
Di rumah Rafa
Baru saja Maya keluar dari kamar, dia sudah mendengar keluhan sang Mama yang membuatnya semakin stress.
Sejak Rafa pergi dengan tiba-tiba sang Mama terus saja menanyakan keberadaan Rafa pada Maya, terlebih saat Rafa tidak pulang saat malam hingga keesokan paginya.
"Dia benar-benar menantu yang buruk, dia bahkan tidak mempedulikan mertuanya yang sedang berkunjung ke rumahnya," gerutu mama Maya sambil menyiapkan sarapan di atas meja.
"Bisa jadi Rafa tidak pulang juga karena mama, karena ucapan Mama yang menyinggung perasaan Rafa," ucap papa Maya pada sang istri.
"Kenapa papa menyalahkan mama? mama hanya mengatakan yang sebenarnya, Mama hanya ingin Maya tidak salah mendapatkan suami," balas mama Maya membela diri.
"Bukankah Mama sudah berjanji untuk tidak terlalu mencampuri masalah keluarga Rafa dan Maya? mereka sudah bukan anak kecil lagi, jadi biarkan mereka menentukan kehidupan rumah tangga mereka sendiri!" ucap papa Maya.
"Papa ini selalu saja membela Rafa, lihatlah anak kita, dia sedang berjuang agar bisa hamil tetapi Rafa malah pergi dari rumah dan tidak pulang semalaman, apa papa tidak kasihan pada Maya?" balas mama Maya.
"Sudahlah ma pa, jika Mama dan papa selalu seperti ini Mama dan papa juga membuat Maya tidak nyaman, jadi wajar saja jika Rafa pergi dari rumah," sahut Maya yang mulai kesal dengan sikap sang mama.
"Mama seperti ini juga demi kau Maya, apa kau tidak takut jika Rafa bermain dengan perempuan lain di luar sana?"
"bermain dengan perempuan lain? dia bahkan tidak pernah dekat dengan perempuan satupun selama ini, entah dia masih menyukai perempuan atau tidak, aku bahkan tidak tahu dan tidak mempedulikan hal itu," ucap Maya dalam hati.
"Jika memang Mama sangat menyayangi dan mengkhawatirkan Maya seharusnya Mama tidak memaksa menjodohkan Maya dengan laki-laki yang bahkan tidak Maya kenal sebelumnya," ucap Maya.
"Perkenalan bisa dilakukan setelah pernikahan Maya, kalian hidup berdua di satu atap sudah pasti kalian akan saling mengenal satu sama lain," balas mama Maya.
Maya menghela nafasnya lalu menaruh sendoknya di atas piring kemudian beranjak dari duduknya.
"Kau mau kemana? habiskan dulu makananmu!" tanya sang mama.
"Maya sudah tidak berselera makan," balas Maya lalu keluar dari rumah bersiap untuk pergi ke kantor.
Ia sama sekali tidak memikirkan dimana keberadaan Rafa dan apa yang Rafa lakukan di luar rumah sejak kemarin pagi.
Baginya itu adalah hal yang biasa Rafa lakukan, begitupun juga dengan dirinya yang sering tidak pulang ke rumah, entah karena masalah pekerjaan ataupun karena ada hal lain yang harus ia lakukan.
Namun saat Rafa mengatakan akan menceraikannya, Mayapun berusaha untuk tetap mempertahankan pernikahannya dengan Rafa karena tidak ingin sang Mama menjodohkannya dengan laki-laki tua yang membuatnya harus meninggalkan karir yang selama ini ia impikan.
Ia harus berusaha untuk mempertahankan Rafa meskipun ia tahu sama sekali tidak ada cinta antara dirinya dan Rafa.
Ia mempertahankan pernikahannya dengan Rafa hanya untuk menyelamatkan karir yang sudah ada dalam genggamannya.
"aku memang tidak mengerti apa itu cinta dan aku juga tidak pernah berpikir apakah suatu saat nanti aku bisa merasakan jatuh cinta pada laki-laki yang juga mencintaiku," ucap Maya dalam hati.
**
Di villa.
Tiara baru saja meminum obat yang dibelinya atas resep dari dokter Brian. Tiara lalu duduk di balkon bersama Rafa menikmati udara sejuk yang terasa memenuhi paru-parunya.
"Bagaimana keadaanmu Tiara? apa kau sudah merasa lebih baik setelah berkonsultasi dengan dokter Brian?" tanya Rafa.
"Kali ini Tiara benar-benar merasa lebih baik kak, Tiara akan berusaha keras untuk melawan ketakutan Tiara," jawab Tiara.
"Kau tidak perlu berusaha terlalu keras Tiara, nikmati saja hari-harimu dengan menyenangkan," ucap Tiara yang dibalas anggukkan kepala oleh Tiara.
"Jadi sampai kapan kita akan disini kak?" tanya Tiara.
"Seperti yang dokter Brian katakan, untuk sementara kau harus menjauh dari banyak orang terutama orang-orang yang membuatmu merasa trauma dan aku rasa tempat ini cocok untukmu," jawab Rafa.
"Apa itu artinya Tiara akan berada disini lebih lama?" tanya Tiara memastikan.
"Jika kau tidak keberatan kau harus berada disini sampai keadaanmu benar-benar membaik, kau harus bisa menghilangkan rasa trauma yang ada dalam dirimu sebelum kau kembali ke kehidupanmu yang sebelumnya," jawab Rafa menjelaskan.
"Bagaimana dengan kak Rafa? kak Rafa pasti harus kembali ke kota bukan?" tanya Tiara.
"Kau benar, aku harus kembali ke kota untuk melakukan opening kafe baru sesuai dengan jadwal yang sudah aku rencanakan, tapi jangan khawatir setelah semua pekerjaanku disana selesai aku akan segera kembali kesini untuk menemanimu," jawab Rafa.
"Berapa lama kakak akan meninggalkan Tiara?" tanya Tiara yang seolah tidak ingin Rafa meninggalkannya.
__ADS_1
"Tidak akan lama Tiara, mungkin hanya satu minggu, aku akan selalu menyempatkan waktu untuk menghubungimu," jawab Rafa.
"Sepertinya itu waktu yang cukup lama bagi Tiara," ucap Tiara dengan menundukkan kepalanya.
Rafa tersenyum lalu membelai rambut Tiara dengan lembut.
"Sejak kapan kau menjadi manja seperti ini Tiara? kau semakin menggemaskan jika seperti ini," ucap Rafa yang gemas melihat sikap Tiara.
"Jika memang Tiara menggemaskan bukankah kak Rafa harus segera kembali kesini? satu minggu itu rasanya sangat lama bagi Tiara," balas Tiara yang membuat Rafa tersenyum dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan berusaha menyelesaikan semuanya dengan cepat agar bisa segera kembali kesini," ucap Rafa.
"Benarkah?" tanya Tiara penuh semangat.
"Tentu saja, apa aku pernah mengingkari janjiku?"
Tiara menggelengkan kepalanya dengan tersenyum senang. Entah kenapa ia merasa tidak ingin Rafa meninggalkannya terlalu lama. Hanya dengan bersama Rafa ia merasa lebih tenang dalam menjalani hari-harinya.
"Selama aku pergi kau disini dengan bibi, bibi sudah bekerja sangat lama denganku, bibi pasti akan memperlakukanmu dengan baik," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Segera hubungi aku jika terjadi sesuatu atau kau membutuhkan sesuatu yang tidak bisa dipenuhi oleh bibi," ucap Rafa yang kembali dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Rupanya kau menjadi penurut sekali sekarang," ucap Rafa sambil menepuk-nepuk pelan kepala Tiara.
"Memangnya dulu Tiara pembangkang?" protes Tiara dengan memanyunkan bibirnya.
"Apa kau tidak sadar jika kau seperti itu?" balas Rafa bertanya dengan menahan tawanya yang membuat Tiara kesal.
"Kau memang pembangkang dan keras kepala, tapi aku menyukainya, kegigihanmu yang membuatmu menjadi gadis kuat Tiara," ucap Rafa.
"Tapi sepertinya Tiara tidak seperti dulu lagi, Tiara bahkan sangat takut jika seseorang menyentuh Tiara, terlebih saat seseorang itu....... aaahhh tidak.... Tiara akan melupakannya, Tiara tidak boleh memikirkannya lagi," ucap Tiara dengan menggelengkan kepalanya di akhir kalimatnya.
"Jangan terlalu memikirkannya Tiara, bagiku kau tetaplah Tiara yang aku kenal, kau harus mengisi memorimu dengan banyak hal indah dan mengabaikan kesedihan yang memberikan rasa takut padamu," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala dan senyum oleh Tiara
**
Hari telah berganti, pagi itu Rafa sedang berkutat di dapur menggantikan bibi. Ia sengaja meminta bibi untuk tidak memasak pagi itu karena ia sendiri yang akan memasak untuk Tiara dan bibi.
"Kenapa kakak yang memasak?" tanya Tiara ada Rafa.
"Hari ini aku sengaja memasak untukmu sebelum aku pergi," jawab Rafa lalu mengambil sesendok masakannya dan menyuapkannya pada Tiara.
"Cobalah," ucap Rafa.
Tiarapun membuka mulutnya untuk mencoba masakan Rafa.
"Hmmmm.... enak kak, ternyata kak Rafa pintar memasak juga," ucap Tiara menikmati makanan yang Rafa buat.
"Tunggulah di meja makan, aku akan segera kesana," ucap Rafa sambil menyiapkan masakannya ke dalam wadah lain.
Tiara menganggukkan kepalanya lalu berjalan ke arah meja makan. Rafapun menikmati hasil masakannya bersama Tiara.
Setelah selesai menghabiskan makanannya Rafapun bersiap untuk segera pergi meninggalkan Villa.
"Jaga dirimu baik-baik, aku hanya pergi untuk beberapa hari dan aku usahakan agar semua urusanku disana cepat selesai," ucap Rafa pada Tiara.
"Jangan lupa menghubungi Tiara kak," balas Tiara.
"Tentu saja, kau juga harus segera menghubungiku jika terjadi sesuatu," ucap Rafa yang dibalas anggukan kepala oleh Tiara.
"Jangan mengkhawatirkan apapun, ada bibi yang menjagamu disini," ucap Rafa lalu membawa dirinya memeluk Tiara.
Sebelum Rafa benar-benar meninggalkan villa, Rafa menemui bibi terlebih dahulu.
"Tolong jaga Tiara selama Rafa tidak ada disini Bi, segera hubungi Rafa jika terjadi sesuatu pada Tiara," ucap Rafa pada bibi.
"Baik Tuan," balas bibi.
Pada akhirnya Rafapun benar-benar meninggalkan villa itu, membiarkan Tiara hanya berdua bersama bibi disana.
__ADS_1
Meskipun ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan Tiara, tetapi ia tidak bisa mengabaikan kafenya begitu saja.
Sepeninggalan Rafa, Tiarapun hanya duduk terdiam di balkon, menikmati hembusan angin pagi yang membawa udara sejuk.
Dari atas balkon Tiara melihat bibi yang sedang menyiram tanaman, membuat Tiara segera membawa langkahnya untuk turun menemui bibi.
"Selamat pagi Bi," sapa Tiara.
"Selamat pagi non, apa ada yang bisa dibantu?" balas bibi.
"Tidak ada, Tiara ingin meminta maaf pada bibi tentang kejadian dua hari yang lalu, maaf jika sikap Tiara tidak sopan waktu itu," ucap Tiara pada bibi.
"Bibi sudah melupakannya non, Tuan Rafa sudah menceritakan semuanya pada bibi, jadi bibi bisa mengerti," balas bibi.
"Terima kasih Bi, apa Tiara boleh membantu bibi menyiram tanaman ini?" ucap Tiara sekaligus bertanya.
"Boleh non, tapi bukankah non Tiara seharusnya beristirahat saja?" balas bibi.
"Tiara sangat bosan di dalam villa sendirian bi," ucap Tiara.
"Baiklah non, non Tiara bisa menyiram tanaman bagian sana," ucap bibi lalu memberikan alat penyiram yang dibawanya pada Tiara, sedangkan bibi membersihkan rumput liar yang ada di sekitarnya.
Dengan senang Tiarapun menyiram tanaman-tanaman yang ada disana sambil berbincang dengan bibi.
Karena Tiara yang mudah bergaul, iapun menjadi lebih cepat akrab dengan bibi. Bahkan sesekali Tiara dan bibi tampak bercanda dan tertawa meski mereka baru saling mengenal satu sama lain.
"Menurut bibi apa mungkin keluarga kak Rafa tiba-tiba datang ke villa ini?" tanya Tiara pada bibi.
"Sepertinya tidak non, karena selama bibi disini belum pernah ada siapapun yang datang kesini selain tuan Rafa sendiri dan baru non Tiara yang datang kesini bersama tuan Rafa," jawab bibi.
Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar ucapan bibi. Mereka lalu membicarakan banyak hal lainnya sampai matahari semakin beranjak tinggi.
**
Di tempat lain Rafa mengendarai mobilnya ke arah rumah orang tuanya untuk menemui sang mama.
Sesampainya disana iapun disambut oleh sang Mama yang sudah lama menunggunya.
"Akhirnya kau datang, masuklah Mama sudah menunggumu dari kemarin!" ucap Mama Rafa.
"Apa kau sudah bertemu istrimu?" lanjut Mama Rafa bertanya yang hanya dibalas gelengan kepala oleh Rafa.
"Kenapa? apa kalian bertengkar?" tanya Mama Rafa.
"Tidak, Rafa memang sengaja segera menemui Mama setelah urusan Rafa selesai," jawab Rafa.
"Seharusnya kau menemui Maya dulu sebelum kau menemui Mama, dia pasti sudah merindukanmu," ucap Mama Rafa yang hanya dibalas senyum tipis oleh Rafa karena ia tahu Maya tidak mungkin merindukannya.
"Ada apa Mama ingin bertemu dengan Rafa? apa Mama Maya mengatakan sesuatu pada mama?" tanya Rafa.
"Beberapa hari ini Mama memikirkan ucapan Mama mertuamu Rafa, sepertinya apa yang dia ucapkan memang benar," jawab Mama Rafa.
"Tentang apa?" tanya Rafa.
"Tentang pekerjaanmu, bukankah memang seharusnya kau mulai memikirkan tentang masa depanmu bersama dengan istri dan anakmu nanti?" balas Mama Rafa.
"Apa menurut mama bisnis Rafa sekarang tidak menjanjikan apapun untuk kehidupan Rafa di masa depan nanti?" tanya Rafa yang seolah sudah muak dengan obrolan tentang hal itu.
"Bukan begitu Rafa, Mama hanya tidak suka mendengar Mama Maya merendahkanmu seperti itu, rasanya Mama ingin marah saat itu juga tapi tidak mungkin mama melakukan hal itu bukan?"
"Mama tidak perlu memikirkan ucapan Mama Maya, yang menjalani kehidupan pernikahan Rafa adalah Rafa dan Maya sendiri, jadi tidak perlu ada orang lain yang mengatur kehidupan Rafa dan Maya," ucap Rafa.
"Mama berkata seperti ini karena mama menyayangimu Rafa, Mama tidak ingin kau direndahkan seperti itu!" ucap Mama Rafa.
Rafa kemudian menggeser posisi duduknya lalu memeluk sang mama.
"Mama tidak perlu khawatir, Rafa akan membuktikan bahwa apa yang Rafa jalani sekarang akan memberikan hasil suatu hari nanti, tentang apa yang Mama Maya katakan mama tidak perlu memikirkannya," ucap Rafa pada sang mama.
"Tapi bagaimanapun sikap Mama mertuamu padamu kau harus tetap menghormatinya Rafa dan mama tidak ingin sikap Mama mertuamu itu membuat hubunganmu dengan Maya merenggang," ucap Mama Rafa.
__ADS_1
"Ketakutan terbesar Mama adalah melihat rumah tangga anak mama berantakan, Mama akan menjadi ibu yang paling bersedih di dunia ini jika sampai melihat rumah tanggamu hancur Rafa, jadi Mama mohon pertahankan rumah tanggamu dengan Maya, hanya itu yang Mama minta darimu," lanjut Mama Rafa dengan menatap kedua mata Rafa.
Rafa hanya tersenyum tipis lalu kembali memeluk sang mama berusaha menyembunyikan raut wajah ketidaksetujuannya.