
Tiara masih berada di rumah sakit untuk menemani Rafa, tetapi Rafa meminta Tiara untuk pulang dan beristirahat di rumah.
"Pulanglah Ra, kau harus beristirahat di rumah," ucap Rafa pada Tiara.
"Tapi siapa yang akan menemani kak Rafa disini?" tanya Tiara.
"Aku bisa disini sendirian Ra, kau jangan mengkhawatirkanku," jawab Rafa.
"Baiklah kalau begitu, Tiara akan pulang lalu segera berangkat ke kafe," ucap Tiara.
"Kau tidak perlu ke kafe sekarang Ra, lebih baik kau beristirahat dan pergi ke kafe saat shift sore," ucap Rafa yang hanya dibalas anggukkan kepala oleh Tiara.
"Kalau begitu Tiara pulang dulu kak, semoga kak Rafa cepat membaik," ucap Tiara lalu membawa langkahnya meninggalkan Rafa.
Tiarapun segera pergi ke halte dan menaiki bus yang membawanya pulang. Sesampainya di rumah tempat tinggalnya, Tiara segera masuk ke dalam kamarnya lalu menjatuhkan badannya di atas ranjang
"Aaahh rasanya nyaman sekali," ucap Tiara sambil menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri
Saat Tiara baru saja beranjak dari ranjangnya untuk mandi tiba-tiba ponselnya berdering, sebuah panggilan masuk dari Bima.
"Kak Bima, ada apa lagi dia menghubungiku?" tanya Tiara pada dirinya sendiri yang enggan untuk menerima panggilan Bima.
Berkali-kali Bima menghubunginya, namun Tiara memilih untuk mengabaikannya dan melanjutkan niatnya untuk mandi.
Setelah mandi Tiara memeriksa ponselnya dan mendapati pesan masuk dari Bima.
"Kita harus bertemu!"
Dengan malas Tiarapun membalas pesan Bima.
"Untuk apa? bukankah bimbingan skripsi sudah diganti dengan hari minggu kemarin?" balas Tiara bertanya.
"Ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu," balas Bima.
"Maaf Pak, tolong jangan menghubungi Tiara jika tidak berkaitan dengan bimbingan skripsi," balas Tiara yang mengetik kata-katanya dengan formal.
"Ini tentang Gita!"
Tiara hanya terdiam saat membaca balasan pesan dari Bima. Tiarapun teringat tentang buku pemberian Gita yang masih ada di meja belajarnya.
"Apa sebaiknya aku menitipkan buku kak Gita pada kak Bima?" tanya Tiara pada dirinya sendiri
"Tidak..... aku tidak boleh melakukan hal itu, itu hanya akan membuat masalah semakin rumit," ucap Tiara lalu mengambil buku pemberian Gita dan membungkusnya dengan kertas polos.
"Aku sendiri yang akan memberikannya pada kak Gita," ucap Tiara.
Biiiiipppp biiiiippp biiiipp
Ponsel Tiara berdering namun kali itu bukan dari Bima, melainkan dari Kevin.
"Kau dimana Ra? aku ingin bertemu denganmu," tanya Kevin setelah Tiara menerima panggilan Kevin.
"Datang saja ke cafe aku, akan segera kesana," jawab Tiara.
"Baiklah, aku akan kesana sekarang juga," ucap Kevin lalu mengakhiri panggilannya pada Tiara.
Tiarapun segera bersiap-siap lalu keluar dari kamarnya menuju ke kafe untuk menunggu dengan Kevin.
Sesampainya disana ia segera dihampiri oleh Ana yang saat itu sedang shift pagi.
"Kau kemana saja Ra, sepertinya semalam kau tidak pulang," tanya Ana pada Tiara.
"Iya aku semalam tidak pulang dan hari ini aku sudah meminta izin pada Pak Rafa untuk masuk kerja sore," jawab Tiara.
"Pak Rafa juga tidak datang ke kafe sama sekali sejak kemarin siang sampai sekarang, apa kau tahu dimana Pak Rafa sekarang?" tanya Ana.
"Pak Rafa sedang di rumah sakit sekarang jadi mungkin beberapa hari ini Pak Rafa tidak akan datang," jawab Tiara.
"Di rumah sakit? apa yang terjadi pada Pak Rafa?" tanya Ana khawatir.
"Pak Rafa hanya salah makan saja, sekarang keadaannya sudah membaik," jawab Tiara.
"Syukurlah kalau begitu, lalu apa yang kau lakukan disini Ra? kenapa kau tidak beristirahat saja di rumah?"
__ADS_1
"Aku sedang menunggu temanku, mungkin sebentar lagi dia akan sampai," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu, aku akan membuatkan minuman untukmu dan temanmu," ucap Ana lalu kembali ke tempat kerjanya kemudian membuatkan minuman untuk Tiara.
Tak lama setelah Ana menaruh dua cup minuman di hadapan Tiara, Kevinpun datang.
"Apa kau sudah menunggu lama?" tanya Kevin lalu duduk di hadapan Tiara.
"Tidak, kenapa kau tiba-tiba ingin bertemu denganku? apa ada sesuatu yang sangat penting?" jawab Tiara sekaligus bertanya.
"Melihatmu bertanya seperti ini sepertinya kak Bima belum memberitahumu," ucap Kevin tanpa menjawab pertanyaan Tiara.
"Apa maksudmu Kevin?" tanya Tiara tak mengerti.
"Kak Bima dan kak Gita akan melangsungkan resepsi pernikahan mereka dua hari lagi," jawab Kevin.
Tiara terdiam beberapa saat, ia ingat bahwa pernikahan Bima dan Gita yang terkesan terburu-buru membuat mereka memilih untuk melakukan resepsi di lain waktu.
"Aahh tentang itu, kenapa kau memberitahuku Kevin?" tanya Tiara yang tampak tidak terkejut dengan hal itu.
"Tante Laras yang memintaku untuk memberitahumu agar kau datang ke acara resepsi itu," ucap Kevin.
"Kenapa aku harus datang? apa Mama tidak takut kalau aku akan mengacaukan acara resepsi itu!" tanya Tiara.
"Tante Laras sangat menginginkanmu kembali ke rumah itu Tiara, sepertinya tante Laras menyesal karena sudah bersikap tidak baik padamu," ucap Kevin.
"Tidak Kevin, mama Laras memintaku kembali bukan untuk itu, mungkin aku harus berada di rumah itu agar mama Laras bisa mendapatkan apa yang selama ini menjadi tujuannya," ucap Tiara yang membuat Kevin mengernyitkan keningnya tak mengerti.
"Tujuan apa maksudmu Tiara?" tanya Kevin yang hanya dibalas gelengan kepala dan senyum oleh Tiara.
"Kau tidak perlu tahu, sampaikan saja pada Mama Laras bahwa aku tidak akan pernah kembali ke rumah itu," ucap Tiara.
"Lalu bagaimana dengan resepsi kak Gita dan kak Bima? apa kau tidak akan datang kesana?" tanya Kevin.
"Aku sama sekali tidak ingin terlibat dengan keluarga itu lagi Kevin, tapi aku akan memikirkannya terlebih dahulu karena sepertinya aku memang harus bertemu kak Gita untuk mengembalikan sesuatu," jawab Tiara.
"Hubungi aku jika kau ingin datang ke resepsi pernikahan itu, aku akan menjemputmu," ucap Kevin
"Bagaimana dengan pekerjaanmu di sini Ra? apa semuanya berjalan dengan baik?" tanya Kevin.
"Semuanya berjalan dengan baik Kevin, aku memiliki banyak teman baru yang sangat baik disini, aku juga belajar banyak hal baru disini," jawab Tiara
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi sekarang," ucap Kevin.
"Aku akan menjalani hidupku dengan lebih baik disini Kevin, aku akan berusaha meraih cita-citaku dengan semua keterbatasanku saat ini," ucap Tiara.
"Aku akan selalu mendukung apapun yang kau lakukan Tiara, aku percaya kau akan bisa meraih cita-citamu dengan semua usaha yang sudah kau lakukan sejauh ini," ucap Kevin.
Setelah mengobrol beberapa lama Kevinpun berpamitan pulang karena ia harus segera menemui dosen pembimbingnya untuk melakukan bimbingan skripsi di kampus.
Setelah kepergian Kevin Tiarapun membawa langkahnya untuk pulang. Tiara duduk di depan meja belajarnya menata buku pemberian Gita yang sudah ia bungkus dengan kertas polos.
"Apa aku harus datang ke acara resepsi itu?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
**
Waktupun berlalu, Tiara sudah keluar dari kamarnya bersiap untuk berangkat ke kafe bersama Chika.
"Kau kemarin kemana Ra, kau dan Pak Rafa sama-sama tidak datang ke kafe, apa kalian berdua semalam bersama sampai pagi?" tanya Chika pada Tiara.
"Ceritanya panjang dan aku sedang malas untuk bercerita hari ini," jawab Tiara yang membuat Chika memutar kedua bola matanya.
"Apa kau sudah tahu bahwa kemarin hampir saja terjadi keributan di kafe?" tanya Chika yang membuat Tiara segera membawa pandangannya ke arah Chika.
"Aku tidak tahu, keributan apa yang kau maksud?" tanya Tiara penasaran.
"Ada perempuan yang datang ke kafe dan menanyakan keberadaan Pak Rafa, sepertinya perempuan itu sangat marah pada Pak Rafa," jawab Chika.
"Perempuan? siapa?" tanya Tiara yang semakin penasaran.
"Aku juga tidak tahu siapa perempuan itu, karena selama aku bekerja di kafe tidak pernah ada perempuan yang dekat dengan Pak Rafa," jawab Chika.
"Apa kau sudah memberitahu Pak Rafa tentang hal itu?" tanya Tiara pada Chika.
__ADS_1
"Belum, tidak ada siapapun yang bisa menghubungi Pak Rafa dari kemarin siang," jawab Chika.
"aaahh iya, ponsel kak Rafa kan tertinggal di kafe, pasti perempuan itu juga sudah menghubungi kak Rafa tetapi tidak ada jawaban jadi dia datang ke kafe dengan marah," ucap Tiara dalam hati.
"Jika kau bisa menghubungi pak Rafa tolong katakan pada Pak Rafa bahwa ada perempuan yang mencarinya, sepertinya ada masalah yang serius karena perempuan itu tampak emosi saat tidak mendapati Pak Rafa di kafe," ucap Chika yang hanya di balas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiara dan Chika sudah sampai di kafe, mereka mulai berkutat dengan pekerjaan mereka sampai jam shift kerja mereka selesai.
"Mmmmm..... ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu," ucap Tiara pada Chika.
"Kenapa kau seperti ragu begitu, tanyakan saja," balas Chika.
"Apa aku boleh masuk ke ruangan Pak Rafa? sepertinya ponsel Pak Rafa tertinggal disana, jadi aku akan memberikan ponsel itu pada Pak Rafa."
"Apa kau akan pergi ke rumah Pak Rafa? apa kau tahu dimana Pak Rafa tinggal?" tanya Chika.
"Tidak, aku akan mengantarnya ke rumah sakit karena Pak Rafa sedang berada di rumah sakit saat ini," jawab Tiara.
"Di rumah sakit? memangnya apa yang terjadi pada Pak Rafa? kenapa kau tidak memberitahuku dari tadi?"
"Pak Rafa hanya salah makan saja, keadaannya sudah membaik sekarang, Pak Rafa yang memintaku untuk tidak memberitahukan hal ini pada yang lainnya jadi aku mohon kau jangan memberitahu siapapun lagi," jawab Tiara menjelaskan.
"Baiklah aku tidak akan memberitahu siapapun, tapi bagaimana caramu masuk ke ruangan Pak Rafa? karena ruangan Pak Rafa selalu dikunci jika Pak Rafa sedang tidak berada disini!"
"Aahh iya kau benar, sepertinya aku tidak bisa mengambil ponsel Pak Rafa sekarang," ucap Tiara dengan menghela nafasnya.
Tiara dan Chikapun memilih untuk pulang ke rumah. Saat Tiara baru saja duduk di atas ranjangnya ia melihat kemeja Rafa yang pernah ia pakai.
Saat Tiara mengambil kemeja itu, hendak memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor, sesuatu terjatuh dari saku kemeja itu.
"Kunci? apa ini kunci ruangan kak Rafa?" tanya Tiara sambil memperhatikan kunci di tangannya.
"Aku tidak akan tahu jawabannya sebelum aku mencobanya," ucap Tiara lalu segera mandi dan berganti pakaian kemudian kembali ke kafe mencoba untuk membuka ruangan Rafa dengan menggunakan kunci yang ia temukan dari kemeja Rafa.
Benar saja kunci itu adalah kunci ruangan Rafa. Tiara kemudian mengedarkan pandangannya untuk melihat ke sekelilingnya dan mendapati CCTV yang berada di salah satu sudut ruangan itu.
Tiara melambaikan tangannya dengan tersenyum ke arah cctv lalu mengambil ponsel Rafa dan kembali keluar.
Tak lupa ia kembali mengunci ruangan Rafa lalu segera memesan taksi yang akan membawanya ke rumah sakit tempat Rafa dirawat.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, ponsel Rafa yang ada di dalam tas Tiara berdering. Saat Tiara melihatnya sebuah nama tampak sedang menghubungi ponsel Rafa saat itu.
Namun Tiara memilih untuk mengabaikannya karena ia merasa tidak berhak untuk menerima panggilan itu.
"Maya, 50 panggilan tidak terjawab, apa dia perempuan yang mencari kak Rafa? siapa dia sebenarnya? dia bahkan masih berusaha menghubungi kak Rafa sampai sekarang," batin Tiara bertanya dalam hati.
Sesampainya di rumah sakit, Tiara segera membawa langkahnya ke arah ruangan dimana Rafa dirawat.
Rafa yang saat itu sedang duduk sambil membaca buku begitu terkejut dengan kedatangan Tiara.
"Kenapa kau kesini malam-malam seperti ini Tiara?" tanya Rafa.
"Tiara ingin memberikan ponsel kak Rafa," jawab Tiara sambil memberikan ponsel Rafa.
"Dari mana kau mendapatkannya? sepertinya aku meninggalkannya di dalam ruanganku di kafe," tanya Rafa.
"Sebelumnya Tiara minta maaf karena masuk ke ruangan kak Rafa tanpa izin, Tiara menemukan kunci ini di kemeja kak Rafa dan Tiara masuk ke ruangan kak Rafa menggunakan kunci ini," ucap Tiara sambil mengembalikan kunci yang ia temukan dari kemeja Rafa.
"Kau tidak perlu repot-repot seperti ini Tiara, besok pagi aku sudah bisa pulang dan mengambil sendiri ponselku," ucap Rafa.
"Chika bilang ada perempuan yang mencari kak Rafa dan saat Tiara mengambil ponsel kak Rafa ada panggilan dari seorang perempuan, mungkin itu perempuan yang sama yang mencari kak Rafa jadi Tiara pikir kak Rafa sedang membutuhkan ponsel itu sekarang," ucap Tiara yang membuat Rafa segera memeriksa ponselnya.
"Apa Tiara melakukan kesalahan kak? maaf jika apa yang Tiara lakukan ini terlalu lancang dan tidak sopan," ucap Tiara yang merasa bersalah.
"Tidak Tiara, justru aku berterima kasih padamu, aku tahu kau segera kesini setelah pulang kerja, pasti sangat melelahkan bukan?" ucap Rafa yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
Rafa kembali memeriksa ponselnya dan mendapati banyak panggilan tak terjawab dari Maya. Ia juga memeriksa pesan masuknya dan sudah banyak pesan tidak hanya dari Maya tapi juga dari sang mama.
"Tolong lebih perhatikan istrimu Rafa, mama baru saja ditegur oleh Mama mertuamu karena kau tidak pernah ikut ke acara keluarganya!"
Rafa hanya menghela nafasnya kasar setelah ia membaca pesan dari sang mama. Ia merasa sangat kesal pada Maya dan keluarganya yang selalu melibatkan orang tuanya jika ada sedikit saja masalah di antara mereka berdua.
Tiara yang melihat Rafa tampak kesal hanya bisa diam tanpa berani bertanya.
__ADS_1