Perempuan Kedua

Perempuan Kedua
Menjauh?


__ADS_3

Di sisi lain, Putra juga mendengar tentang gosip yang beredar tentang dirinya dan Tiara. Iapun segera menghubungi Tiara berniat untuk menemui Tiara dan menjelaskan semuanya sebelum Tiara salah paham padanya.


Karena masih dalam waktu jam kerja, Tiara tidak menerima panggilan Putra, Putrapun mengirim pesan pada Tiara.


"Kita harus bertemu Tiara, ada yang ingin aku katakan padamu!"


Beberapa lama kemudian Tiarapun membalas pesan Putra.


"Sepertinya untuk sementara kita tidak bisa bertemu di kantor kak, Tiara akan menunggu kakak di rumah saja."


"Baiklah aku akan segera ke rumahmu setelah jam kerja selesai," balas Putra.


Waktupun berlalu, jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore saat Tiara baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Saat Tiara sedang merapikan barang-barangnya tiba-tiba manager memanggilnya untuk masuk ke ruangan manager.


"Saya sudah mendengar apa yang sedang ramai dibicarakan banyak orang disini, saya tidak peduli apakah Pak Putra yang membantumu untuk mendapatkan kesempatan kedua atau tidak karena pada kenyataannya kau bisa mengerjakan pekerjaanmu dengan sangat baik, tetapi saya akan kecewa jika memang benar kau memiliki hubungan yang lain dengan Pak Putra," ucap manager pada Tiara.


"Maaf Pak, tapi Tiara dan Pak Putra tidak ada hubungan yang seperti itu," balas Tiara.


"Saya mempercayaimu Tiara, saya mengatakan hal ini hanya karena tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada karir kalian berdua, walaupun Pak Putra memang dekat dengan Pak Adam tapi bukan berarti Pak Putra tidak akan menjadi bahan gunjingan orang lain, berita buruk jika dibiarkan pasti akan menurunkan kredibilitas seseorang, jadi saya harap kau tidak melakukan sesuatu yang salah, terlebih dengan Pak Putra yang menjalani karirnya dengan hampir sempurna di perusahaan ini!"


"Baik pak, Tiara mengerti," balas Tiara.


"Baguslah kalau begitu, aku yakin kau pasti tahu apa yang harus kau lakukan!" ucap manager lalu mempersilahkan Tiara untuk keluar dari ruangannya.


Setelah merapikan barang-barangnya, Tiarapun berpamitan pada teman-temannya yang masih berada di meja kerjanya. Tiara sengaja pulang cepat hari itu karena ia merasa suasana hatinya sedang tidak baik saat itu, jadi dia lebih memilih untuk segera pulang dan menenangkan dirinya di rumah.


Tiara memilih untuk menonton film favoritnya sembari membuat minuman coklat kesukaannya, sebelum akhirnya suara mobil terdengar berhenti di depan rumahnya.


Tiarapun segera keluar dari kamarnya dan melihat mobil Putra yang sudah terparkir disana.


Tiara kemudian membuka gerbang rumahnya, membiarkan Putra masuk bersama mobilnya. Mereka kemudian duduk di teras dengan dua gelas coklat hangat yang sudah Tiara siapkan untuk dirinya dan Putra.


"Apa kau sudah pulang dari tadi?" tanya Putra berbasa-basi yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.


"Tentang berita yang tersebar di kantor, aku sudah mendengarnya," ucap Putra.


"Lalu apa yang ingin kak Putra katakan pada Tiara sekarang?" tanya Tiara.


"Sebenarnya aku ingin mengatakan hal ini sejak lama, tapi aku ragu untuk mengatakannya, tapi sekarang aku akan mengatakannya dan berharap kau tidak akan salah paham tentang apa yang akan aku katakan," jawab Putra menjelaskan.


"Lebih baik jika kak Putra mengatakannya sejak lama, Tiara bukan anak kecil yang akan mudah salah paham tanpa memahami keadaan yang sebenarnya," ucap Tiara.


"Maafkan aku," balas Putra yang merasa bersalah.


"Sebenarnya setelah aku tahu bahwa kau tidak lolos pada tes terakhirmu, aku berusaha untuk membicarakannya dengan pihak personalia tapi mereka sama sekali tidak menggubrisku sampai akhirnya aku mendapat dorongan untuk membicarakan hal itu pada Om Adam, tidak mudah membuat Om Adam ikut campur dalam masalah penerimaan pegawai baru, tapi aku meyakinkan Om Adam bahwa kau layak untuk menjadi bagian dari perusahaan dan pada akhirnya Om Adam setuju untuk memberikan kesempatan kedua padamu, setelah Om Adam melihat hasil tes yang sudah kau lakukan," lanjut Putra menjelaskan.


"Jadi benar apa yang Dita katakan? Tiara bisa mendapatkan kesempatan kedua karena kak Putra, bukan karena keberuntungan Tiara sendiri!"


"Kesempatan kedua tidak akan menjadikanmu bagian dari perusahaan jika kau tidak mengerjakannya dengan baik, kesempatan kedua akan percuma jika kau tidak memiliki hasil tes terakhir yang cukup baik, aku sama sekali tidak terlibat dalam diterima atau tidaknya kau di perusahaan, aku hanya menginginkan keadilan untukmu, aku hanya menginginkan kau mendapatkan kesempatan kedua untuk mengerjakan tes terakhirmu," ucap Putra menjelaskan.


Tiara tersenyum tipis seolah tengah menertawakan dirinya sendiri yang terlalu berbangga diri bahwa kesempatan kedua yang dia dapatkan hanya karena keberuntungannya, bukan karena bantuan siapapun terlebih Putra yang memang cukup dekat dengannya sejak ia belum bekerja di perusahaan itu.


"Tiara malu kak, Tiara malu karena terlalu percaya bahwa keberuntungan selalu ada di pihak Tiara, pada kenyataannya keberuntungan itu Tiara dapatkan dari orang lain yang sekarang mendapatkan akibat buruk dari keberuntungan yang Tiara dapatkan," ucap Tiara.


"Jangan berpikir seperti itu Tiara, aku sama sekali tidak menyesal karena sudah membantumu terlepas dari apapun yang terjadi saat ini, aku membantumu hanya karena aku yakin bahwa kau memiliki potensi yang cukup besar untuk bisa berkembang di perusahaan dan aku yakin kau mampu untuk menjadi bagian dari perusahaan," ucap Putra.

__ADS_1


"Terima kasih banyak kak, Tiara berhutang banyak pada kak Putra, terima kasih sudah menjadi salah satu seseorang yang membawa keberuntungan bagi Tiara dan Tiara minta maaf jika keberuntungan Tiara berbanding terbalik dengan apa yang kak Putra dapatkan saat ini," ucap Tiara.


"Aku sama sekali tidak mempermasalahkan tentang gosip yang beredar di kantor saat ini dan aku harap kau juga tidak terlalu mempermasalahkannya," ucap Putra.


"Pada awalnya mungkin Tiara tidak mempermasalahkannya, tetapi semakin Tiara berpikir gosip itu mungkin tidak akan terlalu berpengaruh pada Tiara tapi akan sangat berpengaruh pada kak Putra, banyak orang yang nantinya akan membicarakan dan mempertanyakan tentang kredibilitas kak Putra di perusahaan," balas Tiara.


"Itu bukan masalah besar Tiara, aku yakin tidak akan lama berita itu akan hilang begitu saja, lagi pula aku......"


"Masalah kecil jika dibiarkan akan menjadi besar bukan menghilang, kita harus segera mencari cara untuk bisa menyelesaikan masalah kecil itu dan satu-satunya cara yang Tiara pikirkan saat ini adalah....."


"Tidak, aku tahu kau akan mengatakan hal ini tapi aku tidak akan menyetujui apa yang kau pikirkan saat ini," ucap Putra memotong ucapan Tiara seolah tahu apa yang sedang Tiara pikirkan saat itu.


"Mereka benar-benar berpikir bahwa kita memiliki hubungan yang lain kak, mereka berpikir bahwa kak Putra menggunakan jabatan kakak untuk membantu Tiara lolos pada tes terakhir Tiara, sebenarnya Tiara tidak peduli apapun yang mereka pikirkan tentang Tiara di belakang Tiara, karena manajer dan teman-teman Tiara di divisi pemasaran sangat mempercayai Tiara," ucap Tiara.


"Tetapi Tiara tidak ingin mereka berbicara buruk tentang kak Putra, apalagi jika hal itu membuat kredibilitas kak Putra terancam, rasanya tidak adil bagi kak Putra yang sudah membantu Tiara tetapi malah mendapatkan imbas yang buruk, jadi tidak ada pilihan lain selain kita harus bisa lebih menjaga jarak," lanjut Tiara.


"Bagaimana jika aku menolak?" tanya Putra.


"Itu hanya akan membuat Tiara tidak nyaman," jawab Tiara tanpa ragu.


Putra menghela nafasnya panjang lalu mengalihkan pandangannya dari Tiara.


"Kau yakin itu yang kau inginkan?" tanya Putra tanpa menoleh ke arah Tiara.


"Iya kak, itu yang terbaik untuk kita, bukan hanya untuk karir Tiara tapi juga untuk karir kak Putra, lagi pula kita memang tidak ada hubungan apapun bukan?"


Putra tersenyum tipis sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Baiklah kalau itu maumu," ucap Putra lalu beranjak dari duduknya.


"Tiara sangat berterima kasih karena kak Putra sudah membantu Tiara, maaf jika keputusan Tiara ini membuat kak Putra tidak nyaman, tapi Tiara rasa ini yang terbaik untuk karir kita berdua," ucap Tiara.


Putra berbalik, berdiri menatap Tiara lalu memegang kedua bahu Tiara.


"Kau benar, kau baru saja memulai karir yang kau impikan, kau harus bisa menjalaninya dengan baik, dan kau tidak perlu memikirkan apa yang orang lain katakan di belakangmu, kau harus percaya pada dirimu sendiri bahwa apa yang kau dapatkan sekarang adalah hasil dari kerja kerasmu," ucap Putra pada Tiara.


Tiara hanya menganggukkan kepalanya dengan tersenyum, Putrapun membalas senyum Tiara lalu berjalan masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya meninggalkan rumah Tiara.


Sepanjang perjalanan, Putra masih memikirkan ucapan Tiara padanya.


"Lagi pula kita memang tidak ada hubungan apapun bukan?"


Putra menertawakan dirinya sendiri yang sudah berpikir jauh tentang hubungannya dengan Tiara.


"Tidak apa, setidaknya dia tidak membenciku, dia tidak marah saat dia tahu aku yang membantunya untuk bisa mendapatkan kesempatan kedua pada tes terakhirnya, aku tidak akan menyerah begitu saja, masih banyak cara lain yang bisa aku lakukan tanpa harus membuatnya merasa tidak nyaman di kantor," ucap Putra.


**


Di sisi lain, Tiara hanya terdiam menatap film yang ada di laptopnya. Ia tidak benar-benar fokus memahami jalan cerita film yang tengah dilihatnya saat itu.


Isi kepalanya memikirkan tentang ucapannya pada Putra, ia berharap Putra tidak tersinggung dengan apa yang dikatakannya karena bagaimanapun juga Putra sudah banyak membantunya.


"Aku tidak ingin hubungan baik ku dengan kak Putra berakhir seperti hubunganku dengan Dita, tapi aku yakin kak Putra pasti bisa berpikir dewasa tentang masalah ini dibanding dengan Dita yang memilih untuk membenciku karena dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan," ucap Tiara.


Tiara menghela nafasnya panjang lalu memilih untuk mengakhiri film yang belum selesai ia lihat.

__ADS_1


"Kenapa hubunganku dengan orang lain harus berakhir seperti ini? hubunganku dengan kak Gita, hubunganku dengan kak Bima, hubunganku dengan Dita dan sekarang aku benar-benar tidak ingin jika hubunganku dengan kak Putra juga akan berakhir buruk seperti yang lain," ucap Tiara sambil membaringkan dirinya di atas ranjangnya.


**


Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, Tiara sedang duduk di tepi ranjangnya dengan perasaan gelisah.


Tidak seperti biasanya, ia selalu bersemangat untuk menyiapkan barang-barang yang harus dibawanya ke kantor, namun malam itu ia merasa suasana hatinya sedang buruk, membuatnya enggan untuk berangkat ke kantor esok hari.


"Apa aku izin saja? rasanya sangat canggung jika aku bertemu kak Putra besok, jika aku terang-terangan menjauhi kak Putra pasti mereka yang membicarakanku, membicarakan hal buruk lain tentang aku dan kak Putra!"


Tiara mengacak-acak rambutnya kasar, ia kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa berpikir jernih saat itu.


"Tidak, aku tidak mungkin izin untuk tidak bekerja, aku harus bisa menjaga profesionalisme dalam pekerjaanku, aku tidak boleh mencampur adukkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan, semangat Tiara kau harus bisa bersikap dewasa, jangan seperti anak kecil yang menghindari masalahnya!" ucap Tiara berusaha memberi semangat pada dirinya sendiri.


Tiara kemudian melihat ke arah ponselnya yang tergeletak di meja, Tiara mengambil ponsel itu dan entah mendapat bisikan dari mana ia mencari nama Rafa pada penyimpanan kontaknya lalu menekan tombol dial untuk menghubungi.


"Halo Tiara,"


Tiara begitu terkejut saat mendengar suara Rafa dari ujung sambungan ponselnya, Tiarapun segera mengakhiri panggilan itu begitu saja.


"Astaga apa yang aku lakukan, kenapa aku menghubungi kak Rafa? aarrghhh kenapa aku bodoh sekali, apa yang harus aku lakukan sekarang!" ucap Tiara merutuki dirinya sendiri.


Biiiiippp biiiipp biiiiippp


Ponsel Tiara berdering, sebuah panggilan dari Rafa membuat Tiara ragu untuk menerimanya namun Tiara tetap harus menerima panggilan itu karena takut Rafa mengkhawatirkannya.


"Haa....lo... kak," ucap Tiara setelah ia menerima panggilan Rafa.


"Halo Tiara, ada apa? bukankah kau baru saja menghubungiku?" tanya Rafa.


"Mmmm.... Tiara.... mmmmm.... itu.... tidak sengaja hehehe.... maaf jika Tiara mengganggu," ucap Tiara beralasan.


Jauh disana Rafa hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Tiara yang terdengar seperti hanya beralasan saja.


"Baiklah kalau begitu, tunggu aku di rumah, aku akan segera kesana!" ucap Rafa yang membuat Tiara semakin terkejut


"Eeehhh kak.... kak...."


Tuuuuttt tuuuutttt tuuuutttt


Panggilan berakhir begitu saja.


"Astaga kak Rafa akan kesini, apa yang harus aku lakukan? dia pasti berpikir jika terjadi sesuatu padaku!" ucap Tiara yang segera beranjak dari ranjangnya.


Setelah beberapa lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan rumah Tiara. Tiarapun segera keluar dari rumah dan membuka pintu gerbang agar Rafa mengendarai mobilnya masuk ke halaman rumah.


Rafa dan Tiara kemudian mengobrol di teras rumah seperti biasa. Beberapa kali Rafa menanyakan tentang keadaan Tiara namun Tiara tetap saja menjawab bahwa dirinya baik-baik saja.


"Ayolah Tiara, bukankah kau sudah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun dariku?" ucap Rafa pada Tiara.


Tiara menghela nafasnya panjang sebelum ia menceritakan tentang masalah yang sedang dihadapinya saat itu. Pada akhirnya Tiara menceritakan tentang masalah yang terjadi antara dirinya dan Putra.


"Tapi kau sungguh tidak ada hubungan apapun dengannya bukan?" tanya Rafa yang terkejut setelah mendengar semua cerita Tiara.


"Tentu saja tidak, bukankah kak Rafa tahu Tiara sedang tidak memikirkan hal itu, Tiara hanya fokus dengan pekerjaan Tiara saat ini!" jawab Tiara dengan yakin.

__ADS_1


"Tapi aku sangat tahu bagaimana Putra, dia tidak akan menyerah sebelum dia mendapatkan apa yang dia inginkan dan aku tahu dia menginginkanmu," ucap Rafa dalam hati.


__ADS_2