara dari bagasinya. Setelah Putra mengendarai mobilnya pergi, Tiarapun segera membawa langkahnya masuk ke dalam kamarnya.


Tiara menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap langit-langit kamarnya, tak dapat dipungkiri ia masih memikirkan Mama Rafa saat itu.


"Apa mungkin keberadaan Tante Rossa di rumah sakit ada hubungannya dengan kak Rafa dan kak Maya? sepertinya tidak mungkin.... bahkan bisa saja kak Maya sekarang sudah berhasil membuat kak Rafa jatuh cinta padanya," ucap Tiara dalam hati.


"Siapa yang tidak akan jatuh cinta pada kak Maya, perempuan cantik, mandiri, baik hati dan pintar seperti kak Maya pasti dengan mudah membuat laki-laki manapun jatuh cinta padanya."


Tiara menghela nafasnya panjang lalu membawa langkahnya masuk ke kamar mandi sebelum ia kembali menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menarik selimutnya sampai menutup seluruh tubuh hingga kepalanya.


Tanpa ia sadar bulir bening menetes pelan dari kedua sudut matanya. Ada rasa sesak yang kembali menghimpit dadanya, rasa sesak yang kembali mengoyak luka yang belum sempat sembuh.


Tiara terdiam di dalam selimutnya, menyesapi setiap detik luka yang mengoyak hatinya.


**


Di rumah sakit.


Rafa sedang duduk di samping ranjang sang mama. Ia hanya bisa terdiam menatap mamanya yang masih terbaring dengan kedua mata terpejam.


"Maafkan Rafa ma," ucap Rafa sambil menggenggam tangan sang mama.


Tak lama kemudian Rafa merasa jari tangan sang Mama yang berada dalam genggamannya bergerak dengan perlahan.


"Mama....."


Rafapun memperhatikan jari-jari tangan sang mama yang saat itu sedang bergerak meskipun sangat pelan.


Rafa kemudian memencet tombol yang berada di dekat ranjang sang Mama untuk memanggil dokter.


Tak lama kemudian dokter segera datang untuk memeriksa keadaan Mama Rafa. Dokter kemudian menjelaskan pada Rafa dan papanya jika keadaan sang Mama sudah membaik.


"Tekanan darahnya sudah menuju stabil, kemungkinan sebentar lagi pasien akan sadar," ucap dokter pada Rafa dan sang papa kemudian berjalan keluar dari ruangan Mama Rafa.


Benar saja, tak lama setelah dokter pergi Mama Rafapun mulai mengerjapkan matanya dengan perlahan sampai akhirnya terbuka dan membawa pandangannya pada anak dan suaminya yang berada di samping ranjangnya.


"Mama......"


Mama Rafa hanya diam dengan raut wajah penuh kesedihan. Ia bisa mengingat dengan jelas video yang sempat dilihatnya.


Video yang memperlihatkan saat Maya berjalan dengan mesra bersama seorang laki-laki dan yang lebih membuatnya sedih adalah Rafa yang mengetahui hal itu sejak lama dan sengaja membiarkannya.

__ADS_1


"Keadaan Mama baru saja membaik, jadi lebih baik jangan membahas apa yang terjadi antara Rafa dan Maya," ucap papa Rafa pada sang istri.


"Tidak pa, mama harus segera mengetahuinya, Mama harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tangga Rafa dan Maya, Mama harap kali ini mereka tidak akan membohongi Mama lagi," ucap Mama Rafa dengan membawa pandangannya pada Rafa.


"Rafa akan menghubungi Maya agar dia datang, Rafa janji akan menjelaskan semuanya pada mama asalkan hal itu tidak akan membuat keadaan Mama memburuk lagi," ucap Rafa.


"Mama akan berusaha mengendalikan diri mama, mama sudah mempersiapkan diri Mama untuk mendengar apapun penjelasan kalian berdua," balas Mama Rafa.


Rafa kemudian menghubungi Maya, meminta Maya untuk segera datang ke rumah sakit.


Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya Mayapun datang.


"Syukurlah keadaan Mama sudah membaik, Maya sangat mengkhawatirkan mama kemarin," ucap Maya saat dia baru saja datang.


"Tidak perlu berbasa-basi lagi Maya, sekarang tolong jelaskan semuanya pada mama dan jangan pernah berbohong tentang apapun pada mama Rafa!" ucap mama Rafa yang membuat Maya segera membawa pandangannya pada Rafa.


"Sekarang adalah saatnya Mama dan papa tahu tentang apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan kita, aku harap kau tidak akan menentang apapun yang akan aku ceritakan disini," ucap Rafa pada Maya.


Mayapun hanya bisa menganggukkan kepalanya pelan. Ia tidak punya pilihan lain selain membiarkan Rafa menceritakan keadaan pernikahan mereka yang sebenarnya.


Meskipun begitu Maya masih berharap jika bisa membuat Rafa dan kedua orang tuanya percaya bahwa ia sudah menyesali perbuatan buruknya dan benar-benar mencintai Rafa sebagai suaminya.


Rafa kemudian menjelaskan pada mama dan papanya jika sejak pernikahan mereka terjadi Rafa sama sekali tidak pernah mencintai Maya sampai detik itu.


Rafa juga menjelaskan jika mereka tidak pernah sekalipun berhubungan suami istri, bahkan tidur dalam satu ranjang yang samapun tidak pernah.


Mereka hanya akan tidur dalam satu kamar saat orang tua mereka datang untuk menginap, selebihnya mereka akan tidur dalam di dua kamar yang berbeda.


Tidak lupa Rafa juga menjelaskan kesepakatannya dengan Maya sejak awal pernikahan mereka, kesepakatan untuk tidak saling peduli satu sama lain, untuk tidak saling mencampuri urusan pribadi masing-masing.


"Itu kenapa Rafa membiarkan Maya berhubungan dengan laki-laki lain karena Rafa sama sekali tidak peduli pada Maya, tapi Rafa sudah mengingatkan padanya untuk berhati-hati agar tidak menimbulkan masalah terkait hubungannya dengan laki-laki itu," ucap Rafa di akhir penjelasannya.


Mama Rafa terdiam mendengarkan keseluruhan cerita Rafa, ia tidak menyangka jika pernikahan anak satu-satunya ternyata tidak berjalan dengan baik.


"Kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada Mama, Rafa? kenapa kau menyembunyikan semua itu selama ini?" tanya sang mama.


"Rafa hanya tidak ingin membuat Mama tertekan dengan keadaan Rafa yang seperti itu, Rafa berusaha untuk mengakhiri pernikahan Rafa dengan Maya tanpa membuat mama merasa bersalah karena sudah menjodohkan Rafa dengan Maya," jawab Rafa.


"Maafkan Rafa jika sikap Rafa ternyata mengecewakan mama," lanjut Rafa.


"Tidak Rafa, justru mama yang seharusnya meminta maaf padamu karena sudah memaksamu untuk menjalani pernikahan yang ternyata hanya membuatmu tersiksa," ucap Mama Rafa yang merasa bersalah.


"Tolong jangan menyalahkan diri mama sendiri, Rafa mengerti apa yang Mama lakukan adalah untuk kebaikan Rafa," balas Rafa dengan menggenggam erat tangan sang mama.


"Semua yang Rafa ceritakan memang benar ma pa, tapi sekarang semuanya sudah berbeda, Maya sekarang benar-benar mencintai Rafa dan Maya menyesali hal buruk yang sudah Maya lakukan sebagai istri Rafa," ucap Maya.


"Kau tidak mungkin melakukan hal itu jika kau memang mencintai Rafa, Maya!" balas Mama Rafa.


"Itu adalah kekhilafan terbesar Maya ma, Maya melakukannya karena Maya merasa sangat frustasi melihat Rafa yang sama sekali tidak mempedulikan Maya," ucap Maya membela diri.


"Kali ini biarkan Rafa dan Maya menyelesaikan masalah mereka sendiri ma, cukup sekali kita gagal memberikan keputusan kita untuk Rafa, jadi lebih baik beri Rafa kepercayaan untuk memutuskan sendiri apa yang akan dia lakukan dengan masalah yang sedang dia hadapi," sahut papa Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh sang istri.


"Apapun yang akan kau putuskan Mama akan menyetujuinya, Mama tidak akan lagi ikut campur dalam rumah tanggamu, kau berhak menentukan apa yang menurutmu terbaik untuk hidupmu!" ucap Mama Rafa pada Rafa.


"Dan kau Maya, Mama sangat kecewa padamu, tidak hanya sekali kau berbohong pada mama dan sekarang apa yang kau lakukan itu sudah mengancam nama baik keluarga serta perusahaan, sebagai seseorang yang berpendidikan sepertimu seharusnya kau bisa memikirkan hal itu sebelum kau melakukan kekhilafanmu!" ucap Mama Rafa pada Maya.


"Maafkan Maya ma, Maya benar-benar menyesal, Maya berjanji akan memperbaiki sikap Maya, Maya berjanji akan menjadi istri yang baik untuk Rafa, tolong Mama dan papa percaya pada Maya!"


"Sekarang semua terserah Rafa, Mama tidak akan ikut campur lagi pada rumah tangga kalian!" balas Mama Rafa.


"Maya memiliki alasan kenapa Maya melakukan hal itu, Maya mencari kesenangan dengan laki-laki lain karena Rafa yang selalu mengabaikan Maya demi perempuan yang disukainya," ucap Maya yang membuat Mama Rafa begitu terkejut.


"Perempuan yang disukai Rafa?" tanya Mama Rafa meyakinkan pendengarannya.

__ADS_1


"Iya, diam-diam ternyata Rafa menyukai perempuan lain, Rafa bahkan sudah membeli rumah untuk perempuan itu!" jawab Maya memperjelas ucapannya.


__ADS_2