
Setelah beberapa lama dalam perjalanan, Rafa dan Tiarapun sampai di depan rumah Tiara.
"Bagaimana kau akan mengantar kakakmu ke rumah sakit Tiara? kau tidak mungkin memesan taksi bukan?" tanya Rafa.
"Tiara bisa mengendarai mobil kakak, Pak Rafa bisa pulang sekarang, terima kasih sudah mengantar Tiara," jawab Tiara.
"Dengan keadaanmu yang panik seperti ini sangat berbahaya jika kau mengendarai mobil sendirian, saya akan mengantarmu ke rumah sakit setelah itu saya akan pulang," ucap Rafa.
"Tapi ini sudah sangat malam pak, Tiara tidak ingin merepotkan Pak Rafa lagi," ucap Tiara sungkan.
"Cepat masuk dan temui kakakmu, dia harus segera ke rumah sakit bukan? saya akan menunggumu disini!"
Karena tidak ingin berdebat terlalu lama, Tiarapun segera masuk ke dalam rumah untuk menemui Gita.
Sesampainya di dalam kamar Tiara begitu terkejut karena mendapati Gita yang terbaring di ranjangnya dengan wajah yang sangat pucat.
Tiarapun membantu Gita untuk beranjak dari ranjangnya.
"Kau belum mengambil kunci mobilnya Ra!" ucap Gita.
"Kita akan ke rumah sakit diantar dosen Tiara kak," balas Tiara.
"Dosenmu?" tanya Gita memastikan.
"Iya, Tiara sedang bersama Pak Rafa, dosen pembimbing Tiara, pak Rafa juga yang mengantar Tiara pulang dan sekarang menawarkan diri untuk mengantar kakak ke rumah sakit," jawab Tiara menjelaskan.
Tiara kemudian membawa Gita masuk ke dalam mobil Rafa dan tanpa menunggu lama Rafapun segera mengendarai mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.
"Bertahanlah sebentar lagi kak, kita akan segera sampai," ucap Tiara sambil memeluk Gita yang terlihat sangat lemah saat itu.
"Maaf sudah merepotkanmu Ra, kakak tidak punya pilihan lain karena kakak sama sekali tidak bisa menghubungi Bima," ucap Gita.
"Jangan meminta maaf pada Tiara kak, sudah seharusnya kakak menghubungi Tiara jika dalam keadaan seperti ini," balas Tiara
__ADS_1
Tak lama kemudian merekapun sampai di rumah sakit. Tiara kemudian membantu Gita untuk turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit diikuti oleh Rafa yang berjalan di belakang Tiara dan Gita.
"Terima kasih banyak sudah membantu Tiara pak, sepertinya sekarang Pak Rafa bisa pulang," ucap Tiara pada Rafa.
Belum sempat Rafa mengucapkan apapun dokter yang memeriksa Tiarapun keluar dan menjelaskan keadaan Gita pada Tiara.
"Tekanan darah pasien sangat rendah sehingga membuatnya merasa pusing, selain itu rasa pusing dan mualnya juga dikarenakan hormon kehamilan yang sedang berada di puncaknya," ucap dokter menjelaskan keadaan Gita pada Tiara.
"Hormon kehamilan? apa maksud dokter kakak saya sedang hamil?" tanya Tiara memastikan.
"Iya kau benar, usia kehamilannya baru menginjak 2 minggu jadi dia harus menjaga makanan yang dikonsumsinya serta rutin mengkonsumsi vitamin penambah darah agar tidak lemas dan pusing seperti saat ini," jawab dokter menjelaskan.
"Terima kasih penjelasannya dok," ucap Tiara dengan pandangan kosong dan kedua mata yang berkaca-kaca.
"kak Gita benar-benar hamil, itu artinya kak Gita dan kak Bima sudah melakukannya, tapi kenapa kak Bima......"
"Tiara, apa kau baik-baik saja?" tanya Rafa membuyarkan lamunan Tiara.
Tiara lalu masuk ke dalam bilik toilet dan menumpahkan semua tangisnya disana.
Hatinya benar-benar hancur saat mengetahui apa yang sudah Bima lakukan dengan Gita, karena selama pernikahan mereka Bima masih tetap mendekati Tiara, membuat Tiara berpikir bahwa Bima memang tidak mencintai Gita, namun pada faktanya Bima melakukan hal itu dengan Gita.
"kenapa kak Bima jahat pada Tiara? kenapa kak Bima selalu memberikan harapan palsu pada Tiara? apa salah Tiara pada kakak? kenapa kak Bima bisa sejahat ini pada Tiara?" tanya Tiara dalam hati dengan menangis tanpa suara.
Sesak dalam dadanya seolah menghimpitnya dengan sangat kuat, membuatnya tidak mampu membendung air mata yang seolah terus mengalir dari kedua matanya.
"tenanglah Tiara, sadarkan dirimu bahwa Bima benar-benar bukan untukmu, dia telah menjadi milik Gita seutuhnya dan tidak akan pernah menjadi milikmu," ucap Tiara berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Meskipun Bima telah mengecewakannya, namun dalam hatinya ia masih mencintai Bima seperti sebelumnya, hatinya terlalu mudah untuk memaafkan semua kesalahan dan kekecewaan yang sudah Bima berikan padanya.
Namun kali ini Tiara berusaha untuk benar-benar melepaskan Bima karena Gita yang sudah mengandung anak Bima.
Setelah ia merasa sudah cukup tenang, Tiarapun keluar dari bilik toilet. Tiara menatap pantulan wajahnya pada cermin yang ada di wastafel.
__ADS_1
"kau gadis yang kuat Tiara, kau bisa melalui semua ini dengan baik, semangatlah pelangi akan datang setelah hujan," ucap Tiara dalam hati berusaha menyemangati dirinya sendiri yang tengah hancur saat itu.
Tiara kemudian membasuh wajahnya lalu keluar dari toilet dan kembali ke ruangan Gita, namun ia begitu terkejut karena melihat Rafa yang masih duduk di depan ruangan Gita.
"Kenapa Pak Rafa masih ada disini? saya pikir Pak Rafa sudah pergi!"
"Apa kau akan pulang sekarang?" tanya Rafa tanpa menjawab pertanyaan Tiara.
"Tidak pak, saya akan disini menemani kak Gita sampai besok pagi," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, saya pulang dulu," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukan dan senyum oleh Tiara.
"aku hanya ingin memastikanmu baik-baik saja Tiara, karena aku tahu kau sedang menyembunyikan kesedihanmu saat ini, entah apa yang membuatmu bersedih sebenarnya tapi aku yakin kau sedang tidak baik-baik saja sekarang," ucap Rafa dalam hati sambil berjalan pergi meninggalkan Tiara.
Di sisi lain, Tiara segera masuk ke ruangan Gita.
"Bagaimana keadaan kakak sekarang? apa sudah terasa membaik?" tanya Tiara pada Gita yang terbaring di ranjang rumah sakit.
"Rasanya kakak sudah sangat sehat setelah mendengar penjelasan dokter bahwa kakak sekarang sedang hamil," jawab Gita dengan mengusap perutnya yang masih terlihat datar.
"Mulai sekarang kak Gita harus menjaga pola makan dan rajin mengkonsumsi vitamin penambah darah seperti anjuran dokter," ucap Tiara yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Gita.
"Apa kakak boleh meminjam ponselmu Tiara? kakak ingin menghubungi Bima dan memberitahu Bima tentang kabar baik ini."
Tiara menganggukkan kepalanya lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan memberikannya pada Gita.
Gita kemudian mencari nama Bima pada kontak penyimpanan Tiara, lalu menghubungi Bima.
Setelah beberapa saat menunggu, Bimapun menerima panggilan itu.
"Halo sayang, ada apa kau menghubungiku malam-malam seperti ini? apa kau sudah merindukanku?" tanya Bima yang tidak tahu jika Gita yang tengah menghubunginya menggunakan ponsel Tiara saat itu.
Gita yang mendengar hal itu hanya terdiam dengan membawa pandangannya pada Tiara dengan tatapan penuh keterkejutan.
__ADS_1