
Tiara masih berada di ruangan manajernya, ia masih memikirkan tentang keputusan yang akan ia ambil, apakah ia akan mengikuti saran dari manajernya atau tetap memilih mengundurkan diri dari perusahaan.
"Lebih baik kau mengikuti tes untuk program ini Tiara, jika kau gagal maka aku akan menyetujui surat pengunduran dirimu tetapi jika kau berhasil kau harus tetap menjadi bagian dari perusahaan ini untuk bisa melanjutkan kuliahmu di luar negeri," ucap manajer pemasaran.
"Kapan tes itu akan diadakan Pak?" tanya Tiara.
"Minggu depan, rangkaian tesnya hanya akan dilakukan dalam satu hari dan hasil tesnya akan diumumkan hari itu juga, setelah itu awal bulan depan siapapun yang lolos tes itu harus bersiap untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri," jawab manajer menjelaskan.
Setelah beberapa lama bergulat dengan pikirannya sendiri, Tiarapun memutuskan untuk mengikuti tes itu. Meskipun itu artinya dia harus tetap bekerja di perusahaan itu setidaknya Tiara mempunyai harapan untuk bisa melanjutkan kuliahnya di luar negeri.
"Baik pak Tiara setuju, Tiara akan mengikuti tes itu, tapi bapak harus berjanji jika Tiara gagal bapak harus menyetujui surat pengunduran diri Tiara," ucap Tiara.
"Baiklah aku berjanji, tapi kau juga harus bersungguh-sungguh mengerjakan tes untuk program ini Tiara, jangan melewatkan kesempatan besar ini hanya karena masalah pribadimu, karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan ini," balas manager.
"Iya pak, Tiara mengerti."
"Baiklah kalau begitu, kembali ke meja kerjamu dan selesaikan pekerjaanmu dengan baik sembari mempersiapkan dirimu untuk mengikuti tes minggu depan," ucap manager.
"Baik pak Tiara permisi," ucap Tiara lalu beranjak dari duduknya dan keluar dari ruangan sang manager.
Tiarapun kembali ke meja kerjanya, menatap layar komputer di hadapannya dan beberapa tumpuk map yang sama sekali belum tersentuh olehnya.
"Baiklah, ini adalah keputusan yang sudah aku ambil, aku harus tetap fokus pada pekerjaanku untuk satu minggu ini," ucap Tiara berusaha untuk fokus menyelesaikan pekerjaannya.
Di tengah-tengah kesibukannya Tiara menyempatkan dirinya untuk mencari tempat tinggal baru.
"Apa kau sedang mencari tempat tinggal?" tanya teman Tiara yang melihat layar komputer Tiara menunjukkan pencarian tentang tempat kos.
"Iya kak, Tiara sedang mencari tempat tinggal baru," jawab Tiara.
"Tapi kenapa kau mencari di daerah sana? bukankah itu cukup jauh dari sini?" tanya teman Tiara.
"Tiara memang sengaja mencari yang jauh karena Tiara ingin pulang pergi dengan menggunakan bus," jawab Tiara.
"Kau aneh sekali," ucap teman Tiara sambil menggelengkan kepalanya.
Tiara hanya tersenyum tipis sambil melanjutkan pekerjaannya dan sesekali mencari tempat kost yang cukup jauh dari perusahaan tempatnya bekerja.
Ia memang sengaja mencari tempat tinggal yang cukup jauh dengan harapan agar Putra dan Rafa tidak menemuinya.
"Aku hanya perlu bertahan satu minggu lagi, setelah ini aku hanya perlu berserah entah aku harus benar-benar mengundurkan diri dari perusahaan ini atau aku beruntung mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan kuliahku di luar negeri," ucap Tiara dalam hati.
Setelah Tiara menemukan tempat kost yang sesuai, iapun segera menghubungi pemilik kos untuk membuat janji, bagaimanapun juga Tiara harus melakukan survei terlebih dahulu sebelum ia benar-benar memutuskan untuk tinggal di tempat kost yang baru.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore Tiara segera merapikan barang-barangnya.
"Apa kau sudah bersiap untuk pulang Tiara?" tanya salah satu teman Tiara.
"Iya kak, Tiara harus melakukan survei tempat kost yang baru," jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu hati-hati," ucap teman Tiara yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Tiarapun pergi meninggalkan meja kerjanya, membawa langkahnya ke arah lift yang akan membawanya turun ke lobi.
"Hari ini dia terlihat tidak seceria biasanya, apa ada masalah?" tanya salah satu teman Tiara pada temannya yang lain.
"Mungkin karena dia baru saja sembuh jadi suasana hatinya belum benar-benar membaik," jawab yang lain.
"Hmmm.... mungkin.... semoga dia segera kembali ceria seperti biasanya!"
Di sisi lain Tiara yang sudah berada di depan kantor sedang menunggu bus di halte. Setelah beberapa lama menunggu buspun datang. Tiara segera masuk ke dalam bus yang akan membawanya ke tempat kostnya yang baru.
Butuh waktu hampir 30 menit bagi Tiara untuk sampai di tempat kosnya yang baru. Sesampainya disana ia pun segera memeriksa kamar dan semua fasilitas yang disediakan oleh pemilik kos.
__ADS_1
Pada akhirnya Tiarapun memutuskan untuk tinggal di tempat kos itu.
"Tiara akan membawa barang-barang Tiara nanti malam dan mungkin sisanya akan Tiara bawa besok malam!" ucap Tiara pada pemilik kos.
"Waaah sepertinya kau terburu-buru sekali, jika kau mau bapak bisa menyediakan pick up untuk membantumu mengangkut barang-barangmu," ucap pemilik kos.
"Terima kasih banyak Pak, Tiara akan menghubungi bapak lagi," balas Tiara lalu berpamitan untuk pulang.
Sesampainya Tiara di rumah tempat tinggalnya, iapun segera merapikan barang-barangnya, memasukkan beberapa barang-barang ke dalam kardus dan juga tas besar serta koper miliknya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 malam saat Tiara baru saja selesai mandi. Tiara kemudian menghubungi pemilik kos untuk meminta bantuan pick up yang sudah dijanjikan oleh sang pemilik kos.
Setelah beberapa lama menunggu pick up yang ditunggunyapun datang, dengan dibantu sang supir pick up Tiara membawa barang-barangnya naik ke atas pick up.
Tiara kemudian ikut pergi bersama sopir pick up itu untuk menaruh barang-barangnya di tempat kosnya yang baru.
Malampun semakin larut, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 malam saat Tiara baru saja selesai merapikan barang-barangnya di tempat kosnya yang baru.
"Akhirnya selesai juga, benar-benar melelahkan," ucap Tiara sambil mengusap keringat di keningnya.
Untuk sesaat kesibukan membuatnya melupakan tentang semua masalah yang sempat membuatnya bersedih.
"Aku harus memesan taksi untuk kembali pulang, karena pasti sudah tidak ada bus sekarang!" ucap Tiara lalu mengambil ponselnya untuk memesan taksi, namun sampai beberapa lama ia mencoba sama sekali tidak ada taksi yang sedang beroperasi saat itu.
"Apa ini sudah terlalu malam jadi tidak ada taksi?" tanya Tiara pada dirinya sendiri.
Tiara kemudian mencari nama Kevin pada penyimpanan kontaknya. Di saat seperti itu hanya Kevinpah yang ada di kepalanya, jika Kevin sedang tidak sibuk ia yakin Kevin pasti akan membantunya.
"Halo Kevin, apa kau sedang sibuk?" tanya Tiara setelah Kevin menerima panggilannya.
"Tidak, ada apa Ra?" jawab Kevin sekaligus bertanya.
"Aku..... aku ingin meminta tolong," jawab Tiara ragu.
"Sebenarnya aku sedang berada di tempat kosku yang baru saat ini, tetapi aku tidak bisa mendapatkan taksi untuk mengantarku kembali pulang karena beberapa barangku masih ada di tempat tinggalku yang lama," ucap Tiara menjelaskan.
"Bagikan saja lokasimu padaku, aku akan menjemputmu sekarang juga!" ucap Kevin tanpa berbasa-basi.
"Terima kasih Kevin," ucap Tiara lalu mengakhiri panggilannya pada Kevin.
Tiara kemudian membagikan lokasinya pada Kevin, setelah beberapa lama menunggu Kevinpun sampai.
"Ayo masuklah!" ucap Kevin sambil membuka pintu mobilnya dari dalam.
Setelah Tiara masuk dan duduk di sampingnya, Kevinpun mengendarai mobilnya ke arah rumah tempat tinggal Tiara.
"Sepertinya kau sudah membuat keputusan," ucap Kevin yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Jadi apa keputusanmu?" tanya Kevin.
"Untuk satu minggu ke depan aku akan tetap berada di perusahaan itu, tapi aku akan tetap pindah dari tempat tinggalku yang sekarang dan aku tidak ingin kak Rafa ataupun kak Putra mengetahui dimana tempat tinggalku yang baru," jawab Tiara.
"Kenapa hanya satu minggu?" tanya Kevin tak mengerti.
Tiarapun menjelaskan tentang program yang akan diikutinya minggu depan, program dimana ia berkesempatan untuk melanjutkan kuliahnya di luar negeri jika dia lolos tes.
"Semua biaya kuliah dan biaya hidupku akan ditanggung oleh perusahaan jika aku bisa lolos tes itu, aku pikir itu kesempatan yang tidak bisa aku sia-siakan, aku bisa pergi menjauh dari kak Rafa sekaligus memulai mimpiku yang baru di negara orang," ucap Tiara.
"Aku sangat setuju dengan keputusanmu Tiara, kau bisa merangkai mimpi barumu disana dan aku yakin kau pasti bisa melupakan semua hal yang membuatmu sedih disini," ucap Kevin.
"Tapi jika aku tidak lolos tes aku tidak punya pilihan lain selain mengundurkan diri dari perusahaan, aku tetap harus memulai mimpi baruku di tempat lain dan pergi sejauh mungkin dari kak Rafa ataupun kak Putra," ucap Tiara.
"Apa kau sudah ada rencana kemana kau akan pergi?" tanya Kevin yang dibalas gelengan kepala oleh Tiara.
__ADS_1
"Kau harus selalu memberitahuku dimanapun kau tinggal Tiara, kau boleh melupakan semua orang yang membuatmu bersedih tapi jangan pernah melupakanku atau aku akan benar-benar mencarimu sampai ke ujung dunia!" ucap Kevin.
"Kau berlebihan sekali," ucap Tiara dengan tersenyum tipis.
"Akhirnya kau tersenyum lagi," ucap Kevin sambil menepuk-nepuk kepala Tiara, seketika membuat Tiara mengingat kebiasaan Rafa yang sering menepuk-nepuk kepalanya.
"Untuk apa ada rasa cinta jika pada akhirnya aku tidak bisa bersama dengan orang yang aku cintai," ucap Tiara dalam hati sambil membawa pandangannya menatap pohon-pohon yang berjajar di trotoar.
"Apa Pak Rafa masih menghubungimu?" tanya Putra.
"Entahlah, aku sudah memblokir nomornya sejak kemarin," jawab Tiara.
"Tapi kau tetap harus bertemu dengan Pak Rafa, Tiara!"
"Sudah, kemarin malam adalah terakhir kalinya aku bertemu dengan kak Rafa dan setelah itu aku tidak ingin lagi bertemu dengan kak Rafa," balas Tiara.
"Kau sudah membuat keputusan yang terbaik Tiara, walaupun ini menyakitkan untukmu tapi ini lebih baik daripada kau tetap melanjutkan kedekatanmu dengan Pak Rafa yang pada akhirnya hanya akan membuatmu berada di posisi yang sama seperti dulu," ucap Kevin yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
Setelah beberapa lama berkendara, Kevinpun sampai di depan rumah Tiara.
"Bukankah itu Pak Rafa?" tanya Kevin yang melihat Rafa tengah duduk di depan pintu rumah Tiara.
"Bisakah kau mintanya pergi Kevin? aku benar-benar sudah tidak ingin bertemu dengan kak Rafa lagi!"
"Turunlah, aku yang akan berbicara pada Pak Rafa," ucap Kevin lalu turun dari mobilnya bersama Tiara.
Melihat Tiara yang berjalan ke arahnya bersama Kevin, membuat Rafa segera menghampiri Tiara.
Namun Tiara segera membawa langkahnya mundur ke belakang Kevin, membuat Kevin segera menghalau Rafa yang ingin mendekati Tiara.
"Maaf Pak, sebaiknya Pak Rafa pulang saja, biarkan Tiara beristirahat malam ini," ucap Kevin pada Rafa.
"Aku hanya ingin berbicara dengannya Kevin, kau jangan ikut campur," balas Rafa.
"Tentu saja Kevin akan ikut campur karena Tiara adalah teman Kevin, karena Pak Rafa pernah menjadi dosen Kevin, Kevin akan tetap berbicara dengan sopan, tetapi jika Pak Rafa sudah di luar batas maka jangan salahkan Kevin jika Kevin sudah tidak menganggap Pak Rafa sebagai dosen Kevin lagi," ucap Kevin dengan tegas.
"Masuklah Ra, kau harus beristirahat!" ucap Kevin pada Tiara.
"Terima kasih Kevin," ucap Tiara lalu berjalan ke arah pintu rumahnya, namun segera ditahan oleh Rafa.
Kevinpun segera menarik tangan Rafa dari tangan Tiara, membuat Tiara berhasil lolos dari Rafa dan segera masuk ke dalam rumahnya.
"Ini sudah sangat malam Pak, rasanya tidak etis jika Pak Rafa masih berada disini sekarang," ucap Kevin pada Rafa.
"Kau sendiri apa yang kau lakukan dengannya sampai larut seperti ini?" tanya Rafa.
"Sepertinya itu bukan urusan Pak Rafa, lebih baik Pak Rafa pulang sekarang atau Kevin akan memanggil pihak keamanan jika Pak Rafa membuat kegaduhan disini," ucap Kevin tanpa menjawab pertanyaan Rafa.
"Sepertinya Tiara sudah menceritakan semuanya padamu, apa benar begitu?" tanya Rafa yang hanya dibalas anggukan kepala oleh Kevin.
"Kau pasti bisa menilai seberapa besar aku mencintai Tiara, semua ini memang tidak berjalan pada waktu yang tepat tetapi aku benar-benar mencintainya Kevin," ucap Rafa.
"Seberapa besarpun cinta Pak Rafa pada Tiara itu tidak akan ada artinya jika pak Rafa adalah laki-laki yang sudah beristri, pernyataan cinta Pak Rafa itu hanya akan membuat Tiara semakin sakit hati, pernyataan cinta Pak Rafa hanya seperti lelucon karena pada kenyataannya Pak Rafa tidak akan mungkin bisa memiliki hubungan apapun dengan Tiara jika Pak Rafa sudah memiliki istri dan Kevin yakin pak Rafa pasti tahu itu," ucap Kevin lalu berjalan pergi begitu saja.
"Kevin harap Pak Rafa juga segera pergi sebelum pihak keamanan datang untuk mengusir Pak Rafa," ucap Kevin lalu masuk ke dalam mobilnya dan mengendarai mobilnya pergi begitu saja.
Benar saja, tak lama setelah Kevin pergi satpampun datang menegur Rafa agar segera pergi meninggalkan rumah Tiara.
Dengan kesal Rafapun membawa langkahnya keluar dari gerbang rumah Tiara, masuk ke dalam mobilnya lalu mengendarai mobilnya pulang ke rumahnya.
Di sisi lain, Tiara yang sedari tadi memperhatikan Kevin dan Rafa dari jendela kamarnya hanya terdiam sampai Kevin dan Rafa pergi dari rumahnya.
Tiara kemudian menjatuhkan dirinya di atas ranjangnya, menatap langit-langit kamarnya dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
Tidak dapat dipungkiri bahwa cinta yang ia miliki tidak akan mudah hilang begitu saja.